Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Bertemu Mia


__ADS_3

"Mia? Apa kabar? Ada apa?"


Marry menghampiri Mia yang duduk di sudut ruangan kedai.


Mia terdiam sambil menggenggam jemari tangannya sendiri hingga memutih. Menghela napas dalam dalam sebelum dia menyesap kopinya.


"Aku hamil!"


Marry tercenung. Menatap ke arah Mia, menunggu wanita itu melanjutkan ucapannya.


"Ya, aku hamil anak Justin."


"Selamat." Sahut Marry.


"Marry?"


"Ya."


Mia terdiam sejenak, mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya.


"Aku mencintai Justin. Tapi, mengetahui kejadian yang menimpamu tempo hari membuatku berpikir ulang. Aku tak menyangka Justin akan berbuat setega dan kejam seperti itu."


"Mia, secara tak langsung, aku penyebabnya. Aku yang membuat Justin menjadi monster seperti itu."


Kedua wanita itu saling bertatapan, larut dalam pikiran masing masing.


"Tidak Marry." Mia menggeleng kepalanya.


"Kamu tak bersalah. Mama ya menceritakan semuanya padaku. Mama papa Justin terlalu keras padanya sewaktu kecil. Justin selalu di tekan terus menerus. Sehingga dia merasa harus menjadi yang nomor satu."


Marry terdiam mendengar penjelasan Mia.


"Justin memiliki penyakit mental selama ini. Namun, setelah bisa melupakanmu, dia mulai perlahan sembuh dan karirnya bagus. Tapi, saat kembali berjumpa denganmu, penyakit itu kumat lagi. Aku tak menyalahkan dirimu. Sungguh. Dan aku juga tahu, dirimu telah menikah dengan Tuan Mars junior. Justin terlalu memikirkan dirimu. Dan sepertinya aku tak bisa melanjutkan hubunganku dengannya."


"Tapi, kamu sedang hamil."


"Tak masalah denganku. Aku akan melahirkan dan membesarkan anak ini sendiri tanpa Justin. Aku sudah lelah Marry."


Sejenak Mia menatap ke arah luar melaluinya jendela.


"Aku mencintai Justin sejak pandangan pertama. Pemuda yang tampan, cerdas, jago basket, ramah, dan segudang prestasi lainnya. Namun, ternyata di balik semua itu, Justin masih memendam rasa padamu, Marry. Aku terlalu memaksakan hubungan kami. Aku tahu, diriku ini hanya sebagai pelarian, namun aku terlalu bodoh untuk menyadari semua itu." Mia menggelengkan kepalanya.


"Bahkan ketika dia selalu menceritakan tentangmu, aku hanya memendam saja, tanpa bisa menolaknya. Seharusnya sejak awal aku menyadari semuanya. Bahkan aku rela melakukan apa saja, supaya hamil anak Justin, supaya kamu tak bisa memilikinya. Bodohnya aku!" Rutuk Mia sambil tersenyum sinis pada dirinya sendiri.


Marry terdiam, dia tak tahu harus berkomentar apa pada Mia.


"Kamu yakin dengan keputusanmu ini?" Tanya Marry.


"Aku sangat yakin, Marry. Aku tahu konsekuensi menjadi single mother. Dan aku merasa mampu mengatasi semuanya." Sahut Mia.


"Jika itu keputusanmu, aku bisa apa. Jika kamu memerlukan bantuanku, kamu bisa menghubungiku."


"Terima kasih, Marry. Dan selamat atas pernikahanmu dan Tuan Mars junior."


"Sama sama."


Keduanya saling tersenyum. Untuk pertama kalinya, Mia merasa sangat senang. Merasa memiliki teman. Selama ini ternyata dirinya tertutup mata hatinya karena cemburu.


Kini, setelah mengetahui, bahwa Justin memiliki sisi lain yang berbeda, akhirnya Mia memilih untuk mundur dan melupakan Justin.

__ADS_1


"Satu lagi." Tukas Mia.


Marry langsung menoleh dan menatap Mia dengan raut wajah serius.


"Alice benar putrimu dan Kevin?"


Marry terdiam sejenak, lalu kemudian senyum mengembang dari bibirnya.


"Ya. Dia putriku bersama Kevin."


"Semoga kalian berbahagia selamanya."


"Sekali lagi, terima kasih."


Sebelum meninggalkan kedai, Mia memeluk Marry untuk beberapa saat.


Lalu dirinya segera kembali ke Washington, untuk melanjutkan hidup dan pekerjaannya kembali. Karena pekerjaan di New York telah selesai.


*


"Huek... Huek... Huek..!"


Marry berlari ke wastafel kamar mandi usai mencium aroma parfum Kevin.


"Marry, kamu tak apa apa?" Tanya Kevin dengan khawatir.


Kevin menghampiri Marry dan memijat leher bagian belakang Marry, yang masih berjuang dengan rasa mualnya.


"Kev, tolong menjauhlah!" Marry mendorong tubuh Kevin untuk keluar dari kamar mandi.


Kevin menatap Marry dengan tatapan terkejut, tapi dia khawatir.


"Mama kenapa, Pa?" Tanya Alice sambil terengah-engah ketika sampai dalam kamar orang tuanya.


"Aku tak tahu. Semoga, mama, tidak apa apa, bukan sakit yang parah."


Joe tergopoh-gopoh berlari masuk ke kamar, ketika mendengar suara orang muntah.


"Ada apa, Bos?"


"Aku tak tahu Joe."


"Mama kenapa?" Tanya Alice sambil menghampiri mamanya yang kini terduduk di lantai kamar mandi.


Wajah Marry terlihat memucat, sambil berpegangan bibir wastafel.


"Apakah Mama baik baik saja?" Tanya Alice dengan takut sambil memeluk mamanya.


Marry memeluk Alice dengan erat. Dan keadaannya berangsur membaik.


"Mama hanya kelelahan. Mungkin beristirahat seharian dapat membantuku." Bisik Marry sambil tersenyum.


"Sungguh?"


"Iya."


"Kamu berangkatlah ke sekolah. Mama janji, sepulang sekolah, akan berada di rumah dan menunggumu dalam keadaan lebih baik."


"Baiklah. Aku akan menyiapkan bekalku sendiri."

__ADS_1


Marry mengangguk, sambil mencium kening putrinya dengan rasa sayang.


Setelah Joe mengantar Alice ke sekolah, Kevin kembali ke kamar. Marry berbaring di ranjang.


"Aku akan menemanimu."


Marry menggeleng cepat.


"Pergilah! Aku tak apa apa. Aku janji akan menghubungi William untuk memeriksaku."


"Baiklah, aku akan menghubungi Will untuk segera datang."


"Kebetulan, tolong menjauhkan dariku!"


Marry merasakan kembali rasa mual itu ketika Kevin mendekatinya. Lalu berlari menuju ke kamar mandi.


Huek... Huek... Huek..


"Marry, sungguh kamu sedang sakit. Aku akan membawamu ke rumah sakit."


"Nggak! Biarkan aku beristirahat. Menjauhlah dariku!"


Kali ini Marry benar benar mendorong Kevin dengan lebih kuat.


Seketika Kevin terkejut, dan menatap tajam ke arah Marry.


"Marry kamu ini kenapa? Aku ini suamimu! Aku hanya ingin menolongnya! Aku sangat khawatir padamu." Tukas Kevin dengan suara keras.


Marry hanya menggeleng kepalanya.


"Tolong Kev, menjauhkan dariku! Aku tak suka aroma tubuhmu. Membuatku merasa sangat mual dan ingin muntah."


Marry kembali memegang perutnya dan mengeluarkan isi perutnya yang kosong itu.


Tubuh Marry terlihat lemah, dan wajahnya memutih, sayu, dan kuyu.


"Baiklah, aku akan berganti pakaian dan tak akan menggunakan parfum lagi."


Kevin segera menuju ke ruang pakaian dan mengganti pakaiannya.


Ketika keluar dari ruang gantinya, dia melihat Marry duduk di ruang dapur bersama Joe.


Terlihat Joe membuatkan secangkir minuman jahe untuk Marry.


Kevin menghela napas dalam-dalam, lalu menghampiri keduanya yang sedang menikmati minuman di ruang dapur.


"Terima kasih, Joe. Kamu memang yang paling tahu apa yang aku butuhkan saat ini."


"Sama sama." Sahut Joe sambil melirik ke arah Kevin yang melotot padanya karena tidak suka.


"Maaf, Bos. Aku tak tahu mengapa Marry seperti ini padaku." Joe berbisik pada Kevin karena merasa tak enak.


"Aku telah menghubungi Will. Dia akan segera datang kemari." Ucap Kevin.


"Baiklah. Aku akan menunggu Will. Kalian pergilah, tak usah menungguku."


"Tapi, Sayang?"


"Sudahlah, pergilah kalian! Ini sudah jam berapa? Apa kamu tidak kasihan pada Kim yang sibuk mencarimu, Kev."

__ADS_1


__ADS_2