Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Marry Menghilang


__ADS_3

Marry tersenyum menerima sebotol air mineral yang disodorkan padanya dari Justin. Sambil melihat-lihat gambar venue dan memilih beberapa tempat yang menurut Marry bagus dan cocok untuk pernikahan Justin dan Mia.


Marry meneguk hingga habis air dari botol itu karena cuaca sedang panas saat ini.


Tersungging senyum di bibir Justin.


Tak selang berapa lama, kepala Marry terasa berat.


Marry mengepalkan tangannya sambil mencengkram kertas yang dipegangnya hingga lecek.


Marry sadar, ada sesuatu yang aneh terjadi di tubuhnya. Dengan sisa kesadarannya, Marry menatap ke arah Justin yang tersenyum padanya.


"Justin, apa yang telah kamu lakukan?" Marry berusaha menahan rasa berat di kepalanya.


Mencoba terus membuka matanya, namun obat itu telah membius Marry. Membuat wanita itu tertidur, dan Justin melajukan mobilnya dengan segera meninggalkan kediaman Nana.


Dari dalam rumah, Alice memperhatikan kejadian itu. Alice terkejut saat tiba-tiba mobil itu pergi sambil membawa mamanya.


Alice berusaha mengingat wajah pengemudi mobil itu, dan menghapal bentuk mobil yang membawa mamanya.


Alice segera bergegas keluar rumah hendak mengambil gambar jelas mobil yang membawa mamanya itu.


Saat di luar, Alice kehilangan jejak mobil itu. Alice terlihat kecewa. Sambil terduduk di pinggir jalanan, Alice menatap sekelilingnya.


Berharap mendapat petunjuk siapa yang membawa mamanya tadi, dan kemana mamanya pergi. Alice cemas dan khawatir.


Segera Alice menghubungi Kevin.


Namun sayang, Kevin sedang meeting dengan klien, sehingga ponselnya harus dimatikan sejenak supaya lebih fokus, begitu pula dengan Joe.


Alice mengirim pesan pada Kevin mengabarkan kejadian yang baru saja terjadi ini.


Alice lalu berlari ke dalam rumah mencari Nana dan menceritakan semuanya


"Nana, mama dibawa sebuah mobil!" Ucap Alice sambil terengah-engah.


Nana, menenangkan Alice sambil mencerna ucapan gadis kecil itu.


Saat Alice terlihat tenang, Nana mencoba menanyakan kembali.


"Mama pergi dengan seseorang. Dengan sebuah mobil." Ucap Alice, kali ini lebih jelas.


"Kapan?"


"Barusan. Di luar. Aku melihatnya sendiri."


"Mamamu dibawa secara paksa atau tidak?" Selidik Nana.


"Aku melihat sebuah mobil menghampiri mama, saat membuang sampah di luar. Lalu mama berbicara dengan orang itu, dan masuk ke dalam mobil. Mama terlihat berbincang dengan orang itu. Lalu mobil itu pergi."


"Berarti mamamu mengenal orang itu." Tegas Nana.


"Ya. Nana, aku khawatir akan keselamatan mamaku."


"Sebaiknya kita tunggu sebentar. Atau kamu bisa hubungi ponsel mamamu." Ujar Nana dengan tenang.


Alice mencoba menghubungi ponsel Marry.


Tut... Tut... Tut...


Terdengar tersambung, dan terdengar pula suara ponsel berbunyi dari dalam tas Marry yang ada di sofa ruang tengah kediaman Nana.


"Mama tidak membawa ponselnya, Nana!" Teriak Alice dengan cemas.


"Baiklah, Nana akan hubungi Paman Will dan Bibi Emily, semoga mereka juga bisa membantu." Nana mulai khawatir, namun, berusaha bersikap tenang di depan Alice.

__ADS_1


Alice menghubungi Paman Ben dan Bibi Sophie dengan segera juga. Lalu mencoba menghubungi Kevin kembali.


Namun, tetap tidak bisa. Begitu juga dengan Joe.


Lalu Alice menghubungi kantor Kevin dan mencari sekretarisnya, untuk menyampaikan pesan darurat, bahwa Mamanya hilang.


"Apakah kamu ingat, atau pernah melihat orang yang bersama mamamu tadi?" Tanya pengasuh Liam.


Alice terdiam. Dia berusaha mengingat rupa orang yang bersama mamanya tadi.


*


Satu jam berlalu, Kevin dan Joe beserta beberapa polisi datang ke rumah Nana.


Alice segera menghambur ke pelukan Kevin.


"Apakah Mama akan baik baik saja?"


Alice terisak dalam gendongan Kevin.


Kevin yang panik dan khawatir berusaha bersikap tenang di depan Alice, dan menyerahkan semua pada Joe dan polisi untuk menyelidiki dan mencari Marry.


"Ssttt.... Mama akan baik baik saja. Kita akan mencari mamamu, ada polisi yang membantu kita sekarang."


Ucap Kevin .


"Damn! Kemana kamu Marry, aku mencemaskanmu! Tolonglah Tuhan, bantu temukan Marry!" Dalam hatinya Kevin sangat gelisah dan berdoa selalu.


"Justin!"


"Ya... Namanya Justin!"Alice berteriak sambil mengacungkan jarinya.


Kevin langsung menatap Alice yang masih dalam gendongannya. Lalu menaruhnya di kursi di antara polisi dan Joe.


"Orang yang di mobil itu namanya Justin. Aku mengingatnya. Dia Paman yang bertemu denganku di museum tempo hari saat sedang studi tur. Bukan kah dia teman Mama? Mengapa dia membawa pergi mamaku begitu lama?"


Semua orang terkejut dengan pengakuan Alice.


"Brengsek!" Umpat Kevin penuh amarah.


Segera dia menghampiri Joe.


"Mana ponselku?"


Joe menyerahkan ponsel Kevin. Kevin segera mencari daftar nama dalam ponselnya.


Kevin mencoba menghubungi melalui ponselnya, dan berkali kali tak terjawab. Kevin mencoba dan setiap gagal dia selalu mengumpat.


"Brengsek cecunguk itu!" Maki Kevin dengan emosi.


Joe meraih ponsel Kevin dan melihat apa yang dilakukan oleh bosnya itu.


Joe melirik ke ponsel Kevin, dan mengetahui jika bosnya sedang menghubungi Justin.


Joe menghubungi kantor Justin, untuk mencarinya. Begitu pula detektif polisi yang membantu pencarian Marry.


Mereka berpencar mencari Marry atau pun Justin.


Kevin terus berjalan mondar-mandir sambil menarik rambut sendiri dengan kesal karena tak tahu harus bagaimana.


Otaknya seakan buntu dan tak bisa berpikir jernih lagi kali ini.


Waktu berjalan sangat lambat bagi Kevin.


Dia segera masuk ke mobil dan bergegas menuju apartemen tempat Mia, kekasih Justin tinggal sementara selama di kota itu.

__ADS_1


Joe mendampingi Kevin, karena dia khawatir, Kevin akan terkena masalah jika tak di dampingi.


*


*


Sementara itu di pondok danau, Justin menyalakan lampu emergency kecil yang ada di dalam pondok.


Marry dengan tangan terikat tergeletak di lantai pondok.


Marry mulai membuka matanya perlahan, tubuhnya terasa sakit dan.


"Aduh!" Rintih Marry, sambil berusaha untuk duduk. Dia menyadari tangannya terikat.


Marry mengamati sekitarnya. Dan melihat Justin sedang duduk mengamati dirinya sambil meneguk sebotol minuman beralkohol.


"Justin! Apa maksudmu semua ini? Lepaskan aku!"


Marry menatap tajam ke arah Justin.


"Mengapa kamu meninggalkan aku? Menghianatiku? Tega sekali kamu Marry!"


Justin tersenyum sinis sambil berjalan menghampiri Marry.


Marry segera berusaha menguasai dirinya sendiri dan mencoba untuk berdiri.


"Aku tak pernah mengkhianatimu!"


"Bohong!" Pekik Justin.


"Mengapa kamu dengan lelaki itu? Lelaki yang selalu menjadi panutan ku! Mengapa kamu tidur dengannya? Dan kamu meninggalkan aku sendirian! Kamu membohongiku! Hah!"


Justin berteriak tepat di depan wajah Marry. Bau alkohol menyeruak menyengat dari mulut Justin.


"Justin, aku tak pernah berniat untuk menghianatimu! Tidak pernah! Semua itu kecelakaan!" Sahut Marry membela diri.


"Kecelakaan yang penuh kenikmatan, hah?!" Kevin tertawa sinis.


Wajahnya kini tepat di depan wajah Marry.


Napas bau alkohol dari mulut Justin sangat kuat, membuat Marry ingin muntah.


Marry mendorong tubuh Kevin untuk menjauh.


Namun, Kevin tersinggung karena itu. Dia mengira Marry menolaknya.


"Dan kamu pun tak ingin denganku lagi?"


Justin menggelengkan kepalanya dengan raut wajah sedih.


"Tidak Justin. Bukan begitu! Kamu telah bertunangan dengan Mia. Dan kalian telah merencanakan semuanya. Aku tak akan menganggu kalian. Lagi pula, jika aku mengatakan bahwa aku hamil, apakah kamu masih mau denganku saat itu, hah?"


Kali ini Marry bertanya dengan nada keras.


"Kamu memiliki impian yang indah, untuk menjadi pengacara yang sukses, bahkan harus lebih dari mamamu. Kamu ingin menjadi kebanggaan keluarga. Ya, kan? Sedang kan aku? Apa pilihanku? Membunuh janinku? Ya?"


Marry menatap Justin.


"Aku datang pada malam prom itu untuk menemuimu. Tapi tak mungkin aku datang dengan perut membuncit! Apa yang akan terjadi denganku! Menjadi bahan tertawaan satu sekolahan, menjadi bahan bulian bagi yang lain! Apa kamu mau bertanggung jawab? Lebih baik aku menyembunyikan semua! Semuanya! Sendiri! Apa kamu bisa merasakan kerasnya perjuanganku selama ini? Tidak, kan? Yang kamu pikirkan hanyalah impianmu. Aku juga punya impian, tapi aku juga punya tanggungan. Aku tak bisa egois Justin!"


PLAKKK...


Sebuah tamparan mendarat dengan keras di pipi Marry, sehingga membuat tubuhnya terjatuh di sudut ruangan.


"Justin...." Marry menatap Justin seakan tak percaya, lelaki yang dikenalnya lembut, bisa berbuat kasar padanya.

__ADS_1


__ADS_2