Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Dinner


__ADS_3

Usai menyelesaikan pekerjaannya, Kevin segera membereskan mejanya dan memanggil Kim, sekretarisnya.


Kim yang dengan lincah membereskan dan membawa semua map yang ada di meja Kevin, lalu berdiri di depannya.


"Apakah ini sudah semua, Tuan?" Tanya Kim sambil menenteng tumpukan map.


"Ya itu sudah semua. Oya, aku minta kamu memberi informasi pada bagian legal kita untuk memeriksa kembali semua berkas dan perjanjian yang telah dibuat oleh pengacara dari firma hukum Smith."


Kim mengerutkan keningnya dengan heran dengan perintah Kevin.


"Maksud Tuan, memeriksa semua surat yang kemarin di buat oleh kuasa hukum itu?" Kim bertanya ulang memastikan.


"Ya. Dan aku ingin kamu menghubungi kuasa hukum seniornya untuk memeriksa hasil kerjanya. Aku hanya ingin berjaga jaga dan memastikan supaya tidak ada masalah di kemudian hari." Terang Kevin.


Alasan Kevin yang masuk akal membuat Kim mengerti.


"Baiklah, Tuan. Apakah ada lagi?"


"Tidak. Cukup itu saja. Terima kasih, Kim. Kamu boleh pergi."


Kim segera berlalu dari ruangan Kevin.


Lalu Kevin segera menghubungi bagian legalnya untuk mengurus dan memeriksa ulang pekerjaan Justin.


Kevin tidak ingin, karena masalah pribadi, Justin akan membuat masalah dengan dirinya.


Kevin merogoh sakunya, dan mengambil sebuah kotak kecil.


Kevin membuka kotak itu, dan terlihat sebuah cincin bermata berlian di dalamnya.


Kevin menatap cincin itu sambil tersenyum.


"Aku harap kamu bisa menerimaku." Gumam Kevin.


Lalu dia menutup kembali kotak kecil itu dan menyimpan kembali dalam sakunya.


*


Kevin menuju kedai milik Marry.


Saat itu kedai terlihat lebih sepi. Hanya terlihat beberapa pengunjung sedang menikmati secangkir kopi, dan menikmati kudapan.


Lalu untuk muffin tinggal tidak banyak lagi. Untuk cupcake, terlihat kosong etalasenya.


Terlihat Ben sedang duduk di meja kasir sambil menatap layar monitor laptop.


"Hai, Ben!" Sapa Kevin.


Ben menatap ke arah Kevin dan melambaikan tangannya.


"Hai!"


"Sedang sibuk?" Tanya Kevin sambil melihat ke arah layar monitor.


"Aku sedang memeriksa laporan setahun kemarin untuk perbandingan tahunan." Ben menghela napas dan terlihat letih.


"Apakah semua data masuk di pembukuan?" Tanya Kevin.


"Ya. Selalu tercatat."


"Oke. Aku memiliki program penghitungan keuangan, yang dapat terhubung di mesin kasir. Lalu semua langsung dapat dibuat laporan keuangan. Baik mingguan, bulanan, hingga tahunan. Dan dapat dihubungkan dengan akun pemilik toko atau usaha. Mungkin itu solusi untukmu, Ben." Ujar Kevin sambil membuka telapak tangannya.


"Pasti mahal harganya." Keluh Ben lirih.


Kevin tersenyum.

__ADS_1


"Sudahlah. Tak usah dipikirkan soal biaya. Besok aku akan urus teknisi IT untuk membantu mengurus hal itu. Kamu tenang saja."


Sahut Kevin dengan tenang.


Ben langsung menatap Kevin dan membuka matanya lebar-lebar.


"Maksudmu?"


"Besok ada orang dari perusahaanku datang untuk mengurus itu. Oke?"


Ben masih diam terpaku tak percaya.


Lalu dia berdiri dan keluar dari meja kasir, menghampiri Kevin dan memeluknya.


"Terima kasih, Kevin." Ucap Ben dengan suara bergetar.


Selama ini urusan keuangan memang bagian Ben. Dan dia yang bertanggung jawab dengan urusan keuangan usahanya dan Marry ini.


Sedangkan Marry bagian pengadaan bahan, dan dapur.


Marry muncul dari arah belakang kedai, dan melihat Ben dan Kevin sedang berbincang dengan serius.


"Hai, Kev." Sapa Marry sambil menghampiri Ben dan Kevin.


"Marry, Kevin akan memberikan kita program penghitungan laporan keuangan untuk kedai ini. Sehingga akan memudahkan bagi kita untuk memeriksa laporan keuangan, hingga pelaporan pajak kita juga." Lapor Ben dengan wajah sumringah.


Marry terkejut dan menatap Kevin.


"Berapa biayanya?" Tanya Marry.


"Tidak usah. Besok orangku akan datang mengurus semua." Sahut Kevin.


Marry menyilang kedua tangannya di depan dada sambil menatap Kevin.


"Aku tidak mau. Ini adalah bisnis Kev. Aku tidak mau berhutang Budi padamu. Lagi pula kedai ini tak ada sangkut pautnya denganmu." Tolak Marry dengan tegas.


Kevin menatap wajah Marry yang terlihat kesal dengan gemas.


"Bagaimana, jika kamu menemaniku makan malam, sebagai gantinya?" Sergah Kevin dengan raut wajah tenangnya.


Marry terdiam, sambil matanya melotot.


Ben perlahan menghampiri kakak iparnya itu, lalu menyikut lengan Marry sambil memberi isyarat untuk mengiyakan ajakan Kevin.


Sekarang Marry gantian menatap Ben sambil melotot.


"Ayolah, Marry. Hanya makan malam, apa susahnya? Kamu tenang saja. Alice serahkan saja pada aku dan Sophie. Kami akan dengan senang hati menjaga Alice." Ben tersenyum sambil nyengir ke arah Marry.


Marry seketika memonyongkan bibirnya, menyipitkan matanya menatap Ben.


"Oke! Baiklah! Aku setuju." Marry mendengus kesal sambil berlalu meninggalkan Kevin dan Ben.


Kevin menghela napas dalam-dalam, lalu menepuk pundak Ben perlahan.


"Besok aku akan mengirimkan sesuatu untuk Marry. Titip pesan padanya supaya mengenakan pemberianku." Ucap Kevin.


"Baik. Tenang saja. Semuanya beres." Ben mengacungkan jempolnya pada Kevin.


Tak lama Kevin berpamitan dan pergi meninggalkan kedai kopi milik Ben dan Marry itu.


*


Keesokan harinya seorang pria memakai jas rapi dan seorang wanita berwajah Asia melenggang masuk ke kedai kopi dan disambut hangat oleh Marry.


"Silahkan mau pesan apa?" Sapa Marry dengan ramah.

__ADS_1


"Saya mengantar kiriman untuk Nyonya Marry." Ucapnya. Lalu pria yang mengikutinya memberikan dua paper bag besar dengan logo brand ternama.


Marry mengernyit.


"Saya tidak pernah memesan barang apa pun."


"Mohon diterima. Ini semua dari Tuan Kevin. Dan, Anda akan di jemput sopir untuk makan malam bersama dengan Tuan Kevin." Ucap, Kim, sekretaris Kevin.


Marry hanya mengangguk angguk.


"Saya permisi. Selamat siang!" Kim berlalu dari hadapan Marry, lalu masuk ke mobil bersama pria yang mengikutinya tadi.


Marry masih termenung menatap dua tas besar pemberian Kevin dengan logo rancangan brand terkenal.


"Pasti mahal semua." Gumam Marry sambil mengintip isi tas itu.


*


Marry mematut di depan cermin menatap bayangan dirinya yang mengenakan dress dari perancang busana terkenal.


Marry masih terkagum kagum melihat pakaian itu. Dia tak percaya dapat mengenakan pakaian dari brand mahal itu.


"Harganya satu bulan pendapatan kedai. Astaga Kevin." Marry menggelengkan kepalanya.


"Lalu sepatu ini?" Sepatu stiletto dari brand terkenal dan mahal juga.


Marry berjalan mondar-mandir sambil mengenakan Stiletto itu.


"Memang ya, jika produk mahal itu enak dan nyaman jika dipakai." Gumam Marry kembali


Tepat pukul tujuh malam, pintu apartemennya diketuk.


Marry membukakan pintu. Dia menutup pintu unitnya, dan mengikuti sopir Kevin itu.


Si sopir membukakan pintu, lalu setelah Marry masuk dalam mobil mewah itu, si sopir menutupnya dengan sopan.


Sepanjang perjalanan, Marry merasa tidak nyaman dengan penampilannya saat ini.


Seumur hidup baru kali ini, Marry mengenakan pakaian semahal ini.


"Apakah Kevin seperti ini, pada wanita yang benar-benar disukainya? Brenda? Ah, katanya mereka hanya settingan."


Marry sangat gugup malam itu. Ini pertama kalinya dia makan malam secara resmi.


Biasanya saat kencan buta, dia hanya mekanisme malam di kafe dengan harga standar. Lalu usai makan malam, mereka membayar tagihan masing-masing, dan setelah itu tak berkabar lagi.


Marry yakin, makan malam kali ini, bukan makan malam di kafe biasa dengan harga standar untuk kalangan menengah kebawah.


Benar saja mobil berhenti di pintu masuk restoran milik chef kelas dunia. Marry pernah membaca berita tentang restoran ini di majalah kuliner secara tak sengaja, saat sedang beristirahat semasa bekerja di event organizer dulu.


Manager restoran, menyambut kedatangan Marry.


"Anda, pasti Nyonya Marry."


"Ya."


"Mari ikut!" Ajak manager restoran itu ke lantai atas.


Marry terus mengikutinya, hingga sampai di lantai atas. Terlihat sebuah meja dengan lilin menyala, dan terlihat Kevin menunggu di sana.


Kevin takjub, terpesona menatap penampilan Marry yang terlihat sangat berbeda.


Marry sangat cantik sekali.


Marry dengan balutan gaun malam berwarna hitam dengan Stiletto yang pas di kakinya. Menambah anggun penampilannya.

__ADS_1


Kevin tersenyum menyambut kehadiran Marry.


__ADS_2