Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Pernikahan Terence dan Claire


__ADS_3

Marry dan Bob terlihat mondar mandir sambil berbicara lewat walkie talkie yang terpasang di telinga mereka.


Bob berulang kali menuju ke arah pos makanan, lalu menuju ke arah tempat resepsi. Sedangkan Marry, memeriksa kesiapan altar pernikahan dan segala sesuatunya di sana.


Pesta pernikahan Terence dan Claire diadakan dalam dua kali pesta. Yang pertama usai peresmian, akan diadakan jamuan untuk para keluarga dan teman dekat dengan konsep outdoor di salah satu hotel milik keluarga Mars.


Lalu setelah itu acara resepsi pada sore hingga malam hari, di lakukan di dalam gedung aula hotel yang luas. Kali ini mereka lebih banyak mengundang para tamu untuk acara resepsi.


Setelah itu, akan di adakan after party, yang diikuti oleh teman teman Terence dan Claire.


Para bridesmaids dan groomsmen telah bersiap siap di atas altar. Terence berjalan menuju altar.


Terence mempercayakan Justin untuk membawakan cincin perkawinannya. Dia telah menganggap Justin adalah sahabat dan saudaranya. Justin sangat gembira saat dipercaya oleh Terence.


Marry menuju ruang ganti pengantin.


"Astaga, kamu cantik sekali, Sayangku!" Marry menghampiri Alice yang telah selesai dirias dan memakai pakaian penggiring pengantin.


"Kamu terlihat seperti seorang putri." Puji Marry sambil mengecup kening Alice dengan sayang.


Alice tersenyum sambil memamerkan gigi ompong nya. Marry merapikan rambut dan pakaian Alice sambil memeriksa penampilan putrinya itu.


Sungguh, dia berdecak kagum menatap putri kecilnya itu.


Marry lalu menuju kamar ganti Claire.


Tok tok!


Marry mengetuk pintu.


"Masuklah!" Sahut Claire dari dalam.


Marry membuka pintu perlahan dan melangkah masuk. Sejenak Marry terpesona akan penampilan Claire yang terlihat luar biasa.


Marry menahan napas karena kagum menatap Claire.


"Kamu sudah siap, Claire?" Tanya Marry.


Claire tersenyum sambil mengangguk.

__ADS_1


"Aku akan panggil Tuan Jones." Ucap Marry sambil membalikkan tubuhnya hendak berlalu dari ruangan itu.


"Marry!" Panggil Claire. Marry kembali menoleh ke arah Claire.


"Ada apa?"


Claire terdiam sejenak.


"Dulu, kita punya impian di pondok danau itu untuk menikah bersamaan. Aku dan Terence. Lalu kamu dan Justin. Tapi, kenyataannya, aku lebih dahulu menikah dengan Terence. Sedangkan, kamu..." Claire menatap Marry dengan penuh simpati.


Marry mendekati Claire, dan menepuk pundaknya.


"Sudahlah. Aku percaya Tuhan akan memberi yang terbaik untukku. Jika tidak bersama Justin, aku juga tak akan memaksakan diriku. Aku tahu, Mia ada di sini juga. Dia mendampingi Justin, dan mungkin dia yang terbaik untuk Justin. Bukan aku." Kata kata itu mengalun lancar dari mulut Marry. Entah kekuatan apa yang bisa membuatnya berucap seperti itu. Dia pun sedikit terkejut dengan ucapannya sendiri.


"Kamu pasti akan dapat yang terbaik. Dan kamu berhak untuk bahagia, Marry!" Claire memeluk Marry. Marry membalas pelukan Claire.


Marry merenggangkan pelukannya, dan menatap Claire. Marry mengusap sedikit air mata yang ada di ujung mata Claire. Lalu merapikan tudung kepalanya.


"Kamu sangat cantik sekali Claire. Selamat berbahagia!" Marry tersenyum, lalu keluar untuk memanggil ayah Claire untuk mengantar putrinya menuju altar pernikahan.


Marry berlari kecil menuju ke altar untuk bergabung dengan teman teman Bridesmaids yang lain. Marry tetap fokus menatap lorong.


Justin melihat Marry sibuk berbicara melalui mic yang terpasang di telinganya sambil menatap ke arah belakang tamu.


Tak lama terdengar lagu khas pernikahan mengalun, diikuti langkah kecil Alice sambil menabur bunga, lalu Claire berjalan bersama ayahnya.


Semua tamu berdiri saat mereka berjalan menuju altar.


Wajah Terence terlihat bahagian. Tersungging senyum di bibirnya. Marry tersenyum menyaksikan kebahagiaan sahabat sahabatnya itu.


Tak sengaja dia melihat Justin menatap dirinya. Marry hanya diam, tak bereaksi apa apa. Dia tahu, setiap gerak geriknya saat ini, akan menjadi perhatian dari Mia, tunangan Justin yang duduk bersama tamu di bawah sana.


Usai melaksanakan tugasnya sebagai anak pengiring pengantin, Alice melambaikan tangan pada Marry, memberi isyarat, jika dia mengambil tempat duduk di dekat Kevin. Marry hanya bisa mengangguk.


Dia tak bisa melarang dan berdebat dengan putrinya dengan kondisi saat ini.


Justin memperhatikan setiap gerak gerik Marry yang berkomunikasi dengan Alice.


Justin terlihat heran dan penasaran. Justin bertambah heran saat gadis kecil tadi duduk di samping Kevin dengan tenang. Dia melihat Marry terlihat tidak suka saat gadis kecil itu duduk di sana.

__ADS_1


Justin penasaran, dia berniat akan menanyakan hal itu nanti, usai acara.


Usai pengucapan janji setia sehidup semati di depan pemuka agama, saksi, keluarga, dan teman teman. Tibalah saatnya menyematkan cincin perkawinan.


Justin maju, mendekati Terence, dan menyodorkan kotak yang berisi cincin perkawinan.


Terence dan Claire bergantian menyematkan cincin gelang di jari manis pasangan. Lalu doa mengalun dari pemuka agama. Dan pernikahan mereka akhirnya sah. Lalu pengantin boleh saling berciuman.


Sorak sorak dan tepuk tangan riuh mengiringi Terence dan Claire saat wedding kiss.


"Papa, aku ingin papa seperti itu dengan mamaku." Bisik Alice di telinganya Kevin.


Kevin hanya tersenyum, lalu menatap Marry yang juga tengah mengawasi Alice dan dirinya dengan tatapan tajam.


"Kamu ingin aku menikahi mamamu?" Kevin balik bertanya pada Alice sambil berbisik juga.


Alice menjawab dengan mengangguk kuat kuat.


Lalu Kevin memeluk Alice dan mengecup ubun kepala gadis kecil itu dengan sayang.


"Siapa gadis kecil yang sedang bersama Kevin itu?" Nyonya Vicky berbisik pada Emily sambil menunjuk Kevin dan Alice.


Emily hanya menjawab dengan menaikkan bahunya saja.


Nyonya Vicky terus mengamati Alice dengan seksama dengan rasa penasaran. Kemudian dia ingat akan gadis kecil yang memenangkan kompetisi dari perusahan Mars tempo hari adalah gadis kecil itu.


Nyonya Vicky yang menyerahkan hadiah pad Alice saat itu.


"Tapi, mengapa bisa sedekat itu dengan Kevin? Dan mata itu, senyumnya, tatapannya, mengingatkan aku pada Kevin waktu masih kecil." Gumam Nyonya Vicky dengan rasa penasaran.


Emily sengaja tidak menjawab mamanya, karena telah berjanji pada Kevin untuk merahasiakan dari keluarganya terlebih dahulu. Dan dia tidak ingin membuatnya mamanya menjadi heboh dan panik, mengetahui kebenaran tentang Kevin yang telah memiliki seorang putri, karena menghamili seorang wanita.


Emily, kakak Kevin sendiri yang melakukan pemeriksaan hasil lab untuk tes DNA antara Kevin dan Alice. Saat hasilnya keluar, Emily sangat terkejut. Namun, dia sengaja mengulang lagi tesnya. Dan hasilnya tetap sama.


Alice adalah anak kandung Kevin.


Emily tak bisa menyimpan beban rahasia itu sendirian, maka dia membaginya dengan William, yang reaksinya sangat terkejut.


William yang mengenal Marry sejak kecil, lalu menolong persalinan Marry saat melahirkan Alice, bahkan Alice sering menghabiskan waktu di rumahnya bersama Nana, neneknya William. Marry dan Alice telah dianggap seperti keluarga sendiri oleh William.

__ADS_1


Emily hanya bisa menghela napas saat Mamanya masih bergumam memperhatikan Alice dan memberikan komentarnya saat melihat kedekatan antara Kevin dan Alice.


__ADS_2