
Usai meeting yang sangat melelahkan. Kevin sengaja menghabiskan waktu istirahatnya hanya duduk di kursi kebersamaannya sambil menatap gedung gedung yang menjulang tinggi di depannya.
Tok..Tok.!
"Masuk!" Teriak Kevin dari dalam ruangannya.
Pintu terbuka dan Joe muncul dari ambang pintu sambil membawa tas berisi makanan pesanan Kevin.
"Bos, ini pesananmu. Dan ini semua yang membungkus adalah Marry sesuai permintaan." Ujar Joe sambil mengeluarkan makanan dari tas.
Kevin hanya menanggapi dengan anggukan kepala. Lalu membuka kotak muffin, dan mengambil satu, lalu memasukkan setengah bagian kue dalam mulutnya.
"Kata Marry ini dibuat khusus untukmu. Manisnya dari madu, dan rendah kalori. Supaya kamu tidak mudah lelah dan lebih fokus. Lalu Marry mengganti kopi dengan smoothies buah." Joe meletakkan minuman itu di meja tepat di depan Kevin.
Kevin tersenyum, lalu meraih smoothies itu meminumnya.
Joe masih heran dengan Kevin yang hari ini banyak diam dan senyum senyum sendiri.
"Bos, Kamu benar benar jatuh cinta pada Marry?"
Kevin hanya mengangguk sambil menerawang.
"Joe, nanti usai makan siang temani aku ke suatu tempat!" Kevin menatap Joe dengan tatapan yakin.
Joe hanya mengangguk, mengikuti perintah atasannya itu.
Kevin mengambil lagi muffin dari kotak makan, dan menikmati dengan tenang.
Joe yang melihat Kevin makan dengan lahap, jadi ngiler. Dia menaruh tangannya perlahan ke dalam kotak dan meraih sebuah muffin.
PLAKKK!
Sebuah pukulan pada punggung tangan Joe, tepat saat dia memegang muffin itu.
"Aduh!" Pekik Joe, antara terkejut dan sakit.
__ADS_1
Kevin menatapnya tajam, sambil melotot.
"Ini semua milikku! Jika kamu mau silahkan beli sendiri!" Sahut Kevin dengan ketus.
"Ayolah, Kev. Aku hanya ingin mencicipi sedikit." Rayu Joe.
Kevin mendengus kesal, lalu mengambil sebuah muffin dan membagi setengah, memberikan setengah pada Joe, dan setengahnya langsung di masukkan dalam mulutnya.
Joe menerima sambil tersenyum lebar, lalu melahapnya, sambil mengangguk angguk.
"Pantas! Rasanya enak sekali! Pasti Marry membuat dengan resep rahasia plus bumbu cinta di dalam muffin ini." Cerocos Joe.
"Bagaimana hubunganmu dengan guru sekolah Alice itu?" Tiba tiba Kevin bertanya pada Joe.
"Olivia?"
"Ya, memangnya ada yang lain lagi selain dia?" Kevin menaikkan alisnya.
Joe tersenyum dan menggeleng.
"Menurutmu, apakah aku harus membawa Marry untuk bertemu dengan orang tuaku atau Nenekku?"
Kevin bertanya pada Joe.
"Hai, jika kamu mencintai seseorang dan ingin serius, kamu harus mengenalkan pada keluargamu. Selain itu kamu juga harus berusaha mengenal keluargnya juga. Sehingga, jika, suatu saat kalian menikah, kalian tidak terkejut. Jika kita telah memutuskan untuk serius, pasangan harus mau saling terbuka satu sama lain. Begitu lah menurutku, teman!" Joe menepuk pundak Kevin.
Kevin termangu.
"Atau, jika kamu tidak ingin menikahinya, setidaknya kamu memiliki Alice. Kamu juga harus memberitahu orang tuamu. Mereka juga memiliki cucu." Joe memberi saran.
"Di sisi hatiku mengatakan aku ingin memilikinya dan ingin serius. Namun, terkadang di sisi lain ketika Marry terlihat belum siap menerima diriku, aku merasa untuk apa aku memperjuangkan wanita itu." Kevin mencurahkan kegalauannya.
Joe menepuk bahu Kevin, lalu mengambil tempat di hadapannya bersiap mendengar curahan hati atasan sekaligus sahabatnya itu.
"Aku telah mengungkapkan perasaanku padanya. Mulanya Marry terlihat belum siap. Lalu perlahan kami mulai dekat dan dia mulai merasa nyaman, lalu mulai membuka hatinya untukku. Namun, kemarin pria itu datang mengusik Marry, dan membuat Marry menangis. Sungguh, aku mencintainya, tapi, Marry belum sepenuhnya melupakan pria itu." Desis Kevin sambil menerawang menatap gedung gedung tinggi di depannya melalui jendela.
__ADS_1
"Kamu sungguh mencintainya?" Tanya Joe.
Kevin menoleh ke arah Joe.
"Aku sungguh mencintainya, Joe. Apa aku kurang meyakinkan?"
Joe tersenyum geli, membuat Kevin mengerutkan keningnya.
"Jika kamu benar-benar cinta, ya buktikanlah!"
"Caranya?" Tanya Kevin dengan wajah memelas.
Joe menghela napas dan hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Berjuanglah. Terus dekati dia. Bukan hanya karena Alice dan bentuk tanggung jawabmu semata. Namun, terus mencintai dengan tulus. Marry akan merasakan ketulusanmu, jika kamu sungguh sungguh. Percayalah padaku!" Joe meyakinkan Kevin.
Kevin masih terdiam.
"Mulanya aku juga sama sepertimu juga. Tidak terlalu percaya cinta. Menjalin hubungan hanya untuk bersenang-senang saja. Kamu tahu, sejak kekasihku dulu meninggalkan diriku, dan menyebut aku pecundang tak bertanggung jawab. Aku trauma dan takut menjalin hubungan dengan wanita lagi. Namun, ketika aku bertemu dengan Olivia, semua berubah. Ketakutanku akan kata pecundang itu, tidak terjadi. Aku berusaha untuk terus jujur dan terbuka akan apa saja pada Olivia. Bahkan aku sudah beberapa kali mengajak ke rumah orang tuaku untuk mengenalkan Olivia pada mereka. Dan sekarang, aku merasa bukan Joe yang dulu. Yang menganggap wanita hanya untuk kesenangan. Bukan! Kini, aku menganggap wanita itu sebagai partner hidup, sebagai pasangan yang saling melengkapi. Aku telah menjadi lebih dewasa, semenjak mengenal Olivia." Cerita Joe panjangkan lebar.
Kevin masih terdiam dan menatap Joe.
"Terima kasih, Joe. Aku tak tahu harus berbuat apa, menghadapi Marry. Seringkali aku putus asa, saat dia mulai menangis dan menolakku. Seolah aku telah berbuat jahat padanya."
"Mungkin kamu memang melakukan hal yang jahat padanya, sehingga membuatnya trauma." Sahut Joe.
"Aku benar-benar tidak ingat kejadian malam itu Joe. Marry seolah sangat takut."
"Mungkin kamu harus bertanya langsung padanya? Entah bagaimana caranya. Dan mungkin sebenarnya dia membutuhkan bantuan dari psikolog untuk menyembuhkan luka batinnya itu."
"Sejahat itu kah aku, malam itu?"
Joe menaikan bahunya isyarat tidak tahu.
"Yang pasti, jika kamu benar mencintainya, dekati terus, dan hadirnya selalu dalam hidupnya. Pasti lama kelamaan dia akan luluh padamu. Aku juga merasa dirimu juga mulai berubah sejak mengenal Alice dan Marry. Kamu tidak pernah lagi mengunjungi klub malam, bahkan tidak pernah lagi mengundang teman dan wanita untuk berpesta." Celetuk Joe sambil menatap Kevin.
__ADS_1
"Ya. Semua orang bisa berubah. Dan kita telah berubah menjadi seseorang yang lebih baik dari sebelumnya." Sahut Kevin sambil tersenyum.