
Hari ini Marry sengaja meluangkan waktu di kedai kopi. Dia membuat cupcake dan muffin pesanan. Selain itu para pelanggan telah mulai berdatangan untuk mengantre membeli kopi dan muffin, atau cupcake, atau keduanya.
Ben, sibuk melayani pembeli kopi, terkadang dia juga sibuk melayani mengemas pesanan cupcake dan muffin.
Usai jam makan siang, kedai mulai terlihat lenggang. Marry sengaja menghabiskan waktunya di sana sambil menunggu waktu untuk menjemput Alice, dan mengantarnya ke kediaman Sophie, karena dia ada pekerjaan nanti malam.
Marry sengaja membuat muffin cokelat untuk bekal Alice saat menginap di rumah Sophie dan cake wortel untuk Nyonya Max. Yang nanti akan dia bawa saat mampir ke kediaman Nyonya Ruth.
Aroma harum kue yang terpanggang sangat menggoda selera.
"Wow... Aromanya sangat lezat sekali!" Puji Jill saat mengisi botol minummya dengan air.
"Ya. Aku membuat untuk Alice dan Nyonya Max." Sahut Marry dengan riang.
"Minyak Max?" Jill mengernyit.
"Ibu dari Nyonya Ruth. Kemarin aku menjemputmya di panti jompo untuk menghadiri pesta pernikahan Terence dan Claire akhir pekan ini." Jawab Marry sambil tersenyum.
Jill mengangguk angguk dan tersenyum, lalu berlalu dari dapur kedai untuk bekerja kembali di bagian kasir.
Marry memasukkan kue kue yang sudah agak dingin ke dalam kotak, lalu membiarkan tutupnya terbuka supaya kuenya tidak beruap.
Marry mengambil cangkir dan menuang kopi dari teko yang ada di meja dapur. Dia menuangkan sedikit krimer sambil tersenyum.
"Jika aku minum kopi dan sedikit krimer, rasanya seperti membuatkan kopi untuk Kevin. Hmmm kenapa tiba tiba dia ada di kepalaku? Hus... Hus... Pergi sana! Aku hanya mau minum kopi dan beristirahat sejenak!" Keluh Marry pada pikirannya sendiri.
Marry menyesap kopinya perlahan sambil memainkan ponselnya melihat sosial media seperti biasa.
Tiba tiba dia ingin melihat halaman pribadi milik Justin. Di sana terpampang dengan jelas dan nyata, wajah Justin yang tampan sedari dulu. Tubuhnya yang atletis karena sebagai atlet basket harus seperti itu. Foto foto Justin semasa kuliah, ada yang bersama team basket kampus, foto foto saat dia sedang bertanding, atau menang. Lalu terpajang beberapa bersama teman temannya. Ada yang bersama dengan Terence dan Claire juga. Dan di sana terlihat seorang gadis bergabung dalam foto itu. Justin merangkulnya mesra, dan tersenyum ke arah kamera.
"Apakah ini wanita itu? Tunangan Justin?"
Marry menggeser ke bawah untuk melihat foto yang lain. Terlihat ada banyak foto foto bersama wanita itu. Seorang wanita cantik, berambut agak pirang, jika terlihat di foto foto itu kebanyakan ada di kampus.
"Hhmmm... Mungkin wanita ini teman satu kampusnya? Wanita cantik yang terlihat cerdas. Dan terlihat bukan dari kalangan biasa. Dia seperti anak orang kaya." Gumam Marry.
__ADS_1
Marry yang sedang iseng mengetik nama Kevin Mars di laman pencarian. Terpampang jelas foto, profil, dan berita tentang Kevin dan keluarganya.
Marry mengamat amati foto foto Kevin di laman pencarian itu. Kevin tidak memiliki akun sosial media.
Tapi toh, buat apa? Dia tak perlu sosial media untuk popularitas. Bahkan sosial media pun dapat dia beli atau ciptakan sendiri. Pikir Marry.
"Tampan juga. Hmmm ternyata kapten team basket sekolah dan kampus. Memiliki badan amal untuk kegiatan sosial dan anak anak sakit dan tidak mampu." Marry bergumam membaca profil Kevin.
"Tapi, penampilan di foto tidak sama seperti aslinya! Aku tak akan pernah melupakan semua yang pernah dia lakukan padaku!" Marry mendengus dengan kesal.
Dia tak habis pikir, mengapa makin lama, hidupnya semakin terhubung dengan Kevin atau keluarganya. Lalu Alice yang memiliki mata cokelat dan lebar seperti milik Kevin, semakin lama semakin menyerupai Kevin.
Tiba tiba Marry menjadi takut. Takut mengahadapi kenyataan bahwa Kevin akan mengetahui bahwa Alice benar benar anaknya. Dia takut Kevin akan merebut Alice dan menyingkirkan dirinya.
Marry merasa tidak pantas masuk dalam keluarga Mars, meskipun dia sadar, Alice memiliki darah dan gen keluarga Mars.
Marry menepuk nepuk pipinya menyadarkan dirinya akan semua pikiran buruk tentang dirinya.
Lalu entah mengapa dia mengingat saat saat Kevin berbuat manis pada dirinya dan Alice. Menenangkan dirinya yang cemas dan khawatir. Melindungi dari media saat dikejar kejar oleh paparazi tempo hari saat ketahuan menjenguk Kevin di rumah sakit.
Dia teringat kala Kevin merenggut keperawanannya dengan paksa, menyiksanya, dan melakukan dengan kasar. Tidak sekali, bahkan berkali-kali hingga tubuhnya hampir tak merasakan apa apa lagi.
Rasanya Marry ingin mati saja saat itu. Marry menyeka air matanya yang mulai berembun. Rasa sakit itu muncul lagi.
Marry memejamkan matanya, dan mengambil napas dalam-dalam.
"Marry, ada yang mencarimu?" Panggil Ben, mengagetkan Marry yang tengah merenung itu.
"Eh, ya. Sebentar." Sahut Marry buru buru menghapus sisa air matanya dan mengusap wajahnya.
Marry mengambil napas sejenak, menenangkan emosinya. Lalu berlalu dari dapur.
Seorang wanita duduk menunggu di kursi yang ada di luar kedai. Dia duduk membelakangi menghadap ke arah jalan.
Ben memberi isyarat dengan dagunya, menunjuk ke arah wanita yang duduk itu.
__ADS_1
Marry tidak mengenal wanita itu. Ben menaikan bahunya, mengisyaratkan tidak tahu juga.
Marry keluar dari kedai dan menemui wanita yang sedang duduk itu.
Betapa terkejutnya Marry saat mengetahui wanita yang ada di hadapannya saat ini.
Tunangan Justin ada di depannya, sedang menatap tajam padanya. Jantung Marry seakan terhunjam belati yang tajam.
Wajahnya mirip dengan wanita yang ada di foto foto sosial media Justin.
"Halo!" Sapa Marry sambil tersenyum ramah.
Wanita itu masih menatap Marry, seakan menilai Marry dari atas ke bawah. Lalu tatapannya kembali langsung pada mata Marry.
Wanita itu duduk sambil menyilangkan dua tangannya di depan dada.
"Namaku Mia. Tunangan Justin." Ucapnya tegas.
Dari perawakannya, Marry melihat Mia adalah wanita yang cerdas, berpendidikan, dan bukan dari kalangan biasa.
"Ya. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Marry sambil menelan ludahnya. Dia merasa minder di hadapan Mia.
"Kamu tahu, aku bertemu dengan Justin saat dia merasa terpuruk. Mungkin terpuruk saat kamu tinggalkan tanpa alasan yang jelas." Ucapnya dengan nada menyindir.
"Aku yang menemani Justin di saat saat susah. Aku berusaha keras untuk menutup telingaku saat dia selalu menyebut namamu. Aku menemani dan mendampingi dia selama itu. Selama kuliah, hingga dia bekerja pada firma orang tuaku. Karir Justin sedang bagus saat ini. Aku tidak ingin kamu mengganggunya. Jika kamu punya perasaan, tolong jauhi Justin!" Ucap Mia dengan tenang, lagi lagi dengan nada yang tegas, khas seorang pengacara.
"Oh, ada satu lagi." Ucap Mia sambil mengacungkan jari telunjuknya.
Membuat Marry menoleh dan menatapnya dengan sungguh-sungguh.
"Aku tahu kamu memiliki anak. Aku tak peduli itu anak siapa. Namun, jika itu anak Justin. Aku minta kamu tidak perlu berterus terang pada Justin. Aku tidak ingin kamu mengganggunya lagi dan menyakiti hatinya. Terutama kehidupan kami. Aku dan Justin telah merencanakan masa depan kami bersama sama. Aku tidak ingin kehadiranmu, menganggu masa depan kami. Aku harap kamu benar benar serius dengan ucapanku. Selamat siang!" Tukas Mia sambil menatap mata Marry, seakan mengancamnya.
Lalu Mia berdiri, dan berlalu meninggalkan tempat itu. Marry masih duduk, terdiam.
Marry hanya diam selama Mia berbicara. Hatinya benar-benar kacau saat ini setelah mendengar semua ucapan Mia padanya.
__ADS_1