Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Rahasia Keluarga


__ADS_3

"Will, Marry, ini adalah Tracy putriku, adik dari Morgan, papa dari Em dan Kevin." Nenek Max mengenalkan Tracy pada William dan Marry.


"Aku sengaja mengundang dia datang kemari, karena aku merindukannya sebagai seorang ibu yang rindu pada anaknya."


Nenek Max menatap Tracy dengan raut wajah haru.


Tracy mendekati ibunya dan memeluknya.


"Aku ingin selama dirimu berada di sini, kita dapat lebih sering menghabiskan waktu bersama. Umurku sudah terus bertambah. Aku hanya ingin berkumpul dan menikmati lebih banyak waktu dengan anak anak dan cucuku, bahkan bersama dengan cicitku." Ucap Nenek Max sambil mengamati satu persatu wajah wajah yang ada dalam ruangan itu.


"Oya, apakah Bibi Tracy akan tinggal di sini sementara?" Tanya Marry menyela.


"Aku menginap di hotel saja. Semua dari kantor. Aku janji akan lebih sering datang untuk menemani ibuku. Teri ankasih, Marry." Tracy tersenyum.


"Oya, katanya, kamu ingin mengatakan sesuatu padaku? Apa itu?" Tanya Nenek Max sambil menatap putrinya.


Tracy mengambil cangkir kopinya, dan menyesapnya perlahan sebelum mengatakan apa pun.


"Aku ingin mengenalkan seseorang pada ibu dan keluarga yang lain. Ini adalah Mika. Mika adalah putriku." Ucap Tracy sambil mengusap pundak seorang gadis berusia lebih muda dari Kevin.


"Oh. Aku pikir, dia asistenmu." Ucap Nenek Max.


"Bukan, Bu. Dia adalah putriku. Dia memang bekerja bersamaku, dan selalu ikut kemana pun aku pergi. Ya seperti asisten, jika dipikir pikir." Tracy tersenyum.


Emily menatap tajam ke arah Muka. Raut wajah Mika seolah mengingatkan Emily pada sosok seorang wanita yang datang ke rumahnya saat dia masih kecil.


Seorang wanita yang datang meminta pertanggungjawaban dari papanya karena hamil. Lalu mama marah dan pergi dari rumah untuk beberapa waktu. Saat itu Kevin masih kecil, mungkin sudah lupa.


Selama masa kemarahan mamanya, Kevin dititipkan pada Nenek dan Kakek Max.


Emily yang tinggal bersama papa dan mamanya kala itu, setiap hari mendengar pertengkaran antara orang tuanya. Hingga akhirnya Emily memutuskan untuk tinggal di asrama saja.


Emily memiliki trauma dalam berkomitmen sejak saat itu. Bahkan menutup rapat-rapat hatinya untuk mencintai seseorang, dan tak pernah mempercayai laki laki. Hingga akhirnya William yang berhasil menaklukkan hatinya.


"Bibi tidak menikah?" Tanya Emily.


Tracy menatap Emily dan tersenyum.


"Untuk apa menikah, jika menjadi sebuah beban. Aku sanggup menjadi seorang ibu tunggal bagi putriku." Jawab Tracy.


"Jadi dia memiliki nama Mars juga?" Emily menegaskan.


"Tentu saja, Sayang." Tracy tersenyum.


"Oh, baiklah. Sebaiknya kita segera saja menyantap sajian yang sudah aku siapkan! Semoga kalian suka dan selamat bersenang-senang di rumah kami." Ucap Marry.

__ADS_1


Kevin yang sedari tadi merangkul pundak Marry, mencium keningnya dengan rasa sayang.


"Aku bahagia bisa berkumpul bersama keluarga besar." Ucapnya.


*


"Bibi, aku tahu itu putri ayahku." Ucap Emily sambil duduk di samping Tracy.


Tracy terkejut dan menatap Emily.


"Bagaimana kamu bisa berpikir seperti itu?"


"Aku tahu. Aku juga mengetahui catatan kesehatan Bibi Tracy yang rahimnya telah diangkat, dan tak bisa memiliki anak. Dia adalah putri wanita itu, kan? Wanita yang selama ini membuat mamaku depresi, dan selalu was was. Membuat papa dan mama kehilangan keharmonisan rumah tangga mereka, dan menjalani konseling selama bertahun-tahun. Lalu Bibi datang dan menuduh mama adalah seorang pembunuh. Aku saksi selama kejadian itu, Bibi. Aku yang melihat secara langsung, terutama saat wajah wanita itu menyeringai lebar saat mama dan papa sedang bertengkar hebat. Dia bukan wanita baik baik. Tapi Bibi selalu membelanya, bahkan membuat Mama seakan yang bersalah."


Emily mengucapkan semua yang selama ini tersimpan dalam hatinya.


Tracy tercenung. Dia menatap Emily yang bukan gadis kecil seperti dulu lagi.


"Bagaimana kamu mengetahui riwayat kesehatanku?" Tanya Tracy penasaran.


"Aku tak sengaja membaca riwayat kesehatan Bibi saat bertugas menjadi salah satu team dokter dalam penelitian serum di Prancis beberapa tahun silam. Lalu aku juga tak sengaja menemukan data mengenai wanita itu, yang ternyata adalah imigran gelap dan penipu. Aku membaca semuanya tentang wanita itu. Dia memilih papa untuk memuluskan rencana kelompoknya sebagai penyandang dana sebuah misi. Aku pun tak tahu misi seperti apa. Lalu ternyata papa tetap memilih mama, dan mempengaruhi Bibi. Naas dia meninggal saat melahirkan. Dan aku harap putrinya tidak seperti ibunya." Tukas Emily.


Tracy mengangguk dan menepuk bahu keponakannya itu.


"Aku percaya padamu, Bibi."


*


"Jadi, dia adalah saudara tiri kalian?" Tanya Marry sambil menatap Kevin dan Emily.


"Ya." Sahut Emily.


"Aku sungguh tak menyangka. Tapi kalian juga harus menceritakan ini semua pada Tuan Mars. Supaya dia mengetahuinya."


"Kamu benar juga." Sahut Emily sambil memakan kudapan sepotong roti buatan Marry.


"Kak, sungguh aku baru mendengar semua ini. Dulu aku berpikir betapa orang tuaku seakan membuang ku, untuk tinggal bersama kakek dan nenek. Tapi ternyata, mereka tengah menghadapi masalah rumah tangga yang cukup pelik."


Kevin menoleh pada kakaknya.


Emily hanya mengangguk pelan.


"Hai, bagaimana rencana pernikahan Joe dua Minggu lagi?" Marry mengalihkan pembicaraan.


"Ya. Aku telah membahas sedikit bersama Joe, dan dia menyerahkan semua pada Bibi Ruth dengan saranku." Ucap Kevin.

__ADS_1


Marry terbahak-bahak.


"Tentu saja, karena kamu pun tak pernah mengurus hal yang ribet seperti ini."


"Apa, kamu meledekku!" Kevin berkacak pinggang pura pura kesal dan marah.


"Ya! Cobalah, jika tak ada aku atau Emily, bisa kacau acara resepsi kita kemarin."


Marry membalas Kevin.


Emily hanya bisa terkikik geli melihat adik dan adik iparnya saling meledek.


*


Dua Minggu Kemudian...


Halaman rumah Kevin sudah dihias dan didekorasi dengan cantiknya.


Bibi Ruth yang menangani pesta kecil pernikahan Joe sibuk mondar-mandir, di temani oleh Bob, yang tampak lebih sibuk lagi.


Marry menitipkan bayi Austin dan Alice pada Sophie, kini mereka berkumpul bersama di rumah Nana dengan bayi Natasha.


"Bibi Sophie, bolehkan Liam memakan roti cokelat ini?" Tanya Alice.


"Iya, Tidak apa apa, sayang." Sahut Sophie.


Alice bermain bersama Liam sambil menjaga bayi Austin dan bayi Natasha.


Ekor mata Alice menangkap bayangan Olivia masuk dalam sebuah gudang yang ada di belakang pekarangan rumah Nana.


Lalu Alice yang penasaran segera mengikutinya, saat melihat Bibi Sophie kembali datang untuk menjaga anak dan keponakannya.


Alice perlahan mendekati gudang di halaman belakang dan mengintip perlahan melalui sela pintu.


Olivia duduk di dalam gudang sambil menutup wajahnya.


Perlahan Alice membuka pintu gudang, dan mendekati gurunya itu.


"Bu Olivia? Ada apa?"


Olivia masih menundukkan kepalanya sambil menangis terisak.


Alice duduk di samping gurunya, sambil mengusap lembut punggung gurunya itu.


Merasakan perlakuan Alice, Olivia lalu menatap wajah gadis kecil itu, lalu memeluknya erat masih menangis terisak.

__ADS_1


__ADS_2