Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Aku menunggumu


__ADS_3

Marry telah berada di kedai dan membuat muffin dan cupcake untuk kedainya. Aroma kopi menyeruak di udara, seakan memanggil pelanggan untuk datang membeli.


Marry menuang adonan dan memasukkan ke dalam oven sambil bersenandung ringan. Jill, pegawai di kedai, dan Ben saling pandang, melihat tingkah Marry yang sedikit berbeda pagi itu.


Marry sepanjang pagi bersenandung dan tersenyum. Bahkan sangat ramah pada pelanggan. Selama ini, Marry selalu ramah, namun, hari ini tampak berbeda.


Justin mendorong pintu kedai dan masuk. Dia memesan kopi dan sekotak muffin dan cupcake.


"Oh, hai!" Sapa Marry.


"Hai!" Sahut Justin.


"Aroma kopi, membuatku berbelok untuk mampir." Ucap Justin sambil terus menatap Marry.


"Silahkan kopinya. Dan ini cupcake dan muffin." Ucap Marry sambil menyerahkan kotak kue pesanan Justin.


"Kamu ada waktu sebentar untuk menemaniku?" Tanya Justin.


Tanpa ragu Marry mengangguk, dan meminta Jill untuk menggantikannya sebentar.


Saat Marry dan Justin keluar kedai, mereka berpapasan dengan Joe dan Olivia. Marry tersenyum sambil menyapa keduanya.


Seketika Olivia terpana, lebih tepatnya terkejut menatap apa yang baru dilihatnya.


Joe mengerutkan keningnya dengan heran.


"Itu Justin." Bisik Olivia pada Joe.


Joe hanya mengangguk angguk aja. Dia tak begitu mempedulikan Marry dan teman prianya. Namun, sejenak dia melayangkan pandangan ke ruangan. Tak ada Alice di sana.


"Tumben, gadis kecil itu tidak ada?" Tanya Joe pada Ben iseng saat menunggu pesanannya tiba.


"Alice ikut bersama Kevin." Jawab Ben sambil menyerahkan kopi pesanan Joe.


Joe tertegun sejenak. Lalu menoleh ke arah Marry dan seorang lelaki di luar kedai, keduanya terlihat lebih dari teman.


Marry masuk ke kedai.


"Ben, aku titip kedai dulu." Ucapnya sambil tersenyum, lalu melepas celemeknya, dan mengambil tasnya, kemudian berlalu, menghampiri lelaki itu dan mereka pergi.


Olivia memperhatikan Joe yang sedari tadi mengamati Marry.


"Hei! Kita pulang!" Olivia menepuk pelan dada Joe, menyadarkan kekasihnya itu dari pikiran.


"Ada apa?" Tanya Olivia penasaran saat di mobil.


"Marry bersama siapa?"


"Justin." Jawab Olivia singkat sambil menikmati muffin.


"Justin? Kamu mengenalnya?" Joe mengerutkan keningnya menatap Olivia. Kini gantian Olivia yang heran menatap Joe.


"Mengapa kamu yang sibuk? Ada apa?"


Joe menggelengkan kepalanya.


"Justin dan Marry adalah sepasang kekasih sudah sejak lama. Sama seperti Terence dan Claire. Aku senang mereka bisa bertemu dan dekat kembali. Mereka bagai Romeo dan Juliet." Olivia bergumam seolah juga berbicara dengan dirinya sendiri.


"Tidak direstui keluarga?" Celetuk Joe.


"Tidak. Bukan. Bukan karena keluarga. Kisah cinta mereka benar-benar membuatku iri, aku dulu ingin seperti mereka. Yang saling membantu, melindungi, dan selalu kompak." Ucap Olivia sambil menoleh ke arah Joe.

__ADS_1


"Lalu kita? Apakah hubungan kita sudah seperti mereka?" Tanya Joe.


Olivia mencium pipi Joe, lalu Joe meraih pinggang gadis itu, dan membiarkan tubuh mereka berdekatan, Joe menciumi kening Olivia.


Mereka menghabiskan hari Minggu dengan menikmati kebersamaan di apartemen Joe, setelah semalam mereka menghabiskan malam yang panas di kamar Olivia. Karena tempat tinggal mereka hanya berseberangan saja.


*


Justin mengajak Marry ke sebuah danau. Mereka dahulu sering ke danau itu untuk memancing dan bermain-main. Tak hanya mereka berdua, namun juga Terence dan Claire.


Itu tempat favorit mereka jika sedang ingin menyendiri.


Sejak mengetahui dirinya hamil, Marry tak pernah lagi ke danau ini.


Justin dan Marry duduk di tepi danau sambil menatap air di danau yang tenang.


"Aku selalu menunggumu di sini." Ucap Justin.


Marry hanya diam. Dia merasa sangat bersalah pada Justin. Dia tahu, Justin masih mencintainya, sama seperti dirinya.


"Maafkan aku. Tapi kamu juga berhak untuk bahagia." Ucap Marry.


"Aku tak peduli apa alasanmu meninggalkan aku saat itu. Tapi saat aku bertemu lagi denganmu, seolah Tuhan menjawab doaku. Aku ingin bertemu denganmu lagi, sekali pun. Kamu telah menikah. Aku hanya ingin melihatmu lagi." Tukas Justin sambil menatap ke arah Marry.


Marry membalas tatapan Justin. Wajahnya bersemu merah.


Justin membelai wajah Marry dengan lembut, dan memegang lembut dagu Marry.


Lalu mencium bibir Marry dengan lembut. Tubuh Marry seakan terkena sengatan listrik ribuan volt. Reaksi kimia dan biologisnya menginginkan lebih dari itu.


Marry membalas ciuman Justin, lalu keduanya berguling di tepi danau yang sepi itu.


"Justin..ohh!" Rintih Marry, saat Justin mencium bagian leher dan dadanya. Sensasi biologis tubuhnya yang tak pernah tersentuh selama tujuh tahun, seakan memuncak.


Justin menciumi kaki, betis, paha Marry bergantian kaki kanan dan kiri, membuat Marry merintih tak karuan.


Bagian miliknya, terasa sangat gatal dan menginginkan bertemu dengan pasangannya.


Justin melepas pelindung bawah milik Marry dan mulai membenamkan kepalanya di antara paha wanita itu.


Marry semakin menggeliat karena sensasi yang dibuat oleh Justin.


"Justin! Justin! Tidak!" Tiba tiba Marry mendorong tubuh Justin sambil terengah-engah.


"Seharusnya kita tidak melakukan ini." Ucapnya tertunduk.


"Ada apa denganmu Marry? Aku mencintaimu dan akan selalu mencintaimu." Bisik Justin di telinga Marry sambil memeluk dan masih menciumi Marry dengan penuh gairah.


"Aku harus segera kembali ke kedai. Hari Minggu biasa ramai. Aku harus membantu Ben." Marry mencoba mendorong tubuh Justin yang terus menindihnya.


"Marry..!"


"Upps...!"


Justin mencium bibir Marry dengan buas dan terus melancarkan aksinya untuk mendapatkan tubuh Marry.


"JUSTIN!!" Kali ini Marry berteriak, yang membuat Justin terkejut dan tersentak.


Kali ini Marry hanya menatap Justin dengan tatapan tegas dan serius.


Justin melepaskan kungkungannya, dan membiarkan Marry merapikan pakaiannya. Demikian juga dengan dirinya.

__ADS_1


Mereka terdiam saat dalam perjalanan kembali ke kedai kopi.


"Maafkan aku. Aku rasa saatnya tidak tepat untuk saat ini." Ucap Marry sambil menoleh ke arah Justin memecah keheningan.


"Ya. Aku tahu. Maafkan aku juga telah lepas kendali. Aku sungguh merindukanmu, Marry." Sahut Justin sambil menggenggam tangan Marry.


"Turunkan saja aku di persimpangan jalan itu. Dan kamu bisa meneruskan perjalananmu."


Justin mengangguk dan tersenyum.


"Aku akan menunggumu, di sana." Ujar Justin saat Marry keluar dari mobilnya.


Marry tersenyum dan mengangguk.


Lalu Marry kembali ke kedai dan membantu pekerjaan Ben.


*


*


Tok tok tok!


Pintu terbuka.


"Hai, Sayang, ayo masuk!" Ucap Marry menyambut kedatangan Alice dan Kevin.


Alice dan Kevin masuk ke dalam apartemen.


"Mama, kemarin aku benar benar senang bisa bersama Papa Kevin. Papa mengajakku ke kantornya yang amat sangat sangat besar. Lalu aku pergi ke mall, membeli sepatu dan baju. Lihatlah!" Alice memamerkan tas yang berisi belanjaan pemberian dari Kevin.


Marry menoleh ke arah Kevin dan melotot padanya.


"Kevin, mengapa kamu benar benar memanjakan Alice. Pasti mahal semua harganya." Marry melihat apa saja yang diberikan pada Alice.


"Astaga, Kev!" Marry terbelalak saat melihat label harga semua barang pemberian dari Kevin untuk Alice.


"Semua ini mahal harganya! Bagaimana aku bisa membalasnya?" Ucap Marry sambil menatap ke arah Kevin sambil memelas.


"Kata Papa, dia juga akan membelikan untuk Mama. Tapi, Mama juga harus ikut jalan jalan juga." Cerocos Alice.


Marry menghela napas dalam-dalam dan menggelengkan kepalanya.


"Kevin. Aku sungguh jadi tidak enak jika seperti ini." Ucap Marry sungkan.


"Kamu mau kopi?" Marry menawarkan Kevin.


"Alice, kamu bawa masuk tas dan barang barangnya ke kamar!" Alice segera menyeret tasnya dan tas bungkusan belanjaanmya masuk ke kamarnya.


Kini tinggal ada Marry dan Kevin di ruang dapur. Marry membuatkan kopi untuk Kevin.


"Dengan krimer, tanpa gula." Ucapnya. Kevin mengangguk sambil tersenyum.


Kevin mengamati sekeliling ruangan itu. Tak ada tanda tanda orang lain di apartemen Marry. Namun, Marry terlihat senang dan bahagia saat ini. Kevin bisa merasakannya.


Dan, ada sebuah tanda di leher Marry saat dia meletakkan cangkir kopi di meja.


Kevin terus mengamati Marry dengan cermat, dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Tak mungkin dia mendekati Marry untuk mencium aroma tubuhnya, bisa langsung diusir, pikir Kevin.


Hanya tanda itu yang terlihat. Kevin menikmati kopi sejenak, lalu pamit untuk pulang.

__ADS_1


Dalam perjalanan pulang pikirannya berkecamuk. Tanda di leher Marry benar benar menganggu pikirannya.


"Marry pasti bercinta dengan lelaki itu!" Desis Kevin dengan nada tak suka.


__ADS_2