
Kevin melajukan mobilnya ke sebuah klub malam, yang berada di hotel milik keluarganya.
"Pantas saja dia terlihat begitu senang. Lelaki itu dan Marry benar benar telah berhubungan. Dan aku hanya... Aarrggg! Apa yang terjadi padaku?" Kevin mengusap usap wajahnya.
Kevin masuk ke dalam lobi dan masuk dalam lift menuju klub yang berada di lantai paling atas.
Pintu lift terbuka, dan terlihat beberapa gadis melintas sambil menatap Kevin, menggodanya. Kevin hanya tersenyum sinis, lalu melenggang masuk ke dalam klub.
Terdengar DJ berteriak menyapa pengunjung yang sedang bergoyang menikmati hentakan suara musik.
Lampu warna warni bergoyang seakan mengikuti dentuman suara musik. Kevin menuju ke bar yang ada di sudut klub.
Bartender yang mengenal Kevin langsung tersenyum menyambutnya.
"Lama nggak kelihatan?" Tanyanya sambil meracik minuman pelanggan lain.
"Sedang sibuk. Buatkan aku seperti biasa!" Pinta Kevin.
Bartender tadi mengangguk, dan tak lama pesanan Kevin sudah ada di depannya.
Kevin menyesap perlahan minuman yang dipesannya. Tentu saja bukan susu atau es jeruk. Tapi minuman beralkohol racikan bartender khas tempat hiburan.
"Mengapa aku tak bisa menghilangkan dia di pikiranku? Mengapa aku menjadi seperti ini? Marry, Marry, dan Marry. Kenapa wajahnya yang selalu ada di kepalaku? Huh...!" Rutuk Kevin dalam hati sambil meneguk hingga habis minuman dalam gelasnya.
Lagi, lagi, dan lagi. Kevin berkali kali menyodorkan gelasnya meminta isi ulang.
Hingga tubuhnya terasa ringan dan tak bisa berpikir apa apa.
*
*
"Kev... Bos... Apakah kamu sudah siap untuk hari ini?" Panggil Joe setengah berteriak saat memasuki apartemen Kevin.
"Bos... Hai Kevin? Kamu masih tidur?" Joe masuk ke kamar Kevin.
"Hai, Bos, jangan katakan kamu usai berpesta di saat kita akan..." Joe menatap dengan tatapan bingung.
Ternyata kosong, Kevin tak ada di kamarnya.
Hari ini adalah hari yang sangat penting bagi perusahaan Kevin. Joe telah mempersiapkan semuanya dengan baik. Namun, dirinya menjadi sangat khawatir, saat tiba di kediaman Kevin dan tak menemukan bosnya ada di sana.
Dia melihat boneka kuda pony milik Alice ada di sofa apartemen. Dia teringat ucapan Ben kemarin, jika Alice menghabiskan weekend bersama Kevin.
Joe menjadi sangat gusar.
__ADS_1
Presentasi produk dengan pihak angkatan laut negara tinggal tiga puluh menit lagi. Meski bahan presentasi sudah siap. Namun, Kevin yang menghilang membuatnya cemas.
Berkali-kali mencoba menghubungi ponsel Kevin, hasilnya tak ada jawaban, dan masuk ke pesan suara.
"Jangan jangan dia bersama Marry?" Tebak Joe.
Joe termenung sejenak, mempertimbangkan apa yang akan dilakukan selanjutnya.
Tiba tiba ponselnya berdering.
"Ya, halo?"
"Joe, ini Tim. Kevin ada di bar dalam keadaan mabuk berat. Apa yang harus aku lakukan?" Ucap Tim, manager klub malam di hotel.
"Hah? Apa? Kevin di sana?" Joe terbelalak. Kepalanya mendadak pusing dan jantungnya mau copot.
"Apa yang Kevin pikirkan? Hari ini adalah hari yang sangat sangat penting. Profesionalisme dalam bekerja harus ditunjukkan. Tapi, Kevin menghabiskan malam dengan mabuk di klub, dan pagi ini masih di sana? Gila! Habis karir kita jika seperti ini Kev!" Maki Joe dalam hati.
"Halo? Joe? Apa kamu masih di sana?"
"Oh, hai. Ya. Begini saja, suruhlah sopir untuk membawa Kevin pulang ke apartemen. Dan tolong jangan katakan semua ini pada Tuan dan Nyonya." Pinta Joe.
"Oke, Joe. Terima kasih."
Akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Emily.
"Hai, Em!" Ucap Joe saat panggilan terjawab.
"Hai, Joe, ada apa pagi pagi menghubungiku?"
"Em, maaf aku mengganggu. Tapi, saat Ini sedang dalam kondisi darurat." Sahut Joe lirih.
"Apa yang terjadi, Joe?" Emily mulai menangkap adanya ketidakberesan pada perusahaan Kevin
"Hari ini adalah hari presentasi dengan pihak angkatan laut Nasional. Dan penanda tanganan beberapa surat perjanjian kerja. Harusnya Kevin sudah tiba, tapi.." Joe terdiam tidak berani melanjutkan ucapannya.
"Ada apa Joe?" Desak Emily.
"Em, Kevin saat ini masih terkapar di bar klub. Dia mabuk berat. Dan, aku telah meminta sopir untuk mengantar Kevin kembali."
"Astaga! Sungguhkah?"
"Benar Em, saat ini aku sangat sangat membutuhkan dirimu untuk memimpin meeting bersama para petinggi itu. Tolong Em. Dan saku harap Tuan dan Nyonya tidak mengetahui hal ini. Ini benar-benar akan menghancurkan reputasi Kevin dan perusahaan yang dia bangun ini." Tukas Joe dengan nada memelas.
Terdengar Emily mengehela napas berat dan terdengar dengusan dalam napasnya.
__ADS_1
"Baiklah, pukul berapa meeting nya?"
"Sekitar lima belas menit lagi." Jawab Joe sambil menelan ludah.
"Joe..!!???" Pekik Emily, yang kini terdengar panik.
"Em.. tenanglah! Aku dan Kim sudah menyiapkan semuanya di kantor. Kamu cukup memimpin jalannya rapat. Bagian marketing yang akan mempresentasikan semua ya." Ucap Joe, menenangkan Emily.
*
Dengan segala kejadian di pagi hari yang mengejutkan. Akhirnya setelah meeting berlangsung selama kurang lebih dua jam. Pihak Angkatan Laut menyetujui penggunaan teknologi untuk kapal perang dan kapal selam dari Mars Company.
Pihak pemerintah menunjuk firma hukum ternama untuk mengurus surat-surat perjanjian kerja mereka.
Emily sana Joe menghela napas lega sambil masuk ke ruang kerja Kevin.
"Tolong jelaskan apa yang terjadi?" Sergah Emily.
"Aku sungguh tak tahu, Em. Kevin memberi aku ijin weekend ini. Dan ternyata Kevin menghabiskan waktunya bersama Alice." Sahut Joe.
"Alice?" Emily memicingkan matanya.
Joe terdiam sejenak. Dan menyadari bahwa dirinya keceplosan. Dia memejamkan matanya sejenak lalu nyengie sambil menatap Emily yang masih menatap tajam padanya meminta penjelasan lebih.
Mau tidak mau, Joe membuka cerita tentang Alice dan Kevin. Tentang kedatangan Alice yang tiba tiba dan mengaku sebagai putri Kevin.
Kevin bukannya menyangkal dan menjauhi, tetapi malah tetap berhubungan dan makin dekat. Kevin seolah memperlakukan Alive seperti putrinya sendiri.
"Tunggu! Apakah yang kamu ceritakan ini adalah Alice putri Marry?" Tanya Emily penuh selidik.
"Ya." Jawab Joe.
Emily langsung membulatkan bola matanya menatap Joe.
"Jadi sambungan telepon dari sekolah yang dulu itu, adalah urusan Alice ?"
"Ya, saat gadis itu bekelahi di sekolah. Aku kemudian yang mengurusnya." Sahut Joe.
"Sungguh itu putri Kevin?" Emily penasaran.
"Aku juga tidak tahu. Tapi Marry tidak pernah mengatakan siapa ayah anak itu." Terang Joe.
"Sepertinya dia anak yang baik. Maksudku aku bertemu saat si rumah sakit kemarin. Lalu Marry sana Alice juga terlihat sopan. Aku senang dengan Marry dan Alice." Cerocos Emily.
"Emily, sungguh aku berterima kasih sekali padamu. Sungguh aku tak tahu harus berbuat apa, tanpa adanya kamu." Ucap Joe dengan tulus.
__ADS_1