
Marry belum menjawab apa pun. Dia masih termangu dengan pikirannya sendiri saat itu.
Saat menatap gulungan ombak melalui kaca jendela mobil. Baru lah dia tersadar. Kevin membawanya ke luar kota.
"Kevin, kamu mau membawaku ke mana?" Marry menoleh ke arah Kevin dan menatap tajam ke arah lelaki itu seolah Kevin adakah seorang penjahat.
Kevin hanya diam. Lalu meraih jemari Marry.
"Percayalah, aku tak akan menyakitimu." Ucap Kevin dengan tenang.
"Percaya? Hah? Kamu akan membawaku ke mana?" Tanya Marry dengan gelisah.
Kevin menghentikan mobilnya tepat di depan villa milik keluarganya.
Marry dengan napas memburu langsung membuka pintu mobil sebelum mobil tepat berhenti.
BRUKK....
Tubuh Marry jatuh berguling di halaman yang berpasir.
Terasa sakit, dan sedikit perih. Namun, Marry tak peduli lagi dengan rasa sakit dan perih dari tubuhnya.
Dia hendak pergi menjauh dari tempat itu. Tempat yang membuat dirinya merasa sangat ketakutan selama ini.
Bayangan dirinya ditarik dengan paksa, dan dirampas dengan paksa kesuciannya.
Napas memburu dan bau alkohol dari mulut Kevin masih teringat jelas dalam ingatannya.
Marry berlari menuju pantai tak peduli lagi dengan teriakan Kevin.
"Marry!" Panggil Kevin sambil berlari mengejar.
Marry berlari kecil dengan menggunakan sepatu berhak itu.
Sambil berlari dengan pincang, Marry melepaskan sepatunya.
Stiletto yang dikenakan oleh Marry telah terlepas, dia tak peduli lagi, dan Marry telah jauh ke arah pantai.
Kevin mempercepat larinya, mengejar Marry dan meraih tangan wanita itu.
"Marry tunggu aku! Berhentilah!" Bujuk Kevin sambil berlari.
Kevin menarik lengan Marry sehingga mereka berdua terjatuh berguling di pasir pantai.
Kini Marry sedang berada di atas tubuh Kevin.
__ADS_1
"Mengapa kamu tiba tiba lari?" Tanya Kevin sambil terengah-engah.
Marry yang juga berusaha mengatur napasnya masih tetap berada di atas Kevin menatap wajah lelaki itu.
"Astaga, wajahnya begitu tampan!" Batin Marry.
Dia terpesona dengan wajah rupawan Kevin kala itu.
Dan Kevin tersenyum, dan membelai lembut wajah Marry seraya membersihkan wajah itu dari pasir yang mengenai wajah cantik Marry.
"Aku senang kamu dengan posisi seperti ini. Tapi, sebaiknya kita tidak di sini. Lihatlah, wajahmu penuh dengan pasir, dan pakaian kita juga." Celetuk Kevin, menyadarkan Marry.
"Eh... !" Marry buru buru berdiri dan membersihkan tubuh dan wajahnya dari pasir yang menempel.
Kevin juga berdiri dan menepuk-nepuk pakaiannya yang terkena pasir.
Kevin duduk di pantai sambil menatap langit yang penuh dengan bintang.
Marry yang melihat Kevin seperti itu akhirnya duduk di sampingnya.
"Aku tahu kamu selalu takut padaku. Terutama dengan villa di sana." Kevin menunjuk villa milik keluarganya.
Marry menghela napas berat dan melayangkan pandangannya ke atas langit.
Lalu tiba-tiba Marry tertawa dengan keras.
"Lucu! Sangat lucu!" Seru Marry lirih.
"Hampir delapan tahun silam, aku duduk tepat di tempat ini, sambil menatap langit. Berdoa supaya hidupku lebih baik. Aku bercita-cita ingin menjadi seorang dokter, memiliki karir dan kehidupan yang baik. Dan menikah dengan kekasihku setelah lulus dan mendapatkan pekerjaan yang baik." Marry terdiam sejenak memberi jeda.
Ada kesedihan yang mendalam saat mengatakan itu semua. Kevin dapat merasakan. Kevin hanya diam sambil menatap Marry.
"Aku hancur saat mengetahui bahwa aku hamil. Aku sempat pergi ke dokter kandungan untuk menggugurkan kandunganku. Namun, pada saat dokter akan melakukan tindakan, aku sadar. Bahwa apa yang aku lakukan itu salah. Anak itu tidak bersalah. Dia berhak untuk hidup. Dan aku memutuskan untuk membesarkan anakku sendiri dan melupakan semuanya. Melupakan kejadian malam itu, melupakan dirimu, melupakan impianku dan cita citaku. Hingga melupakan Justin. Aku sengaja tidak datang menemuinya saat acara prom. Karena tak mungkin aku datang dengan keadaan perut membuncit seperti itu." Marry tersenyum sinis.
"Nyonya Ruth dan Bob sangat baik. Dia selalu memberi pekerjaan padaku. Mereka tidak pernah tahu bahwa aku hamil selama aku bekerja saat itu. Suatu hari saat hujan, aku terjatuh saat selesai bekerja malam itu. Dan tiba tiba ketubanku pecah dini. Beruntung Sophie segera meminta bantuan pada Nana dan Will. Mereka menolongku saat persalinan."
Kevin mendekatkan tubuhnya pada Marry yang suaranya mulai terdengar parau dan serak menahan tangis.
"Jadi Alice dilahirkan prematur!" Selama ini Kevin selalu bingung dengan usia kehamilan Marry dan kelahiran Alice.
"Marry. Aku tahu, seribu kata maaf, tak kan sanggup mengubah semuanya. Semua telah terjadi. Aku pun merasa sangat bersalah padamu. Aku janji akan menebus kesalahanku." Kevin meraih jemari Marry dan menggenggam erat.
"Aku berusaha untuk melupakanmu, tapi ternyata tak bisa!" Tangis Marry pecah. Sambil tertunduk, Marry meluapkan perasaannya dengan menangis.
Kevin meraih pundak Marry dan merangkulnya.
__ADS_1
Kali ini Marry tak menolak. Dia menangis dalam dekapan Kevin.
"Jika kamu ingin mengambil sekolah kedokteran, aku akan membiayai semuanya. Kamu bisa meraih cita citamu. Alice bisa bersamaku." Ujar Kevin dengan lembut sambil membelai pundak Marry.
Marry menegakkan punggungnya, dan beringsut melepas dekapan Kevin.
"Aku sangat membenci diriku sendiri karena tak bisa sepenuhnya melupakanmu. Terlebih wajah Alice yang semakin menyerupai wajahmu." Desis Marry.
Kevin tersentak. Dia sama sekali tak menyadari hal itu selama ini.
"Marry, masih adakah sedikit tempat untukku di hatimu?"
Marry terdiam menatap wajah Kevin yang tenang itu.
Semakin Marry berusaha menolak, sisi lain hatinya berontak.
Dia tak bisa mengingkari bahwa dia perlahan mulai dapat menerima kehadiran Kevin dalam dirinya. Dan dalam hatinya.
"Kevin?"
"Ya."
Lidah Marry seakan Kelu. Dia tak bisa mengucapkan apa apa. Dia hanya bisa menatap wajah Kevin dengan tatapan sendunya.
Kevin tahu, Marry telah luluh dan ada harapan baginya untuk mendapatkan cinta Marry.
"Aku ingin perasaan kita mengalir. Aku tak ingin memaksakan perasaanku ini padamu juga. Aku ingin kita perlahan-lahan menjalani ini semua. Aku ingin belajar mencintai dengan tulus."
Marry menatap lekat lekat Kevin seolah meyakinkan dirinya sendiri dengan kesungguhan lelaki itu.
Kevin memajukan wajahnya mendekat pada wajah Marry, lalu meraih dagu wanita itu, dan menautkan bibirnya pada bibir Marry dengan lembut.
"Astaga, manis dan lembut sekali bibirmu, Marry! Kamu bagai candu bagiku." Ucap Kevin dalam hati.
Marry perlahan mengendurkan ketegangannya.
Dia mulai menerima ciuman Kevin itu.
"Hmmmm.." Reaksi biologis tubuh Marry berbanding terbalik dengan pikirannya.
Marry mengalungkan kedua tangannya pada leher Kevin dan membalas ciuman itu.
Semua mengalir begitu saja. Begitu dalam dan begitu intens.
Mereka merengkuh perasaan satu sama lain dalam ciuman yang sukses membangkitkan gairah keduanya.
__ADS_1
Bintang bintang di angkasa jadi saksi kisah cinta mereka malam itu.
*