
Kevin membimbing Marry menuju mobilnya. Kevin memacu mobilnya dengan kecepatan sedang.
Marry tertawa terbahak bahak di samping Kevin.
"Kamu bisa lihat, reaksi Joe saat Kamu suruh dia menggantikan pekerjaanku?" Tanya Marry sambil terkekeh.
"Wajahnya langsung berubah dan murung. Aku tahu, dia pasti ingin menghabiskan malam ini hanya bersama Olivia." Marry terkikik geli.
Mungkin karena meneguk beberapa gelas minuman beralkohol, Marry menjadi sedikit mabuk.
Kevin hanya tersenyum tipis sambil menatap Marry yang kini terdiam sambil menatap jalanan yang gelap.
"Kita hendak kemana?" Tanya Marry lirih.
"Lihat saja." Sahut Kevin sambil menoleh pada Marry.
Marry menatap ke arah luar melalui kaca jendela di sisi sebelahnya. Kevin mengendarai mobil dengan tenang.
Keheningan menyergap keduanya. Seakan mereka tenggelam dalam pikiran masing masing.
Marry sangat patah hati malam ini. Bukan hanya malam ini, tapi setelah mendengar Claire menceritakan bahwa Justin telah memiliki seorang kekasih dan tunangan. Lalu tunangannya datang menemui.
Saat bertemu dengan Justin, Marry merasa masih memiliki harapan untuk kembali bersama lelaki yang selalu ada di hatinya. Impian terbesarnya selain menjadi seorang dokter, adalah ingin menikah dengan Justin, cinta pertamanya.
Saat berada di pondok saat itu, Marry sangat terbuai dengan Justin. Justin masih mencintainya, dan ingin selalu bersamanya, hingga Marry hampir kebablasan.
Marry ingin melupakan Justin malam ini. Dia sengaja membiarkan Kevin mendekatinya dan membawanya pergi entah kemana. Dia benar-benar ingin melupakan rasa cintanya pada Justin.
Kini, dia menyerah. Menyerah pada keadaan dirinya, menyerah pada kenyataan, dia tak bisa mewujudkan impiannya.
Marry menyeka air matanya yang sudah tak terbendung lagi.
Kevin yang mendengar Marry terisak lemah, hanya melirik. Kevin tahu, Marry sedang merasakan sesuatu yang menyedihkan.
Dia ingin Marry sendiri yang menceritakan kisahnya. Kevin akan menunggu.
Kevin membelokkan mobil ke sebuah tempat. Sebuah pantai.
Kevin menghentikan mobil dan mematikan mesinnya.
"Kenapa kemari? Ada apa?" Tanya Marry dengan heran.
"Alice bilang, kamu menyukai pantai. Ayo kita turun!" Ajak Kevin.
Kevin turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Marry.
Suara debur ombak dan hembusan angin pantai merasuk hingga tulang. Namun, Marry menyukai bau air laut dan suara deburan ombak yang bersahut sahutan.
Marry keluar dari mobil, langsung menuju ke arah pantai.
Cuaca cerah malam itu, dan bulan bersinar terang. Kombinasi pemandangan yang indah menurut Marry.
Dia teringat, dahulu papanya sering mengajaknya bermain di pantai semasa dia masih kecil. Mengumpulkan kerang, dan membuat istana pasir.
Namun, sejak Papanya mendapat pekerjaan di kota, mereka pindah. Dan hingga sampai sekarang Marry belum pernah ke pantai tempat tinggalnya saat kecil dulu.
__ADS_1
Marry terus berjalan ke arah bibir pantai. Ombak bergulung memainkan telapak kakinya. Lalu dia duduk di atas hamparan pasir. Tak peduli pakaiannya basah malam itu.
Kevin duduk di sampingnya.
"Kamu puas, huh?" Marry bertanya dengan nada sinis dan terdengar ada amarah di dalam suaranya.
Kevin mengerutkan keningnya dan menatap Marry.
"Kamu puas menghancurkan hidupku! Kamu puas merenggut semua dariku? Kamu puas melihatku hatiku hancur?" Tanya Marry dengan suara keras. Ada penekanan di setiap ucapannya.
Suara Marry yang keras pun kalah oleh deburan ombak yang bergulung gulung.
"Maafkan aku." Sahut Kevin.
Marry menggelengkan kepalanya kuat kuat sambil menangis.
"Untuk apa? Maaf? Sudah terlambat Kev!"
"Aku akan bertanggung jawab!" Seru Kevin sambil menatap dan memegang lengan Marry.
Marry tersenyum sinis.
"Aku tahu Alice putriku." Kevin meyakinkan Marry.
Marry sontak langsung melotot terkejut dan berdiri.
"Dia bukan anakmu!" Pekik Marry penuh emosi.
Kevin menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak menyangkal. Dia bukan anakmu!" Balas Marry dengan tegas juga.
"Aku punya buktinya, jika dia adalah putriku."
PLAK!
Sebuah tamparan keras Marry di wajah Kevin, membuat Kevin terkejut dan melotot.
"Kamu melakukan tes DNA dengan putriku tanpa ijinku?" Selidik Marry.
Kevin mengangguk.
Marry tertawa.
"Lihat! Saat ini pun kamu telah berbuat lancang padaku. Kamu dengan mudah melakukan tes di rumah sakit milik kalian! Dengan uang dan kekuasaan kamu dengan mudah memperoleh semuanya. Sedangkan aku, orang biasa yang harus berjuang keras untuk bertahan hidup, harus mengemis pekerjaan pada orang kaya."
Tiba tiba Marry berlari menuju ke arah laut yang lebih dalam, Kevin hendak meraih, namun, Marry lebih cepat.
Kevin berlari mengejar Marry.
"Aaaarrrrrrgggg.....!!!!" Marry berteriak sekuat-kuatnya meluapkan semua emosinya.
"Aaaarrrrrgggg.....!!!" Terdengar tangisan dari mulut Marry.
Ombak menggempur tubuh Marry dan Kevin.
__ADS_1
Tiba tiba Kevin tak melihat Marry. Marry terseret ombak yang besar.
"Marry... Marry... Marry!" Panggil Kevin sambil menajamkan mata dan telinganya.
Dia melihat sesuatu menyembul ke laut saat ombak sedikit reda. Kevin bergegas berenang ke arah itu.
Tubuh Marry mengapung, lalu timbul tenggelam dimainkan oleh ombak laut.
Kevin meraih lengan Marry, lalu menariknya. Memegang tubuh Marry dan membawanya menuju pantai.
Tubuh Marry lemas, dan matanya terpejam.
"Astaga, Marry! Kamu bisa mendengarku?" Panggil Kevin dengan cemas.
"Marry, kamu bisa mendengarku?" Tanya Kevin dengan keras kembali.
Kevin langsung mengangkat tubuh Marry dan berlari menuju pantai.
Diletakkannya tubuh Marry dan segera diberi pertolongan pertama.
Kevin menekan dada Marry untuk melakukan pertolongan.
Berkali kali dia berusaha menekan supaya air laut keluar dari mulut Marry. Kevin menatap Marry dengan khawatir.
"Marry, tolonglah! Ayo kembalilah!"
"Aaarrgggg!" Teriak Kevin dengan emosi.
Kevin memejamkan matanya sejenak, dan menata kembali emosinya. Lalu melakukan pertolongan kembali.
Kini, dia melakukan pertolongan dengan bantuan dari mulut ke mulut. Dan di usaha yang kesekian.
"Uhuk...uhuk..uhuk...!" Marry terbatuk batuk sambil mulutnya mengeluarkan air laut yang menyumbat pernapasannya.
Kevin menghela napas lega sambil memeluk tubuh Marry.
Marry yang baru sadar segera menyadari dirinya dalam pelukan Kevin. Dia berusaha untuk berdiri dan melepaskan diri dari Kevin, namun, tubuhnya terasa sangat lemah.
"Ssttt... Biarkan aku menolongmu. Tenang saja, aku tidak akan berbuat apa-apa padamu." Ucap Kevin sambil tersenyum.
Kevin menggendong Marry dan membawanya masuk ke dalam mobil. Lalu memberikan jasmya untuk menutupi tubuh Marry yang basah terkena air laut.
Kevin menuju sebuah rumah di dekat pantai itu. Rumah khas pantai, terbuat dari kayu, namun terlihat nyaman.
Kevin membantu Marry berjalan, karena Marry menolak untuk di gendong oleh Kevin.
Kevin membuka pintu rumah itu. Bau pengap karena lama tak di huni. Perabotan rumah itu ditutupi kain supaya tidak kotor.
Kevin membawa masuk ke sebuah kamar. Dia membuka lemari pakaian di kamar itu.
"Silahkan pilih sendiri pakaian yang cocok untukmu. Ini milik Nenek Max." Ujar Kevin sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ini kamar mandinya. Kamu bisa membersihkan tubuhmu di sini." Ucap Kevin sambil membuka kamar mandi di kamar itu.
Lalu meninggalkan Marry di kamar.
__ADS_1
Kevin menuju kamar mandi yang lain untuk membersihkan tubuhnya juga.