
Kevin mendekati Marry, meraih pinggang wanita itu, dan menariknya langsung dalam dekapannya.
Suara hujan dan angin dingin menambah syahdu malam itu. Hening, namun keduanya mampu saling mendengarkan suara detak jantung yang sama sama kencang. Hasrat keduanya seakan ingin segera tertumpah.
Mata bertemu dengan mata. Lalu Marry memejamkan matanya, seolah meminta lebih dan Kevin menautkan bibirnya pada Marry yang mulanya terkejut, lalu membalas ciuman itu dan mereka saling beradu dan berbagi saliva dengan mesra dan penuh gairah.
"Ahhh..." Marry mendesis lirih dan sangat menggoda Kevin untuk meningkatkan permainannya.
*
"Kev...! Kevin! Kamu mau kopi? Hai Kevin!" Panggil Marry menyadarkan Kevin dari imajinasi panasnya bersama Marry.
"Oh..Eh... Iya..ya.." Jawab Kevin tergagap sambil menepuk nepuk wajahnya.
"Kamu sakit?" Tanya Marry sambil mendekat dan memeriksa tubuh Kevin.
DEG!
"Aduh! Marry, tolong mendekat!"
Tiba tiba bagian adik kecil milik Kevin mengeras saat menatap Marry.
Kevin mulai merasa bergairah saat melihat Marry dan suasana hujan di luar sana.
Marry yang menyentuh kening Kevin untuk memeriksa keadaan lelaki itu.
Betapa terkejutnya Marry saat berdekatan dengan Kevin, dan tak sengaja menyentuh adik kecil yang mengeras itu.
"Dasar mesum!" Pekik Marry sambil melotot.
"Ma-maaf, Marry, aku sungguh tak tahu mengapa jadi tak terkendali seperti ini." Bisik Kevin lirih.
"Bisakah aku melakukannya di kamar mandi? Atau kamu mau membantuku?" Tanya Kevin sambil menggoda Marry.
Marry mendengus kesal dan memukul punggung Kevin.
"Enak saja! Kendalikan dirimu sendiri!" Ujar Marry dengan kesal sambil menutup matanya dengan tangan.
Kevin buru buru ke kamar mandi untuk mengendalikan diri dan menuntaskannya.
__ADS_1
Marry duduk di bangku sambil menatap pizza dan aneka makanan siap saji yang tadi mereka beli permintaan Alice.
Marry memisahkan beberapa untuk Alice dan menyimpannya.
Lalu membuatkan minuman untuk dirinya dan Kevin nikmati.
Marry bergidik geli saat mengingat kejadian barusan.
"Dasar lelaki mesum!" Gumam Marry.
"Maaf, tapi aku tidak bermaksud seperti itu." Sahut Kevin yang tak sengaja mendengar ucapan Marry.
Marry melotot terkejut. Kevin hanya nyengir lebar melihat reaksi Marry kali ini.
Wajah Marry yang tersipu malu terlihat sangat menggemaskan.
"Makanlah! Aku sudah siapkan, sambil menunggu hujan reda." Ucap Marry sambil menaruh secangkir kopi dan piring kosong di depan Kevin.
"Maaf, aku seperti itu tadi."
"Ya. Lain kali, tolong ingat tempat dong! Untung Alice tidak melihatnya, bisa kacau jadinya." Sahut Marry sambil tersenyum.
"Setiap lelaki normal harus menyalurkan hasratnya. Jika tidak dia akan sakit." Kevin membela diri.
Kevin terdiam. Sudah lama dia tak bertemu dengan Brenda. Sejak hubungannya dengan Marry membaik, dan sibuk dengan pekerjaan, dan acara keluarga menjelang dan sesudah pernikahan Terence , Kevin sama sekali belum bertemu atau menghubungi atau dihubungi oleh Brenda. Bahkan selama itu dia telah melupakannya, hingga Marry mengingatkan.
"Aku tidak memiliki hubungan spesial dengannya. Kami hanya berteman. Teman yang saling menguntungkan." Terang Kevin.
"Menguntungkan?" Marry mengernyitkan sambil menoleh ke arah Kevin.
"Kamu tahu, hidupku dulu penuh dengan hingar bingar dan kesenangan semu saja. Sejak dulu aku tak pernah percaya yang namanya cinta. Joe yang sangat mengenalku telah hapal dengan kebiasaanku. Maka aku selalu mencari wanita untuk melampiaskan hasratku, dan selalu dengan wanita yang berlisensi dan selalu menggunakan pengaman. Hingga aku mengenal Brenda sebagai salah satu brand ambassador hotel milik papaku." Kevin memberi jeda sejenak.
"Aku berkenalan dan berkencan dengan Brenda. Namun, ternyata dia mencintai seseorang. Seorang aktor pendatang baru waktu itu. Dan selalu menganggap aku sebagai pasangan untuk menghadiri beberapa undangan atau gala dinner. Dan sebagai imbalannya, kami tidur bersama, namun, aku selalu menggunakan pengaman. Selama itu dia tidak hamil, atau bahkan wanita yang pernah tidur denganku juga tidak ada yang melaporkan hamil, karena aku selalu meminta Joe untuk menyelidiki mereka. Hingga Alice datang pagi itu." Kevin menghela napas.
"Apa hanya Alice anakmu?" Tanya Marry hati hati.
"Ya. Aku telah menyelidikinya. Maafkan aku, Marry. Aku tahu, seharusnya aku meminta ijinmu saat hendak melakukan tes DNA saat itu. Tapi kamu pasti tak akan mengijinkannya."
"Tentu. Itu sangat menyinggung perasaanku sebagai sebagai seorang ibu." Desis Marry.
__ADS_1
"Tapi, aku juga memiliki hak, sejak dia memanggilku Papa." Sahut Kevin.
Marry yang sedari tadi menyimak dengan teliti, sampai lupa untuk mengambil makanan.
"Aha! Kita makan saja. Aku lapar." Marry mencoba mengalihkan pembicaraan.
Kevin mengambil sepotong pizza dan mengunyahnya.
"Bagaimana denganmu?" Tanya Kevin sambil memakan pizza.
"Aku?"
"Ya, kisah hidupmu. Kisah cintamu mungkin."
Marry tersenyum kecut.
"Aku tak memiliki kisah yang bagus. Biasa saja. Tak ada yang menarik dengan hidupku."
"Lalu dengan Justin?"
Marry terdiam sejenak.
"Maaf, jika kamu tersinggung. Kamu tidak perlu membahasnya." Imbuh Kevin sambil menepuk punggung tangan Marry memberi simpati.
Kevin sadar, pertanyaan yang diberikan pada Marry membuka luka lamanya kembali.
Justin dan Marry adalah sepasang kekasih. Lalu dia menghamili Marry, dan membuat hubungan Justin dan Marry memburuk dan mereka harus berpisah dengan rasa sakit masing-masing.
Kevin sadar dia yang harus bertanggung jawab untuk semuanya.
Kevin mengangkat kursinya mendekat ke arah kursi Marry.
Kevin meraih jemari Marry dan menggenggam erat. Di luar sana terlihat kilat menyambar dan gemuruh petir terdengar mengiringi hujan yang turun dengan deras.
"Marry maafkan aku. Aku tahu semua kesalahanku. Aku berjanji padamu untuk menebus semuanya padamu. Malam itu, mungkin malam neraka bagimu. Aku pun tahu salah. Tapi, saat itu aku sedang tidak sadar. Temanku memasukkan obat dalam minuman sehingga membuatku berbuat seperti itu padamu dan melupakannya setelah sadar. Aku tak berbohong, Marry. Jika kamu tak percaya, kamu bisa menanyakan pada Terence dan Claire yang tak sengaja memasukkan obat itu dalam minuman mereka malam itu." Ucap Kevin bersungguh sungguh sambil menatap Marry.
Dalam dada Marry bergemuruh. Semua ucapan Kevin itu memang seperti yang dia alami saat itu. Dan dia baru mengetahui, jika malam itu Terence dan Claire ada di sana.
"Marry, apa kamu mau menerima diriku? Kita bisa memulai semuanya dari awal dan perlahan-lahan. Aku sadar, bukan lelaki yang sempurna, atau lelaki yang baik. Aku memiliki banyak kekurangan. Tapi, aku yakin, bersamamu aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Menjadi orang tua yang baik bagi Alice." Kevin menggenggam jemari Marry dan mengecup lembut jemarinya.
__ADS_1
Marry hanya diam. Dia masih syok. Tidak menyangka akan seperti ini. Dia belum siap akan hal ini. Dia tak menyangka akan sejauh ini dengan Kevin.
"Jika kamu belum siap, aku akan menunggu. Tapi yang harus kamu tahu. Aku mengatakan dan melakukan ini semua bukan hanya untuk Alice semata. Tapi, aku ingin belajar mencintai seseorang dengan tulus. Dan aku mencintaimu, Marry."