Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Apa aku jatuh cinta?


__ADS_3

Kevin mengajak Marry menuju sebuah kafe di dekat apartemen Marry.


Kevin dan Marry memesan secangkir kopi.


"Bagaimana kamu dapat memiliki fotoku?" Tanya Kevin sesaat mereka berdua duduk di kursi.


Marry terdiam dan tersenyum sinis.


"Tidak penting untukmu? Banyak gadis gadis lain yang memiliki foto denganmu, bahkan dengan pose panas mereka di ranjang, kamu tak pernah tanyakan." Tukas Marry sambil menyesap kopinya.


Kevin tersenyum.


"Mengapa tersenyum?" Tanya Marry sambil mengerutkan keningnya.


"Kamu terlihat cantik." Kevin menatap Marry lekat lekat.


Seketika Marry menelan ludahnya. Jantungnya berdetak dua kali lebih kencang, dan tatapan Kevin seolah menelanjangi dirinya.


Sejenak Marry terdiam, mereka saling beradu pandang, tenggelam dalam pikiran masing masing. Marry membasahi bibirnya dan berusaha mengendalikan dirinya sendiri.


"Terima kasih." Sahut Marry, sambil buru buru mengalihkan pandangannya.


Kevin semakin geli melihat tingkah Marry. Entahlah, dia mulai merasa wanita di hadapannya ini berbeda dengan yang pernah dia kenal sebelumnya.


Marry memang tidak seseksi Brenda, atau Mila, atau Vanya, dan gadis gadis lain yang pernah bersamanya. Kevin yang selalu menilai wanita dari penampilan dan telah memiliki standar tersendiri terhadap wanita.


Namun, setelah bertemu dengan Alice dan Marry. Kevin merasa penilaiannya terhadap wanita ternyata salah selama ini.


Marry memiliki wajah yang cantik, tubuhnya tidak seseksi seperti wanita yang pernah dikencaninya. Namun, melihat Marry menggendong Alice, atau saat bercanda dengan Alice, Marry terlihat sangat cantik. Aura keibuannya terpancar, dan entah mengapa Kevin menyukainya. Entah, sejak kapan perasaan itu muncul, dia pun tak pernah tahu.


"Jadi, apakah Alice putriku?" Tanya Kevin dengan nada senormal mungkin.


Marry yang tertunduk, langsung menaikan dagunya dan menatap Kevin dengan tatapan tajam.


"Bukan!" Jawab Marry singkat. Marry sengaja berbohong. Dia sama sekali tidak ingin memiliki hubungan apa pun dengan lelaki di depannya itu.


Kevin menghela napas dalam. Seharusnya itu jawaban yang melegakan untuknya, karena tidak memiliki tanggung jawab terhadap Alice. Namun, ternyata Kevin kecewa. Dia berharap Alice adalah putrinya.


"Apakah itu putri kekasihmu?" Selidik Kevin.


Marry hanya diam sejenak. Dan dia mengangguk, entah mengapa dia melakukannya. Dan Marry merasa lega, walau pun dia berbohong.


Tanpa sadar senyum tipis tersungging di sudut bibirnya, saat melihat Kevin terlihat kecewa.

__ADS_1


"Jadi, Alice akan kamu ajak ke mana?" Tanya Marry.


"Aku akan mengajaknya berkeliling museum teknologi yang ada di kantorku. Dan jika diperbolehkan lagi, kami akan menghabiskan waktu untuk bermain game setelah itu di apartemenku." Sahut Kevin.


"Apakah kamu tidak menghadiri pesta pembukaan usaha Terence?"


"Aku akan meminta Joe mewakili. Lagian orang tuaku juga sudah datang untuk menghadirinya."


"Dasar sepupu yang buruk!" Gumam Marry.


"Apa katamu?" Tanya Kevin memasang wajah pura pura tak suka.


"Kamu itu sepupu yang buruk!" Jawab Marry sambil memajukan tubuhnya.


"Terence adalah sepupu kecilku yang lucu. Aku tahu dia dulu sering di-bully oleh teman temannya. Aku sangat terkejut saat dia memiliki kekasih Claire, yang cantik itu. Dan kaya." Ucap Kevin seolah untuk dirinya sendiri.


"Dan mereka adalah sahabatku." Imbuh Marry.


Kevin menatap padanya.


"Kamu saksi hubungan mereka?"


"Ya. Aku mengenal mereka dan tahu kedekatan mereka. Aku juga memiliki impian seperti mereka." Tukas Marry.


Marry mengingat Justin. Tiba tiba dia merindukan kekasihnya yang dulu. Marry masih mengingat di malam prom itu. Justin menunggu hingga larut malam. Marry pun datang, namun sengaja tak menemuinya. Bagaimana mungkin dia menemui Justin memakai pakaian pesta dengan perut membuncit seperti itu. Dia pun patah hati setelah itu.


Marry menerawang, menatap jalanan dari jendela kafe.


Kevin terus memperhatikan wanita di depannya. Dia tahu, Marry seperti memikirkan sesuatu. Dalam hatinya tak percaya sepenuhnya dengan pengakuan Marry, setelah melihatnya seperti ini.


"Jadi, apa kamu mengijinkan Alice untuk bersamaku weekend ini?" Tanya Kevin, membuyarkan lamunan Marry.


"Ya. Baiklah. Nanti akan aku siapkan semua keperluan Alice. Dan sebelumnya, aku meminta maaf jika dia merepotkanmu. Dan aku berharap kamu bisa mengantar pulang sore hari, supaya Senin dapat bersekolah kembali." Sahut Marry.


"Baik. Terima kasih. Alice tidak pernah merepotkanku. Dia adalah teman bermain game yang seru! Dan kamu tidak perlu khawatir. Aku akan menjaga dan merawatnya besok. Aku janji akan mengantar tepat sore hari." Jawab Kevin sambil tersenyum.


"Apa yang mengubah Kamu? Kevin bersama anak kecil? Pasti akan banyak gosip nantinya? Mengapa dengan wanita wanita itu? Dengan model cantik itu?" Selidik Marry.


"Brenda maksudmu?" Kevin terkekeh.


"Aku bosan dengan mereka. Sejak mengenal Alice, aku merasa hidupku lebih berwarna. Lebih menyenangkan, dan bersemangat. Dia anak yang ceria, pintar, dan tidak merepotkan. Meskipun, dia bukan putri kandungmu, namun, aku merasa memiliki ikatan batin tersendiri dengannya. Aku tak tahu bagaimana cara menjelaskannya. Namun, aku bisa merasakannya dengan jelas." Tutur Kevin.


Marry tersenyum mendengar penuturan Kevin.

__ADS_1


"Sebaiknya kita harus kembali, hari mulai larut malam. Kasihan, Alice aku tinggal sendiri."


Kevin dan Marry keluar dari kafe. Udara dingin berhembus hingga menusuk kulit.


Kevin melepas jasnya dan mengenakan pada Marry.


Sesaat mereka berdua terdiam dalam posisi yang sama. Itu pertama kali tubuh mereka saling bersentuhan.


Bagai tersengat aliran listrik ribuan volt, tubuh Marry seakan menegang.


Dalam pikiran Kevin, dia ingin memeluk dan mencium bibir Mary dan melakukan hal yang lebih lagi. Namun, segera ditepisnya jauh jauh pikiran nakal itu.


Kevin merapikan jadinya pada tubuh Marry, lalu kembali pada posisinya di sebelah Marry.


Mereka berdua berjalan bersebelahan, tanpa berkata-kata.


"Apa kamu pernah memiliki kekasih yang sesungguhnya?" Marry bertanya tiba tiba, dan mengejutkan Kevin.


"Oh. Hmmm...." Kevin masih berpikir mengingat kembali masa lalunya.


"Aku memiliki banyak teman dekat, namun, aku tak pernah menganggap dia sebagai kekasihku." Jawabnya kemudian.


"Lalu para wanita itu?" Tanya Marry penasaran.


"Mereka hanya hiburan saja. Dan aku sama sekali belum pernah merasakan jatuh cinta yang sesungguhnya." Kali ini Kevin mengatakan hal yang jujur pada Marry. Detik itu juga dia agak menyesal dengan pengakuannya pada Marry. Namun, sudah terlambat. Marry telah mengetahui rahasianya.


Dan benar saja, Marry seketika tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuan Kevin.


"Tidak mungkin!" Ucapnya di sela tawanya yang berderai.


Kevin tersenyum, saat melihat Marry yang tertawa lepas saat itu. Terselip rasa bahagia, saat melihat tawa di wajah Marry.


"Apa aku jatuh cinta pada wanita ini?" Tanya Kevin dalam hati.


"Kamu dengan mudah dekat dan tidur dengan banyak wanita. Masa tak ada satu pun yang bisa memikat hatimu? Bukannya beberapa kali kamu dengan model dan artis?" Tanya Marry dengan penasaran.


"Sudah aku bilang, kami hanya bersenang-senang saja. Setelah itu, bye! Kami kembali dengan kehidupan kami masing masing."


Marry kembali tertawa mendengar ucapan Kevin. Dan lagi lagi Kevin merasa bahagia melihat Marry terlihat senang saat itu.


"Kamu tidak perlu mengantarku hingga ke dalam. Terima kasih sudah mengantar, dan meminjamkan ini." Marry melepas jas milik Kevin, dan memberikan pada Kevin, saat mereka tiba di depan apartemen.


Kevin menerima jasa itu dan mengenakan kembali. Kevin mengangguk dan menatap Marry.

__ADS_1


"Terima kasih sudah mengijinkan Alice untuk menghabiskan libur bersamaku besok weekend. Terima kasih untuk makan malam yang lezat dan menemani malam ini."


Keduanya saling berpandangan.


__ADS_2