
"Marry, selamat!" Ucap Nyonya Vicky saat bertemu dengan Marry saat di butik untuk mencoba gaun pengantinnya.
"Terima kasih, Nyonya."
"Sudah berapa puluh kali aku katakan padamu, jangan pernah sekali-kali lagi memanggil aku dengan sebutan Nyonya. Aku mama Kevin, dan juga mamamu. Panggil aku mama juga dong!" Pinta Nyonya Vicky sambil memberi kecupan pipi kanan dan kiri menantunya itu.
"Baik, Nyonya.. eh.. Ma." Sahut Marry dengan grogi.
"Lama lama kamu akan terbiasa, Marry!" Celetuk Emily sambil keluar dari kamar pas.
"Iya. Wow! Kamu terlihat sangat mengagumkan, Emily!" Marry terpukau menatap Emily yang baru keluar dari kamar pas.
"Bagaimana perut kalian? Terasa sesak tidak?" Tanya Nyonya Vicky sambil memegang perut Emily.
"Tidak terlalu, Ma. Aku telah mengganti dengan ukuran yang lebih besar." Emily tersenyum.
"Bagaimana denganmu, Marry?"
"Sepertinya ukuran pakaianku masih sama. Tidak masalah." Sahut Marry.
"Tapi, kamu tidak apa apa, kan?" Tanya Emily khawatir.
"Iya, sungguh?" Ucap Nyonya Vicky menimpali.
Marry menatap kedua ibu dan anak itu dengan mengangguk sungguh sungguh.
"Jika kamu kenapa kenapa, tolong segera hubungi aku, Will, atau mama atau papa, ya? Jangan sungkan." Emily menepuk lembut bahu Marry.
"Terima kasih Em, Mama."
*
"Hai, apakah istriku ini sudah selesai?" Tanya Kevin tiba tiba masuk dalam butik dan bergabung bersama mamanya.
"Istrimu dan kakakmu sedang mengepas pakaian untuk besok Sabtu. Kamu sabar dan tenang lah di sini. Menunggu bersama mama."
"Ya. Aku tak sabar melihat istriku yang cantik dengan gaun pengantinnya. Meski perutnya sudah sedikit membuncit."
Gurau Kevin.
"Tapi kali ini, kamu benar-benar menikahinya. Bertanggung jawab. Bukan seperti dulu."
Kevin hanya cengir cengir mendengar ucapan mamanya.
"Tumben Joe nggak ikut?" Tanya Nyonya Vicky, sambil menengok ke sekeliling ruangan mencari sosok Joe, yang selalu mendampingi putranya.
"Entahlah, akhir-akhir ini dia sering melamun. Maka aku berikan dia istirahat sebentar, supaya dia lebih bersemangat lagi. Apalagi pesta resepsi tinggal menghitung hari lagi, ma."
"Ya. Bagus. Eh, lihatlah, itu mereka!" Nyonya Vicky menatap kagum pada dua sosok wanita yang keluar dari kamar pas.
Kevin tak kalah terbelalak seperti mamanya juga. Dia seketika berdiri dan langsung menghampiri istri dan kakaknya. Menatap keduanya bergantian.
Mereka sama sama mengenakan gaun pengantin berwarna putih, menjuntai, dan elegan.
"Kalian benar-benar sangat cantik!" Puji Kevin.
"Heh! Jangan tipu tipu, adikku! Tentunya istrimu jauh lebih cantik." Tukas Emily sambil menatap Marry.
"Ah, tidak. Kita sama cantiknya Em." Sahut Marry.
"Kalian berdua menakjubkan!" Puji nyonya Vicky pada Emily dan Marry.
Kedua orang yang dipuji hanya bisa tersenyum.
"Mama juga menakjubkan." Marry balas memuji Nyonya Vicky.
"Lalu bagaimana denganku?" Celetuk Kevin.
Semua langsung menoleh padanya.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" Tanya Emily.
"Kamu juga menakjubkan!" Sahut Marry sambil memeluk suaminya itu.
"Huh, kalian ini membuat sebal! Jangan menampakkan kemesraan di depanku, di saat Will tak ada." Omel Emily.
Marry dan Kevin terkekeh mendengarnya.
"Aku tak pernah menyangka, Will benar benar berani mendekatimu." Marry mulai membuka sedikit rahasia Will.
Emily menoleh cepat pada adik iparnya itu.
"Apa maksudmu?"
"Dulu, setiap pulang ke rumah Nana, aku selalu mendengarkan cerita tentang dirimu. Lalu Ibuku juga menceritakan tentang dirimu dan beberapa penelitianmu. Itulah yang membuatku tertarik dan menyukaimu. Beberapa jurnal karyamu sebagai acuan dalam beberapa tugas sekolahku. Kebetulan aku menyukai sains. Suatu hari, Will mengoceh saat pulang. Ternyata dia melihatmu berkencan dengan salah satu temannya. Dia sangat sedih sekali. Bahkan hidupnya seakan telah berakhir saat itu. Hingga aku dan Nana sering menghiburnya, dan menyemangatinya. Saat itu kebetulan ibuku jatuh sakit, dan harus dirawat di rumah sakit, akhirnya aku tak begitu memedulikan Will. Hingga ibuku tiada, Will gantian menyemangati diriku, dan tak pernah lagi menceritakan dirimu."
Marry tersenyum, memberi jeda.
"Apa yang terjadi?" Tanya Emily penasaran.
"Dia ingin menjadi dokter anak, supaya dapat melupakan dirimu Em. Akhirnya dia mengambil spesialisasi dokter anak, dan berpisah sesaat denganmu. Tapi ternyata, dia masih memikirkan dirimu. Dia akhirnya menceritakan lagi perjuangannya mencintaimu. Aku selalu memberi saran untuk mengatakan padamu tentang perasaannya, namun, dia selalu diam dan hanya menatapmu dari jauh. Itu yang membuatku kesal. Sikap pengecutnya itu."
"Serius dia begitu?"
"Dia seobsesi itu denganmu, Em." Tegas Marry.
"Tapi dia tidak posesif."
"Ya, itulah Will. Seumur hidupnya hanya mencintaimu. Aku sangat bersyukur, kamu menerimanya, membalas perasaannya, dan akhirnya menikah dengannya."
Emily tersenyum, lalu memeluk Marry. Dia merasakan ketulusan hati Marry, dan sangat tersentuh.
"Baiklah, apakah kalian sudah selesai?" Tanya Nyonya Vicky.
"Eh, iya, sudah Ma."
"Setelah mengurus ini, mama ada beberapa meeting soalnya. Dan ini asisten mama sudah bolak balik menghubungiku." Keluh Nyonya Vicky.
"Terima kasih, Mama sudah menemani di sini." Ucap Marry.
Setelah berpamitan dan memeluk satu persatu anak dan mantunya, Nyonya Vicky segera meninggalkan butik itu.
Setelah berganti pakaian kembali, akhirnya Emily juga meninggalkan tempat itu.
Kini tinggal Kevin yang masih menemani Marry memilih pakaian untuk Alice.
"Bagaimana jika yang ini, Kev?"
Marry mengangkat tinggi gantungan dress anak berwarna senada dengan pakaian pengantinnya.
"Bagus."
"Atau yang itu." Tunjuk Marry pada sebuah pakaian dengan warna sama, namun beda model.
"Itu juga bagus." Sahut Kevin lagi.
"Ah, kamu itu selalu jawabannya bagus semua. Tidak memberikan solusi!" Keluh Marry sambil cemberut.
Setelah dibantu oleh pegawai butik, akhirnya Marry mendapatkan pakaian untuk Alice.
Lalu mereka pulang.
*
"Marry, aku ada meeting dengan klien nanti malam, saat makan malam. Apa kamu mau ikut?"
"Loh, kok aku? Kenapa tidak mengajak Joe?"
"Dia sedang cuti."
__ADS_1
"Hah? Tak usah, aku di rumah saja. Menemani Alice."
"Baiklah."
Kevin pergi ke sebuah restoran untuk bertemu klien. Dia meminta Kim untuk menemaninya, dan mencatat beberapa poin hasil meeting kali ini.
"Terima kasih, Kim."
"Tidak apa, Pak. Akhirnya saya bisa menggantikan tugas Joe dengan baik."
Kalian memang selalu dapat aku andalkan." Ucap Kevin.
"Oya, apakah Joe baik baik saja, Pak?" Tanya Kim.
"Entahlah, aku pun. Tak dapat menghubunginya setelah aku beri ijin untuk cuti. Apa kamu tahu sesuatu Kim?" Tanya Kevin penuh selidik.
"Aku juga tidak tahu, Pak. Namun, beberapa hari terakhir, dia sedikit berubah. Tidak cekatan seperti biasanya."
"Oh... Baiklah. Aku akan mencari tahu. Pulanglah, dan besok siapkan saja hasil meeting kali ini. Terima kasih, Kim."
"Sama sama, Pak."
Kevin menghela napas sejenak, lalu meninggalkan restoran itu dan menuju apartemen Joe.
Saat di jalan, dia melihat Joe turun dari mobil dan masuk ke sebuah klub malam. Kevin segera berbalik arah dan mengikuti Joe.
*
Kevin masuknke klub, terdengar dentuman musik dan bau alkohol serta rokok menyeruak tercium aromanya.
Kevin menghela napas dalam-dalam.
"Sudah lama aku tidak mencium aroma seperti ini." Gumamnya dalam hati.
Joe melayangkan pandangan ke seluruh ruangan mencari sosok Joe.
Dan akhirnya menemukan di bagian barat minuman.
"Aku memberikan kamu cuti untuk istirahat di rumah, mengapa kamu malah datang ke mari?" Sapa Kevin sambil menepuk punggung Joe, lalu mengambil tempat di sampingnya.
Joe terkejut, lalu tersenyum tipis saat melihat bos sekaligus sahabatnya itu datang.
"Olivia meminta putus denganku." Akhirnya Joe mengungkapkan alasannya berbuat bodoh seperti ini.
Joe meneguk gelasnya hingga habis dan menyodorkan lagi meminta tambah.
Kevin tercekat.
"Alasannya?"
"Alasan tidak jelas dan tidak masuk akal." Sahut Joe sambil menggelengkan kepalanya.
"Dia memiliki kekasih lain selain kamu?"
"Entahlah. Tapi aku rasa tak ada. Dia masih seperti biasanya, tapi beberapa Minggu terakhir dia seakan memberi jarak pada hubungan kami, dan menjauhiku. Dan aku tak tahu alasan sesungguhnya, Kev."
Joe terdengar frustasi.
"Alasan bodoh, tidak pantas untukku! Alasan apa itu! Heh!" Joe meneguk hingga habis lagi gelasnya dan meminta tambah lagi
Kevin dengan setia menemaninya, membiarkan Joe hanyut dalam kesedihannya saat itu.
Ini bukan kali pertama Joe seperti ini.
Dulu, sudah lama sekali beberapa tahun silam, Joe pernah seperti ini, karena tunangannya meninggal karena kecelakaan.
Kevin membiarkan Joe minum hingga mabuk, lalu mengantarnya pulang. Hidup Joe seakan juga telah berakhir saat itu. Hingga dia memberikan kepercayaan untuk menjadi asistennya.
Tapi sekarang, aku harus berbuat apa?
__ADS_1
Kevin menarik napasnya, dan menoleh pada Joe yang telah maracau tak karuan karena pengaruh alkohol.