Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Pertemuan


__ADS_3

"Aku akan pindah dari apartemen ini." Ucap Joe sambil menatap Olivia.


"Kamu mau ke mana? Lalu hubungan kita?" Tandas Olivia.


Joe terdiam, tangannya membelai wajah Olivia, dan menyematkan anak rambut yang tergerai di wajah ke belakang telinga gadis itu.


"Kamu mencintaiku?" Tanya Joe sambil menatap Olivia lekat lekat.


Olivia tak langsung menjawab, dia membalas tatapan Joe, dan perlahan meraih tangan Joe, dan menggenggamnya.


"Haruskah aku jawab lagi? Aku mencintaimu Joe dengan segenap jiwaku."


Jawab Olivia.


Joe tersenyum.


"Liv, aku pun mencintaimu. Aku tak ingin kehilanganmu. Aku ingin kita dapat menjalani sisa hidup kita bersama."


"Ya."


"Olivia, maukah kamu hidup bersamaku, menjalani sisa hidup denganku, dan menjadi pendamping hidupku?" Ucap Joe sambil membalas genggaman Olivia, dia masih menatap gadis itu, dan menunggu jawaban darinya.


Olivia tak percaya, dia ragu sejenak, dan mengerutkan keningnya.


"Liv, apakah kamu mau menjadi istriku?" Tanya Joe lagi.


Olivia masih terdiam tak percaya.


"Sungguhkah ini? Atau hanya mimpi saja?"


"Ya. Ini sungguh sungguh, Liv. Aku akan menikahimu."


"Joe.." Olivia memeluk Joe dengan rasa bahagia.


"Aku ingin kamu ikut denganku, tinggal di tempatku yang baru."


"Kita akan pindah ke mana?" Tanya Olivia sambil meregangkan pelukannya.


"Masih di kota ini, dan tak jauh juga dari tempat bekerja mu. Bahkan mungkin kamu akan suka tinggal di sana?"


Olivia tersenyum penasaran.


"Aku tak percaya. Dari mana kamu tahu aku akan suka atau tidak? Dan kamubmalah mengatakan bahwa aku pasti akan suka."


"Dari semua respon positif yang kamu berikan saat berada di sana?"


Olivia makin mengerutkan keningnya, dan menatap Joe dengan tatapan penuh kecurigaan.


"Apa apaan sih, Joe? Jangan bilang kalau kita akan tinggal bersama Marry dan Kevin."


Joe terbahak-bahak mendengar jawaban Olivia.


"Jadi, apa jawabanmu?" Tanya Joe kembali.


"Jawaban apa?"


"Olivia, mau kan kamu menjadi istriku? Dan akan hidup bersamaku?" Ucap Joe sambil membuka sebuah kotak kecil berisi cincin.


"Astaga, Joe! Ya! Ya, aku mau!" Sahut Olivia sambil menatap Joe dengan rasa haru.


Joe menyematkan cincin itu pada jari manis gadis itu. Joe meraih dagu Olivia, dan menautkan bibirnya pada bibir gadis itu dengan penuh rasa cinta.


"Besok mintalah cuti pada pihak sekolah!"


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Kita akan ke kantor catatan sipil, dan meresmikan hubungan kita secara legal."


"Hah? Secepat itu? Tanpa acara pesta?"


"Aku tak akan menunda lagi, Liv."


"Tapi, jangan terlalu terburu buru juga, Joe. Aku senang kamu akan menikahiku. Tapi, aku ingin kita menikah secara normal. Kamu bukan Kevin, jangan ditiru!"


"Tapi, aku tak ingin kehilangan dirimu, Liv!" Terdengar ketakutan pada suara Joe.


"Joe. Aku bukan Lana. Aku Olivia. Jika Tuhan menghendaki kita bersatu, pasti Tuhan akan melancarkan setiap proses persiapan kita. Dan aku pun tak ingin acara yang megah dan meriah seperti pesta Tuan Mars kemarin. Aku hanya ingin sederhana, disaksikan oleh keluarga dan sahabat sahabat kita. Atau kita bisa menumpang di halaman belakang rumah Kevin untuk acara pernikahan kita."


Olivia menatap Joe.


"Aku tak percaya kamu bisa berpikir sejauh itu, Liv. Usiamu memang jauh di bawahku. Tapi, pikiranmu benar benar dewasa. Aku benar benar tidak salah memilih pasangan hidup."


"Karena kedewasaan itu ditentukan oleh sikap, pikiran dan mental kita, Joe. Bukan usia."


Olivia lalu duduk tepat dipangkuan Joe, berhadapan dengan lelaki itu, mengalungkan tangannya pada leher Joe dan menatap mesra.


"Liv, kau membangunkan adik kecilku kembali." Seringai Joe dengan tatapan nakalnya.


Olivia lalu menggelayut manja sambil menciumi Joe kembali, sambil menggerakkan pinggulnya naik turun.


"Aahhh... Liv, nikmat sekali sayang." Lenguhan Joe, membuat Olivia semakin bersemangat memberi pelayanan untuk kekasih hatinya itu.


Joe mendorong tubuh Olivia perlahan, lalu kini gadis itu telah berada dalam kungkungan Joe. Joe menciumi setiap lekuk tubuh Olivia dan menikmati semuanya.


Berkali-kali Olivia melenguh dan berteriak manja, karena perlakuan Joe.


Mereka menghabiskan sisa malam itu dengan menikmati kebersamaan mereka dengan penuh rasa cinta.


*


"Tentu, Sayang. Kamu boleh menggendongnya. Tapi, biarkan dia kenyang dulu, ya."


"Kapan dia akan kenyang?"


"Setelah dia melepaskan susunya, dan tertidur lelap." Sahut Marry.


Bayi Austin terlihat lahap menikmati ASI langsung dari ibunya. Seolah tak ingin lepas.


"Tapi, dia sepertinya tak akan melepaskan susunya, Ma."


Marry terkikik geli.


"Dia sangat kelaparan." Marry tersenyum, menatap Alice, dan membelai rambutnya dengan lembut.


"Apakah dulu aku juga seperti Austin?" Alice menatap adiknya dengan gemas.


Marry mengangguk.


Marry menatap Alice dengan rasa sayang. Dia teringat saat Alice seusia Austin betapa bingungnya dia, saat melihat bayi Alice dalam inkubator, lalu, dia datang setiap hari ke rumah sakit untuk menyusui Alice, menjelang malam, Marry memerah ASI untuk Alice, dan menitipkan pada perawat, lalu dia pergi bekerja.


Selama satu bulan lebih, Marry menjalani hal itu, hingga berat badan Alice bertambah, dan diperbolehkan dibawa pulang.


Saat pulang, pun, masalah baru muncul. Meski di rumah sakit, Marry mendapatkan pelajaran dan tutorial, tetap saja, pada prakteknya dia masih bingung menghadapi jika Alice sedang rewel.


Hingga Nana datang membantunya. Lalu Sophie juga membantu sesuai instruksi dari Nana.


Lambat laun, Marry dapat mengatasi sendiri semuanya.


Marry bersyukur dapat melalui masa masa sulit itu dengan baik, hingga saat ini.


"Kamu dulu, sangat kecil. Hingga harus dimasukkan dalam kotak khusus untuk bayi." Marry mulai bercerita.

__ADS_1


"Mengapa aku harus masuk dalam kotak khusus itu, Ma?"


"Karena kamu dilahirkan, jauh dari jadwal kelahiran. Membuat Paman Will panik. Dan kamu adalah bayi pertama yang ditolong olehnya."


"Sungguh kah?"


Marry mengangguk.


"Hei, Austin sudah melepaskan susunya, dan tertidur lelap. Kamu mau menggendongnya?"


Mata Alice berbinar-binar, dan terlihat senang.


"Duduklah, nanti mama letakkan dalam pangkuanmu." Instruksi Marry.


Alice duduk, lalu Marry meletakkan bayi Austin pada pangkuan Alice, dengan kepala tersangga pada tangan Alice.


"Lihat Nek, aku bisa menggendong adikku!" Sorak Alice saat melihat Nenek Max keluar dari kamarnya.


"Wah, keren sekali, Nak. Hati hati menggendongnya. Pastikan tanganmu menyangga kepala adikmu dengan benar."


"Tentu, Nek."


"Nek, duduklah, nanti aku buatkan minuman untuk nenek Max."


Marry pergi sebentar ke dapur, dan membuatkan secangkir air jahe, untuk nenek Max, lalu meletakkan pada meja di depan Nenek Max duduk.


"Terima kasih, Marry."


"Sama sama, Nek."


"Oya,tadi Tracy mengabarkan, bahwa dia sudah tiba di sini. Mungkin setelah beberapa meeting, dia akan menuju ke rumah ini."


"Oya? Mendadak sekali, Nek. Nanti akan aku suruh orang untuk merapikan kamar tamu, dan menyiapkan beberapa makanan supaya tidak repot lagi."


Nenek Max menatap Marry sambil tersenyum.


"Kamu memang ibu dan istri yang baik, Nak. Beruntung Kevin mendapatkan dirimu."


Marry menoleh ke arah Nenek Max sambil tersenyum.


Seorang pelayan masuk ke ruang tengah.


"Nyonya, ada tamu." Ucap pelayan itu.


"Siapa?" Tanya Marry.


"Namanya Tracy."


"Oh, baiklah. Terima kasih."


Marry meraih bayi Austin kembali dalam. Pelukannya, lalu bergegas menuju ruang tamu.


"Bibi Tracy?" Sapa Marry.


Seorang perempuan sekitar 50 tahunan menoleh menatapnya. Bersamanya ada seorang gadis muda, kira kira seusia Marry.


"Hallo! Kamu istri Kevin?"


"Ya."


"Tracy!" Panggil Nenek Max.


"Mama!"


Tracy menghambur memeluk Nenek Max, dan Nenek Max menyambut dengan senang kedatangan putrinya itu

__ADS_1


__ADS_2