Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Menemui Alice dan Marry


__ADS_3

"Aku sangat senang, Papa mau datang kemari!" Ucap Alice sambil mendongak menatap wajah Kevin yang memangkunya.


Marry telah kembali sibuk di dapur dan menyiapkan hidangan makan malam untuk mereka.


"Aku ingin meminta maaf, atas kejadian kemarin. Apakah kamu masih takut? Atau marah padaku?" Selidik Kevin.


Alice menggeleng sambil tersenyum.


"Terima kasih." Sahut Kevin membalas senyum Alice.


Marry menoleh, menghela napas, saat menyaksikan keakraban antara Kevin dan Alice. Entah, dia harus bagaimana. Di sisi lain, dia tahu, ikatan batin antara ayah dan anak itu pasti ada di antara mereka. Namun, di sisi lain, dia masih sangat marah dan dendam pada Kevin karena telah menghancurkan masa depannya.


Marry memejamkan matanya, dan tak terasa air mata mengalir dari sudut matanya. Entah itu sedih, marah, atau ah, dia tak bisa mengatakan senang, saat melihat Alice sedang akrab bersama Kevin. Ada luka menganga saat berhadapan langsung dengan Kevin.


Bayangan dan ingatan peristiwa tujuh tahun silam, masih membekas dalam pikiran dan hati Marry.


Marry membuka oven, dan mengambil ayam panggang, membawanya ke atas meja makan.


Alice tersenyum dan bersorak dengan girang saat mencium aroma masakan yang lezat.


Marry membawa semua hasil karyanya ke atas meja.


Kevin sedikit terpesona saat Marry menyeka keringatnya di kening. Terlihat seksi dan cantik. Kevin mulai memasukkan Marry dalam pikirannya. Meskipun Marry telah mempunyai anak, tapi kecantikan yang terpancar secara alami tidak pernah pudar.


"Papa, cobalah. Ayam panggang buatan Mama sangat lezat!" Alice meletakkan potongan ayam pada piring yang ada di hadapan Kevin.


"Oh, terima kasih." Sahut Kevin sambil menatap potongan ayam di piringnya.


Kevin melirik Marry yang masih sibuk memotong cake. Marry terlihat biasa saja. Ekspresinya datar, sehingga membuat Kevin tak bisa menebak dia sedang senang, atau tidak senang.


Kini, mereka sudah duduk di bangku masing masing dengan piring penuh dengan makanan yang di sajikan.


Kevin tak henti-hentinya memuji masakan Marry. Marry hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih.


"Aku sangka, Papa tidak akan mau datang berkunjung ke tempat tinggal kami." Celetuk Alice.


"Mengapa kamu bisa berkata seperti itu?" Tanya Kevin heran.


"Apartementmu berada di pusat kota. Lalu megah dan mewah. Bahkan ruangan kami ini hanya sebesar kamar tidurmu." Ujar Alice.


"Aku hanya beruntung tinggal di sana. Tempat ini juga bukan tempat yang buruk. Aku rasa Mamamu pasti memberikan yang terbaik untukmu. Termasuk tinggal di apartement ini." Sahut Kevin dengan bijak.


"Mengapa Papa belum menikah?" Tanya Alice kemudian.

__ADS_1


Kevin terkejut dengan pertanyaan anak kecil itu. Mungkin, karena kehidupannya yang keras membuatnya harus dewasa sebelum waktunya.


"Aku belum siap berkomitmen. Aku masih ingin menikmati masa lajangku. Supaya dapat fokus dengan pekerjaanku yang menuntut untuk terus berinovasi."


"Apakah Papa Kevin tak suka anak kecil?"


Kevin tersenyum dan menatap Alice dengan tatapan lembut.


"Tidak. Aku menyukai anak kecil." Jawab Kevin.


"Buktinya, aku bisa akrab denganmu. Kita bisa sedekat ini, bahkan kamu bisa memanggilku papa." Sambung Kevin.


"Bagaimana sekolahmu? Apa masih ada yang mengganggumu?" Tanya Kevin mengalihkan pembicaraan.


"Hank? Aku tak peduli lagi padanya. Lagian, saat ini aku ikut kelas percepatan. Untuk apa aku mengurusnya!" Dengus Alice sambil menyilangkan tangannya di dada.


Usai menikmati makan malam, Kevin bersenda gurau dengan Alice di sofa, sambil bermain game.


Marry membereskan meja makan.


Usai membereskan peralatan makan dan dapur, Marry menuju ruang tengah menghampiri Alice dan Kevin yang masih saling bercanda.


"Mama, Papa Kevin dulu sekolah di MIT, bahkan dia telah memiliki gelar profesor di usia muda. Bolehkah aku seperti dia?" Alice berujar dengan antusias.


Marry tersenyum menatap putrinya sambil mengangguk.


"Tapi, sekarang kamu harus rajin belajar. Dan malam ini, kamu harus tidur, supaya besok tidak terlambat ke sekolah." Sahut Marry sambil membelai lembut rambut Alice.


"Apakah weekend besok aku boleh bermain ke tempat Papa Kevin?" Tanya Alice dengan memasang mimik memohon.


"Alice, Kevin ada kegiatan sendiri saat weekend. Kamu bisa bermain di rumah Nana atau Bibi Sophie."


"Tapi, Papa Kevin sudah berjanji akan mengajakku berjalan jalan weekend besok." Ucap Alice sambil merajuk.


Marry menoleh ke arah Kevin. Kevin menjadi tidak enak.


"Hmmm... Maaf..."


"Apa tidak sebaiknya kamu berbicara denganku dahulu sebelum menjanjikan apapun pada Alice. Aku ibunya!" Ucap Marry sambil menatap tajam kepada Kevin.


"Kamu bekerja, bukan, weekend besok?" Tukas Kevin sambil membalas tatapan Marry.


Sejujurnya Kevin merasa tak enak pada Marry, namun, entah mengapa dia ingin menikmati weekend bersama Alice dan bersenang senang dengan gadis kecil itu. Jika bisa, dia berharap dapat mengajak Marry juga.

__ADS_1


"Alice, bolehkah aku mengajak mamamu untuk berjalan-jalan sambil merayunya untuk mengijinkan kamu untuk bersamaku liburan besok?" Tanya Kevin sambil menatap Alice.


Alice langsung berbinar dan tersenyum lebar, menjawab dengan anggukan kepala.


"Jadi maksudmu, kamu ingin bernegosiasi denganku?" Tanya Marry sambil berkacak pinggang.


"Ya!" Sahut Kevin sambil mendekatkan wajahnya pada Marry.


Ingin rasanya dia langsung me ***** bibir wanita di depannya itu. Marry terlihat sangat cantik jika sedang marah. Tiba tiba dada Kevin berdesir saat beradu pandang dengan Marry.


"He em... Baiklah! Aku akan memberi kalian waktu untuk berdiskusi. Aku mau tidur dulu. Bye Papa!" Pamit Alice sambil memeluk Kevin.


Kevin membalas pelukan Kevin dan menggendongnya, membawa masuk ke kamar Alice.


Beberapa saat Kevin di kamar menemani Alice.


Marry duduk di dapur sambil memainkan ponselnya.


"Mau berjalan jalan bersamaku, atau kita bisa mengobrol sebentar?" Kevin menghampiri Marry.


"Baiklah."


Marry mengambil syalnya, lalu Marry dan Kevin keluar dari apartemen Marry.


"Maaf, aku melangkahimu!"


"Aku hanya tidak suka, kamu berlaku seperti seolah-olah papanya. Dan tidak meminta ijin dariku terlebih dahulu." Sahut Marry dengan ketus.


Kevin melirik Marry yang masih memasang tampang galak dan judes itu. Namun, justru itulah, Marry terlihat menggemaskan, menurut Kevin.


"Aku tahu, besok weekend kamu bekerja untuk event perjamuan peresmian kantor Terence dengan para pejabat dan pengusaha."


Marry terdiam.


"Ya."


"Aku tak menyangka kamu adalah sahabat sepupuku itu." Seloroh Kevin.


"Keluarga kalian memang berdarah bisnis. Kalian selain pandai secara otak, juga pandai berbisnis. Terence benar benar luar biasa. Dia sejak dahulu memiliki impian untuk mengolah limbah sampah. Dan kini, dia benar benar bisa mewujudkan impiannya di sini, setelah sukses di kota lain." Ucap Marry.


"Ya, dia memang anak yang pandai."


"Dan bertanggung jawab." Sela Marry dengan cepat.

__ADS_1


Kevin menoleh ke arah Marry dan mengerutkan keningnya.


"Mengapa kamu memiliki fotoku?" Tanya Kevin kemudian.


__ADS_2