Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Berjalan Jalan


__ADS_3

Kevin mengajak Alice menuju sebuah pusat perbelanjaan.


"Horee....!!" Sorak Alice dengan gembira.


Marry hanya tersenyum kecut melihat keceriaan putrinya. Sedang Kevin yang mulanya sangat senang melihat kegembiraan yang ditunjukkan oleh Alice, kini menjadi tidak enak melihat raut wajah Marry.


"Maaf, aku hanya ingin mengajaknya bersenang-senang, sebagai terima kasih." Kevin tersenyum, sambil berlalu menghampiri Alice dan menggandeng gadis kecil itu di sampingnya.


"Terima kasih? Terima kasih untuk apa? Apa karena kerja keras putriku, dapat menghasilkan keuntungan besar bagi perusahaannya! Huh... Aku harus bagaimana sekarang?" Ucap Marry dalam hati.


Dia hanya bisa menghela napas, dan mengikuti Kevin dan putrinya yang berjalan bergandengan di depannya.


Kevin masuk ke gerai pakaian pria, dan melihat lihat dengan bingung.


"Kamu bisa bantu aku?" Tanya Kevin, menyadarkan Marry yang melamun.


"Oh, ya, bantu? Bantu apa?" Marry menatap Kevin dengan bingung.


"Memilihkan hadiah untuk Papaku." Sahut Kevin dengan memasang raut wajah memelas.


Marry melotot, dan terdiam sesaat.


"Tuan Mars, pasti telah memiliki banyak kemeja dan jas, dan dari butik ternama tentunya. Mengapa tidak memberi dasi atau ikat pinggang saja. Meski benda kecil, namun penting juga untuk penampilan." Jawab Marry dengan wajah datar.


"Aha! Ide bagus." Sahut Kevin.


"Tapi, harganya murah, Tuan Mars..."


"Tidak, tidak.. Papaku tidak pernah menilai dari harganya. Dia akan sangat menghargai setiap pemberian orang lain." Sela Kevin, meyakinkan Marry.


Kevin bergegas pada sudut aneka dasi, Marry mengikuti. Mereka memilih beberapa dasi untuk kado dan ikat pinggang dengan kualitas premium tentunya.


Alice tersenyum melihat keakraban yang berlangsung antara Kevin dan mamanya. Meskipun, dia tahu, itu hanya impiannya saja, yang terlanjur berharap bahwa Kevin adalah Papanya.


Sambil menenteng belanjaan, mereka masuk ke sebuah gerai pakaian wanita, Kevin ingin mencari kado untuk Mamanya.


"Mamaku, agak unik. Dia tak terlalu suka mengenakan tas branded. Dia lebih suka aksesoris yang tradisional dan etnik." Gumam Kevin sambil menoleh pada Marry.


"Mengapa tidak memberi kado handuk, jam tangan, atau benda benda yang dapat pakai secara berpasangan." Sahut Marry.


Kevin terdiam sejenak, lalu menatap Marry sambil tersenyum.


"Brilian! Aku suka idemu." Kevin tersenyum lebar, lalu menoleh pada Alice.


"Ternyata mamamu sangat pintar memberi saran. Aku tidak harus memutar otak untuk mencari hadiah." Ucap Kevin sambil menjawil dagu Alice.


"Mamaku adalah yang terbaik!" Sahut Alice dengan polos sambil tersenyum lebar.


Kevin tersenyum, sambil melirik pada Marry , yang hanya tersenyum tipis.


Jantungnya berdesir saat melihat wajah Marry. Entah mengapa dia mulai merasa nyaman berada di dekat Alice, dan kini Marry.


Meski, itu senyum pertama yang baru dia lihat dari wajah Marry selama mereka bertemu.


Mereka melewati pakaian pakaian wanita, tak sengaja Marry menatap sebuah dress yang terpajang. Gaun pesta mewah nan elegan, berwarna hitam.


Marry berdiri sejenak menatap dress pesta itu, saat Kevin dan Alice memilih jepit rambut untuk Alice.

__ADS_1


Marry melihat label harga, dan hanya bisa menelan ludahnya.


"Gajiku bekerja di event selama setahun pun, tidak cukup untuk membeli gaun ini. Gila, mahal sekali!" Batin Marry sambil menjauh dari dress itu.


Saat itu, Kevin sempat melihat Marry menatap gaun pesta itu. Lalu, membantu Alice memasang jepit rambutnya.


Marry telah berada di samping Alice, merapikan jepit yang dipakaikan oleh Kevin.


Kevin akhirnya memilih handuk dan jam tangan berpasangan untuk ulang tahun perkawinan Papa Mamanya.


Lalu setelah itu, mereka menuju gerai pakaian anak anak, dan memilih beberapa dress, kaos, dan celana.


Setiap barang yang Alice suka dan ada ukurannya, langsung Kevin ambil dan tumpuk.


Kevin membawa semua pilihan Alice ke kasir. Marry bergegas mengejarnya.


"Tunggu!" Marry memegang tangan Kevin menahannya supaya tidak ke kasir dulu.


"Ada apa?" Tanya Kevin heran.


"Ini semua?" Marry menunjuk tumpukan baju pilihan Alice.


"Ya, aku akan bawa ke kasir."


"Kevin, tapi ini terlalu banyak untuk Alice. Lagian harganya mahal." Ucap Marry.


"Baiklah. Kamu ibunya. Kamu lebih mengerti apa yang diperlukan oleh Alice." Kevin mengalah, dan menaruh tumpukan pakaian yang telah di pilih Alice di meja di dekat kasir.


Marry dan Alice berdiskusi memilih pakaian mana yang benar benar dia butuhkan atau tidak. Marry memilah Milah pakaian itu, dan mengukur pada tubuh Alice.


Kevin menatap Marry, wajahnya yang cantik, mungkin berusia sekitar 25 tahun , tebak Kevin.


Mengapa dia tidak mencari ayah kandung Alice? Atau tidak menjalin hubungan dengan lelaki lain selama ini? Atau dia terlalu bingung menentukan lelaki mana yang telah menghamilinya? Atau Dia adalah korban pemerkosaan?


Kevin teringat, bahwa Marry tidak memiliki kekasih dan teman dekat pria saat ini. Beberapa kali berkencan, itu pun karena dikenalkan oleh Bibi Sophie, atau teman teman mamanya. Namun, mereka tidak pernah lanjut setelah itu. Mungkin Marry pernah trauma dengan hubungan serius.


Marry kira kira berusia sekitar 25tahun saat ini. Usia yang masih sangat muda saat dia memiliki anak. Pasti dia pernah mengalami masa masa sulit selama ini, dan dapat melewati dengan baik.


Alice menyadarkan Kevin dari lamunannya, dan membawa pakaian yang telah disortir kembali oleh Marry.


"Sudah?" Tanya Kevin.


Alice mengangguk.


Kevin membantu membawakan pakaian pilihan Alice pada kasir dan membayarnya.


"Terima kasih, Papa Kevin!" Ucap Alice sambil memeluk Kevin saat. Sejalan sambil menenteng belanjaannya.


"Sama sama. Dan kamu boleh tetap memanggilku papa." Sahut Kevin lembut.


Marry hanya menatap keduanya tanpa ekspresi. Marry membantu membawakan tas belanjaan Alice dan berjalan di belakang Kevin dan Alice.


"Apakah aku boleh es krim?" Tanya Alice pada Kevin.


"Alice!" Sela Marry sambil geleng-geleng kepala.


"Tapi aku haus, Ma. Aku ingin es krim." Ucap Alice merengek.

__ADS_1


"Ah, tidak apa apa, aku juga sedang haus mau mencari es krim." Tukas Kevin.


Kevin dan Alice berjalan menuju gerai es krim.


Alice bersorak senang, dan mereka memesan es krim.


Mereka menikmati es krim di bangku food court.


Kevin dan Alice bersenda gurau, sedang Marry hanya melihat mereka, sambil memainkan ponselnya.


Marry lalu menepuk lengan Kevin, dia mengelap membersihkan sisa es krim pada sudut bibirnya dengan gemas. Lalu memperlakukan hal sama pada Alice.


Alice tertawa melihat hal tersebut.


Kevin hanya tersenyum. Jantungnya sebenarnya berdetak kencang saat Marry menyeka sisa es krim itu di bibirnya.


Usai berbelanja, mereka berjalan keluar dari pusat perbelanjaan.


Kevin dan Alice berjalan menyusuri trotoar sambil tertawa dan bersenda gurau. Marry hanya mengikuti mereka saja sambil menenteng belanjaan Alice.


"Maaf, Tuan Mars, Anda mau ke mana sebenarnya?" Tanya Marry tiba tiba.


"Oh, ya. Hmm.. aku mau, ya. Aku mau pulang juga, kembali ke apartemenku." Sahut Kevin tergagap.


"Kami sudah sampai, Papa." Ujar Alice.


"Oya?"


"Di sana tempat tinggal kami, di lantai 3." Ucap Alice sambil berbisik pada Kevin.


Kevin menganguk angguk mengerti.


"Ma, kapan kapan apakah aku boleh mengajak Papa datang untuk makan bersama?" Tanya Alice.


Kevin dan Marry sama sama terkejutnya.


"Tuan Mars adalah orang yang sangat sibuk." Sahut Marry sambil menunduk menatap Alice.


"Ma, dalam satu Minggu itu ada tujuh hari, dan dalam sehari itu ada dua puluh empat jam. Masak, Papa bekerja terus. Seperti hari ini, dia bisa datang, dan kita berjalan jalan seperti ini." Bantah Alice sambil memberi alasan.


"Tapi, kita tida boleh memaksa orang untuk mengikuti kita." Sahut Marry.


Lagi lagi, Kevin gemas saat melihat Marry sedang berdebat dengan Alice.


"Atau, kapan kapan kita bisa makan malam di tempatku?" Sela Kevin sambil tersenyum.


Marry langsung menoleh ke arah Kevin sambil membesarkan bola matanya. Berbeda dengan respon yang diberikan oleh Alice, yang bersorak-sorai dan memeluk Kevin.


"Ya, aku mau." Jawabnya dengan tertawa riang.


Lalu mereka berpisah di tempat itu, Marry dan Alice memasuki apartemen yang terlihat biasa itu. Berbeda dengan apartemen tempat tinggal Kevin selama ini.


"Bye Papa!" Teriak Alice sambil melambaikan tangannya, saat menoleh dan masih melihat Kevin di tempat yang sama.


Kevin membalas lambaian tangan Alice.


Dia menatap Marry dan Alice hingga menghilang masuk ke dalam gedung, lalu beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2