Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Melacak jejak


__ADS_3

"Joe, aku akan mencari Kevin dan Alice."


"Kamu akan cari ke mana, Marry?"


"Entahlah, tapi aku yakin, dia pasti terlibat." Marry membuang napas dengan keras dan penuh kekesalan.


"Siapa?" Tanya Joe sambil menatap Marry.


"Mika."


"Mika?"


"Alice dijemput oleh Mika. Dan terakhir kali aku berbicara dengan Kevin, dia akan pulang. Jarak sekolah dan rumah adalah dua puluh menit. Saat aku berbicara dengan Kevin, ada selisih hampir dua puluh menit, harusnya Mika dan Alice sudah tiba di rumah, tapi, nyatanya sampai sekarang belum kembali. Kita harus lapor polisi, Joe." Ucap Marry dengan gusar.


"Lapor polisi juga sama saja, jika belum hilang selama 24 jam, mereka tak akan berbuat apa apa. Tapi, kamu tenang saja, aku akan mencari Kevin."


Joe mengambil ponselnya dan segera menghubungi seseorang.


"Marry, aku akan pergi, kabari perkembangannya selalu." Tukas Joe, sambil bergegas menuju mobilnya dan segera pergi untuk mencari Kevin dan Alice.


Marry membuka layar ponselnya.


Tiba tiba dia teringat, Alice pernah mengunduh aplikasi GPS ponselnya dan ponselnya Alice supaya dapat saling melacak.


Marry segera membuka aplikasi itu, dan memperhatikan dengan seksama titik-titik yang ada di sana.


"Dia ada di sana! Semoga kamu baik baik saja. Aku akan menjemputmu, Nak."


Marry mengambil kunci mobilnya, dan segera melajukan ke hotel tempat Tracy dan Mika selama ini tinggal.


Marry menuju lobby hotel yang juga milik keluarga Mars, dan dengan sambutan hangat sang resepsionis yang mengenal Marry segera memberi senyum ramahnya.


"Selamat sore Nyonya Mars. Ada yang bisa saya bantu?"


"Saya mencari Mika atau Tracy."


"Oh, Nyonya Tracy dan Nona Mika sedang berada di restoran hotel bersama Nyonya besar Max."


Terang resepsionis itu dengan ramah.


Marry hanya mengangguk sambil melayangkan pandangannya ke sekeliling lobby hotel, mencari tanda-tanda Kevin atau pun Alice.


"Baik, terima kasih."


Ucap Marry sambil meninggalkan lobby menuju restoran yang ada di gedung hotel itu juga.


Marry memeriksa ponselnya kembali, dan titik keberadaan Alice tiba tiba berjalan menjauh.

__ADS_1


Marry bergegas menuju ke luar hotel melacak jalannya Alice.


Marry memperhatikan dengan seksama setiap kendaraan yang keluar dari area hotel itu. Dan titik ternyata telah menjauhi hotel.


"Brengsek! Kemana kamu akan membawa putriku!" Umpat Marry dengan geram.


Ekor mata Marry sekilas melihat sebuah mobil yang dikenalnya terparkir di parkiran halaman hotel.


Marry berlari mendekati mobil itu, dan memastikannya.


"Ya Tuhan, ini mobil Kevin?" Marry menutup mulutnya.


Marry memeriksa bagian dalam. Mobil itu, dan tak melihat tanda tanda keberadaan Kevin maupun Alice.


Marry mengambil ponselnya dan menghubungi Joe.


"Joe, mobil Kevin ada di halaman depan hotel. Tapi, Alice telah pergi. Aku akan mengikuti jejak Alice, tolong kamu segera datang ke parkiran hotel DNA memeriksa mobil Kevin."


Belum selesai Joe menjawab. Marry menutup panggilan, dan berlari menuju mobilnya, dan segera mengikuti jejak GPS keberadaan Alice.


*


Kevin perlahan membuka matanya sambil meringis kesakitan. Tubuhnya terasa ngilu dan tangannya terasa terikat.


Perlahan Kevin mengamati sekeliling. Dia tersentak terkejut saat melihat Alice duduk terikat di depannya.


"Alice!"


Alice yang mulutnya tertutup, hanya bisa diam saja sambil menatap dengan raut wajah takut, dan seolah meminta pertolongan pada Kevin.


"Apa mau mu? Lepaskan aku!" Teriak Kevin pada seorang lelaki yang duduk di sudut ruangan tertutup bayangan gelap.


Lelaki yang duduk sambil merokok, segera berdiri, ketika mengetahui Kevin telah sadar.


Lalu berjalan mendekati Alice.


"Halo, Bos!" Sapanya.


"Tom?" Kevin terkejut dan menatap tak percaya lelaki di depannya adalah Tom, ayah kandung Olivia yang beberapa bulan lalu ia jebloskan dalam tahanan karena mengancam Olivia dan keluarga Joe.


Tom menyeringai licik sambil tersenyum lebar di samping Alice.


"Jauhi putriku!" Ucap Kevin dengan amarah.


"Kamu memintaku, bahkan sampai memberi surat pelarangan padaku untuk menjauhi putriku, dan kini aku harus menjauhi putrimu? Mudah sekali kamu melakukannya dulu. Sekarang, kita lihat, apakah aku bisa menjauhkan kamu dengan putrimu ini!" Tom menyeringai lebar sambil tertawa.


"Jauhi dia!" Kevin menatap Tom dengan tatapan matanya yang tajam.

__ADS_1


Tom hanya menyeringai sambil membelai lembut wajah Alice.


"Jangan sentuh dia! Atau aku akan membuatmu menyesal karena melakukan itu!" Ancam Kevin.


"Kamu pikir, enak , jauh dengan anak sendiri? Aku hanya ingin membangun kembali hubungan dengan putriku. Tapi, kamu langsung melayangkan surat padamu untuk menjauhi putriku sendiri, bahkan memasukkan diriku dalam penjara." Ucapnya, ada rasa marah dan dendam pada nada suaranya.


Kevin terus meronta, dan berusaha melepaskan ikatannya.


"Lalu saat putriku menikahi, aku sama sekali tak dapat melihatnya. Kamu telah menjauhi aku dengan putriku! Sekarang, aku yang memiliki kuasa di sini! Aku akan membuat kamu dan putrimu ini akan berjauhan." Tom tertawa terbahak-bahak.


KREEEK...!


Suara pintu gudang itu terbuka, dan seseorang masuk dan berjalan menuju ke arah Tom.


Kevin sangat terkejut, saat melihat Mika berjalan menghampiri Tom.


"Apa apaan ini, Mika?"


"Halo kakak?" Tawa Mika pecah usai mengucap kata kata itu.


"Mika, apa yang sebenarnya terjadi kali ini? Mengapa aku dan Alice seperti ini. Apa salah kami?"


"Salah?" Mika menggelengkan kepalanya.


"Aku tahu, Tracy bukan ibu kandungku. Orang tuaku adalah Morgan Mars dan ibuku. Ibuku meninggal saat melahirkan aku, dan Tracy yang merawat dan membesarkan aku. Kamu tahu, aku berjuang dan berusaha menerima ini semua dengan lapang dada. Melihat kamu dan kakakmu hidup dengan segala fasilitas dan kesenangan. Lalu mendapatkan kekuasaan penuh untuk perusahaan besar. Sedang kan aku, hanya menjadi kacung untuk bibi kalian yang penuh ambisi itu. Hanya ambisi tanpa berani melakukan hal yang lebih untuk mewujudkan ambisinya. Bodoh sekali!" Cetus Mika sambil tersenyum sinis.


"Apa maksudmu, Mika?"


"Aku adalah anak dari ayahmu, Kev..bagian dari keluarga Mars. Namun seolah dibuang."


"Hah?"


"Kamu tidak tahu?" Mika mengernyitkan dahinya.


Kevin menatap Mika dengan pandangan tak percaya.


"Tanyakan saja, pada orang tuamu! Oh, terbaru saja bukan sekarang. Nanti. Atau kamu tak sempat untuk bertanya."


Mika tersenyum menatap Kevin.


"Sedang kecil aku selalu hidup sederhana dengan bibinya yang bodoh itu. Hidup berpindah-pindah, dari negara satu ke negara yang lain. Aku tak memiliki teman, bahkan tak pernah memiliki kekasih. Aku ingin hidup normal seperti kalian. Memiliki hak istimewa seperri kalian. Dan memiliki sedikit bagaian dari perusahaan ini.*


"Kamu ingin apa, Mika?"


Mika terdiam, lalu menatap ke arah Kevin.


"Aku ingin pengakuan resmi dari ayahmu itu. Pengakuan aku sebagai putrinya secara langsung."

__ADS_1


Ucap Mika.


"Tapi sepertinya mamamu sulit untuk menerima semua ini, Kev." Cerita Mika dengan raut wajah sedih.


__ADS_2