
Alice menuju meja aneka kue. Gadis kecil itu menatap aneka kue yang terpanjang di meja dengan tatapan menginginkan semuanya.
"Kamu mau yang mana?" Tanya Emily di samping Alice.
"Aku ingin kue cokelat dan yang stroberi itu, Bibi dokter." Tunjuk Alice dengan suara riangnya.
Emily mengambilkan kue permintaan Alice, lalu memberikan pada gadis kecil itu, yang ternyata keponakannya.
"Silahkan, anak cantik." Ucap Emily.
"Terima kasih, Bibi dokter!" Sahut Alice riang sambil menerima piring kecil berisi kue yang dia inginkan.
"Astaga, Alice! Mama mencarimu kemana mana." Seru Marry sambil berjalan tergesa-gesa menuju ke arah Alice dan Emily.
"Hmmm.... Untung ada Nona Emily di sini yang membantumu. Jangan jauh jauh. Di dekat Paman Will, atau Nona Emily, Joe, atau Kevin. Mama tidak mau kamu tidak terlihat dari pandangan Mama." Tukas Marry sambil menunjuk dan menatap tajam ke arah Alice.
"Baik, Ma." Sahut Alice lirih, sambil melirik pada Emily. Emily tersenyum geli menyaksikannya.
"Terima kasih banyak Nona Emily..."
"Panggil aku Emily saja, tanpa embel-embel Nona. Terdengar lucu." Sela Emily sambil tersenyum.
"Terima kasih, Nona... Eh, Emily. Maaf aku jadi merepotkanmu. Jika kerepotan menjaga Alice, titipkan saja pada Will. Ben dan Sophie hanya bisa datang ke acara resepsi, karena memiliki bayi. Kasihan Nana jika harus mengasuh dia anak, jika ditinggal bersamanya semua." Ucap Marry yang merasa tak enak.
"Ya, kamu tenang saja. Aku akan menjaganya dengan baik." Sahut Emily sambil menepuk bahu Marry.
Terdengar suara memanggil Marry dari walkie talkie.
"Maaf, Em, aku harus bekerja kembali."
Emily tersenyum.
"Sayang, jangan nakal dan turuti Bibi Emily!" Sebelum pergi, Marry menghampiri Alice kembali dan mengecup kening putrinya tersebut.
*
Marry menghela napas lega, usai mengatasi masalah kehabisan minuman. Pasokan minuman tiba tepat waktu, saat nampan terakhir keluar dari dapur.
Marry mengambil segelas minuman, dan meneguknya.
"Kamu terlihat lelah!" Ucap seseorang tepat di belakangnya.
"Astaga!" Marry terkejut, dan terlonjak. Saat menoleh, tepat di hadapan telah berdiri Justin. Tubuh Marry, sangat sangat dekat dengan Justin kini.
Sejenak Marry masih terpaku sambil menatap Justin yang juga menatapnya.
"Marry, mengapa kamu menghindariku?" Tanya Justin.
"Aku tidak menghindarimu. Aku sibuk bekerja, jadi tak ada waktu." Sahut Marry sambil hendak berlalu.
Tap!
Justin menangkap lengan Marry yang hendak pergi berlalu dari hadapannya.
"Marry, aku masih menunggumu. Mengapa kamu tidak pernah datang lagi? Aku mencintaimu, Marry." Justin berkata lirih dengan suara yang terdengar sungguh sungguh.
__ADS_1
"Justin, aku tidak mau menyakiti hatimu lagi. Kembalilah pada tunanganmu! Lupakan aku Justin." Sahut Marry sambil menepis pegangan Justin.
Namun, Justin masih enggan melepasnya. Hingga memaksa Marry menatapnya.
"Tolong lepaskan aku, aku hendak bekerja kembali."
Di kejauhan Mia berjalan menuju ke arah Justin dan Marry.
Justin merenggangkan pegangannya, dan Marry segera berlalu meninggalkan Justin.
Marry berjalan tergesa-gesa, menjauh dari Justin dan Mia. Hatinya sedih saat ini.
Bruk!
Marry menabrak seseorang, dan orang yang ditabraknya langsung memegangi supaya Marry tidak jatuh.
Alhasil, Marry saat ini dalam dekapan Kevin.
Yang Marry tabrak adalah Kevin.
Sesaat mereka berdua terdiam dalam posisi masing-masing. Mereka saling berpandangan.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan saat ini? Mengapa aku jadi grogi seperti ini?" Rutuk Marry dalam hati.
Marry cepat cepat memulihkan kesadarannya dengan mendorong pelan tubuh Kevin untuk menjauh, lalu merapikan kembali pakaiannya.
"Maaf.."
"Aku.."
Keduanya tertawa geli sejenak.
"Ada apa, kamu terlihat buru buru?" Tanya Kevin pura pura tidak tahu. Padahal sebelumnya dia telah melihat dan mengawasi saat Marry berduaan bersama Justin tadi.
"Ada panggilan dari Bob." Sahut Marry sambil berbicara dengan alat komunikasi yang terpasang pada daun telingamya.
"Maaf Kev, aku harus pergi." Ucap Marry sambil menoleh ke arah Kevin.
Kevin menjawab dengan anggukan kepala.
*
Usai resepsi pernikahan yang dihadiri oleh banyak tamu tamu, yang membuat Marry kelelahan.
Ben dan Sophie, membawa serta Alice pulang ke rumah mereka, sehingga, Marry dapat melanjutkan pekerjaan dengan tenang.
Pekerjaan belum selesai. Masih ada satu sesi lagi.
Ada jeda sekitar tiga jam untuk acara after party, yang akan diperuntukkan bagi teman dan kerabat mempelai yang usianya 20 - 45 tahun.
Marry duduk berselonjor di lorong ruangan ruangan hotel. Ia meneguk air mineral dalam botol yang dia bawa hingga habis.
Dia telah selesai berganti pakaian untuk acara terakhir ini.
Marry mengenakan dress midi, berwarna silver dengan aksen sedikit manik manik untuk kesan bling bling. Kali ini, dia agak malas mengenakan high heels untuk kakinya yang mulai terasa pegal dan lelah karena berdiri mondar-mandir seharian.
__ADS_1
Kevin menghampirinya, entah dari mana datangnya.
Kevin duduk meluruskan kakinya di samping Marry.
"Kerja yang hebat!" Puji Kevin sambil menatap Marry yang terlihat lelah.
"Terima kasih. Tapi pekerjaanku belum selesai. Masih ada satu lagi." Sahut Marry.
Ingin rasanya Kevin menarik tubuh wanita itu masuk dalam kamarnya, dan mengatakan yang sebenarnya. Tapi, Kevin sadar tidak boleh kasar seperti itu memperlakukan Marry setelah apa yang telah dia lakukan pada wanita itu.
Tiba tiba Marry menyandarkan kepalanya pada bahu Kevin.
Kevin bagai tersengat listrik ribuan volt saat bersentuhan langsung dengan Marry.
Dia membiarkan Marry bersandar pada bahunya karena dia tahu Marry sedang lelah. Dia juga tahu, Marry patah hati karena mengetahui Justin telah memiliki tunangan.
Tiba tiba alat komunikasi Marry berbunyi, menandakan pekerjaannya akan segera dimulai.
Marry berdiri, lalu memasang alat komunikasi pada daun telinganya, sambil merapikan pakaiannya, dengan cuek dia mengenakan sepatu flat untuk acara after party.
Sebelum pergi, Marry menoleh ke arah Kevin dan tersenyum. Sangat manis. Membuat Kevin hanya dapat diam mematung terpesona. Entah apa arti senyuman Marry kali ini.
*
Mia mengikuti kemana pun Justin pergi. Mia benar benar tidak melepaskan Justin dari pandangannya barang satu menit saja. Terlebih saat dia melihat Marry yang sibuk mengurus acara malam itu.
Lagu Perfect dari Ed Sheeran mengalun dinyanyikan oleh band pengiring malam itu. Membuat mempelai berdansa dengan romantis. Lalu diikuti beberapa pasang teman yang ikut berdansa bersama pasangan mereka.
Mia dan Justin juga ikut berdansa juga.
Bahkan di akhir lagu, Mia sengaja mencium bibir Justin dengan mesra dan lama.
Marry yang melihat hal itu hanya menatap saja, lalu melanjutkan pekerjaan kembali. Meski sebenarnya hatinya terasa sakit dan sedih.
Acara party pun telah dimulai. Terdengar DJ menyapa para tamu dan mulai memainkan musik yang menghentak.
Para tamu mulai bergoyang mengikuti irama.
Marry mengawasi setiap sudut dengan mata elangnya yang tajam.
Kevin menghampirinya.
"Kamu ingin menari?" Tanya Kevin sambil berteriak.
"Tidak." Sahut Marry.
"Baiklah."
Kevin berlalu menuju ke arah bar yang ada di sudut ruangan itu.
Marry mengikutinya.
Justin menatap keakraban Marry dan Kevin malam itu dengan tatapan tak suka. Namun, dia tak bisa berbuat apa-apa saya ini. Mia selalu mengikuti kemana pun dia berada.
Justin kini melihat Marry dan Kevin berada di bar sambil meneguk segelas minuman.
__ADS_1
Lalu melihat Marry dan Kevin berlalu dari tempat itu.