
"Aku senang kamu bisa menjemputku." Ucap Olivia saay dalam perjalanan pulang bersama Joe.
"Kevin berbaik hati, mengijinkan aku untuk pulang lebih cepat untuk menjemputmu. Dia meminta Mike, untuk menggantikan beberapa tugasku. Katanya supaya aku bisa lebih dekat lagi denganmu dan... Aku ingin selalu berada di dekatmu, Liv."
Joe menatap Olivia, lalu meraih jemari gadis itu dan menciumnya.
Olivia tersenyum tipis, namun, terlihat ada hal yang mengganjal saat itu. Dia lalu menarik tangannya dari genggaman Joe
"Apa yang mengganggumu?"
Joe kembali menatap Olivia.
Olivia melayangkan pandangan ke arah luar melalui kaca jendela sampingnya.
Dia teringat, Joe menyebut sebuah nama saat dia mabuk tempo hari.
Olivia sangat ingin menanyakan hal itu, namun, dia khawatir, Joe akan mengelak dan berbohong. Olivia tak ingin merasa sakit hati karena terlalu berharap pada Joe sejak itu, meskipun hatinya sangat ingin bersamanya.
"Katakan, Liv! Apa yang mengganggu pikiranmu?" Joe menepikan mobilnya, dan meraih dagu gadis itu untuk menatapnya.
Olivia masih terdiam. Sungguh pikiran dan hatinya mengatakan untuk bertanya pada Joe, namun, bibirnya terasa Kelu.
Lidahnya terasa kaku, seolah tak bisa mengatakan apa pun pertanyaan yang mengganjalnya selama ini.
"Siapa Lana?" Akhirnya dengan menguatkan tekad dan mengerahkan keberaniannya, Olivia mampu mengeluarkan pertanyaan itu pada Joe.
Joe tercekat. Matanya membulat lebar seolah mau copot, dia sangat terkejut.
DEG!
Jantung Olivia terasa mau copot saat melihat reaksi Joe barusan.
Dia berharap Joe akan bersikap tenang dan menjelaskan padanya seperti biasanya, namun, di luar dugaan. Joe sangat terkejut, bahkan Olivia tak m nduga Joe akan seperti itu.
Hatinya terasa sedih. Ada rasa kecewanya menyusup di dadanya. Joe memiliki wanita lain selain dirinya.
"Bagaimana kamu tahu?" Tanya Joe dengan raut wajah heran.
"Jadi benar. Ada orang lain di hatimu selain aku?" Tegas Olivia dengan wajah menegang.
__ADS_1
Joe menghela napas dalam-dalam. Dia berusaha keras untuk melupakan Lana. Sosok wanita yang dulu pernah menjadi bagian dalam hidupnya. Sahabat sekaligus kekasihnya.
Mereka berteman sejak kecil, lalu saling suka, dan menjalin kasih. Joe berjanji pada dirinya sendiri, usai kelulusan, dia akan meminang Lana untuk menjadi istrinya. Dan itu akan dilakukannya pada perayaan ulang tahun Lana.
Joe telah membicarakan hal itu pada orang tuanya, pada orang tua Lana, bahkan pada sahabatnya, termasuk Kevin tentang rencananya itu. Dan semua sangat senang, mendukung rencana Joe, bahkan Kevin bersedia menjadi pendamping prianya saat pernikahan.
Orang tua Lana juga sangat senang akan rencana itu, dan mendukung penuh acaranya kelak.
Namun, seminggu menjelang perayaan ulang tahun Lana, hari naas itu terjadi. Dunia Joe seakan runtuh saat itu juga, dan dia merasa tak memiliki semangat hidup lagi. Jiwanya terasa kosong, dan dia ingin mati saja rasanya.
Bukan hanya keluarga Lana yang sedih, namun keluarga Joe dan teman temannya juga merasa sedih melihat Joe yang seolah menjadi mayat hidup kala itu.
Joe ingin melupakan semuanya, namun hari ini. Olivia tiba tiba mengungkit nama itu lagi. Nama yang telah Joe kubur dalam-dalam, sehingga tak ingin mengingatnya kembali.
Keduanya terdiam, terdengar isak tangis dari Olivia. Dia merasa sangat hancur, kecewa, dan parah hati saat itu mengetahui reaksi Joe.
Joe menoleh ke arah Olivia dan menatapnya lekat lekat.
Dia sadar, dirinya harus mengatakan semua itu pada wanita ini. Semua rahasia masa lalunya yang selalu menghantui dirinya. Joe merasa sejak bersama Olivia, dia telah benar-benar berhasil melupakan Lana. Itulah, mengapa, Joe memantapkan hatinya untuk gadis ini.
"Aku mencintaimu, Olivia." Ucap Joe.
Olivia masih menangis, sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Lalu perlahan mengusap sapu tangan itu pada wajah gadis itu.
Olivia menggenggam tangan Joe yang mengusap wajahnya dengan sapu tangan.
"Mengapa harus ada dia, jika kamu mencintaiku?" Tanya Olivia dengan suara parau.
Joe tak menjawab pertanyaan Olivia saat itu. Dia hanya tersenyum tipis, sambil menyeka air mata gadis itu dengan lembut.
Setelah Olivia tenang. Joe melajukan mobilnya ke sebuah tempat di pinggir kota.
Olivia hanya menatap jalanan yang semakin sepi dari pemukiman, lalu mereka tiba di sebuah kawasan pemakaman.
"Mengapa kita kemari?" Tanya Olivia.
"Ikutlah!" Ajak Joe.
__ADS_1
Joe keluar dari mobil, lalu membantu Olivia turun dari mobilnya, dan menutup pintu mobilnya.
Joe membimbing Olivia berjalan di area pemakaman yang terlihat sunyi itu.
Ya iyalah... Namanya juga kuburan ya... Kalau rame mall namanya 😁
Olivia masih terlihat bingung.
"Joe, jangan macam macam ya sama aku!" Ancam Olivia.
Joe hanya tersenyum geli melihat Olivia yang tampak gentar.
"Kamu ingin kenal dengan Lana?" Tanya Joe memicingkan matanya.
"I- iya, sih. Tapi, kok ke sini? Apa tidak ada tempat lain yang tidak seram, Joe?"
Joe berhenti tepat di depan sebuah makam dengan batu nisan bertuliskan Lana Spencer.
"Kenalkan, ini Lana Spencer. Dia telah di sini sejak sembilan tahun silam." Ucap Joe terdengar miris.
Olivia tertegun. Dia diam dan hanya menatap makam itu.
"Aku tak tahu, Joe. Maafkan aku. Aku turut berduka." Ucap Olivia lirih, tanpa menoleh ke arah Joe. Dia masih mencoba mengingat nama itu.
"Tak perlu meminta maaf. Kamu tak salah. Hanya aku yang tidak pernah siap menceritakannya padamu tentang dia." Sahut Joe.
"Lana Spencer, putri konglomerat yang mendonasikan kekayaannya untuk rumah sakit anak yang dikelola oleh Nona Emily Mars." Ucap Olivia dengan terkejut.
"Ya." Sahut Joe sambil tersenyum, menoleh ke arah Olivia.
"Selain itu, dia mendonorkan ginjalnya untuk seorang anak yang sedang kritis saat itu."
"Bagaimana kamu tahu?"
"Seumur hidupku selalu mengingat nama itu, Joe. Saat itu Mamaku berjuang membiayai pengobatanku, meski sedang sakit. Dan ternyata sebagaian tabungan itu dirampas oleh lelaki tak bertanggung jawab itu. Sejak kecil aku telah mendapatkan perawatan medis karena ginjalku yang buruk, dan harus menjalani cuci darah seminggu dua kali secara rutin. Dan kata dokter itu akan aku jalani seumur hidupku." Ucap Olivia, dia terdiam sejenak menatap nama yang tertulis pada nisan itu.
"Suatu hari, saat aku sedang menjalani cuci darah rutin, seorang perempuan muda dengan riang menghibur anak anak yang ada di rumah sakit itu, dengan memberikan berbagai hadiah. Dia bagai santa Claus saat Natal, yang membagikan hadiah dan menghibur kami kala itu. Lalu dia mengajakku mengobrol, dan aku menceritakan kisah keluargaku, dan kekejaman lelaki itu yang katanya ayah kandungku, tapi malah menyiksa ibuku, hanya demi narkoba. Wanita itu juga sering datang menjengukku dan menghiburku, bahkan, dia lah inspirasiku untuk menjadi seorang guru."
Joe masih diam menyimak setiap cerita yang meluncur dari bibir Olivia.
__ADS_1
"Semenjak ibuku meninggal, aku menjadi depresi, dan kondisiku semakin kritis. Wanita itu semakin rutin menjengukku. Hingga suatu hari, tubuhku terasa sangat sakit, dan aku pun tak dapat merasakan apa apalagi saat itu. Lalu ketika aku bangun, tiba tiba aku merasa lebih baik. Kamu tahu, ada seorang malaikat yang memberikan dua ginjalnya padaku, ucap Mamanya Sophie saat itu. Dan sejak itu aku menjadi lebih sehat, dan hidup sampai saat ini tanpa harus rutin cuci darah lagi. Tak ada yang memberitahuku siapa malaikat itu. Tapi, ketika aku sedang check up rutin usai operasi, aku tak sengaja mendengar nama Lana Spencer dari salah satu ruang dokter, yang mengatakan bahwa ginjalnya diberikan pada seorang anak yang sangat memerlukan, atas permintaan Lana sendiri sebelum dia menutup matanya untuk selamanya. Seumur hidupku berhutang terima kasih padanya. Wanita yang telah menyelamatkan hidupku adalah dia, Lana Spencer."
Joe yang mulanya ingin memberi kejutan pada Olivia, kini berbalik terkejut. Ada hal lain yang selama ini tak diketahui olehnya tentang Lana. Dan salah satu bagian tubuh Lana, kini masih ada di dalam tubuh Olivia.