
"Bos, hari ini jadwal ke Sekolah Dasar Kota untuk pameran produk kita dan penyerahan hadiah pada para pemenang lomba yang diadakan oleh perusahaan." Ucap Joe saat di apartemen Kevin sambil menaruh kopi pesanan atasannya itu.
Kevin menoleh ke arah Joe dengan wajah tampak lesu.
"Kamu kenapa?" Tanya Joe dengan heran.
"Tidak apa apa. Mungkin karena semalam aku pulang agak malam." Sahut Kevin sambil memijat pelipisnya.
Joe masih menatap atasan sekaligus sahabatnya itu dengan khawatir.
"Oh, jadi hari ini agendaku adalah ke sekolah dasar kota." Kevin mengulang ucapan Joe tadi.
"Ya." Joe mengangguk.
Kevin menyesap kopinya sambil membaca berita dari gadgetnya. Sebenarnya pikirannya tertuju pada percakapan Marry dan Terence pada malam itu. Entah mengapa dia menjadi penasaran dengan Marry.
Kevin menghela napas dalam-dalam, dan terus melamun. Pikirannya selalu tertuju pada Alice dan Marry. Itu yang selalu berputar dalam otaknya. Dan ulang tahunnya ke-25 yang lalu.
Tiba tiba dia baru ingat, jika itu tempat Alice bersekolah. Raut wajahnya berubah jadi cerah.
Kevin menghabiskan kopinya dan merapikan dasi, mematut dirinya di depan cermin, seolah hendak pergi berkencan.
Joe mengerutkan keningnya melihat perubahan sikap mendadak dari atasannya itu.
"Apa karena terlalu banyak mengkonsumsi kafein, dia jadi begitu?" Gumam Joe sambil menggelengkan kepalanya.
Kevin mengenakan jas dengan rapi, lalu menghampiri Joe.
"Ayo kita berangkat!" Ucapnya dengan riang.
Joe hanya mengangguk menurut, lalu mengikuti atasannya menuju garasi pribadinya.
Kevin dan Joe telah sampai di sekolah. Di sana beberapa karyawan Kevin telah berjaga dan menyiapkan stand untuk pameran produk dari perusahaan mereka di sekolah itu.
Para karyawan mengangguk memberi hormat saat melihat pada Kevin.
Kedatangan Kevin disambut dengan hangat oleh para guru dan kepala sekolah. Yang sebenarnya paling senang adalah Joe,karena dapat berjumpa dengan Olivia.
__ADS_1
Saat itu Alice yang menjadi pemenang acara dalam acara pameran teknologi di sekolah itu.
Kevin terus melayangkan pandangan ke segala penjuru, berharap melihat sosok Marry di sana untuk menemani Alice. Namun, akhirnya dia harus puas bertemu dengan Alice yang ditemani oleh Bibinya bersama seorang bayi dalam gendongannya.
Alice berlari hendak mendekati Kevin, namun, bibinya menahan Alice untuk tetap berada di dekatnya.
Sophie mengangguk sambil tersenyum menatap Kevin, dan Kevin membalasnya dengan tersenyum.
Hari itu adalah pameran teknologi dari perusahaan Kevin ke sekolah sekolah. Usai berpidato, Kevin memberi bonus bagi seluruh peserta yang mengikuti lomba di perusahaannya kemarin. Termasuk Alice yang mendapat bonus tambahan yang berupa uang tunai dengan nominal yang besar.
Sophie berdiri mendampingi Alice saat menerima hadiah simbolis. Karena hadiah berupa cek. Alice tersenyum dengan gembira dan menunjukkan pada teman temannya, lalu menoleh ke arah Hank sambil tersenyum mengejek. Hank melotot menatap ke arah Alice.
Saat para siswa sedang menonton pertunjukan teknologi di ruang aula dengan tim perusahaan, Kevin mendekati Sophie yang duduk menunggu di sebuah bangku di taman sekolah.
"Apakah ada waktu?" Sapa Kevin.
Sophie terkejut dan hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Kevin duduk di sebelahnya.
"Terima kasih untuk tambahan hadiah yang sangat besar ini." Ucap Sophie.
Lalu keduanya sama sama terdiam.
"Kamu yang menemani Alice?" Ucap Kevin dengan nada bertanya.
Sophie mulai paham, Kevin mencari Marry. Lalu dia tersenyum dan menatap Kevin.
"Marry sedang bekerja. Tadi pagi Nyonya Ruth menghubungi, jika ada pekerjaan mendadak. Jadi, aku yang menemani Alice hari ini." Sahut Sophie.
"Bagaimana pekerjaanmu, maksudku, kamu masih bekerja di klinik itu?" Tanya Kevin dengan kikuk.
"Masih. Aku masih bekerja di klinik. Kebetulan hari ini aku libur, karena Sabtu kemarin bekerja." Sahut Sophie.
Kevin menoleh ke arah bayi dalam dekapan Sophie yang sedang tertidur pulas. Lalu dia teringat akan Alice saat masih bayi, dan Marry, yang usianya masih sangat muda saat itu.
"Apakah Marry pernah menceritakan, ayah dari Alice padamu?" Tanya Kevin. Itulah yang sedari tadi ingin dia tanyakan pada Sophie.
__ADS_1
Sophie menggeleng lemah.
"Tidak pernah. Marry tidak pernah menceritakan siapa yang menghamilinya. Dia hanya mengatakan, itu adalah pemberian Tuhan. Dan dia tidak ingin membunuhnya." Sahut Sophie lirih.
Ada kepedihan dari jawaban Sophie. Seolah ingin mengatakan bahwa Marry sangat hancur saat itu.
"Apakah Marry ingin mengaborsi janinnya dulu?" Kevin bertanya lirih.
Sophie mengambil napas dalam-dalam sejenak.
"Aku tidak tahu, jika kakakku hamil saat itu. Dia selalu menyembunyikan selama itu, hingga setelah ujian negara. Dia menceritakan padaku bahwa dia hamil. Marry sempat ingin menggugurkan kandungannya, namun kata hatinya mengatakan jangan. Selama itu, Marry hanya memiliki sedikit teman dekat. Terence, Claire, Justin, Helen. Dan hanya Justin teman pria dekatnya yang aku tahu." Sophie menghela napas sejenak.
"Malam prom night sekolah, aku hanya menemaninya mengintip teman temannya datang ke aula sekolah. Lalu meninggalkan Justin yang menunggu semalaman. Setelah itu, Marry tidak pernah mau menemui Justin lagi. Dan mulai menjauh dari semua teman temannya. Lalu malam itu, Marry terpeleset dari kamar mandi, dan mengeluarkan banyak darah. Aku berlari ke rumah Nana dan William, lalu mereka menolong persalinan Marry. Dan Alice yang lahir prematur akhirnya dapat selamat. Meski pun dia harus mendapatkan perawatan intensif selama beberapa hari di rumah sakit, namun dengan bantuan William dan Nana, akhirnya kami bisa melewati itu semua." Sophie tersenyum sambil menatap Kevin, usai menceritakan tentang kelahiran Alice.
"Lalu Marry tidak melanjutkan kuliah?"
"Itulah pengorbanan terbesar Marry selama ini. Dia harus mengubur cita citanya untuk menjadi dokter untuk memilih mengasuh Alice. Beasiswa kedokteran dia lupakan, dan memilih bersama putrinya. Marry tidak mau anaknya dibesarkan oleh dinas sosial, seperti aku saat kehilangan orang tuaku. Marry dan aku sempat terpisah selama dua tahun sejak Mamaku meninggal. Kamu tahu, Marry adalah seorang pekerja keras. Dia menyimpan semuanya dalam dirinya sendiri dan tidak pernah mengeluh selama ini. Itulah, dia sangat terkejut, sedih, dan kecewa saat mendengar Alice pergi ke tempatmu saat itu. Terutama menganggapmu papanya." Jawab Sophie.
"Mengapa dia memiliki fotoku dan Marry?" Selidik Kevin penasaran.
Sophie terdiam sambil mengerutkan keningnya mencoba mengingat foto apa.
"Oh, ya! Foto itu." Sophie berseru sambil menatap Kevin.
Kevin masih menunggu jawaban Sophie.
"Justin sangat mengidolakanmu." Ucap Sophie.
Kevin menaikkan alisnya, dengan raut wajah heran.
"Saat itu ada pekerja di villa milik keluargamu yang di dekat pantai. Acara pesta ulang tahunmu, kalau tidak salah. Marry bekerja menjadi pelayan di sana bersama Helen, temannya. Waktu itu kebetulan aku sudah tidak dalam pengawasan dinas sosial lagi, dan boleh tinggal sendiri, dan aku memilih tinggal bersama kakakku di rumah kami. Kakakku sangat senang. Katanya Terence berjanji akan mengenalkan kamu padanya, dan memberi foto dan tandatanganmu pada Marry. Marry ingin mengambil fotomu dan meminta tanda tanganmu secara langsung saat itu untuk Justin." Tutur Sophie.
Kevin hanya terdiam, mencoba mengingat semua kejadian saat pesta malam itu.
Keduanya terdiam, menerawang, tenggelam dalam pikiran masing masing.
Tak lama pintu aula terbuka dan Alice berlari menghampiri Kevin dan bibinya.
__ADS_1
Tiba tiba Alice memeluk Kevin. Dan lagi lagi perasaan hangat itu muncul lagi. Entah mengapa Kevin merasa, jika dia memiliki ikatan batin dengan gadis kecil ini.