
"Marry...!!" Panggil seseorang sambil berlari kecil menuju kedai kopi. Marry yang sedang menyusun menu kudapan berupa muffin dan cupcake di etalase, langsung menoleh.
"Claire." Marry menghentikan kegiatannya, dan menyambut sahabatnya itu. Mereka berpelukan ringan dan bercipika cipiki.
"Maaf, kemarin aku tak bisa lama saat di pesta Tuan Mars. Aku sedang bekerja." Ucap Marry sambil mengedipkan sebelah matanya.
Claire masih menatap Marry dengan tatapan takjub.
"Kamu masih cantik, seperti saat kita SMA dulu. Tubuhmu masih langsing, tak ada kerutan di wajah. Dan pastinya tetap pandai membuat berbagai kudapan seperti dulu. Aku sangat merindukan muffin buatanmu." Sahut Claire dengan riang.
"Duduklah, aku akan buatkan minuman spesial untukmu."
Marry meracik kopi buatannya, lalu menaruh muffin dan cupcake pada kotak dan membawa ke arah Claire. Marry menaruh tepat di depan sahabatnya semasa SMA itu.
Claire berdecak kagum. Dia mengambil muffin cokelat dan langsung melahapnya.
"Sebenarnya menu muffin dan cupcake baru beberapa bulan ini. Aku harus merombak sedikit tempat ini dan membeli oven dan peralatan masak baru lagi. Tapi, sambutannya sangat bagus. Mereka menyukainya." Marry bercerita dengan senang.
"Dan berkembang dengan adanya cupcake aneka bentuk yang lucu ini!" Claire mengambil sebuah cupcake dengan bentuk bunga mawar yang lucu, lalu memfotonya sebelum dinikmatinya.
"Sebenarnya, untuk cupcake berawal dari ulang tahun putriku. Dari situ aku mulai mengembangkan kemampuan mendekorasi kue kecil ini."
Claire tertegun sejenak dan menatap ke arah Marry.
__ADS_1
"Kamu memiliki putri? Kamu telah menikah? Kapan? Dengan siapa? Mengapa aku dan Terence tidak mendapat kabar? Jangan katakan jika Terence tahu dan aku tidak!" Claire memberondong Marry dengan pertanyaan bertubi tubi.
Marry menghela napas sejenak.
"Itu anak Justin?" Selidik Claire dengan suara lirih sambil memajukan tubuhnya mendekati Marry seolah berbisik.
Marry menggeleng lemah. Claire mengerutkan keningnya dan menatap Marry dengan raut menyelidik.
"Kami tidak pernah datang ke Stanford. Mencampakkan Justin begitu saja, lalu kamu punya anak! Kamu tahu, Justin patah hati sejak kamu tidak datang ke acara prom malam itu. Justin akhirnya memutuskan untuk masuk ke universitas lain, dan pindah ke sana. Kata Terence dia sangat kecewa padamu." Claire menghela napas sambil menghempaskan punggungnya pada sandaran bangku sambil melipat tangannya di depan dada.
"Dia tetap pada cita citanya?" Tanya Marry.
"Untuk apa kamu masih bertanya tentang Justin?" Sahut Claire dengan sinis.
Di dalam hatinya, Marry masih mencintai Justin. Cinta pertamanya, kekasih pertama. Dan dia mengimpikan menikah dan hidup bahagia bersama Justin. Bukan hanya Marry, namun, dulu Justin juga memiliki impian yang sama dengan Marry.
Namun, Marry tiba tiba meninggalkannya tanpa alasan yang jelas dan selalu menghindar. Justin kecewa dan sakit hati, lalu memilih beasiswa ini universitas lain.
"Ya. Justin bekerja di firma hukum terkenal. Dia juga lulus cepat dengan nilai cumlaude. Selain itu, dia juga menjadi kapten tim basket klub universitasnya. Dua tahun yang lalu, aku dan Terence bertemu dengan Justin di sebuah acara kampus. Itu lah akhirnya, aku dan Terence mengetahui kamu tidak mengambil beasiswamu. Terence sampai memastikan dengan pihak kampus, bahwa kamu benar-benar tidak pernah mengembalikan berkas, dan tidak pernah memberikan kabar apa pun pada pihak universitas. Namamu telah di blacklist."
Marry menunduk dan memejamkan matanya.
"Aku memilih membesarkan putriku, supaya dia tidak berakhir tinggal dalam asuhan dinas sosial. Aku tidak ingin putriku merasa menjadi anak yatim piatu. Aku ingin menjaganya. Dan inilah pilihanku." Ucap Marry sambil menunjukkan kedainya.
__ADS_1
"Aku masih bekerja dengan Nyonya Ruth. Dia sangat baik. Tapi, aku tak pernah mengatakan, bahwa aku adalah Marry sahabat Terence."
"Siapa yang menghamilimu?" Tanya Claire.
"Tidak penting aku hamil dengan siapa. Yang penting saat ini aku bisa hidup bahagia bersama putriku." Sahut Marry.
"Marry, aku datang menemuimu, untuk memintamu menjadi salah satu gadis pendampingku pada pernikahanku dan Terence." Ucap Claire kemudian sambil menatap Marry.
"Oh, astaga! Selamat untuk kalian berdua!" Marry langsung berdiri dan memeluk Claire.
"Aku sangat senang mendengar berita ini!" Seru Marry.
"Kamu bisa?"
"Tentu. Aku akan membantumu semampuku. Jangan sungkan." Jawab Marry.
Claire tertawa mendengar jawaban Marry.
Mereka melanjutkan obrolan mereka hingga Terence datang menjemput. Mereka mengobrol lama. Sampai waktunya Marry menjemput Alice di sekolah.
Di sudut lain seberang kedai, dari kejauhan Kevin memperhatikan Marry yang mengobrol bersama Terence dan Claire. Senyum tersungging di bibir Kevin setiap melihat Marry tersenyum atau tertawa.
Perasaan aneh itu muncul lagi. Dia berharap Marry dan Alice datang menjenguknya. Entah, dia sangat rindu pada Alice saat ini.
__ADS_1