
Olivia membuka pintu apartemennya, lalu menyilakan Joe masuk.
Lalu menaruh tas di sofa, dan keranjang belanjanya di meja dapur. Olivia memutar tubuhnya menatap Joe yang duduk di kursi dapur.
"Ada apa?" Tanya Olivia.
Joe mengambil napas dalam-dalam sesaat. Dia mengambil sekaleng minuman bersoda dari lemari es yang ada di dapur seperti biasanya.
"Seharusnya aku yang bertanya, ada apa denganmu?" Joe membuka kaleng minuman itu, lalu meneguknya.
Tatapan matanya tak lepas menatap Olivia, yang berdiri sambil mengetuk meja makan kecil di dapurnya dengan jarinya.
"Aku tak apa apa. Tak ada masalah denganku." Sahut Olivia, sambil membuang pandangannya menatap ke arah luar melalui jendela dapur.
"Oliv, katakanlah, mengapa kamu seakan memberi jarak pada kita? Sejak pertemuan dengan keluargaku. Apa mereka terlalu menakutkan bagimu?"
Joe berdiri menghampiri Olivia.
Gadis itu hanya diam. Pandangannya masih tertuju ke arah luar.
"Oliv." Joe membelai lembut wajah Olivia, tangan kokoh Joe memutar dagu Olivia untuk menatapnya.
Semburat keraguan dan rasa takut tergambar di wajah Olivia.
Air matanya mengalir dari sudut matanya.
"Maafkan aku Joe!" Olivia tak dapat menahan lagi tangisnya.
Joe mendekap Olivia dengan erat dan rasa sayang yang tulus.
"Kamu tahu? Sudah lama sekali aku tidak merasakan hal seperti ini. Mencintai seseorang dan orang itu membalas dengan tulus juga. Masa laluku cukup menyedihkan, membuatku trauma menjalin hubungan kembali. Butuh waktu bertahun-tahun untuk meyakinkan diri mencoba keluar dari rasa trauma itu."
Joe mencurahkan isi hatinya yang dipendam selama ini pada Olivia.
"Aku percaya padamu. Dan aku yakin tidak salah memilihmu. Aku mencintaimu, Olivia." Bisik Joe sambil mendekap erat Olivia.
"Joe, aku rasa kita tak usah meneruskan kembali hubungan kita." Olivia melepaskan pelukan Joe.
Sontak Joe terkejut dan menatap tajam ke arah gadis yang dicintainya itu.
"Hah? Mengapa?"
"Aku merasa tak pantas untukmu."
Raut wajah Joe seketika berubah, mengerutkan keningnya mencoba mencerna semua ucapan Olivia barusan.
Tak meneruskan hubungan?
Tak pantas?
Alasan macam apa itu?
__ADS_1
Otak Joe seakan tak dapat mencerna alasan konyol Olivia.
"Maafkan aku Joe. Bukan karena orang ketiga atau karena keluargamu. Tidak, bukan itu." Olivia menggelengkan kepalanya.
"Lantas apa, Liv?!" Joe mengguncang bahu Olivia dengan keras penuh emosi.
"Lupakan aku, Joe. Masih banyak gadis lain yang lebih baik dan lebih pantas untukmu."
Ucap Olivia lirih.
Olivia membuang wajahnya, seakan tak ingin menatap Joe.
Lalu Olivia menghilangkan segelas air minum dan meneguknya hingga habis.
"Joe, aku rasa kita sampai di sini saja. Terima kasih untuk semuanya. Kamu adalah pria terbaik yang pernah aku kenal selama ini. Aku berdoa kamu akan mendapatkan yang terbaik dikemudian hari. Dan aku rasa kamu tak lupa akan pintu keluar ruangan ini."
Olivia menatap Joe dengan tatapan sungguh sungguh.
"Apa maksudmu, Liv?" Joe menggeleng tak percaya.
"Aku rasa ucapan ku sudah sangat jelas barusan."
Olivia melipat kedua tangannya di depan dada.
Joe menatap Olivia dengan sungguh sungguh penuh selidik. Joe masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi ini.
Selama ini hubunganmya dengan Olivia selalu baik baik saja, lalu beberapa kali makan malam dan bertemu dengan orang tuanya. Ikut dalam acara keluarga besar, bahkan sering ikut dalam acara acara penting perusahaan untuk mendampingi Joe.
Namun, tiba tiba Oliva menjauh seakan memberi jarak pada mereka, dan hari ini memutuskan untuk berpisah.
Joe berusaha meraih tangan Olivia, namun, segera ditepis oleh gadis itu.
"Tidak. Ini sungguhan. Hubungan kita sampai di sini. Selamat sore. Tolong tinggalkan kamar saya."
Olivia berjalan menuju ke arah pintu apartemennya, lalu mempersilakan Joe untuk keluar.
"Olivia, sungguh kami lakukan ini padaku? Apa salahku? Jika ada sesuatu hal, tolong ceritakan padaku. Kita bisa berdiskusi bersama dan mencari jalan keluar, seperti yang sudah sudah. Oliv, dengarkan aku!" Pinta Joe sekali lagi sambil menatap seraya memohon pada Olivia.
Olivia melengos, tak ingin bertatapan mata dengan Joe.
"Terima kasih untuk semuanya selama ini. Selamat sore."
Olivia mendorong pelan tubuh Joe ke arah luar pintu.
BRAK!
Pintu tertutup, dan terdengar suara pintu dikunci.
Joe tertegun sejenak manatap nanar pintu kamar Olivia. Sejenak dia berdiri di sana. Masih berusaha mencoba mencerna semuanya.
Joe memejamkan matanya, dan air mata mengalir membasahi pipinya. Dia membalikkan tubuhnya, berlalu dari tempat itu mencari pelampiasan untuk semua yang baru saja terjadi.
__ADS_1
Sementara itu, Olivia, menangis sejadi-jadinya usai menutup dan mengunci pintu kamarnya.
Dia menumpahkan semua kesedihannya di bawah kucuran air shower.
Dia pun patah hati melepaskan Joe, demi keselamatan Joe dan keluarganya.
*
Dua Minggu lalu...
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Olivia dengan sinis.
"Halo, anak manis. Apa kabar? Ayahmu datang menemui mengapa tak disambut dengan baik? Bahkan kamu tak pernah mengunjungiku saat berada dalam penjara?" Tanya seorang lelaki bernama Tom, yang merupakan ayah Olivia.
"Untuk apa kamu datang menemuiku? Tak puaskan dirimu menyiksa ibuku, hingga dia meninggal? Tak puas kah kamu membuat aku menderita selama ini, hah? Kamu meninggalkan ibu dalam keadaan hamil, lalu ibu melahirkan dan membesarkan aku seorang diri. Sedang kamu? Apa yang kamu lakukan? Hanya pemadat yang menghabiskan uang saja. Cuih!" Seloroh Olivia sambil meludah ke tanah.
Tom menyeringai lebar.
"Aku dengar kamu dekat dengan keluarga Miller. Joe Miller. Keluarga papan atas, yang bekerja sebagai kepercayaan keluarga nomor satu di kota besar ini?"
Ucapan Tom, membuat kening Olivia berkerut. Dia menatap tajam ke arah Tom.
"Apa maumu?"
Tom tertawa terbahak-bahak.
"Apa mauku?" Ulangnya sambil tertawa kembali.
"Kamu adalah putriku. Dan jika kamu menikah dengan lelaki itu, maka secara otomatis menjadi bagian dari keluarga Miller. Kamu juga harus berbakti dan merawat ayahmu ini." Ucap Tom sambil tersenyum ke arah Olivia.
"Kamu ingin memeras ku?" Selidik Olivia.
"Bukan memeras, Sayang. Hanya tunjukkan baktimu pada orang tua renta ini."
Tom mendekati Olivia.
"Pergi dariku! Jangan pernah muncul kembali di hadapanku! Kamu bukan ayahku! Jika berani macam macam, aku akan berteriak dan meminta tolong!"
"Dengar Olivia. Kamu hanya gadis kecil yang selalu berlindung di balik punggung ibumu. Ibumu saja bertekuk lutut di hadapanku. Apa kamu mau seperti dia, hah!" Ancam Tom.
"Brengsek!" Umpat Olivia.
Tom makin mendekat pada Olivia.
"Ingat, jangan lah bodoh! Dekati dan nikahi Joe Miller..dan kamu akan menjadi kaya raya. Ingat baik baik ayahmu ini. Yang membutuhkan uang untuk menjalani hidup."
"Kamu memeras ku?"
"Jika kamu tak ingin berakhir seperti ibumu? Maka menurut lah padaku, termasuk pasanganmu, harus menurut padamu. Jika tidak, akan bernasib sama seperti ibumu!" Tom menekankan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya saat itu.
Olivia berkali kali menghela napas, usai Tom berlalu dari hadapannya.
__ADS_1
Hatinya sangat gentar melihat lelaki yang tak ingin lagi dilihatnya itu.
Olivia merasa khawatir akan keselamatan Joe. Itulah mengapa dia memilih untuk menjauh dari Joe dan keluarganya.