
"Bagaimana Joe?" Tanya Kevin.
"Bagaimana apanya?" Joe bingung sambil menatap Kevin.
"Lihatlah rumah itu, aku telah membelinya, dan aku akan memberi kejutan pada Marry dan Alice."
Joe menatap sebuah rumah besar di depannya. Rumah modern dengan halaman depan yang luas. Berbeda dengan gaya Kevin yang selama ini menyukai hal yang simple dan praktis.
"Marry sudah tahu kamu membeli rumah?"
"Belum. Aku sengaja mempersiapkan rumah ini untuk layak huni, lalu aku akan memboyong mereka semua untuk pindah ke mari sebelum Natal."
"Wow! Keputusan yang sangat luar biasa dari seorang Kevin Mars! Kamu tak menyukai rumah besar seperti ini, bahkan kamu terang terangan keluar dari rumah sejak kita sekolah menengah, karena tak suka dengan rumah besar."
"Sejak Marry hamil, aku harus memikirkan hal yang benar untuk keluargaku. Kendungan nya yang sudah membesar, tak mungkin aku membiarkan dia tinggal di apartemen. Terlebih saat anak kami lahir besok. Apartemen tidak cocok bagi bayi."
Terang Kevin.
Joe hanya mengangguk angguk setuju.
"Bagus, lokasinya juga strategis. Dekat dengan rumah Nana, dan Sophie, juga." Joe menoleh ke arah kanan rumah itu, yang selang beberapa rumah adalah kediaman orang tua Marry, yang kini ditempati oleh Sophie.
"Aku tak sengaja melihat iklan rumah ini saat sedang mencari rumah. Ternyata tak jauh dari tempat Will, ada rumah yang di jual. Rumah ini adalah milik seorang wanita tua, yang sudah meninggal dunia sekitar lima tahun yang lalu. Lalu putrinya sempat tinggal di sini, namun, dia pindah ke Prancis karena ikut suaminya, jadi akhirnya dia jual rumah ini. Aku membeli dengan harga di bawah pasaran sebenarnya. Dia ingin cepat menjual rumah ini."
"Kamu sungguh beruntung." Ucap Kevin.
"Aku sudah bertanya tentang rumah ini pada Will, untuk mencocokkan cerita wanita itu dan Will tentang rumah ini, dan ternyata sama. Bahkan wanita itu dulu adalah teman sekolah Will."
"Will tahu, kamu membeli rumah ini?"
"Belum. Itu sebelum aku dan wanita itu bertransaksi. Aku masih mempertimbangkan, waktu itu. Aku juga mencari tahu dari beberapa tetangga mengenai rumah itu, dan hasilnya sama saja. Lalu aku memantapkan untuk membeli rumah ini."
"Bagaimana dengan Justin? Bukan kah dia tinggal di sekitar sini juga?" Joe terlihat khawatir.
Kevin tersenyum.
"Aku telah mempertimbangkan semuanya. Aku akan pekerjakan beberapa orang untuk menjaga di sini. Maksudku, bodyguard. Tapi, dia akan melakukan beberapa tugas rumah tangga."
"Seperti mata mata?"
"Ya. Kurang lebih." Sahut Kevin.
"Astaga, Kev!" Joe menaruh kedua tangan di atas kepalanya sambil geleng-geleng kepala.
"Kamu lihat rumah di depan itu?" Tunjuk Kevin pada Joe.
Joe mengikuti jari Kevin. Dan dia mengangguk mengerti.
"Kamu akan tinggal di sana."
"Apa? Kev, apa apaan kamu ini? Mengapa aku harus tinggal di sana segala?"
"Jika kamu masih di apartemen itu, terlalu jauh jaraknya. Aku harus memikirkan dirimu juga."
"Lalu Olivia?"
"Joe, sampai kapan kamu dan Olivia akan berpacaran terus? Apa lagi yang kamu tunggu? Nikahilah dia, dan ajak tinggal bersama di rumah itu. Selesai semua masalahmu." Tukas Kevin dengan tenang.
Joe terhenyak akan ucapan Kevin.
Selama ini dia memang mencintai Olivia, namun, untuk serius menikah, dirinya masih takut. Takut akan kehilangan Olivia, seperti dia kehilangan Lana dahulu.
"Apa lagi yang masih kamu pikirkan. Nikahi Olivia secara negara. Tak usah perayaan besar besaran. Seperti aku menikahi Marry di catatan sipil kemarin." Kevin memberi saran.
Joe terdiam.
Tiba tiba ponsel Kevin bergetar.
"Ya? Ada apa Alice?"
__ADS_1
"Papa, cepat kemari! Mama sakit perut dan keluar banyak darah!" Alice berbicara cepat dan panik.
Lalu panggilan terputus.
"Kenapa, Kev?"
"Marry!"
Joe segera menuju ke mobil, dan Kevin segera masuk dan duduk di samping Joe yang mengemudi dengan kecepatan penuh menuju apartemen Kevin.
Kevin berlari menuju ruangannya, diikuti oleh Joe.
Ting Tong !
Kevin menunggu tak sampai lima detik, pintu segera terbuka.
"Papa! Mama di sana!" Tunjuk Alice sambil masuk ke ruang dapur.
Marry terduduk di lantai dapur sambil memegang perutnya, sambil menahan rasa sakit.
"Marry, kamu tidak apa apa?" Tanya Kevin khawatir.
"Kev, sepertinya aku akan melahirkan." Ucap Marry lirih.
"Bukannya masih bulan depan jadwalnya?" Kevin terhenyak.
"Ketubanku telah pecah." Sahut Marry sambil mencengkram bahu Kevin.
Kevin segera membopong tubuh Marry.
"Alice, kamu ambil tas Mama, yang ada di kamar." Instruksi Kevin.
Alice segera berlari ke kamar utama, dan keluar sambil menenteng sebuah tas besar. Joe segera menghampiri dan membantu Alice membawakan tas itu.
Mereka bergegas ke garasi, dan menuju sebuah mobil dan menuju ke rumah sakit.
*
"Apakah Marry akan melahirkan?"
"Sepertinya begitu Will."
Pintu ruang bersalin terbuka, seorang bidan mendekat ke arah mereka.
"Bagaimana, Marry?" Tanya Will.
"Tuan Mars, anda bisa masuk dan menemani istri anda selama proses persalinan." Ucap bidan itu.
Kevin menoleh ke arah Alice dan Joe.
"Tenanglah, Kev. Alice aman bersamaku." Sahut Joe sembari menepuk punggung sahabatnya itu.
Alice mengangguk menatap Kevin.
Kevin bergegas mengikuti bidan itu masuk ke dalam ruang bersalin.
Lalu dia memakai pakaian khusus. Bidan itu membimbing Kevin masuk ke sebuah ruangan.
Terlihat Marry berbaring dengan kesakitan.
Seorang perawat mendampinginya sambil membimbing untuk mengambil napas dan menghembuskan perlahan.
"Sayang! Kamu akan baik baik saja. Aku akan menemanimu." Bisik Kevin memberi dukungan.
Kevin meraih tangan Marry dan mengusap lembut punggung tangannya.
"Aaahhhh.... Sakit...!" Marry terduduk sambil memegang perutnya.
"Ibu bisa berjalan-jalan jika mau untuk mengurangi rasa sakit."
__ADS_1
Saran bidan yang menjaga Marry.
Marry mengangguk pelan, dan mencoba untuk berdiri.
Lalu dia duduk bada sebuah gymball dan menggerakkan pinggulnya sambil duduk di atasnya. Marry berkali kali menghela napas dan menghembuskan perlahan.
"Bu, apakah tidak ada cara lain untuk mengurangi rasa sakitnya? Operasi mungkin." Celetuk Kevin, yang tak tahan melihat Marry menahan sakit dengan keringat yang sebesar biji jagung itu.
"Kami akan mengusahakan yang terbaik dalam setiap persalinan, Pak. Memang seperti ini proses persalinan."
"Berapa lama prosesnya?"
"Tidak tentu. Bisa cepat bisa lama. Ibu Marry sudah bukaan lima, dan dia sedang dalam proses membuka jalan untuk janin keluar."
"Bukaan? Bukaan apa?"
"Pembukaan adalah proses membukanya leher rahim atau serviks per sentimeter sebagai jalur lahir bayi saat persalinan atau melahirkan. Pembukaan biasanya selalu dialami oleh ibu yang akan melahirkan secara normal." Terang bidan yang membantu menangani persalinan Marry.
"Jadi, rasa sakit yang dialami oleh istri saya ini normal?"
"Benar, Pak."
"Lalu dokter yang menanganinya?"
"Dokter sebentar lagi akan datang. Kami sudah melaporkan bahwa Ibu Marry sedang mengalami kontraksi, dan sedang mengalami proses pembukaan. Kami akan terus mengabarkan pada dokter setiap perkembangannya hingga dia tiba." Lanjut bidan itu.
Kevin terdiam sambil mengangguk mengerti. Lalu menoleh ke arah Marry yang masih berusaha mengatasi rasa sakit saat kontraksi.
Kevin mendekati Marry.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Aku mulai menikmati setiap gelombang cinta yang mulai terasa ini, Kev."
Sahut Marry sambil meringis.
"Aku akan menunggumu."
"Bagaimana Alice?"
"Dia dan Joe ada di luar."
"Sebaiknya, suruh pulang saja, kasihan jika menunggu lama. Antar ke rumah Sophie saja." Ucap Marry.
"Baiklah aku akan keluar sebentar."
"Sampaikan salam sayangku untuk Alice."
Kevin mengangguk.
*
"Kev... Kevin...!" Teriak Marry.
"Ya!"
"Sepertinya semakin cepat kontraksinya."
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Tolong panggilkan bidan atau perawat!" Marry berusaha menahan rasa sakitnya.
"Aduuhh... Duh...!" Keringat mengucur dari dari Marry.
Kevin kembali bersama perawat, lalu perawat itu membimbing Marry untuk berbaring di ranjang.
Tak lama bidan dan dokter tiba, dan mengecek Marry.
"Aaahhh...!"
__ADS_1
"Tolong tahan ya, Bu. Jangan mengejan tanpa instruksi saya!" Ucap dokter.