
"Jika kamu belum siap, aku akan menunggumu. Aku ingin belajar mencintai seseorang dengan tulus dan sepenuh hati. Aku mencintaimu, Marry." Kevin menatap wajah Marry dan memegang pipi wanita itu dengan lembut.
Terasa hangat.
DEG!
Jantung Marry seakan berhenti berdetak.
"Ya Tuhan, aku harus bagaimana ini! Mengapa aku hanya diam dan bibirku Kelu seperti ini! Mengapa aku seolah menikmati setiap kata yang terucap dari mulutnya bagai sebuah lagu. Kenapa aku tak bisa membencinya seperti dulu lagi?"
Dalam diri Marry bergejolak. Antara ingin menolak dan ingin menikmati setiap ucapan dan perlakuan lembut Kevin.
Selama ini dia tak pernah merasakan hal yang manis seperti ini. Bahkan dengan Justin pun, dia tak pernah diperlakukan lembut seperti ini.
"Gombal! Dia telah terbiasa merayu wanita. Sehingga dengan mudah dia merayuku. Tidak! Aku tidak mudah dirayu oleh Kevin, huh!"
Marry mengerjapkan matanya dan menghela napas.
"Hmmm... Aku, aku... Aku ingin makan dulu." Ucap Marry salah tingkah.
Marry menarik tangannya dari genggaman Kevin, dan menjauhkan tubuhnya dari Kevin.
Lalu dia menghabiskan pizza miliknya yang sedari tadi tak sempat dia makan, hanya ditaruh di piringnya saja.
Kevin yang sedikit kecewa dengan Marry yang belum mau menerimanya.
Selama ini, tak pernah ada wanita yang menolak Kevin. Semuanya menerima dengan senang, bahkan dalam hitungan jam, wanita itu dengan mudah dia taklukkan, dan berakhir dalam pelukannya.
Marry benar benar berbeda. Meski pun Kevin sebenarnya tahu, Marry juga menginginkan dirinya, namun, dia masih bisa menahan semua gejolaknya.
Wanita seperti itu sangat langka, menurut Kevin. Marry tak mudah dia taklukkan.
"Baiklah, sepertinya aku harus pamit pulang dahulu, sudah larut malam."
Marry menoleh ke arah Kevin dan melihat ke arah jam dinding. Pukul 02.00 dini hari. Dan hari sedang hujan badai seperti ini. Marry bukan orang yang tak berperasaan. Dia masih punya belas kasihan.
"Sebaiknya kamu bermalam di sini saja. Kamu bisa tidur di kamarku atau di sofa." Sahut Marry.
"Aku tidur di sofa saja." Sergah Kevin.
Marry masuk ke dalam kamarnya, dan beberapa saat kemudian dia mengambil bantal, selimut, dan pakaian ganti.
"Pakailah ini untuk tidur. Tidak enak tidur mengenakan pakaian jalan seperti itu." Tukas Marry sambil menunjuk pakaian yang dikenakan Kevin.
Sejenak Kevin tertegun dengan pakaian yang diberikan oleh Marry.
"Pakaian laki laki? Dan dia bertingkah seolah tak pernah bersama laki laki?" Sindir Kevin dalam hati.
"Ini pakaian Ben. Kebetulan dia meninggalkan pakaiannya di sini, jika sedang menginap di sini untuk menjaga Alice. Sophie dan Ben sering menginap di sini, jika aku sedang bekerja di luar kota. Terutama jika Alice tidak libur." Marry seolah dapat membaca pikiran Kevin.
Kevin tersenyum lega. Entah mengapa dia sangat senang dan lega mendengar setiap pengakuan Marry.
Kevin ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan berganti pakaian. Lalu keluar menuju ke sofa.
Dia mengintip ke kamar Marry yang sedikit terbuka. Marry telah merebahkan dirinya di tempat tidurnya saat itu.
__ADS_1
Kebiasaan Marry adalah membuka sedikit pintu kamarnya, supaya jika Alice membutuhkan dirinya, Marry dapat segera bangun dan menuju kamar Alice.
Bahkan saat Kevin berada di sana pun, dia lupa untuk menutup pintunya.
*
Kevin menatap sekeliling ruangan apartemen Marry. Sebuah lemari berisi piala, piagam, dan penghargaan Alice tersimpan rapi di sana. Sebuah foto keluarga, mungkin Marry bersama kedua orang tuanya, tebak Kevin.
Lalu foto Marry dan Alice, Marry dan Sophie. Kevin berhenti pada sebuah foto Marry seorang diri sambil mengenakan toga kelulusan SMA nya. Marry terlihat lebih gemuk dalam foto itu. Mungkin karena Marry sedang hamil saat itu.
Kevin memejamkan matanya berusaha mengingat malam itu. Namun, tetap tidak ingat.
Kevin merebahkan tubuhnya di sofa sambil memainkan ponselnya. Lalu kantuk mulai menyerangnya, dan Kevin menaruh ponselnya di meja. Dan memejamkan matanya.
*
Marry terbangun. Dia meneguk air minum di gelas hingga habis. Lalu melihat ke arah jam weker. Sudah 5 pagi. Hari masih gelap, dan udara dingin masih merasuk dari selalu jendela. Di luar masih gerimis.
Marry melihat ke arah pintu.
"Hah? Aku lupa menutupnya! Ada Kevin di luar sana!" Jeritnya dalam hati sambil memegang megang tubuhnya.
Lalu dia bernapas dengan lega, karena Kevin tidak menidurinya.
Marry turun dari tempat tidurnya, dan menuju ke arah luar.
Marry membuka pintu kamarnya, dan berjalan sambil berjingkat jingkat supaya tidak membangunkan Kevin.
Marry berhenti tepat di depan sofa, menatap Kevin yang masih terlelap.
Marry menghela napas sejenak, lalu membalikkan tubuhnya menuju ke arah dapur.
Saat melewati sofa, tiba tiba tangan Kevin meraih lengan Marry dan menariknya.
BRUK!
Tubuh Marry dengan sukses terjatuh dan menimpa tubuh Kevin yang ada di sofa.
"Auuww!"
"Aduh!"
Cup!
Bibir Marry tak sengaja menyentuh bibir Kevin saat terjatuh.
Untuk sesaat hening.
Kevin yang baru bangun karena terkejut, masih belum sadar.
Dan Marry yang masih terkejut dan syok, hanya bisa diam pada posisinya.
"Mau berapa lama lagi kamu berada di situ? Atau kamu berusaha membangunkan yang masih tertidur di sana!" Ucap Kevin pelan sambil menunjuk adik kecilnya.
"Jiahhh....!"
__ADS_1
Marry terlonjak, buru buru turun dari tubuh Kevin dan merapikan pakaiannya.
"Dasar mesum!" Dengus Marry.
"Loh, kok aku? Aku kan tidur, lalu terbangun, karena kamu menimpa tubuhku." Balas Kevin.
"Aku seperti itu karena kamu menarik lenganku, huh!" Desis Marry dengan kesal.
Kevin tersenyum menatap wajah Marry yang bersemu merah jambu menggemaskan.
Jika dia bisa memutar waktu tadi, dia tak akan bangun secepat itu, dan membiarkan Marry berada di atasnya sambil menciumnya.
Marry bergegas menuju ke dapur dan mencuci piring kotor sisa semalam.
Dengan lincah dia melakukan pekerja rumahnya. Kevin menatap dari sofa.
Marry benar benar terlihat sangat seksi.
"Huh! Tolonglah jangan bangun! Dia akan sangat ketakutan pasti!" Desis Kevin pada adik kecilnya.
Kevin berusaha meredam hasratnya setiap kali melihat Marry yang sedang sibuk beraktivitas.
Tiba tiba ponsel Marry yang di letakkan pada meja makan berbunyi. Marry menerima panggilan tersebut.
"Marry, Nana telah sadar!" Terdengar suara William di seberang sana.
"Oh, syukurlah. Aku sangat senang mendengarnya. Nanti aku akan mampir ke sana. Terima kasih, Will. Bye!"
Marry menutup panggilan ponselnya, dan menoleh ke arah Kevin yang masih terpesona menatap Marry.
"Hai, mengapa melihatku seperti itu?" Tanya Marry dengan suara ketus.
"Tidak apa apa." Sahut Kevin sambil berdiri, menuju dapur.
"Nana sudah sadar. Nanti aku dan Alice akan mengunjungi di rumah sakit."
"Aku akan menemani kalian." Sahut Kevin sambil tersenyum.
Marry mengangguk.
Marry melanjutkan membuat sarapan untuk mereka semua pagi itu dan membuat susu untuk Alice, dan kopi untuk Kevin dan dirinya.
"Terima kasih." Ucap Kevin, saat Marry meletakkan secangkir kopi di hadapannya.
Marry melanjutkan memanaskan makanan mereka semalam dalam microwave.
Lalu dia membuat adonan untuk muffin, dan menuangkan pada loyang, dan memasukkan dalam oven.
Tubuh dan tangan Marry terlihat lincah saat berada di dapur.
Kevin teringat akan Nenek Max, yang selalu memanjakan dirinya dengan masakannya. Dia suka melihat neneknya saat memasak. Dan itulah salah satu alasan dia menyukai Marry.
Melihat Marry yang sibuk memasak, meracik bumbu ini dan itu dengan lincah tangannya menuju pada panci, oven, lalu ke wastafel. Marry terlihat sangat seksi sekali, dengan celemeknya, dan rambut diikat.
Kevin makin jatuh hati pada wanita itu.
__ADS_1