
Gubrak...!
Alice terkejut saat sedang membantu Nana menyiram tanaman. Terdengar suara benda jatuh.
Alice menghentikan kegiatannya, dan mengikuti sumber suara.
Alice duduk berjongkok di belakang rimbunnya pagar tanaman yang ada di rumah Nana.
"Hmmmm, serahkan sepedamu!" Ujar seorang anak remaja kira kira berusia 15 tahun.
Hank yang terjatuh dari sepeda, mendongak sambil menatap beberapa remaja yang sedang mengganggunya.
Hank mencoba berdiri dan melawan remaja yang tubuhnya lebih besar darinya.
"Dengar, apa kamu tidak tahu siapa aku?" Tanya Hank dengan suara pongah dan sombong.
Remaja yang menggangu tersebut tertawa kerbahak bahak sambil menyeringai, tak takut kepada Hank.
Salah satu dari mereka langsung merampas sepeda Hank. Hank melawan, lalu dengan mudah ditaklukkan oleh yang lain.
Mereka memeriksa saku kantong Hank, dan menemukan beberapa lembar dollar. Diambilnya uang itu, dan kembali disungkurkan tubuh Hank. Dan mereka berlari sambil membawa sepeda Hank.
"Aduh!" Teriak Hank sambil meringis sakit.
"Hai, kembalikan sepedaku!"
Remaja remaja itu tertawa terbahak-bahak, tak memedulikan teriakan Hank.
"Sial. Sakit sekali!" Rintih Hank, sambil berusaha berdiri dan mengikuti remaja yang mengambil sepedanya, namun darah mengucur dari lututnya.
Alice yang tengah memperhatikan kejadian itu terkejut ketika menyadari anak yang di palak itu adalah Hank.
"Rasain! Itu rasanya diganggu. Akhirnya kena batunya!" Desis Alice sambil menyeringai.
Tapi di sisi lain hatinya mengatakan untuk menolong Hank yang terluka.
Akhirnya, Alice hanya diam, sambil melihat perkembangan Hank. Butuh ditolong atau tidak.
Hank yang kelelahan dan lututnya terasa perih menengok ke kanan dan kiri hendak mencari pertolongan. Alice buru buru berjongkok saat Hank memutar badannya menatap ke arahnya.
"Kasian dia! Tapi, jika aku tolong, dia akan tetap menggangguku." Alice masih ragu untuk menolong Hank.
"Alice, dengar baik baik! Menolong itu kewajiban kita semua. Jika ada teman yang kesulitan, bantulah dia. Jika nanti dia tidak mengucapkan terima kasih. Ya biarkan saja. Yang penting kita harus saling tolong menolong." Ucapan Mamanya mulai terngiang-ngiang di kepalanya.
Akhirnya Alice berdiri dan berjalan ke arah Hank.
Alice mengulurkan tangannya memberi bantuan pada Hank.
Hank mendongak, dan terkejut melihat Alice. Dia ragu, tapi akhirnya diterima uluran tangan Alice.
Alice memapah Hank menuju rumah Nana yang tak jauh dari situ. Nana yang melihat dari jendela dapur segera bergegas keluar dan membantu Alice membimbing Hank untuk masuk dan duduk di kursi sofa.
"Alice, kamu ambil kotak p3k di kamar mandi ya. Nana akan bersihkan luka temanmu ini."
__ADS_1
"Teman? Cuih.... Ga Sudi punya teman seperti Hank!" Desis Alice sambil berlalu masuk ke kamar mandi.
Nana membawa baskom berisi air bersih dan kain. Lalu membasuh luka Hank, dan membersihkan dengan kain.
"Aduh..aduh...aduh..!" Rintik Hank saat Nana membersihkan luka lukanya.
Alice tersenyum sinis ketika mendengar Hank mengaduh kesakitan. Dia duduk sambil memangku kotak obat sambil memperhatikan Nana membersihkan luka Hank.
Nana mengoleskan obat supaya lukanya cepat kering. Ya sejenis Betadine, kalau di Indonesia 😁.
Hank masih merintih kesakitan sambil menggigit bibirnya, air matanya mengalir di pelupuk matanya.
Alice hampir tertawa terbahak-bahak melihat Hank menangis hanya karena luka terjatuh seperti itu. Tapi, ditahannya. Takut Nana mengomelinya.
Alice memberi plester pada luka luka Hank. Dia sengaja menekan agak kuat pada luka itu.
"Aduh... Duh... Aduh! Kamu sengaja ya?" Ucap Bank sambil melotot ke arah Alice.
Alice tak menjawab, hanya melengos saja sambil merapikan kembali kotak obat itu dan mengembalikan ke kamar mandi lagi.
*
"Alice, ajak temanmu untuk makan di sini!" Bujuk Nana pada Alice yang masih cuek sambil bermain game di kursi dapur.
"Malas!"
"Hei, tidak boleh seperti itu, anak cantik." Nana mengelus wajah Alice dengan lembut.
Nana membimbing Hank menuju dapur dan membantu Hank duduk di kursi dapur.
"Makanlah, kamu pasti lapar." Ucap Nana sambil tersenyum.
Hank mengangguk sambil melahap makanan itu.
Alice menatap tak suka pada Hank. Lalu ikutan duduk di kursi di seberang Hank, menyendok mac and cheese, lalu memakannya juga.
"Bukannya kalian berteman?"
"Tidak!!!" Sahut Alice dan Hank bersamaan.
Nana terkekeh mendengar jawaban anak anak itu.
"Dia yang membuat pelipis dan bibirku robek. Ini, bekasnya!" Ucap Alice sambil menunjuk garis luka di wajahnya.
Nana menepuk bahu Alive dengan lembut.
"Mengapa kamu melakukan itu pada Alice?" Tanya Nana dengan lembut pada Hank, yang sedang mengunyah makanannya. Dia sudah menambah lagi mac and cheese nya.
Hank melirik ke arah Alice. Lalu menatap Nana. Nanaasij tersenyum padanya menunggu jawaban.
"Aku tak suka dia selalu memenangkan lomba! Harusnya aku yang mendapatkan hadiah utama itu." Sahut Hank lirih.
Alice tersenyum sinis dan menjulurkan lidahnya pada Hank.
__ADS_1
"Itu karena buatanmu sudah kuno." Ujar Alice.
"Memangnya buatanmu tidak lebih kuno?" Tanya Hank.
"Baiklah. Kita bisa adu buatan kita masing masing kapan kapan." Tantang Alice.
Hank menjawab dengan anggukan kepala.
"Ada apa ini kok kelihatan ramai sekali?" William masuk ke dalam rumah dan menuju ke ruang dapur diikuti oleh Emily.
"Hai Paman Willy dan Bibi Em." Sapa Alice sambil menyambut kedatangan mereka.
William mengusap lembut rambut Alice dan Emily mencium gemas pipi Alice, keponakannya itu.
"Ini Hank, dia tadi di palak oleh anak anak nakal tetangga kita itu. Sepeda dan uangnya diambil oleh anak anak nakal itu. Dia juga diganggu sampai terluka." Nana bercerita pada William dan Emily.
"Wow." William terbelalak terkejut. Emily yang mengenal keluarga Hank menghampiri bocah lelaki itu.
"Kamu baik baik saja sekarang?" Tanya Emily.
"Itu balasan orang yang suka mengganggu!" Ledek Alice.
William dan Emily berpandangan.
"Oh, jadi ini anak yang membuat bibirmu luka kemarin?" Tanya William sambil tersenyum.
Alice mengangguk.
"Setelah ini, apa kamu akan menganggu Alice?" Tanya Emily.
Hank menggeleng lemah.
"Tapi aku ingin sepedaku kembali. Itu hadiah ulang tahunku." Ucap Bank lirih.
"Tenang saja, nanti Paman akan minta kembali pada anak anak itu. Tapi, kamu harus berjanji untuk tidak nakal dan mengganggu Alice dan teman teman lainnya." Pinta Emily sambil melirik ke arah William.
William tersenyum sambil mengangguk.
Tak lama kemudian William ke rumah anak anak yang memalak Hank. Dan meminta kembali sepeda bocah itu.
William kembali sambil membawa sepeda Hank. Hank gembira sekali melihat sepedanya kembali padanya.
Sebelum berpamitan untuk pulang, Hank menghampiri Alice dan menatap gadis kecil itu dengan malu malu.
"Alice, maafkan aku." Ucapnya lirih sambil mengulurkan tangannya.
Alice masih memasang wajah tak suka, masih menatap pada Hank. Takut, jika Hank hanya bercanda dan mengerjai dia lagi.
"Aku benar benar minta maaf padamu. Dan aku ingin berteman denganmu." Ucap Hank.
Alice dengan ragu mengulurkan tangannya membalas uluran tangan Hank.
"Nah, gitu dong! Berbaikan dan berteman. Kan enak melihatnya." Seru William dengan gembira.
__ADS_1
Lalu menaruh sepeda Hank ke bagasi mobil Emily, yang akan mengantar pulang bocah lelaki itu.