
Sejenak Marry terpesona oleh kehadiran Justin malam itu di acara peresmian pembukaan perusahaan milik Terence.
Tidak banyak yang berubah dari Justin. Masih terlihat tampan dan gagah. Tanpa sadar Marry berdiri di sudut ruangan, sambil mendekap erat nampan kosongnya, dan tersenyum sendiri.
Marry ingin datang menyapanya, namun....
"Hei!" Seseorang menepuk pundaknya, dan menyadarkan Marry.
"Astaga, Bob, kamu membuat jantungku mau copot!" Desis Marry.
"Aku memanggilmu beberapa kali, tapi kamu seolah terpesona dengan kehadiran seseorang di sana!" Goda Bob.
"Ah, itu hanya perasaanmu saja. Ada apa?" Marry mengalihkan pembicaraan dengan Bob.
"Nyonya mencarimu."
"Baiklah."
"Ayo ikut denganku!" Ajak Bob, diikuti oleh Marry.
Marry berjalan mengikuti Bob, naik ke lantai dua. Terlihat Keluarga Mars berkumpul di sana, dan ada William sedang mengobrol bersama dengan Emily dan keluargaku.
Emily melihat Marry dan tersenyum. Marry melambaikan tangan pelan sambil tersenyum.
"Marry." Panggil Nyonya Ruth.
"Ya, Nyonya." Sahut Marry dengan sopan.
"Kau tahu, Terence dan Claire akan melangsungkan pernikahan satu setengah bulan lagi?"
Marry menganggukkan kepala mengerti sambil tetap menatap Nyonya Ruth.
"Aku ingin kau membantu mengurus pesta mereka. Di samping menjadi salah satu pendamping pengantin bagi Claire. Aku percaya pekerjaanmu pasti memuaskan. Dan pasti kamu akan membantu dengan sepenuh hati sahabatmu." Tutur Nyonya Ruth.
Marry hanya diam, masih tak percaya. Dirinya dipercaya oleh Nyonya Ruth untuk membantu pelaksanaan pesta pernikahan Terence dan Claire.
"Baik. Saya akan melakukan yang terbaik. Dan akan berusaha membantu pelaksanaan pesta besok." Jawab Marry sambil tersenyum.
"Aku percaya padamu Marry." Tukas Nyonya Ruth sambil tersenyum.
Bob ikut tersenyum dan menepuk bahu Marry.
"Kenapa? Kamu mau menangis terharu?" Goda Bob.
Marry menoleh ke arah Bob dan mencubit pinggang Bob dengan gemas.
"Auuww!" Teriak Bob sambil melotot ke arah Marry.
Nyonya Ruth terkekeh melihat keakraban dua pegawainya.
"Nyonya, saya sangat berterima kasih sekali atas kepercayaan yang Anda berikan. Sungguh ini sangat berarti untuk saya." Ucap Marry sambil menatap Nyonya Ruth.
"Baiklah. Jadi aku bisa berbicara pada Terence dan Claire untuk menghubungimu atau Bob untuk urusan pesta pernikahan mereka besok." Instruksi Nyonya Ruth sambil menggosok telapak tangannya.
"Baik, Nyonya!" Marry dan Bob menjawab bersamaan.
*
*
"Apa Tuan Putri sudah siap untuk berjalan-jalan hari ini?"
"Siap..!!"
Kevin menggandeng tangan Alice masuk ke kantornya. Keadaan kantor lenggang karena hari itu adalah hari libur.
Hanya terlihat beberapa penjaga bertugas dan ob yang membersihkan ruangan.
Kevin dan Alice masuk ke lift. Kevin menekan tombol lantai yang akan mereka tuju.
__ADS_1
Alice terlihat sangat antusias, berkali kali dia terbelalak kagum menatap ruangan ruangan di perusahaan milik Kevin.
Ting!
Pintu lift terbuka. Kevin menoleh ke arah Alice memberi isyarat untuk keluar.
Alice tercengang melihat pemandangan di depannya. Aneka model layar dan komputer terhubung, dan beberapa model robot terpajang di tengah ruangan.
Dua orang pemuda yang bekerja di sana saat itu mengangguk memberi hormat pada Kevin.
Kevin mengajak Alice berkeliling ruangan itu dan melihat lihat peralatan di sana. Beberapa robot dengan berbagai bentuk terpajang di sana.
Alice terkagum-kagum melihat benda benda keren yang ada di sana.
"Apa kamu mau melihat sesuatu di sana?" Kevin menunjuk sebuah ruangan.
Alice mengangguk.
Kevin membuka pintu ruangan. Mereka masuk dan Kevin menutupnya.
"Coba bayangkan kamu ingin berada di mana saat ini!" Ucap Kevin.
"Aku ingin ke luar angkasa." Sahut Alice dengan girang.
Kevin mengambil gadget yang ada di dinding dekat pintu, dan mengutak-atik. Tak sampai satu menit, Kevin memencet tombol enter.
Dan tiba tiba lampu padam, ruangan gelap gulita.
Alice menggenggam tangan Kevin dengan erat, dia takut, tapi penasaran.
Saat lampu menyala, mereka telah berada seperti dalam pesawat luar angkasa.
"Wow...!!" Alice terbelalak tak percaya.
"Ini, ini sangat sangat keren sekali! Ruangan ini berubah menjadi pesawat luar angkasa!" Cicit Alice dengan kagum.
"Kamu mau mencoba mengemudikannya?" Tanya Kevin.
Kevin mengangguk dan tersenyum.
Alice bermain dengan simulator luar angkasa. Tak henti-hentinya dia berteriak seru dan kekaguman terpancar di wajahnya.
Kevin menikmati setiap kebersamaan mereka kala itu. Dia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.
Meskipun Marry mengatakan Alice bukan anaknya. Tapi, di sisi hatinya, saat mendengar Alice alergi Kerang dan udang, dia menjadi berubah pikiran. Itu seperti dirinya.
Alergi terhadap makanan tertentu biasanya diturunkan dari salah satu orang tuanya.
Alice terus mengutak-atik kemudi dan bermain main di sana.
Setelah puas dengan alat simulator pesawat luar angkasa, Alice ingin berada di pusat kendali pesawat terbang.
Kini Kevin mengubah ruangan itu menjadi ruang kendali pesawat terbang.
Alice berseru kegirangan saat Kevin memainkan alat simulator itu.
Kevin dan Alice bersorak senang. Kevin merasa sangat bahagia melihat Alice tertawa senang.
Lalu Kevin mengajak ke ruang permainan, dan mereka menghabiskan waktu untuk bermain permainan petualangan yang ada di layar monitor yang besar.
Alice sangat senang sekali.
Tak terasa hari sudah menjelang sore, Alice mulai terlihat lelah.
Kevin mengajak Alice untuk pulang kemudian.
*
Kevin menuju restoran siap saji dan mengantre di Drive thru untuk memesan makanan untuk mereka bawa pulang.
__ADS_1
Sesampainya di apartemen Kevin, Alice telah tertidur di mobil. Kevin membawa masuk ke kamar. Setelah itu dia masuk ke kamarnya dan beristirahat sejenak.
Kevin mengingatkan semua kejadian menyenangkan hari ini bersama Alice. Dia merasa sedang bersama dengan putrinya sendiri. Rasa bahagia terselip di dadanya. Dia sangat menyukai keberadaan Alice di dekatnya.
Tiba tiba bayangan Marry terbersit di pikirannya.
"Hhmm... Mengapa dia selalu ada di kepalaku, huh?!" Gumam Kevin sambil menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan pikiran tentang Marry.
Kevin terus berpikir, kapan dia bertemu dengan Marry sehingga membuat wanita itu hamil. Mengapa dia tidak ingat?
Kevin berbaring di ranjangnya yang empuk sambil melayangkan ingatannya pada tujuh tahun silam, saat pesta ulang tahunnya ke-25 yang dirayakan secara meriah dan dihadiri oleh keluarga dan teman temannya.
Saat itu dia juga sedang mengembangkan pusat IT Mars company yang saat ini dipimpinnya.
Usai pesta, setelah para tamu pulang. Joe kembali ke villa bersama beberapa gadis cantik, dan mereka berpesta hingga mabuk. Kevin tak ingat setelahnya.
Dia ingat, pagi itu terbangun dengan perasaan lega dan senang luar biasa di kamar villa. Saat itu, dia tak mempedulikan keadaan dalam kamar.
Biasanya saat merasakan perasaan itu, dia telah melepaskan kejantanannya dengan wanita. Dia langsung membersihkan tubuhnya dan pergi meninggalkan villa.
Lama lama, mata Kevin terpejam terbang ke alam mimpi.
*
"Pa, aku ingin makan es krim!" Pinta Alice usai menghabiskan burgernya.
"Baiklah, cucilah tanganmu dan kita pergi mencari es krim."
Alice mencuci tangannya lalu menghampiri Kevin.
Kevin menggendong Alice menuju lift dan turun untuk keluar dari apartemen.
Mereka menuju sebuah kedai es krim di dekat apartemen Kevin.
"Kamu ingin rasa apa?" Tanya Kevin sambil mengangkat tubuh Alice untuk memilih rasa.
"Aku ingin rasa vanila dan cokelat!" Sorak Alice.
Pelayan tersenyum mendengarnya.
"Vanila dan cokelat, dan stroberry." Ujar Kevin sambil menoleh pada pelayan kedai.
Tak lama pelayan memberikan dua es krim pesanan Kevin dan Alice.
Mereka duduk di kedai sambil menikmati es krim sambil bersenda gurau.
Alice menceritakan tentang sekolahnya, Paman dan Bibinya, bahkan sepupunya yang masih bayi.
Lalu cerita bahwa paman William telah memiliki kekasih seorang dokter yang sangat hebat, dan merupakan idola mamanya sejak dulu.
Kevin hanya bisa senyum senyum mendengar setiap celotehan gadis kecil ini.
Yang lebih mengejutkan lagi, bahwa Alice mengatakan bahwa papanya adalah lulusan MIT. Itulah mengapa dia memiliki otak yang cerdas. Hasil warisan dari papanya. Tapi, mamanya meminta dia untuk merahasiakan semua itu.
"Setelah kamu cerita padaku, semuanya tidak menjadi rahasia lagi, Alice." Celetuk Kevin.
"Sstttt!!" Alice memberi isyarat dengan jari telunjuk di bibirnya.
"Jangan katakan pada siap pun, hanya aku dan kamu, oke?!" Bisik Alice.
Kevin mengangguk sambil tersenyum.
Saya mereka sedang menikmati es krim. Tak sengaja ekor mata Kevin melihat bayangan Marry di seberang jalan keluar dari sebuah toko bersama seorang lelaki.
Marry terlihat tersenyum dan mengobrol dengan akrab dengan lelaki itu. Beberapa kali bahasa tubuh keduanya seakan saling menginginkan lebih.
Bahkan Marry terlihat bahagia saat lelaki itu memegang wajahnya, dan merangkul pundaknya saat pergi berlalu dari tempat itu.
Kevin menghela napas dalam-dalam, dadanya terasa sesak dan bergemuruh. Ada perasaan aneh di dadanya. Rasa tidak suka.
__ADS_1
Ini kan yang dinamakan cemburu?