
"Selamat siang. Saya Marry, ingin menjemput Nyonya Max untuk menghadiri pernikahan cucunya." Sapa Marry saat bertemu dengan petugas panti jompo tempat nenek Terence.
"Oh, ya. Silahkan ikut saya. Saya kira Nyonya Ruth yang akan menjemput sendiri." Ucap petugas panti jompo itu.
Karyawan panti jompo yang menerima Marry adalah seorang wanita berusia kira-kira 45 tahun. Tubuhnya yang pendek dan gemuk, berambut sebahu, yang diikat rapi. Mengenakan pakaian setelan yang sopan, dan memiliki wajah yang ramah.
Marry melayangkan pandangan ke sekeliling panti jompo itu. Tapi dan terasa nyaman. Saat melintasi sebuah taman, Marry melihat ada seorang kakek yang sedang melukis di sana. Lalu di teras yang menghadap taman terlihat beberapa nenek nenek yang duduk sambil merajut.
Marry tersenyum melihat ketenangan suasana di tempat itu. Marry berpikir, jika seandainya Alice sudah dewasa dan berumah tangga, mungkin tempat seperti inilah yang akan menjadi tempatnya untuk menghabiskan masa tuanya, supaya tidak merepotkan Alice.
Sejak mengetahui kebohongan Justin yang telah memiliki tunangan, hati Marry seakan enggan untuk memikirkan tentang asmara. Dia telah patah hati setelah mengetahui kebenaran tentang Justin.
"Ini kamar Nyonya Max." Ucap si petugas panti jompo sambil membuka pintu kamar.
Seorang wanita tua entah berapa usianya tengah duduk menghadap ke arah luar melalui jendela kamar sambil memegang sebuah buku.
"Selamat siang, Nyonya Max. Anda telah dijemput. Apakah barang barang yang diperlukan telah di masukkan dalam tas?" Tanya wanita itu dengan nada lembut.
"Ada di sana." Ucapnya sambil menunjuk sudut kamar.
Petugas tadi dan Marry menoleh ke arah yang ditunjuk nenek itu.
Hanya ada sebuah tas yang terbuka, namun, belum terisi apa apa.
Petugas tadi hanya mengehela napas dalam-dalam, sambil menoleh ke arah Marry.
Marry mendekati nenek yang sedang duduk menghadap ke arah luar itu.
"Nyonya sedang baca buka apa sih?" Tanya Marry mencoba untuk lebih mengenal Nyonya Max.
Nyonya Max menatap Marry seolah menilai dirinya.
Marry menjulurkan lehernya untuk melihat buku yang dipegang oleh Nyonya Max.
__ADS_1
Sebuah buku cerita karangan Ernest Hemingway yang berjudul Lelaki Tua dan Laut.
Marry tersenyum menatap wanita tua itu. Meskipun dia tidak terlalu menyukai sastra, setidaknya dia pernah membaca buku itu dan berdiskusi saat pelajaran sastra di sekolah dulu.
"Nyonya, saya bantu kemas barang barang Anda, ya?" Tanya Marry dengan sopan.
"Baiklah, terserah!" Ucapnya sambil meneruskan membaca buku itu.
Marry memilih beberapa pakaian, sebelum memasukkan dalam tas, Marry meminta persetujuan Nyonya Max. Marry mengemasi pakaian dengan suka cita dengan bersenandung meskipun suaranya pas pasan.
Saat Marry mengemasi barang, ponselnya berdering, segera dia mengambil ponsel yang ada dalam tasnya.
"Dari Olivia?" Gumam Marry.
Marry segera menjawab panggilan tersebut. Ternyata Alice membuat masalah lagi di sekolah.
"Maaf sekali Olivia, tapi, aku sedang berada di luar kota saat ini. Mungkin sampai di sana menjelang sore. Atau kamu bisa menghubungi Sophie atau Ben seperti biasanya. Sekali lagi maafkan aku." Ucap Marry sebelum menutup panggilan ponselnya.
"Aku mengharapkan putraku yang datang menjemput, tapi dia mungkin terlalu sibuk. Aku juga tak terlalu berharap Ruth yang menjemput, karena dia pasti sedang sibuk." Ucap Nyonya Max sambil berjalan tertatih mendekati Marry yang sibuk menata dan memeriksa kembali isi tas Nyonya Max.
Marry menghentikan kegiatannya, dengan sigap membantu Nyonya Max untuk duduk di kursi di dekat tempat tidur.
"Terima kasih. Siapa namamu?" Tanya Nyonya Max
"Saya, Marry. Saya bekerja untuk Nyonya Ruth. Saya juga sahabat Terence dan Claire. Dan saya diminta untuk menjemput Anda oleh Nyonya Ruth, karena dia sedang sibuk. Ada dua event yang sedang di kerjakan." Sahut Marry dengan ramah sambil tersenyum menatap Nyonya Max.
"Hmmm.... Dari dahulu hanya Ruth yang masih memperhatikanku. Meski dia hanya keponakanku, tapi selalu memperlakukanmu seperti mamanya." Nyonya Max menghela napas sambil menerawang.
Marry menatap dengan penuh simpati. Dia menjadi penasaran, siapa sebenernya Nyonya Max ini.
"Jadi, Nyonya bukan nenek kandung Terence?" Tanya Marry dengan halus, berusaha untuk tidak seperti orang yang kepo.
Nyonya Max menggeleng lemah, lalu menatap Marry. Marry yang telah selesai membereskan bawaan Nyonya Max, segera menutup resleting tas, dan menaruhnya di atas tempat tidur.
__ADS_1
Marry lalu menatap Nyonya Max dengan lembut sambil duduk di tepi ranjang.
"Ruth adalah anak dari adikku. Adikku dan suaminya meninggal karena kecelakaan. Ruth yang saat itu masih berusia lima tahun, masih kecil, aku bawa dan aku besarkan seperti anakku sendiri. Anak kandungku adalah Morgan dan Tracy. Morgan yang terlalu pekerja keras, dan ambisius. Tracy memilih mengembangkan bisnisnya di Eropa." Nyonya Max menghela napas.
Marry yang mulanya tak begitu peduli dengan keluarga Mars, menjadi tertarik dan simpati pada wanita tua yang ada di depannya ini.
"Hanya Ruth yang masih memperhatikan diriku. Aku yang meminta dirinya untuk menaruh diriku di panti jompo. Supaya memiliki banyak teman. Aku tak tahan tinggal di rumahku sendiri yang banyak orang, namun sepi. Morgan dan istrinya, bahkan anak anaknya terlalu sibuk. Kadang tak ada waktu untuk menegur atau mengajakku mengobrol barang lima menit saja. Tapi, Ruth, dia selalu menyempatkan diri mengunjungiku, dan mengobrol. Bahkan tak jarang dia membawaku berjalan jalan bersama keluarganya. Seolah dia anak kandungku." Suara Nyonya Max bergetar, ada kesedihan di dalamnya.
Marry menggenggam tangan wanita tua itu, menguatkannya.
"Anda tidak perlu bersedih. Terence akan menikah, dan akan ada banyak kebahagiaan terjadi di keluarga itu. Aku rasa Nyonya Ruth mengundang Anda, untuk berbagi kebahagiaan bersamanya." Ucap Marry sambil tersenyum.
"Ruth pandai memilih orang yang tepat. Ayo, bantu aku, aku sudah siap untuk menghadiri pesta pernikahan cucuku."
*
Sebenarnya hati Marry sedang tidak tenang. Dia belum menerima kabar apa pun dari Sophie, maupun Olivia tentang Alice.
Marry memasukkan tas Nyonya Max ke jok belakang, dan membukakan pintu untuk wanita tua itu. Lalu duduk di belakang kemudi.
Tepat saat dia menghempaskan punggungnya di sandaran jok, ponselnya berdering. Langsung diangkatnya tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
"Alice sedang bersamaku. Dia aman. Kamu tenang saja, dan dia menunggumu di apartemenku saat ini."
Suara Kevin mengalun dengan tegas, namun lembut. Seolah mengucapkan setiap kata kata dengan hati hati, supaya tidak membuat khawatir Marry.
"Baiklah. Aku akan menjemput Alice selesai bekerja."
Marry menutup panggilan ponselnya dan menaruh kembali ke sakunya.
Lalu tersenyum ke arah Nyonya Max yang memperhatikan dirinya.
Marry memasangkan sabuk pengaman Nyonya Max, lalu berlalu dari panti jompo menuju ke kediaman Nyonya Ruth.
__ADS_1