
Kevin memeluk Marry yang menangis tersedu-sedu.
Kevin hanya diam saja selama Marry dalam dekapannya. Dia membiarkan Marry menumpahkan semuanya, kemarahan, kebencian, sakit, dan lukanya dalam tangisnya saat itu.
Kevin membelai lembut rambut hingga punggung Marry perlahan dengan sabar.
Marry menundukkan kepalanya dan membenamkan dalam dada Kevin yang bidang.
Terasa hangat dalam dekapan lelaki itu. Marry merasa sangat lega. Seakan beban yang selama ini ada dalam pikirannya, seakan menguap. Lepas begitu saja.
Marry menatap Kevin dan sekeliling ruangan kamar itu.
Tak ada rasa takut, atau khawatir yang semula membuat dirinya gentar.
Marry menghembuskan napas lega, lalu kembali menatap Kevin yang masih setia memeluknya dengan sabar.
"Terima kasih." Ucapnya lirih.
Kevin tersenyum, lalu mengecup kening Marry dengan lembut.
Kevin tahu, Marry telah berhasil melewati masa trauma yang mengganggunya selama ini.
Tiba tiba Kevin tercenung. Samar samar bayangan dirinya menarik tubuh seorang gadis yang aromanya sangat menggairahkan malam itu.
Kevin tak terlalu ingat melakukan apa saja pada gadis itu, namun, yang pasti dia akan merasa sangat lega dan bahagia usai mengeluarkan berjuta benihnya dalam rahim seseorang.
Kevin merasa, dirinya telah melakukan hal yang kejam pada Marry yang kala itu masih seorang remaja.
"Marry, aku tak ingin kamu membenci diriku. Aku sungguh mencintaimu. Aku ingin hidup bersamamu. Bukan hanya saat ini. Tapi untuk selamanya."
Bisik Kevin dengan lembut.
Marry tersenyum, bagai lantunan lagu nan merdu, ucapan Kevin, sungguh membiusnya.
"Kevin..."
Marry kembali jatuh dalam dekapan lelaki gagah itu.
Tiba tiba ada sesuatu yang mendadak mengganggu Marry, seakan mengganjal di bagian pinggangnya.
Marry melirik ke arah Kevin yang pura pura bersikap tenang.
Padahal Kevin berusaha keras untuk tidak merusak suasana dengan bangunnya adik kecil miliknya itu.
Marry tersenyum manis dan menggoda Kevin. Marry mengerlingkan matanya seakan menggoda Kevin.
"Kita bisa melakukannya setelah kita menikah Kev!" Ucap Marry.
"Besok aku akan mengurus semuanya." Bisik Kevin.
"Tidur lah! Aku berjanji akan memberi pelayanan untukmu saat malam pertama kita besok." Marry berjanji sambil mengelus dada bidang Kevin.
Kevin tersenyum. Dia mengendalikan dirinya kembali, dan memeluk Marry.
Malam semakin larut. Marry tidur dalam dekapan hangat Kevin.
*
__ADS_1
Marry membuka matanya perlahan, dan baru menyadari bahwa tidur tanpa mengenakan pakaian semalam, dan dalam pelukan Kevin.
"Sungguh berbahaya seperti ini!" Desis Marry sambil menggelengkan kepalanya.
Marry berjingkat pelan pelan, menuju ke kamar yang sebelumnya, dan menemukan beberapa potong pakaian.
Marry menuju ke arah dapur dan membuka lemari es, melihat ada beberapa bahan yang dapat dibuat menjadi makanan untuk sarapan.
Marry dengan lincah memainkan tangannya meracik sesuatu untuk dijadikan makanan yang lezat.
Tanpa sadar, Kevin telah beberapa saat memperhatikan Marry yang tengah bersenandung kecil sambil tangannya menari nari di atas kompor, memasak pancake dan omelette.
Aroma masakan yang lezat membangunkan Kevin.
Pemandangan Marry dengan kaos kebesaran, tanpa bawahan, rambut diikat agak digelung asal asalan, dengan beberapa anak rambut sedikit terlepas dan terurai mengenai wajahnya.
Marry terlihat sangat seksi dan menggoda Kevin.
Kevin sudah tak dapat menahan lagi. Dia berjalan pelan menghampiri Marry.
Dia merangkul pinggang Marry dan mencium leher jenjang wanita itu.
Terdengar lenguhan kecil dari bibir Marry.
Tak ada penolakan dari Marry saat itu, membuat Kevin bersemangat dan meneruskan permainannya.
Kevin membalikkan tubuh Marry dan mengangkat pinggangnya dan mendudukkan Marry di atas meja makan yang terbuat dari marmer itu.
Marry mematikan kompor, saat Kevin meraih pinggangnya.
"Aku ingin sedikit saja, bermain cepat di sini." Bisik Kevin dengan lirih tepat di telinga Marry.
Kevin perlahan membuka pelindung bawah milik Marry dan melebarkan pahanya.
Marry yang kegelian hanya bisa terkekeh.
"Kevin, apa yang akan kamu lakukan di sana?"
"Tenang, aku akan membuat kamu merasa enak." Sahut Kevin sambil menyeringai.
Marry melotot, namun, Kevin dengan wajah tenangnya mengecup lembut bibir wanita yang membuatnya bagai kecanduan itu.
Kevin memainkan jarinya pada milik Marry, sehingga membuat Marry mengepalkan tangannya menahan gelombang sensasi yang bergejolak dalam dirinya sendiri.
Marry memejamkan matanya mencoba menahan semua hasratnya kala jari Kevin bermain lembut di sana.
Bagian itu terasa sangat basah dan gatal sekali, Marry tak pernah merasakan sensasi seperti itu selama ini, bahkan saat bersama Justin, dia tak pernah seperti ini.
Marry duduk sambil membusungkan dadanya yang membekas pada kaos, siluet itu sangat menggoda Kevin.
Tangan Kevin bergerilya menyusup masuk melalui sela kaos yang masih di dikenakan Marry, dan memulai permainannya dengan dua gunung kembar indah itu.
Kevin menciumi perut, lalu turun kembali ke bagian bawah yang aromanya sangat harum menggoda kejantanan Kevin.
Kevin lalu membenamkan kepalanya di antara paha Marry, sehingga membuat Marry mendesis dan meraih rambut Kevin dan menjambaknya dengan kuat menahan segala hantaman sensasi yang melanda tubuhnya.
"Lepaskanlah, Marry! Jangan ditahan." Bisik Kevin dengan lembut.
__ADS_1
Marry memejamkan matanya.
Permainan lidah Kevin pada bagian intinya, sungguh membuat gelombang hasratnya memuncak. Marry menggelengkan kepalanya, dan meliuk-liuk tubuhnya sambil mendesis, melenguh, dan menyebut nama Kevin berkali kali.
Kevin kembali memainkan jari dan lidahnya hingga satu hentakan, membuat cairan kental berwarna putih keluar mengalir dari milik Marry disertai lenguh manja dan Marry memeluk Kevin dengan erat.
Marry terengah-engah sambil membuka matanya menatap Kevin yang tersenyum dan mencium bibir Marry dengan lembut.
Marry mendorong tubuh Kevin, dan berlutut, membuka pakaian bawah Kevin, dan melihat sebuah pusaka yang terlihat sangat besar.
Marry sedikit gentar.
"Aku tak akan memaksamu melakukan ini, jika tidak mau." Ucap Kevin dapat membaca keraguan di wajah Marry.
Marry menghela napas, dan menggigit bibir bawahnya, mengerling manja.
Marry membelai lembut belalai kecil itu, dan menciumnya. Kevin melenguh sambil mengelus rambut Marry.
Marry meningkatkan permainannya, dan melakukan pelayanan karaoke yang membuat Kevin mengerang penuh kenikmatan dan menjambak rambut Marry dengan lembut.
"Marry... Oh... Nikmat sekali...!"
Tiba tiba ekor mata Marry melihat bayangan orang menuju villa.
"Kev, seperti ya ada yang datang ke villa." Bisik Marry.
"Apakah kamu bisa menuntaskan pekerjaanmu ini, sebelum dia masuk ke sini?" Sahut Kevin tepat di telinga Marry sambil tersenyum.
Marry menghela napas, lalu meneruskan kembali aksinya, yang membuat Kevin makin brutal mengacak rambut Marry, dan mengerang menyebut nama Marry.
"Marry...oh... Nikmat sekali...!" Tubuh Kevin menegang, dan memejamkan matanya sambil menjambak lembut rambut Marry.
Kevin menumpahkan cairan lava dalam mulut Marry, lalu menghela napas lega sambil terengah-engah.
Tepat saat itu pelayan yang biasa membersihkan vila masuk ke dalam.
Pelayan itu terkejut melihat Kevin yang berada di dapur bertelanjang dada sambil terengah-engah.
"Tu-tuan Kevin. Anda sedang apa?" Tanya pelayan itu terkejut.
"Aku sedang membuat..eh.. sarapan. Ya, aku membuat sarapan." Sahut Kevin sambil menunjuk panci di atas kompor dan piring yang telah terisi pancake yang sudah jadi.
Tiba tiba Marry terbatuk-batuk karena tersedak cairan lava Kevin.
Kepala Marry menyembul dari arah meja dapur sambil tersenyum meringis.
"Oh, maafkan saya, Tuan. Saya tidak tahu, jika ada tamu."
Pelayan tersebut akhirnya paham apa yang sedang dilakukan oleh majikannya saat itu di dapur.
Lalu berlalu sambil tersenyum geli saat meninggalkan ruangan itu.
Plak!
"Aduh!" Seru Kevin sambil mengelus lengannya, yang dipukul dengan keras oleh Marry.
Marry mendengus kesal, lalu berlalu dari dapur untuk membersihkan tubuhnya.
__ADS_1
Kevin hanya senyum senyum sendiri sambil menatap punggung Marry.