
Marry keluar dari kamar mandi, dan telah berganti pakaian. Dia tak ingin dikurung lagi di apartemen Kevin hari ini, karena banyak pekerjaan yang masih harus diselesaikan.
"Kev, Joe mengirimkan pesan. Katanya Alice ada di rumah Nana. Dia tak mau ke sekolah. Sepertinya gara gara masalah tadi."
Marry memasukkan ponsel dalam tasnya, lalu menatap ke arah Kevin yang masih terbaring di atas ranjang.
Kevin lalu bangun dan duduk bersandar pada sandaran kasur.
"Ya. Ini aku juga mendapat pesan dari Joe. Dan beberapa meeting yang harus aku hadapi hari ini." Ucap Kevin dengan nada mengeluh.
Marry mendekati suaminya dan duduk di bibir tempat tidur, membelai lembut rambut Kevin, lalu menaruh tangan pada pipi Kevin.
"Kita harus bekerja. Banyak orang yang bergantung dengan kita. Jangan egois."
"Apa maksudmu?" Kevin mengernyitkan keningnya.
"Kamu dan aku memiliki karyawan yang mengandalkan gajinya untuk menghidupi keluarga atau dirinya sendiri. Jadi, kita sebagai pemimpin harus memikirkan mereka juga. Banyak yang menggantung hidup dengan kita. Terutama kamu, yang memiliki banyak karyawan."
Kevin menatap Marry dengan tatapan lembut.
"Aku tak percaya itu semua ucapanmu, Sayang. Selama ini aku tak pernah berpikir seperti itu. Yang aku pikirkan hanyalah keuntungan yang besar, dan popularitas."
Marry menepuk nepuk pipi Kevin dengan lembut.
"Mulai hari ini, sepertinya kamu harus mulai memikirkan bergabung dengan badan amal milik kakakmu."
"Mengapa?"
"Emily, telah memiliki badan amal untuk berbagai kegiatan sosial, terutama untuk anak anak. Termasuk rumah sakit khusus untuk anak anak. Itulah sebabnya aku mengidolakan dirinya."
"Benarkah?" Kevin melotot tak percaya.
"Ssttt.... Tapi tak perlu kamu ceritakan padanya. Aku jadi tak enak."
Marry memasang tampang memelas.
Kevin tertawa terbahak-bahak melihat itu.
"Itu semua tidak benar! Harusnya aku yang menjadi idolamu!" Sahut Kevin setengah memaksa.
"Enak saja!" Kali ini Marry melayangkan telapak tangannya ke punggung Kevin dengan agak keras.
"Aduh!"
Kevin hendak meraih Marry, namun Marry lebih cepat menghindar.
"Sudah, sana bersiap siap. Aku akan ke kedai dulu, lalu menjemput Alice di rumah Nana."
*
*
Marry menghentikan mobilnya di halaman rumah Sophie yang tampak sepi, karena pemiliknya sedang tidak ada di rumah.
Ben sibuk di kedai, Sophie sedang berdinas di klinik. Dan Bayi Liam, anaknya sedang dititipkan di rumah Nana. Kali ini, Sophie sengaja meminta bantuan tetangganya untuk membantu Nana mengasuh bayinya.
Nana menyambut Marry dengan pelukan hangat saat memasuki rumah.
"Apa yang terjadi?" Tanya Nana penuh selidik.
Marry menghela napas sejenak.
"Salah paham, Nana. Dan aku harus menjelaskan pada Alice."
"Dia ada di dalam kamar, sejak datang hingga sekarang dia sama sekali belum beranjak dari kamar itu." Nana menunjuk kamar yang biasa digunakan Alice untuk beristirahat ketika dititipkan di rumah Nana.
Marry melangkah menuju kamar di sudut ruangan.
Tok tok tok!
"Alice, ini mama, Sayang." Ucap Marry sambil mengetuk pintu.
"Masuk!"
__ADS_1
Alice menyahut dari dalam.
Cek lek
Marry masuk ke kamar, dan melihat Alice duduk di sudut ruangan sambil lutut ditekuk, dan dagu di atas lutut.
Alice tak menoleh sedikit pun ketika Marry menghampiri.
Marry mengambil tempat duduk di samping Alice.
Marry membelai lembut rambut Alice, sambil mengikuti pandangan mata yang dilakukan oleh Alice.
"Bunga matahari di halaman Nana mekar semua. Apakah itu kamu yang menanamnya?"
Alice mengangguk lemah tanpa menoleh pada Marry.
"Mengapa tidak sekolah?" Tanya Marry dengan suara lembut.
"Aku sedih!" Sahut Alice.
"Sedih kenapa?"
"Aku takut mama dan papa akan berpisah dan papa menikah dengan Tante itu." Kali ini air mata Alice tak terbendung lagi, dia menangis terisak.
Marry tersenyum, lalu memeluk putrinya itu dengan erat.
"Tidak akan pernah." Jawab Marry sambil meregangkan pelukannya pada Alice.
Marry membelai lembut dan menghapus air mata yang membajiri wajah putrinya itu
"Kejadian tadi pagi hanya salah paham saja. Brenda selama ini hanya berteman dengan papa Kevin. Dan bayi yang ada dalam kandungan Brenda, bukan anak dari papa Kevin." Terang Marry sambil mengusap usap punggung putrinya itu.
"Tapi, tadi pagi, kelas jelas dia langsung memeluk papa. Aku tidak suka." Cicit Alice pelan.
Marry tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Salah paham saja, Sayang. Brenda tidak hamil dengan Kevin, tapi dengan kekasihnya. Dan dia bingung. Kamu tahu, kan? Brenda adalah model dan artis papan atas. Dia harus syuting, belum lagi masih harus menjadi model. Dia dan papa Kevin adalah teman. Jadi, dia datang ke apartemen untuk berkeluh kesah."
Kali ini Alice menatap mamanya.
"Mama sayang papa Kevin?"
"Tentu saja. Jika tidak, aku tak kan mau tinggal di rumahnya itu."
"Lalu, jika papa kandungku datang, apakah Mama akan tetap sayang pada papa Kevin?"
Marry terdiam sejenak.
Akhirnya dia tahu kegelisahan putrinya. Alice takut seandainya, papa kandungnya datang. Dia takut menghadapi kenyataan papanya bukan Kevin.
"Aku tak akan meninggalkan Kevin. Apa alasanku? Kecuali, papa Kevin yang melakukan kesalahan fatal padaku, padamu. Aku tak bisa memaafkan."
"Jika papa kandungku datang dan mengajak Mama menikah bagaimana?"
"Dia tak akan berani. Memangnya papa Kevin yang bisa memaksa seenak perutnya saja!" Tukas Marry sekenanya.
Alice terkekeh mendengar ucapan asal asalan dari Marry.
"Dengar, mama dan papa tidak akan berpisah, bukan karena kamu. Tapi karena kami saling mencintai. Dan kamu tidak usah khawatir. Papamu adalah Kevin. Titik. Itu saja."
"Tapi aku memiliki papa kandung."
"Alice, kamu ingat pernah ke rumah sakit bersama papa? Bertemu dengan Bibi Emily?"
Alice terdiam, terlihat dia berusaha mengingat.
"Yang aku disuruh buka mulut itu?" Tanya Alice
Marry mengangguk cepat.
"Saat itu Papamu melakukan tes DNA padamu."
"Apa maksudnya?" Alice mendongak menatap ke arah Marry.
__ADS_1
"Memastikan kamu putrinya atau bukan."
"Hah?" Alice melotot menatap Marry.
"Hasilnya 99,99% kamu adalah putri kandung Kevin Mars."
Alice semakin melebarkan matanya, tak percaya bahwa sesungguhnya dia benar benar putri Kevin.
"Bagaimana bisa? Kata mama bukan dia."
Marry terdiam sesaat, sambil melayangkan pandangan menatap bunga matahari yang mulai bermekaran di halaman rumah Nana.
"Waktu itu, usia mama masih sangat muda, saat kamu hadir di dunia ini. Mama bingung, sama seperti Tante Brenda. Dan saat itu Mama tak memiliki orang yang dapat mama percaya. Mama hanya bisa berusaha menjalani semuanya. Hingga saat ini. Kamu ingat gambaran papa yang mama beritahukan padamu?"
Alice mangangguk.
"Tampan, sekolah di MIT, merupakan orang cerdas. Dan aku memiliki bakat kecerdasannya." Sahut Alice.
"Nah, semua ada pada Kevin. Ditambah, mata kalian itu sama, berwarna cokelat, dan garis wajah yang mirip."
Marry memegang wajah putrinya, lalu mengecup pipi kanan dan kirinya.
"Mengapa Mama tidak menemuinya?"
"Papamu tidak seperti saat ini waktu itu. Mama yakin, dia tak akan pernah percaya bahwa kamu adalah anaknya. Namun, waktu menjawab semuanya. Dan mama sangat bersyukur, dengan apa yang mama alami sampai saat ini. Kamu juga harus bersyukur, kamu memiliki darah keluarga Mars. Jangan sombong dengan semua kekayaan nenek Kakekmu."
Alice tersenyum dan menjawab dengan anggukan kepala.
Marry memeluk putrinya kembali dengan sayang.
*
Marry membantu Nana memasak dan membereskan rumah, lalu membuang sampah ke tempat sampah di pinggir jalan.
Sebuah mobil menghampiri Marry.
"Hai, Marry!" Sapa Justin dengan ramah.
"Oh, hai. Apa kabar?"
"Baik. Ada waktu sebentar?" Tanya Justin dengan nada suara tenang.
"Ada apa?" Tanya Marry penuh selidik.
"Aku ingin meminta pendapatmu tentang beberapa hal."
"Tentang apa?" Marry masih terlihat bingung.
"Masuklah ke mobil, nanti akan aku tunjukkan." Ajak Justin.
Tanpa berpikir panjang, dan niat membantu, Marry masuk ke mobil Justin.
Justin menunjukkan beberapa model pakaian pengantin dan venue pernikahan pada Marry.
"Apa ini?" Tanya Marry dengan raut wajah heran dan bingung.
"Apakah bisa membantuku memilihkan yang cocok untuk acaraku dan Mia?" Sahut Justin sambil tersenyum.
"Ah, selamat ya! Aku sangat senang dapat membantumu dan Mia." Ucap Marry dengan riang.
Nyes!
Seketika kelegaan menyusup di dada Marry. Justin meminta pendapatnya untuk persiapan acara pernikahannya dengan Mia. Kini Marry memperhatikan Justin dan membantu memilihkan beberapa hal yang menurut Marry cocok bagi Justin dan Mia.
Justin menyodorkan air mineral untuk Marry. Lalu Marry meneguk sampai habis, karena hari ini cuaca sangat terik.
Tak berapa lama, kepala Marry terasa berat, dan pandangannya kabur.
Dengan sisa kesadarannya, Marry menatap Justin yang tersenyum ke arahnya.
"Jus... Tin... Apa yang telah kamu lakukan?" Tanya Marry mencoba untuk tetap sadar.
Namun, Marry telah terlelap, dan Justin membawanya pergi.
__ADS_1