
Di dalam kamar, Kevin duduk di kursi berhadapan dengan Alice yang duduk memeluk lututnya di atas ranjang.
"Kamu mau bercerita denganku?" Tanya Kevin dengan lembut.
Alice hanya diam dan menundukkan kepalanya hingga menyentuh lututnya yang tertekuk.
Kevin memajukan kursi, dan membelai lembut rambut gadis kecil itu.
"Maaf..." Ucap Alice lirih, sambil menatap Kevin. Matanya sembab karena usai menangis.
Kevin berpindah duduk di bibir ranjang dan meraih tubuh Alice, memeluk gadis kecil itu. Tangis Alice kembali pecah dalam pelukan Kevin.
Beberapa saat Alice memuaskan tangisnya dalam dekapan Kevin. Setelah agak tenang, Alice menatap Kevin dan menyeka air matanya. Kevin membantu menyeka air mata gadis kecil itu sambil tersenyum.
"Ma-maafkan aku... Aku telah berbohong padamu... Mamaku tidak pernah menyuruhku kemari. Itu hanya keinginanku sendiri." Alice menghela napas dalam-dalam, memberi jeda.
"Tapi aku bukan penipu seperti kata Hank! Dan mamaku bukan wanita panggilan seperti kata Hank! Aku tak suka dia mengungkit mamaku!" Ucap Alice dengan geram.
"Bagaimana kamu bisa mengira aku papamu?" Tanya Kevin dengan nada senormal mungkin, sehingga tidak meninggalkan kesan menyelidik.
"Dua minggu yang lalu Bu Olivia, memberi tugas, kegiatan menyenangkan bersama keluarga saat weekend, dan harus dengan buktinya, yaitu foto. Lalu aku bertanya pada Mama, menanyakan Papaku. Dan seperti yang sudah sudah, mama selalu bilang, jika Papa ada di negara bagian lain. Dan mereka telah berpisah. Mama menceritakan, jika papaku adalah orang yang pintar, seperti diriku, membuat game. Lalu bisa membuat robot dan hal hal lain yang menakjubkan. Lalu, aku tak sengaja menemukan foto kalian di laci mamaku." Alice terdiam sejenak mengambil jeda kembali.
"Mama selama ini tidak pernah menyimpan foto bersama lelaki. Bahkan teman kencan mamaku, pun, tidak ada yang dia simpan fotonya. Namun, foto kalian yang dia simpan. Lalu aku mulai berpikir, ini foto papaku. Aku mencari profilmu di internet, dan menemukan bahwa, dirimu adalah Kevin Mars. Lalu aku mencari dirimu, dan menemukan alamat ini. Aku sengaja melakukan itu, karena mamaku sibuk bekerja akhir pekan kemarin. Dan aku ingin merasakan rasanya memiliki seorang Papa itu seperti apa." Alice menceritakan semuanya pada Kevin.
Kejujuran gadis kecil itu, membuat hatinya tersentuh. Namun, di lubuk hati yang paling dalam dia merasa lega, bahwa gadis kecil itu bukanlah putrinya.
Tok... Tok...
Joe mengetuk pintu kamar, dan mendorong pintu yang sedikit terbuka.
__ADS_1
"Alice, ada Mamamu." Ucap Joe, lalu Marry muncul dari belakang Joe.
Joe membukakan pintu lebih lebar, memberi jalan pada Marry.
Marry masuk ke kamar, dia berdiri sejenak di ambang pintu menatap Kevin yang duduk di samping Alice.
Kevin melepas tangannya dari Alice, dan berdiri membalas tatapan Marry.
Untuk pertama kalinya dia melihat Marry. Mirip seperti yang ada dalam foto yang diperlihatkan oleh Alice. Dan mirip juga dengan yang pernah ada dalam mimpi Kevin. Namun, saat ini, raut wajah Marry terlihat lelah dan kusam. Mungkin karena dari perjalanan jauh dan usai bekerja pikir Kevin.
Kevin membalikkan tubuhnya, meninggalkan kamar itu. Sebelum benar-benar keluar dari kamar dia mendekati Marry.
"Tolong jangan marah padanya." Ucapnya lirih telat di telinga Marry. Marry menoleh sedikit, terdiam.
Kevin berlalu meninggalkan Alice dan Marry dalam kamar untuk menyelesaikan masalah mereka.
"Alice. Maafkan Mama, terlalu lama meninggalkan kamu. Ayo kita pulang! Besok kita akan mencari komputer yang kamu inginkan itu. Mama sudah memiliki uang yang cukup kali ini!" Ujar Marry sambil tersenyum menatap putrinya.
Alice yang merasa bersalah pada Mamanya, memeluknya kembali, dan menangis.
"Aku tak rela Hank mengatakan Mama adalah wanita panggilan!" Ucap Alice sambil terisak dalam pelukan Marry.
"Ssttt.... Sudahlah! Bilang saja sama Hank, mulutnya cerewet seperti ibu ibu!" Ucap Marry.
Alice menatap mamanya dan tertawa.
"Iya, mulut Hank benar benar seperti ibu ibu penggosip." Ulang Alice sambil terkekeh.
Tak selang beberapa lama Marry keluar bersama Alice. Kini tas ransel Alice terlihat lebih penuh dan padat. Alice memeluk boneka kuda pony dan tumbler hadiah saat bermain di arena bermain bersama Kevin akhir pekan kemarin.
__ADS_1
Sophie yang menggendong bayinya yang tertidur, mendekati Alice dan memegang lengannya supaya ikut dengannya. Alice mengikuti bibinya.
Marry menghampiri Kevin dan menatapnya.
"Terima kasih untuk semuanya. Jika aku perlu membayar biaya selama Alice di sini, nanti bawa saja tagihannya ke kedai kopi di dekat rumah sakit milik keluargamu." Ucap Marry dengan tegas.
Kevin hanya diam, dan masih menatap Marry tanpa ekspresi.
"Dan semua yang diucapkan Alice hanya khayalannya. Lupakan saja! Selamat siang!" Tukasnya kemudian dengan tegas.
Joe hanya memperhatikan semua adegan itu, sambil terus berusaha mengingat Marry, karena dia merasa pernah melihat wajah Marry.
Marry berjalan menuju ke arah Sophie, Ben dan Alice, lalu menuntun gadis kecil itu, keluar dari apartemen mewah milik Kevin.
Kini, tinggal Kevin dan Joe di apartemen itu.
Kevin menghempaskan tubuhnya di sofa. Sementara Joe ikut duduk di sampingnya sambil menepuk bahu atasannya itu.
Kevin menghela napas lega usai Marry, Alice, Sophie, dan Ben pergi. Mereka masih duduk termenung di sofa.
"Kamu lega, Bos?" Tanya Joe.
"Entahlah!" Sahut Kevin tak yakin.
Kevin menyandarkan kepalanya pada bantalan sofa sambil menerawang.
Harusnya dia merasa sangat lega, mengetahui bahwa Alice bukan putrinya. Namun, entah mengapa, seolah ada yang hilang saat ini.
Joe hanya mengerutkan keningnya dengan heran melihat sikap aneh Kevin.
__ADS_1