
"Kami berdua akan menikah." Ucap Kevin sambil merangkul Marry.
Semua yang ada dalam ruangan itu menatap keduanya dengan terkejut.
"Benarkah? Papa beneran akan menjadi papaku? Menikah dan tinggal bersama Mama dan aku?" Tanya Alice sambil menghampiri Marry dan Kevin.
Kevin membungkuk dan menatap Alice.
"Iya sayang. Kamu akan menjadi putriku secara sah. Dan kamu akan mendapatkan nama Mars di belakang namamu."
Kevin tersenyum pada Alice.
Sejenak Alice terdiam menatap Kevin seolah tak percaya.
Lalu menatap Marry, meminta penjelasan.
"Benar, Alice. Mama telah menerima lamaran Kevin." Marry menunjukkan cincin yang tersemat di jarinya.
Alice membuka mulut tak percaya dan membesarkan bola matanya menatap mamanya, lalu menatap Kevin.
Kevin dan Marry tersenyum sambil mengangguk meyakinkan Alice.
"Papa!" Panggil Alice sambil memeluk Kevin dengan erat.
Kevin mengangkat tubuh Alice dan menggendong, lalu meraih pundak Marry dan merangkulnya.
Ketiganya berpelukan.
Keharuan membius ruangan itu seketika. Nana menitikkan air mata terharu saat melihat itu semua.
Begitu juga Sophie.
"Nana, Sophie, mengapa kalian menangis?" Tanya Marry saat menyadari terdengar isak tangis.
"Nana terharu. Aku sangat mengenalmu sejak masih kecil, bahkan kamu dan Sophie selalu menemaniku sebelum ada William. Kamu sudah aku anggap keluarga. Melihat penderitamu dan perjuanganmu selama ini setelah ibumu meninggal, melihat ini, Nana ikut senang. Nana bahagia melihat kamu bahagia, Marry."
Nana menyeka air matanya. Marry memeluk Nana dengan penuh haru.
Sophie ikut bergabung dalam pelukan itu.
William merangkul Emily dan tersenyum.
"Selamat berbahagia untuk Marry dan Kevin." Ucap William dengan suara agak keras.
Sehingga membuat seisi ruangan menatap ke arahnya.
"Ya. Selamat untuk Marry dan Kevin." Sahut Ben yang menggendong bayi Liam, anaknya.
"Aku sangat senang mendengar berita bahagia ini, Marry." Ucap Olivia sambil memeluk Marry.
"Terima kasih Oliv." Sahut Marry sambil menepuk punggung Olivia dengan lembut.
"Aku sungguh senang. Selama ini aku selalu menganggap kamu seperti kakakku sendiri. Bahkan tak jarang dirimu selalu melindungi aku dan Sophie saat ada yang menggangu."
"Ya, tentu. Siapa lagi yang akan menjagamu. Tapi sekarang, aku rasa kamu memiliki seorang penjaga." Ucap Marry sambil menatap Joe.
Joe tersentak sambil nyengir.
"Dan aku harap kamu menjaga Olivia dengan baik. Jika sampai kamu menyakitinya, aku tak akan segan-segan menghabisimu!" Ancam Marry sambil mengarahkan telunjuknya pada Joe dengan wajah serius.
Joe melotot menatap Marry.
__ADS_1
"Bos, tolonglah aku." Joe menatap Kevin.
Kevin hanya bisa menaikkan bahunya sambil membalas tatapan iba Joe.
"Aku percaya Joe adalah lelaki baik. Dan aku sangat yakin, bukan hanya kamu yang akan menghabisinya, namun, juga Kevin." Celetuk Olivia sambil terkekeh geli.
Marry dan Kevin tertawa kecil mendengar ucapan Olivia.
"Hai, tolonglah! Jangan membuat aku merasa seperti seorang terdakwa!" Sahut Joe sambil menghampiri Olivia dan merangkul pundak kekasihnya itu.
Ucapan Joe yang mengatakan terdakwa, sontak mengingatkan Marry pada Justin.
Marry menghela napas dalam-dalam. Marry merasa yakin keputusannya memilih Kevin adalah benar. Membiarkan dirinya mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri dan keluarganya.
"Apakah kalian semua sudah selesai dengan Marry dan Kevin?" Suara William kembali terdengar agak keras.
Semuanya terdiam dan menoleh ke arahnya.
William mendekat ke arah Emily. Lalu berlutut tepat di depannya, sambil menyodorkan sebuah kotak.
"Emily Mars, bersedia kah kamu menikah denganku?" Tanya William sambil menatap Emily.
Semua yang ada di sana tercengang. Semua menantikan jawaban dari mulut Emily yang hanya diam.
Sekitar satu menit, namun, terasa sangat lama bagi William.
Emily akhirnya menganggukkan kepalanya.
"Ya. Aku bersedia." Jawab Emily.
Willian menyematkan cincin di jemari Emily dan mencium wanita itu.
Suara tepuk tangan menggema. Semua yang ada di sana tertawa bergembira.
Sophie, Olivia, Marry, dan Emily menyiapkan makan malam untuk mereka semua. Mereka akan makan malam di rumah Nana malam ini bersama sama.
Sementara itu para lelaki sibuk membersihkan halaman seusai pesta.
Alice menemani Liam bersama Nana.
"Aku sangat senang Mars bersaudara akhirnya menemukan kebahagiaan." Ucap Olivia sambil menatap Marry dan Emily bergantian.
Marry hanya tersenyum.
"Apa yang kamu pikirkan, Marry? Apa kamu tidak senang bersama Kevin?" Emily bertanya penuh selidik pada Marry.
"Kalian keluarga Mars, sedangkan aku hanya orang biasa." Marry menyandarkan tubuhnya pada meja di dapur.
"Kamu harus datang besok malam untuk makan malam bersama keluarga kami, dan berkenalan secara langsung pada Papa dan Mama." Emily menepuk pundak Marry dengan lembut.
"Jujur aku takut, Em."
"Kami tak akan menggigitmu." Canda Emily.
Marry tersenyum, namun pikirannya masih menerawang.
Saat menatap ke arah luar melalui jendela, ekor mata Marry menatap Justin yang juga tengah menatapnya dari dalam mobilnya saat melewati rumahnya.
Marry mengalihkan pandangannya ke arah Sophie dan Emily yang sibuk memasak.
Lalu membantu Olivia menyiapkan makanan untuk dibawa ke rumah Nana.
__ADS_1
*
*
Dua hari berlalu.
Marry mendapatkan undangan untuk makan malam bersama keluarga Mars di restoran milik mereka.
Marry datang bersama Kevin yang menjemputnya. Sementara Alice kembali dititipkan pada Sophie.
Marry dan Kevin duduk berdampingan, lalu menyusul William dan Emily datang dan mengambil tempat di seberang Kevin dan Marry.
"Jadi, kamu telah memiliki seorang anak?" Tanya Nyonya Vicky sambil menatap Marry.
"Iya. Seorang putri." Jawab Marry dengan kikuk.
"Kami sengaja tidak menikah atau telah bercerai?" Selidik Nyonya Vicky kembali.
"Saya belum menikah."
"Apakah putrimu tahu kalian akan menikah, lalu hubungan dengan ayah kandungnya bagaimana selama ini?" Cecar Nyonya Vicky.
"Sudahlah, Sayang. Biarkan kita saling mengenal dulu dengan calon menantu kita. Jangan terlalu bertanya mendesak seperti ini." Tuan Morgan menengahi.
"Ini merupakan hal yang penting sebelum mereka menikah. Karena dia akan mendapatkan nama Mars setelah Kevin dan Marry menikah."
Marry menghela napas dalam-dalam dan menoleh ke arah Kevin.
"Dia putriku." Kevin menatap mamanya.
"Hah? Apa maksudmu?" Tanya Nyonya Vicky sambil mengerutkan keningnya.
"Marry dan aku pernah melakukan hubungan satu malam dengan terpaksa, sehingga membuatnya hamil delapan tahun yang lalu." Ucap Kevin.
"Jadi Marry adalah korban Kevin. Dan aku telah memeriksa DNA keduanya. Kevin dan Alice, putri Marry. Mereka berdua cocok memiliki hubungan. Alice juga merupakan salah satu anggota keluarga Mars." Sela Emily sambil menatap Papa Mamanya.
"Jangan-jangan gadis kecil itu!" Tiba tiba Nyonya Vicky teringat sesuatu.
"Apa, Ma?" Selidik Emily.
"Gadis kecil yang duduk di samping Kevin saat pernikahan Terence dan Claire?" Ucap Nyonya Vicky.
Emily mengangguk.
"Benar sekali, Ma."
"Astaga! Berarti tebakanku selama ini benar. Matanya seperti matamu, Kev. Garis wajahnya sangat mirip denganmu. Gadis kecil itu selalu membuatku penasaran. Bahkan aku pernah bertemu di sebuah sekolah dasar saat memberi hadiah. Dia sebagai pemenang lomba teknologi sederhana."
"Anda benar sekali, Mama! Dia cucu kandung Mama." Ucap Kevin sambil tersenyum.
Nyonya Vicky berdiri, lalu menghampiri Marry, dan memeluknya erat.
"Selamat datang di keluarga kami." Sambut Nyonya Vicky sambil tersenyum menatap Marry.
"Terima kasih."
Nyonya Vicky kembali lagi ke kursinya.
"Nenekmu harus diberi tahu hal baik ini juga. Jangan lupa!" Tuan Morgan mengingatkan Kevin.
"Tentu, Pa. Usai dari catatan sipil, kami akan menemui Nenek Max."
__ADS_1
Sahut Kevin.
"Catatan sipil?" Tanya papa dan Mama Kevin bersamaan.