
Senin pagi saatnya semangat kembali dalam memulai awal pekan ini. Marry mengantar Alice ke sekolah seperti biasanya, lalu menuju ke kedainya.
"Hai, Marry." Sapa Sophie saat Marry masuk ke dalam kedainya.
Sophie memberi pelukan dan cium pipi kanan dan kiri pada kakaknya itu.
"Wow, lihat! Siapa anak tampan yang sudah besar ini?" Marry menghampiri stroller bayi.
Liam, anak Sophie dan Ben tertawa sambil memainkan kakinya dan memasukkan jari ke mulutnya.
Marry bermain main sejenak dengan bayi kecil itu dengan gembira, sehingga terdengar gelak tawa dari bayi Liam. Sophie dan Ben menatap pemandangan itu sambil tersenyum.
"Sepertinya dia sedang jatuh cinta." Bisik Ben pada Sophie. Yang langsung membuat Sophie melongo dan menatap tajam pada suaminya itu.
"Dengan siapa?" Tanya Sophie penasaran.
"Kevin Mars. Tapi ini mungkin, loh. Aku hanya menebak saja. Karena sejak Nana masuk rumah sakit, dia sering menghubungi Kevin dan mereka kemarin menghabiskan weekend bersama. Alice, Marry, dan Kevin." Sahut Ben.
Sophie dan Ben masih menatap Marry yang masih bersenda gurau dengan bayi Liam.
"Sepertinya ada yang sedang jatuh cinta di sini?! Dan kami sepertinya ketinggalan ceritanya!" Cecar Sophie sambil menopang dagunya dengan tangan di meja kasir.
Marry menoleh ke arah adiknya tanpa ekspresi. Lalu menaikkan bahunya, enggan berkomentar.
Sophie lalu, turun dari kursi kasir, dan menghampiri Marry.
"Ayolah, Kak. Apakah ada perkembangan hubungan kalian?" Sophie masih penasaran.
Marry sudah hapal dengan adiknya. Rasa ingin tahunya sangat tinggi, bahkan dia tak segan-segan langsung bertanya pada orang yang bersangkutan jika dia sudah tidak tahan lagi mencari informasi terkait penasarannya itu.
"Siapa?" Marry balik bertanya.
"Kamu dan Kevin? Atau jangan-jangan kamu kembali pada Justin?" Tebak Sophie.
"Sejak di pesta pernikahan Terence dan saat di rumah sakit kemarin. Aku melihat Kevin sangat akrab dengan Alice. Dan kamu lebih sering menghubungi Kevin dari pada kami." Ben menimpali.
"Ya. Kami hampir lupa, kapan terakhir kali dirimu menghubungi Aku atau Ben." Sela Sophie.
"Tidak. Aku pernah meminta Ben menjemput Alice." Sahut Marry mencoba membela diri.
"Ya. Setelah itu Kevin datang menjemput Alice, dan setelah itu kamu kelihatan tidak masalah Alice bersama Kevin. Lalu akhir pekan kemarin, seperti kamu menghabiskan waktu bersama Kevin." Bantah Ben.
"Dari mana kamu tahu?" Marry mengerutkan keningnya.
"Dari status dan story' yang dibuat oleh Alice. Sangat jelas. Itu dirimu, Alice, dan Kevin." Sahut Sophie sambil berkacak pinggang.
Marry tahu. Adiknya sangat penasaran dan selama ini dia selalu merahasiakan kebenaran tentang ayah kandung Alice.
__ADS_1
Lalu saat ini, Marry merasa sangat terdesak. Sepasang adiknya ini, mendesaknya terus. Hingga membuat telinganya panas.
Marry menghela napas dalam-dalam.
"Kevin ayah biologis Alice."
Hening.
Jawaban Marry sukses membuat Sophie dan Ben terdiam dengan wajah melongo. Mulut sedikit terbuka dan mata melotot menatap Marry seakan tak percaya.
Ben dan Sophie duduk mengapit Marry dan menatap kakaknya itu.
"Baiklah. Aku akan ceritakan semua pada kalian nanti. Ini hampir jam buka toko, dan lihatlah beberapa orang hendak mampir ke mari ingin membeli sarapan." Ucap marry sambil menunjuk ke arah luar.
"Kamu harus janji pada kami!" Desak Sophie.
Marry menatap adiknya dan menganggukkan kepala.
"Ya. Aku janji akan menceritakan semua." Sahut Marry.
Ben dan Sophie yang masih penasaran harus puas dengan jawaban Marry saat ini.
Lalu mereka harus bekerja melayani pelanggan yang masuk dan keluar untuk berbelanja di sana.
*
Manager legal perusahaan menyerahkan map hasil perjanjian dengan klien untuk dibaca kembali oleh Kevin.
Kevin menerima map tersebut dan membacanya sejenak. Lalu menatap manager itu dan Justin.
"Baik. Ini sudah selesai. Nanti tinggal dikirimkan salinan surat perjanjian ini pada klien, dan pembayaran ke klien akan diurus oleh bagian keuangan perusahaan." Ucap Kevin dengan tegas.
"Baik, Tuan Mars. Terima kasih." Ucap manager itu.
Manager itu menuju tempatnya semula dan menepuk bahu Justin.
Justin tersenyum sambil menatap Kevin.
Kevin balas tersenyum.
"Terima kasih. Kerjamu cukup bagus, meskipun masih junior. Aku rasa, kami sangat terbantu selama kamu di sini. Lalu proyek dengan angkatan laut yang lalu juga kerjamu cukup bagus. Aku sangat puas."
Kevin menghampiri Justin sambil menjabat tangan Justin dengan erat.
Justin tersenyum dengan senang dan bangga. Dia tak menyangka dapat berhadapan langsung, bahkan berjabat tangan dalam pekerjaan yang sama.
"Terima kasih kembali Tuan Mars." Sahut Justin sambil menganggukkan kepalanya dengan hormat.
__ADS_1
"Pekerjaan kami telah selesai, apakah kami boleh permisi, Tuan Mars?" Tanya manager perusahaan yang masih di situ.
"Tentu." Sahut Kevin.
Justin dan manager perusahaan Kevin segera beranjak dari ruang meeting tersebut, meninggalkan Kevin dan Joe dalam ruangan itu.
*
"Marry telah menerimaku." Ucap Kevin pada Joe.
Membuat Joe terkejut dan menatap tajam ke arah atasan sekaligus sahabatnya itu.
"Sungguh? Bagaimana bisa?" Tanya Joe penasaran.
"Kami menghabiskan akhir pekan bersama. Setelah kabar buruk tentang Nana. Aku tak bisa membohongi perasaanku padanya Joe. Bukan sekedar bertanggung jawab akan anak saja. Tapi aku seakan menemukan seseorang yang tepat untuk diriku. Ya mungkin, seperti dirimu dan Olivia." Cerocos Kevin mencurahkan isi hatinya.
*
Di luar Justin merasa ada sesuatu yang kurang. Dia mengecek sakunya, dan menyadari ponselnya tertinggal di ruang meeting. Lalu dia kembali lagi ke ruangan itu, dan tepat saat hendak mengetuk pintu yang masih sedikit terbuka itu, Justin mendengar curhatan Kevin pada Joe, asistennya itu.
Justin terhenyak, terkejut saat nama Marry disebut. Lalu Nana. Itu adalah nama nama yang dia kenal dan familiar.
Justin mengetuk pintu dengan sopan dan mengambil ponselnya yang tertinggal di meja. Lalu segera permisi.
Justin menoleh pada Kevin, dan mereka saling bertatapan. Seolah seekor alpha yang berebut wanita incaran mereka.
Joe, menepuk bahu Kevin untuk menyadarkan atasannya itu.
*
Justin melangkah keluar gedung perusahaan Mars dengan tergesa. Dalam pikiran Justin hanya ingin bertemu dengan Marry dan meminta penjelasan dari apa yang tak sengaja dia dengar tadi dari mulut Kevin.
"Ya. Marry memang memiliki anak. Tapi menurut Kevin, itu anaknya. Apakah gadis kecil yang dia lihat di pesta pernikahan Terence dan Claire?" Justin terus bertanya pada dirinya sendiri.
Justin ingin segera bertemu dengan Marry.
*
"Marry, aku ingin kamu mengatakan yang sebenarnya padaku. Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Justin sambil menatap tajam ke arah Marry.
Marry masih diam membisu, tak ada satu pun kata terucap dari bibirnya.
"Selama ini aku mencintaimu. Dan kamu tahu itu dengan jelas, kan? Lalu tiba-tiba kamu menghilang dan seolah menghindar. Menjauh dan meninggalkan aku. Aku sangat kecewa padamu, Marry. Lalu aku kembali bertemu denganmu. Dan kamu telah memiliki anak." Justin masih menatap tajam pada Marry.
"Apakah dia anak Kevin Mars?"
*
__ADS_1