
Marry duduk sambil menggenggam tangan Nana. Tak henti-hentinya dia berdoa supaya Nana kondisinya segera membaik, dan sadarkan diri kembali.
CEK LEK!
Pintu kamar rumah sakit terbuka. Alice, Ben, dan Sophie, serta Liam, anak Ben dan Sophie, masuk dan mendekati tempat Nana terbaring lemah dengan alat bantu pernapasan dan selang infus terhubung pada tubuhnya.
"Nana!" Panggil Alice sambil berderai air mata.
Marry mendekati putrinya, dan memeluknya erat. Marry tahu, Alice sangat menyayangi Nana, seperti neneknya sendiri. Bahkan Nana yang merawat Alice sejak baru lahir sampai sekarang. Selain dengan Marry, Alice sangat dekat dengan Nana.
"Kita berdoa untuk Nana, yuk! Supaya Nana bisa segera sadar dan pulih kembali." Hibur Marry sambil membelai lembut Alice.
Alice masih tersedu-sedu dalam pelukan Marry.
"Bagaimana kejadiannya?" Tanya Sophie saat William masuk ke ruangan dan memeriksa Nana.
Marry yang masih menenangkan Alice, turut menatap William menunggu cerita yang sesungguhnya.
"Ponselku tertinggal, dan aku kembali lagi ke rumah. Saat tiba di rumah, aku telah melihat Nana tergeletak di lantai seperti ini. Nana adalah orang yang sangat sehat selama ini. Dia selalu mengkonsumsi makanan yang sehat, dan rajin memintaku untuk mengecek kesehatannya." Terang William sambil menghela napas dalam-dalam. Raut wajah William terlihat khawatir dan sedih saat melihat ke arah Nana.
"Nana berusia 75tahun, tapi dia sangat sehat sekali. Bahkan aku selalu ingin seperti dia, yang selalu menikmati hidup dengan penuh kegembiraan." William mendekati ke tempat tidur, dan mengusap wajah neneknya.
"Paman Willy, apakah Nana akan segera bangun?" Tanya Alice dengan polosnya.
William menatap ke arah Alice dan mengangguk.
"Nana pasti akan segera bangun." Sahutnya.
"Aku janji tidak akan membuat repot dan susah Nana lagi. Aku akan membantu Nana, dan akan menjaga Nama dengan baik. Aku mohon bangunlah Nana!" Alice duduk di samping wanita tua yang terbujur lemah di ranjang rumah sakit itu. Alice menggenggam jemari Nana, dan mengucapkan janjinya.
Marry membelai lembut rambut Alice. Dia tahu, Alice sangat sedih saat ini.
"Tadi kebetulan aku sedang membawa Liam ke klinik untuk imunisasi. Lalu mampir ke kedai. Kata Ben, kamu di rumah sakit menemani Nana, dan meminta tolong menjemput Alice." Ucap Sophie.
Marry mengangguk.
"Aku pun berharap Nana segera sadar. Dia sudah seperti nenek bagi kita. Selain itu dia yang mengajari kita saat merawat Alice waktu masih bayi dulu." Kenang Marry sambil merangkul Sophie.
Sophie tersenyum, namun matanya berkaca-kaca.
*
Marry menghubungi Kevin dan mengabarkan keadaan Nana yang masih belum sadarkan diri dan dirawat di rumah sakit. Lalu Alice yang terpukul dan sedih mengetahui bahwa Nana, salah satu orang yang dikasihinya sakit. Marry berharap, Kevin dapat menghibur Alice.
Marry agak menyesal saat pesannya terkirim pada Kevin. Tapi, di sisi lain hatinya, dia merasa Kevin juga memiliki kewajiban terhadap Alice. Menghibur putri mereka yang sedang sedih.
__ADS_1
Kevin datang ke rumah sakit sambil membawa buket bunga untuk Nana, dan sekotak pizza untuk Alice dan Marry yang sore itu sedang menemani Nana.
Alice langsung menghambur dalam pelukan Kevin ketika mengetahui dia datang. Marry hanya tersenyum tipis melihat keakraban mereka.
"Apa kamu sudah makan?" Tanya Kevin sambil merenggangkan pelukannya pada Alice.
"Aku tidak ingin makan." Alice menggeleng.
"Jika Nana sedang sakit, kita yang menjaganya tidak boleh melupakan kesehatan juga. Kita harus makan dan harus selalu sehat. Supaya, bisa merawat dan melihat Nana sembuh dan pulih seperti sedia kala." Hibur Kevin.
"Ini aku bawakan cheese pizza, kamu pasti suka!" Kevin membuka kotak pizza dan menyodorkan pada Alice.
"Wow... Pizzanya sangat menggoda! Aku mau makan." Ucap Alice sambil menyomot potongan pizza tersebut.
Kevin menoleh ke arah Marry.
"Ayo, kamu juga harus makan! Aku tak mau, kamu ikutan sakit." Bujuk Kevin.
Marry hanya bisa terkekeh, sambil mengambil sepotong pizza.
"Aku mau lagi!" Alice mengambil sepotong lagi, dan memakannya dengan lahap.
"Pelan pelan makannya. Nanti tersedak." Marry mengingat Alice.
Kevin hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah Alice.
"Oya?" Kevin terkejut.
"Ya, beberapa hari yang lalu, dia dipalak dan sepedanya diambil oleh anak anak nakal tetangga Nana. Lalu Nana dan aku menolongnya. Paman Willy mengambil kembali sepedanya yang diambil oleh anak nakal itu. Lalu Bibi Emily yang mengantar Hank pulang. Dia telah meminta maaf dan tidak nakal lagi di sekolahan. Sekarang dia bersikap baik padaku dan teman teman yang lain." Cerita Alice dengan gembira.
"Bagus itu. Akhirnya kalian bisa berteman." Sahut Kevin.
"Ma, aku mau ke toilet." Alice kebelet buang air kecil.
"Kamu bisa ke toilet sendiri? Atau mama perlu bantu kamu?"
"Aku bisa sendiri." Alice lalu turun dari kursi dan menuju ke toilet yang ada dalam kamar rumah sakit.
"Sebaiknya, besok kamu tetap mengajak Alice jalan, untuk menghiburnya." Ucap Marry saat Alice masuk ke toilet.
"Kamu bisa ikut?"
"Aku ada pekerjaan dengan Nyonya Ruth. Ini pekerjaan terakhirku, sebelum aku benar benar keluar dari event organizer miliknya." Jawab Marry.
"Aku harap, kamu bisa ikut bersama kami." Ucap Kevin sambil menatap Marry penuh harap.
__ADS_1
DEG!
Tatapan Kevin saat itu membuat jantung Marry berdetak tiga kali lebih kencang. Entah kenapa.
"Aku tidak janji, Kev. Tapi aku harap, kamu bisa menghibur Alice."
"Tenang saja. Aku akan menghibur dan menjaganya selalu."
Tak lama kemudian William dan Emily masuk ke dalam kamar.
"Eh, ada kalian!" Seru Emily sambil tersenyum.
"Mama Alice?" Tanya William.
"Aku di sini! Paman merindukan aku?" Sahut Alice sambil memamerkan gigi ompongnya pada William.
"Ya, aku rindu kamu, anak cantik!" William menghampiri Alice dan menggendongnya, lalu mencubit hidung Alice dengan gemas.
"Auu, sakit!" Pekik Alice terkejut.
Semua yang ada di sana tertawa melihatnya.
"Sebaiknya, Kalian pulang saja. Malam ini biar aku dan Emily yang menjaga Nana. Kalian tenang saja. Emily ada di sini." William berujar sambil pura pura berbisik pada Marry dan Alice.
Emily hanya tersenyum geli melihatnya.
*
Malam itu Kevin mengantar Marry dan Alice pulang. Kevin ikut masuk ke dalam apartemen mereka.
"Alice, bersihkan tubuhmu dulu sebelum tidur!" Perintah Marry, yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Alice.
Marry membuatkan segelas susu untuk Alice, dan membuatkan kopi untuk Kevin.
Kevin hanya bisa menatap Marry uang sedang sibuk di dapur, lalu menghampirinya sambil bersandar di dekat wastafel, menatap Marry yang mengaduk kopi dan krimer.
Marry yang sedari tadi sadar diperhatikan oleh Kevin hanya bisa menghela napas.
Marry meletakkan gelas dan cangkir di meja makan dan menoleh ke arah Kevin, hendak menanyakan alasan mengapa memperhatikan dirinya terus.
DEG!
Tepat saat berbalik, Marry melihat Kevin yang berada tepat di depannya. Jarak mereka hanya beberapa centimeter saja. Marry pun dapat mendengarkan hembusan napas dari hidung Kevin.
Mata mereka saling menatap.
__ADS_1
"Astaga! Apa yang harus aku lakukan. Mengapa setiap menatap mata Kevin aku selalu seperti ini. Dadaku juga berdetak lebih kencang? Tuhan tolonglah aku!" Teriak Marry dalam hatinya.
"Marry, bibirmu benar benar sangat menggoda. Dan... Mengapa aku jadi seperti ini, saat berduaan denganmu?" ucap Kevin dalam hati.