
Marry menggandeng tangan Alice berjalan menyusuri lorong koridor rumah sakit. Satu tangan lagi membawa sekotak muffin dan cupcake untuk Kevin. Sedang Alice membawakan seikat bunga untuk Kevin.
Marry hanya bisa menghela napas, saat Alice bersikeras membeli bunga untuk diberikan pada Kevin. Sebelumnya, Alice telah meributkan buah tangan yang akan dibawakan untuk Kevin.
Marry melirik etalase kedainya yang telah kosong, karena muffin dan cupcake buatannya saat ini sangat digemari. Akhirnya, dia memutuskan untuk membuat sedikit muffin dan cupcake untuk Kevin, dan satu kotak lagi, akan ia berikan pada Emily.
Alice berjalan dengan riang sambil melihat ke kanan dan kiri. Dia belum pernah masuk ke kamar pasien seperti ini. Alice belum pernah masuk ke dalam rumah sakit yang besar ini. Meskipun kedai mamanya ada di seberangnya. Dia hanya sering memperhatikan mobil ambulans yang keluar masuk, jika ada yang darurat, atau helikopter mendarat di bagian atas rumah sakit, saat ada pasien yang darurat juga.
"Tolong, jaga sikapmu jika bertemu dengan Kevin." Ucap Marry memperingatkan Alice.
Alice mengangguk. "Aku senang, Mama mengijinkan aku untuk datang menjenguknya."
"Harusnya aku tak mengatakan pada Ben." Gumam Marry, sambil melirik Alice.
"Mengapa Mama menyesal mengatakan ini pada Paman Ben? Apa aku tidak boleh menjenguk?" Tanya Alice.
"Dilarang pun, pasti kamu akan tetap memaksa untuk datang. Mama sangat mengenalmu, Alice. Dengar, mama mengijinkan kamu datang menjenguk, bukan karena dia papamu? Hanya bentuk simpati dan ucapan terima kasih untuk tambahan hadiah yang kamu peroleh kemarin." Sahut Marry sambil menghentikan langkahnya, lalu sedikit membungkuk menatap Alice.
Alice hanya meringis mendengar ucapan Mamanya.
"Mama, lihatlah!" Alice menunjuk seseorang di sebuah lorong koridor rumah sakit.
"Paman Willy..!" Panggil Alice. Kini Alice melepas pegangannya dari Marry,dan berlari kecil mengejar sosok William.
William menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
"Hai, Alice." Sapa William, dan langsung menggendong gadis kecil itu.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya William sambil menjawil hidung Alice dengan gemas.
"Aku ingin menjenguk Papa Kevin " sahut Alice dengan polos.
Emily baru keluar dari ruangannya, dan mendengar ucapan Alice, sontak mengerutkan keningnya.
"Papa Kevin?" Tanya Emily.
William dan Alice menoleh ke arah Emily. Marry terengah-engah berlari kecil mengejar Alice.
William dan Emily menoleh ke arah Marry.
"Alice ingin menjenguk Kevin." Ucap Marry menerangkan keberadaanya dan Alice.
"Sepertinya dia sudah semakin membaik setelah seharian beristirahat." Sahut Emily.
William menurunkan Alice.
"Kenalkan ini Dokter Emily, dia kakak dari Papa Kevin mu itu?" Ucao William.
__ADS_1
"Wow!" Alice tak dapat menahan rasa senangnya saat itu. Raut wajahnya langsung gembira dan tersenyum lebar menatap pada Emily.
"Aku sangat senang bertemu dengan Bibi Dokter." Tukas Alice.
"Alice, ayo kita ke kamar Kevin! Supaya kita tidak pulang malam. Besok kamu harus sekolah lagi." Bujuk Marry.
Alice mengangguk.
Marry memberikan sekotak kue buatannya pada Emily, dan Emily sangat senang menerima pemberian
"Aku tahu ini! Ini adalah makanan yang sedang populer beberapa Minggu ini." Sorak Emily.
"Terima kasih!" Sahut Marry.
Lalu Marry dan Alice meninggalkan tempat itu menuju ruang kamar tempat Kevin di rawat.
Tok Tok !
Marry membuka pintu perlahan. Lalu kepalanya menyembul dari ambang pintu.
"Papa Kevin!" Teriak Alice menerobos masuk, saat Marry sedang mengintip ke arah dalam.
Kevin berusaha untuk turun menyambut kedatangan Alice.
Kevin memeluk Alice dan mengecup ubun kepala gadis kecil itu dengan sayang.
Kevin sangat senang. Berkali kali menatap ke arah Alice dan bersenda gurau.
"Aku membawakan kue buatan Mama!"
"Pasti muffin yang fenomenal itu!" Sahut Kevin.
"Hah..?!" Marry dan Alice alaing berpandangan.
Saat ini Joe sedang menemani Kevin.
Kevin segera membuka kotak makanan itu, Joe membantu membukakan kotak makanan itu. Kevin terus menghabiskan roti itu, menyisakan dua buah untuk Joe.
Alice dan Kevin saling bersenda gurau, lalu tertawa bersama sama. Tak jarang Joe juga menimpali percakapan Kevin dan Alice.
Marry hanya menatap Kevin, Joe, dan Alice bergantian dari bangku yang ada di sana.
Tiba tiba..
BRAK...!
"Hai, Kevin Sayang? Apa yang terjadimu? Astaga, lihat wajahmu!" Brenda datang secara mendadak, ambil membawa wartawan infotainment bersamanya.
__ADS_1
Brenda mencium bibir Kevin. Lalu Kevin mendorong tubuh Brenda agar menjauh.
"Joe." Kevin memanggil Joe. Memberi isyarat untuk mengusir para wartawan itu.
Joe berbicara baik baik dengan wartawan itu, dan keluar dari ruangan.
"Kevin, mengapa kamu usir wartawan itu. Biarlah dia mengikuti aku sepanjang hari." Brenda merajuk.
"Aku sedang sakit Brenda. Dan aku ingin beristirahat. Jika ingin menjenguk, mengapa harus memakai wartawan segala?" Jawab Kevin dengan ketus.
"Aku butuh popularitas, Sayang. Aku mendengar kamu terluka dan masuk rumah sakit. Dan kamu tahu, aku baru pulang dari Italia. Lalu aku buru buru datang kemari." Sahut Brenda dengan manja.
Brenda menyadari bahwa di ruangan itu selain Kevin dan Joe, ada yang lain. Brenda menoleh ke arah Alice, dan menatap tajam ke arah gadis kecil itu.
Brenda mengernyitkan. Berusaha mengingat di mana pernah melihat gadis kecil itu.
"Ah... Bukankah, ini anak kecil yang datang ke apartemenmu waktu itu, dan mengaku sebagai anakmu?!" Tukas Brenda sambil memperhatikan dengan seksama Alice.
Alice takut, dia mundur dan mendekati Marry. Alice bersembunyi di balik punggung Mamanya.
"Brenda! Kamu jangan menakuti anak kecil." Protes Kevin.
"Tapi, benar, kan itu anak yang kemarin?" Cecar Brenda.
"Ya. Dan keren bukan. Bahwa aku telah menjadi seorang ayah!" Sahut Kevin bergurau.
"Dan dia?" Brenda menunjuk Marry.
"Aku, Marry. Ibu dari Alice anak ini. Dan aku dan Alice bukan seperti yang diucapkan oleh Kevin." Marry menjelaskan dengan cepat pada Brenda.
BRAK!
Pintu kamar terbuka dan lampu kamera wartawan menyala mengambil gambar yang ada di dalam ruang kamar perawatan Kevin. Dengan segera Marry melindungi Alice dan menutup wajah gadis kecil itu.
Alice menangis histeris seketika, dan Marry memeluknya dengan erat menenangkan putrinya.
Marry menghambur keluar dari kamar itu sambil menggendong Alice. Dan beberapa wartawan berusaha mengejarnya.
Kevin menatap tajam ke arah Brenda dengan raut wajah memerah geram.
Joe menarik lengan Brenda untuk keluar dari kamar Kevin.
"Tolong, Kevin sedang ingin beristirahat." Pinta Joe dengan sopan.
"Untuk para wartawan, tolong profesional! Gadis kecil tadi adalah penggemar Kevin. Sama seperti anak anak sekolah yang biasa berfoto bersama Kevin dalam pameran. Jadi, tolong, jangan pernah memasang gambar anak itu dan jangan mengganggu keluarga anak itu. Jika ada yang ketahuan membuat atau menulis berita itu, kami tak segan segan untuk melaporkan pada atasan kalian!" Joe memperingatkan para wartawan untuk tidak menggangu Alice.
Para wartawan itu mengangguk, dan meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Brenda yang kesal, juga segera berlalu dari rumah sakit.