Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Maafkan Aku


__ADS_3

"Marry, jawab pertanyaanku ini dengan jujur. Apakah anakmu itu adalah anak Kevin Mars?"


Justin menatap tajam ke arah Marry.


Marry tak menyangka, Justin akan mengetahui rahasianya selama ini.


"Sejak kapan kamu mengenal Kevin? Mengapa kamu selalu berbohong padaku? Selama ini kamu tahu. Kevin adalah panutanku. Aku sangat mengidolakan dia. Tapi, kamu? Kamu tak jauh berbeda dengan wanita wanita penghibur yang pernah tidur dengan Kevin." Justin mendengus dengan kesal.


"Aku sangat kecewa padamu, Marry!"


Mata Marry berkaca kaca. Marry ingin menjelaskan semuanya pada Justin. Namun, Justin seolah-olah telah memiliki asumsi sendiri.


"Justin... Aku.." Lidah Marry terasa Kelu, seolah tak bisa mengatakan apa apa saat itu.


Justin berdiri, dan pergi tanpa menoleh lagi ke arah Marry. Justin pergi dengan rasa kecewanya. Kecewa bahwa Marry telah membohonginya selama ini.


Bahwa Marry telah berhubungan dengan Kevin Mars di belakangnya, hingga memiliki seorang anak.


Penghianatan yang telah dilakukan oleh Marry sungguh tak dapat dia terima dan tak termaafkan oleh Justin.


*


Marry menangis terisak di ruang belakang. Ruang belakang biasanya digunakan untuk beristirahat, atau makan siang bagi siapa saja


Marry duduk di bangku sambil menutup wajahnya dengan tangannya.


Tangisnya tak terbendung. Hatinya sangat sedih saat Justin mengatakan dirinya sama seperti wanita penghibur dan kecewa padanya.


Marry sadar bahwa dia telah salah selama ini. Namun, dirinya memiliki alasan.


Seandainya Justin mengetahui dirinya hamil dengan lelaki lain, apakah Justin mau menerima dirinya? Mengingat Justin memilih cita cita menjadi seorang pengacara.


Marry sangat yakin, seandainya sejak awal dia menceritakan dan mengaku pada Justin. Keadaannya akan jauh lebih buruk. Bukan hanya di mata Justin, namun juga di kalangan teman-temannya. Pasti dia akan menjadi bahan pembicaraan satu sekolah saat itu.


Marry tak dapat membayangkan jika itu benar-benar terjadi. Itulah sebabnya dia sengaja menyimpan rapat-rapat kehamilannya. Dan membesarkan anaknya tanpa mencari ayah kandungnya selama itu.


*


Marry mengguyur tubuhnya dengan shower. Membersihkan dirinya dan berusaha melupakan semua ucapan Justin yang membuatnya merasa sedih dan hancur.


"Sehina itu kah diriku?"


*


Marry menatap ke arah luar melalui jendela di dapurnya, sambil menikmati segelas cokelat hangat.


Baru saja dia memutuskan untuk membuka hatinya untuk Kevin, tiba tiba Justin datang menanyakan tentang Alice.


"Bagaimana dia bisa mengetahui itu anak Kevin?"


Tiba tiba pertanyaan itu baru terbersit dibenaknya. Selama ini tidak ada yang mengetahui hasil tes DNA kecuali Kevin, Emily, William, dan baru tadi pagi dia mengatakan pada Ben dan Sophie. Ya, mungkin saja Joe mengetahuinya. Tapi, untuk apa Joe mengatakan pada Justin.


Tok...tok...tok..!

__ADS_1


"Mama!"


Suara ketukan pintu dan teriakan Alice menyadarkan Marry dari lamunannya.


Dia segera bergegas membukakan pintu.


Alice memeluk Marry.


"Astaga, sangat berkeringat sekali. Ayo segera bersihkan tubuhmu, dan makan malam. Lalu beristirahat."


Alice membawa tasnya masuk ke kamarnya, lalu menuju ke kamar mandi.


Marry memanaskan pizza ke dalam microwave, lalu menaruh di meja makan. Di sana sudah ada mac and cheese dan salad.


Kevin menatap wajah Marry yang terlihat sembab, seolah habis menangis. Kevin ingin bertanya, namun, Alice telah keluar dari kamar mandi dan menuju ke meja makan.


*


Usai menghabiskan makan malamnya, Alice memberikan pelukan selamat malam untuk Kevin dan Marry.


"Aku sangat senang, Papa dan Mama bisa ada di sini. Aku dapat mengucapkan selamat malam dan selamat tidur secara langsung. Dan aku ingin seperti ini setiap hari!" Seru Alice sambil mencium pipi Kevin dan Marry.


"Selamat malam, Papa dan Mama. Selamat tidur." Ucap Alice, lalu bergegas masuk ke dalam kamar.


Marry mengikutinya.


Lalu mematikan lampu di kamar Alice.


*


Marry menoleh ke arah Kevin.


"Tadi Justin menemuiku." Sahut Marry.


Raut wajah Kevin langsung berubah tidak suka.


"Lalu?"


"Dia tahu kamu adalah ayah kandung dari Alice." Marry menghela napas panjang, sambil menerawang menatap jalanan di luar sana.


Kevin mengerutkan keningnya. Lalu tak lama kemudian dia menyeringai penuh makna.


Kevin ingat siang tadi usai meeting, saat dia sedang curhat pada Joe, tiba tiba Justin masuk kembali ke ruang meeting untuk mengambil ponselnya yang ketinggalan.


Mungkin saat itu dia mendengar curahan pada Joe. Dan Kevin terlihat senang akan hal itu. Dia ingin Justin menjauhi Marry dan tak mengganggu hidup wanita di hadapannya ini lagi.


Kevin memegang bahu Marry dan memutar tubuhnya untuk menghadap ke arahnya.


Marry yang mulanya terkejut, akhirnya membiarkan perlakuan lembut Kevin tersebut.


Marry telah pasrah akan nasibnya, dan tak terlalu mengharapkan Justin kembali lagi. Dia hanya sedih, Justin menuduhnya sama seperti wanita murahan lain yang pernah tidur dengan Kevin, tanpa mau tahu apa alasan semua itu.


Perlahan Marry menautkan matanya pada pandangan Kevin yang teduh dan tenang itu.

__ADS_1


"Apakah aku sama seperti wanita wanita lain yang pernah kau tiduri?"


Tiba tiba pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Marry.


Kevin menanggapi dengan senyuman manisnya.


Kevin membelai lembut wajah Marry dan menatapnya lekat lekat.


"Kamu berbeda dengan yang lain. Kamu satu satunya yang ada di hatiku. Dan hanya kamu. Entahlah, aku merasa belum pernah merasakan seperti ini dengan wanita lain, Marry." Ucap Kevin dengan jujur.


Wajah Marry menjadi tersipu. Dia pun tak menyangka Kevin akan seperti ini pada dirinya.


"Bukan karena tanggung jawab karena perbuatanku yang dulu. Tapi, ada hal yang lain dari dirimu yang membuatku menjadi seperti ini. Aku sungguh ingin belajar mencintai seseorang dengan tulus. Aku sudah bukan anak muda lagi. Usiaku juga sudah kepala tiga. Aku sudah puas dengan kesenangan duniawi lain. Kini, aku ingin mencari cinta dan kebahagiaan sejati untuk diriku, bersamamu." Ucapan manis Kevin, sungguh membuat Marry terbuai.


"Kevin, mengapa kamu manis sekali? Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Kamu benar benar membuatku menjadi wanita yang disayang" bisik Marry dalam hatinya.


Kenyataannya Marry hanya diam, terpaku, menatap Kevin dengan terpesona.


Kevin mendekatkan tubuhnya pada Marry, dan menatap wajah Marry perlahan dengan tenang.


Marry memejamkan matanya, seolah memberi kesempatan pada Kevin untuk membiarkan lelaki itu puas memandangnya. Kevin tersenyum, dan perlahan dia menautkan bibirnya pada bibir Marry yang manis dan lembut.


"Yah... Bibirmu terasa manis dan lembut. Aku sangat menyukainya. Kamu bagai candu bagiku, Marry."


Bibir Kevin terus menari nari di bibir Marry.


"Hmmmm" terdengar lenguhan manja dari bibir Marry yang membalas ciuman manis dari Kevin tersebut.


Kevin memainkan lidahnya dalam mulut Marry, dan Marry membalasnya dengan lembut.


Napas keduanya semakin memburu, seakan mereka saling menginginkan hal yang lebih.


Kevin menurunkan ciumannya pada leher jenjang Marry yang indah dan dengan sukses membuat Marry mengeluarkan suara suara manja dari bibirnya yang seksi, sehingga membuat Kevin semakin mengobarkan hasrat Kevin.


Kevin terus melancarkan aksinya dengan lembut pada leher Marry, lalu turun ke bagian dada.


Reaksi tubuh Marry seakan menginginkan hal itu. Marry seakan menikmati setiap permainan dan sentuhan yang dilakukan oleh Kevin.


"Kevin... Kevin...! Aku rasa aku belum siapa saat ini." Cicit Marry dengan tersengal menahan hasratnya.


Kevin menghentikan kegiatannya, dan meregangkan pelukannya.


Kevin melepaskan tubuh Marry perlahan.


Marry menatap Kevin dengan rasa tak enak dan bersalah.


"Maafkan aku Kevin. Aku masih merasa takut. Ingatanku akan dirimu yang sangat buas malam itu masih terus membekas di kepalaku. Aku merasa sangat ketakutan. Maaf. Maafkan aku. Aku belum siap melakukan lebih dari ini." Ucap Marry lirih sambil terisak.


Kevin mengambil napas dalam-dalam, lalu memeluk Marry dengan erat.


Kevin mengutuk perbuatannya saat dulu meniduri Marry secara paksa. Dia memang tidak sadar, bahkan tidak ingat apa yang telah dia lakukan malam itu. Namun, melihat ketakutan dan trauma di mata Marry, dia pun sangat merasa bersalah dan menyesal.


"Marry maafkan aku. Aku janji akan menebus semua kesalahanku padamu."

__ADS_1


__ADS_2