
"Marry, sadarlah!" Teriak pikirannya. Namun, Marry seolah tak ada daya saat menatap mata Kevin yang menawan itu.
"Bodoh! Ayo segera sadar, dan menjauhkan dari lelaki di depanmu!" Pikirannya telah berteriak teriak di kepala Marry.
Lagi lagi, tubuh Marry seolah kaku dan terbius dengan tatapan Kevin.
Kevin pun ingin menunggu Marry. Apakah wanita di depannya ini juga tertarik padanya atau sebaliknya. Kevin takut, jika dirinya terlalu aktif, akan membuat Marry takut padanya.
"Mama!"
Suara teriakan Alice membuat Kevin dan Marry tersadar.
"Ya, Sayang!" Sahut Marry sambil menghela napas dan berlalu dari hadapan Kevin menuju kamar mandi.
Kevin yang terkejut, berdiri memberi jalan pada Marry dan duduk di kursi dapur sambil menenangkan dirinya.
Marry melongok ke kamar mandi.
"Ada apa, Sayang?"
"Aku tidak bisa meraih handukku." Sahut Alice sambil memanjangkan tangannya meraih handuk di atas rak di kamar mandi.
Marry tersenyum, sambil mengambil handuk untuk Alice. Lalu dia membantu mengeringkan tubuh gadis kecil itu, sambil bersenda gurau.
Terdengar suara tawa riang dari Alice dan Marry di kamar mandi. Kevin sebenarnya penasaran, tapi dia merasa akan tidak sopan jika mengintip wanita di kamar mandi. Meskipun itu anak kecil.
Kevin meneguk segelas air mineral sampai habis, sehingga membuat hatinya jadi dingin.
"Papa Kevin masih di sini, kan?" Tanya Alice.
"Ya."
"Aku ingin menunjukkan aplikasi buatanku padanya."
"Sudahlah, besok saja. Lagian sudah malam. Apalagi, besok kalian akan pergi berjalan-jalan dan bersenang senang." Ucap Marry sambil membantu mengenakan piyama pada Alice.
"Aku sangat senang, jika Mama juga bisa ikut." Alice menatap Marry penuh harap.
Marry tersenyum sambil memegang lembut pipi gadis kecilnya itu.
__ADS_1
"Aku telah berjanji pada Nyonya Ruth untuk membantu di acara besok. Ini adalah pekerjaan terakhir mama pada Nyonya Ruth. Setelah ini selesai, kita bisa berjalan jalan lagi sepuasnya. Atau berpiknik atau kita pergi memancing." Hibur Marry.
Alice hanya bisa mengangguk lemah, dan wajahnya ditekuk.
"Sudah bersih, sudah segar dan wangi. Saatnya tidur! Apa kamu mau mengucapkan selamat malam pada Kevin?" Tanya Marry.
Raut wajah Alice langsung berubah sumringah dan mengangguk kuat kuat.
Marry tersenyum, lalu keluar dari kamar Alice menemui Kevin yang duduk sambil menikmati kopinya.
"Alice ingin mengucapkan selamat malam padamu." Ucap Marry pada Kevin.
Kevin sedikit terkejut, namun terlihat guratan senyum di bibirnya.
Kevin masuk ke kamar Alice, disusul Marry yang membawakan segelas susu hangat untuk Alice.
Alice meneguk hingga habis susu, dan menyerahkan gelasnya pada Marry.
"Hmmm.... Selamat tidur anak cantik. Mimpi yang indah malam ini." Ucap Kevin sambil mengelus rambut dan mengecup kening Alice.
Lalu Marry ikut mencium kening Alice juga. Membuat Alice sangat senang.
Ketiganya berpelukan. Terasa ada kehangatan menyelimuti perasaan Kevin saat itu.
Setelah mengucapkan selamat malam pada Alice, Kevin berpamitan hendak pulang.
*
Pagi itu Marry dan Alice menunggu kedatangan Kevin.
Kevin datang tepat waktu. Kevin mengantar Marry terlebih dahulu ke lokasi acara untuk bekerja.
Lalu bersama Alice menghabiskan akhir pekan bersama sama.
Marry bekerja seperti biasanya. Melayani para tamu dan membantu jalannya acara supaya lancar.
Saat acara terlihat lebih santai, dan para tamu tengah menikmati sajian hidangan pesta itu, Bob mendekati Marry.
"Aku lihat akhir akhir ini kamu banyak menghabiskan waktu bersama Kevin."
__ADS_1
Marry terkejut dan melotot menatap Bob.
"Itu tidak benar. Dia hanya dekat pada anakku saja." Elak Marry.
"Hai, Marry sadarlah dan bangunlah! Jika seorang lelaki mendekati seorang bocah, maka dia pun juga memiliki tujuan mendekati ibunya."
"Tidak mungkin."
"Kelihatannya, Kevin tertarik padamu."
"Tidak mungkin." Marry hanya menggeleng dan tersenyum simpul.
"Marry, aku mengenal Kevin Mars. Dia temanku semasa sekolah dulu." Sahut Bob.
Marry mengangkat alisnya dan menatap Bob dengan penasaran.
"Benarkah?"
Bob menjawab dengan anggukan kepala dengan yakin.
"Kevin adalah kapten basket semasa sekolah dulu. Murid yang pintar dan populer. Bahkan gemar bergonta ganti pacar. Kekasihnya mulai dari gadis populer, bintang sekolah, bahkan gadis gadis biasa pun di cicip olehnya. Kevin melakukan itu semua sejak kehilangan sahabatnya." Bob bercerita sambil menerawang mencoba bernostalgia semasa berteman dengan Kevin.
"Kehilangan sahabatnya?" Tanya Marry.
"Kamu penasaran, ya?!" Ledek Bob sambil menjawil dagu Marry.
Marry mendengus kesal sambil menyingkirkan tangan Bob dari bahunya.
"Jangan bohong ah! Aku tahu kamu memiliki rasa dengannya."
Marry hanya diam dan menatap Bob.
"Kevin dulu saya masih kecil memiliki sahabat. Tapi, sekarang sahabatnya itu telah meninggal karena kanker. Makanya, Kevin benar benar sangat membantu dalam mengembangkan peralatan medis."
Marry hanya mengangguk angguk.
Usai menikmati kudapan. Marry dan Bob membahas acara selanjutnya.
Hari semakin sore. Tamu tamu mulai pulang dan hanya tinggal keluarga inti saja.
__ADS_1