
"Namanya Austin. Austin Mars. Aku memilih nama itu, dengan harapan menjadi anak yang dapat menjadi pemimpin yang baik, dan berbudi luhur."
Kevin mencium kening putranya dengan sayang, lalu memberikan kembali pada Marry.
*
"Jadi kita akan pergi ke mana? Aku rasa ini bukan jalan ke apartemenmu Kev?" Marry menatap Kevin yang masih fokus menyetir.
"Lihat saja." Kevin menoleh sambil tersenyum penuh arti.
"Jangan membuatku penasaran!"
"Aku senang melihat kamu penasaran. Wajahmu terlihat semakin menggemaskan." Tawa Kevin berderai, dan semakin membuat Marry menjadi kesal.
"Kev, mengapa kita ke mari? Apa kamu sudah gila!? Kasihan Nana dan Sophie, jika aku pulang ke rumah. Aku tidak ingin merepotkan Nana yang sudah sibuk dengan anak Will dan Em. Lagi pula Liam sedang bandel bandelnya, kasihan Sophie."
Marry mulai terlihat panik saat Kevin membelokkan mobil ke kawasan tempat tinggal Sophie.
Kevin hanya menyeringai lebar dan jahil melihat Marry yang semakin bingung.
Kevin membelokkan mobil masuk ke sebuah halaman rumah yang paling besar di kawasan itu.
Rumah itu, adalah milik seorang nenek, yang baik. Marry mengenal nenek itu, dan dia telah meninggal.
"Kev, mengapa kita berhenti di sini?" Marry menatap sekeliling rumah itu dari dalam mobil.
"Ini rumah kita." Sahut Kevin sambil tersenyum lebar.
Marry terbelalak, terkejut, dan menatap Kevin tak percaya.
Kali ini Marry tak bisa berkata apa apa lagi. Marry sungguh, tak menyangka dapat kembali ke kawasan tempat tinggalnya lagi, dapat hidup berdampingan lagi dengan orang-orang yang dikasihinya.
"Bagaimana mungkin?"
"Semuanya bisa menjadi kenyataan, jika kita berusaha, Marry. Aku memikirkan masa depan kita, keluarga kita, dan anak anak kita. Tidak mungkin anak anak dapat bermain dengan bebas dalam apartemen. Kalau pun. Mungkin, dia tak akan sebebas, jika bermain di alam langsung. Dan aku menemukan rumah ini dijual, dan aku membelinya. Merenovasi sedikit, dan finishing diatur oleh Joe. Aku telah memikirkan semuanya, untuk keluarga. Aku ingin menikmati hidup dengan bahagia bersama keluargamu tercinta. Ini sebagai hadiah untukmu."
Ucap Kevin sambil mengecup bibir Marry dengan mesra.
Marry langsung memeluk Kevin dengan erat.
"Terima kasih, Kev. Sungguh aku tak pernah menyangka akan seperti ini." Bisik Marry.
"Ya. Ayo kita masuk ke dalam rumah." Ajak Kevin.
Dua orang pelayan menyambut kedatangan mereka, dan membantu membawakan barang barang.
Marry menggendong Austin, dan Kevin membimbing Marry masuk ke dalam rumah.
"Selamat datang di rumah!"
Terdengar suara menyambut kedatangan Marry dan Kevin, serta bayi Austin.
__ADS_1
Sophie, Ben, Liam, Nana, Emily, Willian, serta bayi mereka, Joe dan Olivia menyambut dengan gembira.
"Wah... Kalian memberi sambutan kejutan bagiku! Terima kasih!" Ucap Marry sambil memeluk mereka satu per satu.
"Aku senang kamu dapat melahirkan dengan selamat. Dan aku telah mendapatkan empat orang cicit." Ucap Nana saat memeluk Marry.
Nana menatap bayi Austin, lalu menggendongnya. Bayi Austin tertidur lelap dalam gendongan Nana.
"Wah, Austin pasti akan senang tinggal di sini! Di sini dia akan memiliki banyak saudara dan teman." Celetuk Sophie.
Liam, putra Sophie dan Ben, berusaha meraih bayi Austin seakan mengajaknya bermain.
"Ya. Di sini memang sangat nyaman. Aku pun senang bisa tinggal di lingkungan ini." Cetus Emily.
*
Keesokan hari, Kevin menjemput Nenek Max untuk tinggal sementara di rumah baru.
"Astaga, cucuku! Kamu telah melahirkan bayi laki-laki yang sangat tampan. Wajahnya adalah wajah Kevin, namun dia memiliki senyum manisnya."
Ucap Nenek Max saat menggendong bayi Austin.
"Lihatlah, bayi Natasha ini! Dia juga memiliki wajah keluarga Mars. Kalian melaurga Mars memiliki garis wajah yang tegas." Celetuk Nana sambil menggendong dan menjemur bayi Natasha, putri William dan Emily.
Kedua nenek itu saling mengobrol sembari menjemur bayi cucu mereka.
Suasana bahagia menyelimuti keluarga Marry dan Kevin saat ini.
Marry dan Emily yang juga datang duduk bergabung di sana juga.
"Ya, Bibi Tracy. Ada apa Nek?" Sela Emily.
"Katanya dia akan mampir menemui aku. Karena dia ada pekerjaan di sini."
Cerita Nenek Max.
"Apa Nenek mengatakan, bahwa sedang tinggal sementara di tempatku?" Tanya Kevin.
"Nenek belum mengatakan. Tapi, biasanya, Bibi Tracy akan menemuiku setelah pekerjaannya selesai."
"Sepertinya aku tahu, Bibi Tracy mengerjakan apa. Beberapa bulan lalu pihak pemerintah menandatangani penelitian sebuah serum untuk pengobatan HIV, dan aku melihat nama Bibi Tracy adalah salah satu perwakilan dokter peneliti dari Eropa yang akan datang untuk membantu penelitian proyek serum ini." Tukas Emily.
"Aku akan menghubungi Tracy dan mengatakan bahwa aku ada di tempat Kevin."
Ujar Nenek Max kemudian.
"Apakah kamu tidak keberatan, Kev, jika Bibi Tracy mu datang kemari?" Tanya Nenek Max.
"Tentu saja tidak, Nek. Lagi pula, aku akan sangat senang menyambut kedatangan bibi yang sudah lama tak pernah bertemu." Jawab Kevin.
Namun, di balik suara riang Kevin, Marry merasa ada sesuatu yang ditutupi oleh Kevin saat ini.
__ADS_1
Marry melihat raut wajah Kevin agak berubah, saat nama Bibi Tracy disebut. Dan beberapa kali Emily melirik pada Kevin melihat reaksinya, saat menjelaskan tentang acara penelitian tadi pada Nenek Max.
*
Olivia termangu sejenak di depan pintu apartemennya. Lalu dia menoleh ke arah pintu kamar di seberangnya, yang tak lain dan tak bukan adalah kamar Joe.
Sepekan terakhir, usai Marry melahirkan, dan mereka pindah rumah. Joe seakan dua kali lebih sibuk. Bahkan Olivia pun tak tahu Joe sudah pulang atau belum.
Dia hanya bertemu saat Joe mengantar Alice pergi ke sekolah saja. Dan saat malam, mereka tidak pernah berjumpa. Olivia merindukan Joe.
Olivia lalu masuk ke dalam kamarnya, dan menutup pintunya.
Tepat saat pintu hendak tertutup, sebuah tangan menahan pintu, dan sedikit mendorongnya.
Olivia sontak terkejut dan bersiap untuk berteriak.
"Astaga Joe!" Pekik Olivia yang akhirnya berteriak menyebut nama Joe karena kaget.
Joe terkekeh sejenak.
"Kenapa mengagetkan aku?" Tanya Olivia.
"Itu tujuanku! Aku merindukanmu."
Joe menutup pintu kamar Olivia, dan kini bibir mereka telah saling bertaut.
Joe membimbing Olivia untuk duduk di sofa, dan kini Olivia telah berada di pangkuan Joe, dan mereka saling meluapkan rasa rindu yang tertahan beberapa saat.
Mereka saling membimbing dan pakaian mereka sudah terlepas satu persatu. Joe dan Olivia saling berteriak dan melenguh, keduanya merengkuh nikmat duniawi.
Joe memompa miliknya pada goa sempit milik Olivia, yang membuat wanita itu merintih meminta lebih.
Joe mempercepat gerakannya, membuat Olivia makin menggila, menikmati setiap getaran yang merasuki miliknya.
Dan pada akhirnya keduanya saling memegang, berpelukan, dan berteriak. Peluh membasahi tubuh keduanya, dan menyatu satu sama lain.
Olivia menyandarkan kepalanya pada dada Joe.
"Aku mencintaimu, Joe?" Ucap Olivia.
"Aku tahu. Dan aku pun mencintai lebih!" Kali ini Joe menciumi wajah Olivia hingga wanita itu mengelak karena geli terkena jambang tipis yang mulai tumbuh di pipi Joe.
Keduanya saling bertatapan.
"Liv, aku akan pindah."
Ucapan Joe sontak membuat Olivia terkejut, dan menegakkan punggungnya, lalu menatap tajam ke arah lelaki di sampingnya itu.
"Apa maksudmu?"
"Aku akan pindah dari apartemen ini." Ucap Joe lirih.
__ADS_1
"Kamu mau kemana?"