
"Mama, Papa Kevin mengajak kita berakhir pekan bersama." Ucap Alice saat mereka sedang menikmati sarapan, pagi itu.
Marry menghentikan kegiatannya membaca beberapa email tentang pekerjaan, dan menatap ke arah Alice.
"Mau mengajak ke mana?"
"Papa Kevin mengajak ke taman hiburan." Sahut Alice dengan rasa gembira.
"Alice, mama nggak bisa janji. Mama berjanji pada Nyonya Ruth untuk membantu pekerjaan akhir pekan besok."
Alice cemberut, sambil mengaduk aduk sereal dalam mangkuknya.
"Alice. Itu pekerjaan terakhir mama untuk Nyonya Ruth. Setelah itu Mama hanya fokus mengurus kedai kopi dan cupcake muffin saja. Dan kita akan punya banyak waktu setelah ini." Hibur Marry sambil tersenyum menatap Alice.
"Tapi, aku juga ingin mama ikut bersama kami. Aku ingin seperti teman-teman yang lain, mempunyai papa dan mama." Alice masih manyun.
"Sudahlah, habiskan sarapannya. Nanti kita terlambat ke sekolah." Ucap Marry sambil mengambil beberapa barang untuk dibawa ke kedainya.
Marry menaruh beberapa bahan kue ke dalam bagasi, dan menaruh tas Alice ke jok belakang.
Kevin sengaja memberikan Marry mobil untuk memudahkan Marry dalam bekerja. Mengantar jemput Alice. Untuk bekerja, atau membeli bahan untuk kedai. Atau hal hal lain untuk memudahkan hidup Marry dan Alice sebagai bentuk pertanggung jawaban dirinya.
Bahkan Kevin juga menyerahkan kartu kreditnya yang memiliki limit tanpa batas kepada Marry untuk digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau untuk berbelanja. Namun, Marry menolak dengan tegas.
"Aku sudah membuktikan, bahwa aku dan Alice tidak terlalu memerlukan uang itu. Kami masih dapat bertahan hidup dengan penghasilan yang selama ini aku peroleh." Ucap Marry
*
Marry mengecup pipi gadis kecilnya itu dengan sayang, lalu melambaikan tangannya.
"Sampai nanti, Mama!" Alice melambaikan tangannya pada Marry, lalu berlari masuk ke gedung sekolah.
Di kejauhan sepasang mata tengah memperhatikan Marry. Justin yang belum bisa menerima Marry meninggalkan dirinya untuk kedua kalinya.
Kali ini, dia bertekad untuk mencari Marry dan menuntut penjelasan.
Marry menuju ke toko serba ada untuk membeli beberapa bahan pesanan Ben untuk kedai mereka.
Saat tengah fokus memilih beberapa produk bahan makanan, Marry terkejut dengan kehadiran Justin yang telah ada di sampingnya.
Marry terlonjak dan hampir jatuh. Justin membantu menahan tubuh Marry, dan kini Marry telah ada dalam dekapan Justin.
Marry buru buru menjauh dari tubuh Justin.
"Astaga, aroma tubuh Justin benar benar menggodaku! Mengapa aku selau tak berkutik di depan lelaki ini ?! Arrgggghhh!!" Rutuk Marry dalam hati.
"Hai, apa kabar? Tumben pagi pagi sudah berada di sini?" Tanya Justin sambil tersenyum manis.
"Duh, senyumnya itu, bikin hati meleleh..." Ucap Marry dalam hati.
"Kamu ada waktu sebentar?" Tanya Justin.
Marry sejenak terdiam. Lalu dia mengangguk pelan.
"Tunggu sebentar, aku akan memilih beberapa barang lagi dan membayarnya dulu." Sahut Marry.
Justin mengangguk dan mengikuti Marry agak jauh.
__ADS_1
Justin terus menatap Marry tanpa arti. Sorot mata itu mengingat Marry pada masa masa berpacaran dengan Justin semasa remaja.
Memang tak mudah menghilangkan perasaan cinta pada seseorang. Tapi, kali ini, Marry bertekad akan melepaskan Justin.
Marry ingin menjelaskan beberapa hal pada Justin. Dia memang ingin berterus terang, bahwa dirinya telah memiliki anak. Dan Justin pasti akan memiliki masa depan yang cerah, jika bersama dengan Mia.
*
"Jadi, apa yang ingin kamu tanyakan?" Tanya Marry membuka percakapan mereka pagi itu.
Beruntung pagi itu, sebuah toko roti kenamaan telah buka kembali setelah libur di hari Minggu.
"Mengapa kamu pergi, Marry ?" Tanya Justin sambil menatap mata Marry dalam dalam.
"Maaf, aku telah meninggalkanmu. Maaf telah membuatmu patah hati." Sahut Marry lirih.
Mereka terdiam dalam jeda, pelayan restoran membawa pesanan Marry dan Justin.
"Aku ingin alasanmu untuk hal itu? Kamu tahu, Marry? Aku benar-benar masih mencintai dirimu dan akan selalu mencintaimu."
"Tapi aku tidak bisa."
"Mengapa?"
"Karena...." Marry menghela napas dalam-dalam sejenak, mengisi paru-parunya dengan banyak udara sebelum mengakui alasannya pada Justin.
"Aku telah memiliki seorang anak." Ucap Marry lirih sambil menatap ke arah Justin.
Pengakuan Marry membuat Justin melotot. " Anak?"
"Ya." Marry mengucapkan dengan jelas dan tanpa ragu.
"Tidak penting, Justin. Yang pasti dia bukan anakmu? Dan aku tidak akan mengganggumu. Reputasimu tetap aman. Dan kamu bisa bekerja dengan tenang."
Justin terdiam.
"Sudahlah, Justin. Kembalilah pada Mia. Dia gadis uang baik. Aku yakin dia setia dan akan menjadi pendamping hidup yang baik buatmu." Ucap Marry sambil tersenyum.
Dalam hatinya terasa pedih saat mengucapkan semua itu.
"Bisa aku tanya sekali lagi?" Justin membalas tatapan Marry.
"Ya?"
"Apakah dia anakku?" Tanya Justin lirih.
Marry langsung menggelengkan kepalanya.
"Bukan. Dia bukan anakmu. Aku tidak berbohong." Sahut Marry.
"Itu alasanmu meninggalkan aku?"
"Ya."
Justin menatap Marry sekali lagi. Lalu berdiri, dan berlalu meninggalkan Marry seorang diri di tempat itu.
Marry tahu, Justin bukan orang yang mudah menyerah. Dia akan tetap berusaha mencari tahu sendiri tanpa sepengetahuan Marry.
__ADS_1
Dia yakin, Justin selama ini pasti telah menyelidiki dirinya dan Alice.
*
Marry berlalu menuju kedainya dan bekerja seperti biasa.
Tiba tiba ponselnya berdering berkali kali saat dia sibuk memanggang cupcake.
Marry meraih ponselnya yang ada dalam tas. Marry mengerutkan keningnya, saat membaca nama yang tertera.
Marry menjepit dengan bahunya di telinga, sambil menyelesaikan menyiapkan bahan bahan untuk menghias cupcake.
"Ya, halo."
"Marry bisa ke rumah sakit?" Suara William terdengar cemas.
"Ada apa Will?"
"Nana terjatuh dan tak sadarkan diri."
"Astaga!" Marry langsung menghentikan kegiatannya, dan memegang dengan benar ponselnya.
"Kini dia sedang dalam penanganan khusus di rumah sakit." Ucap Will, suaranya terdengar bergetar.
"Baik, Will, aku akan ke sana."
Marry bergegas menyeberang jalan dan menuju ke ruang gawat darurat.
Pikiran Marry kacau balau.
*
"Marry!" Panggil seseorang.
Marry menoleh. Ternyata Emily yang memanggilnya.
"Bagaimana Em? Bagaimana Nana?" Marry bertanya dengan panik.
"Aku juga tidak tahu secara pasti. Aku juga baru mengetahuinya dari Will, yang mengatakan jika Nana sudah tidak boleh terlalu capek."
Will keluar dari ruang operasi, lalu menghampiri Marry dan Emily.
"Bagaimana Nana?" Tanya Marry dan Emily berbarengan.
William menghela napas sebelum mengucapkan sesuatu.
"Nana selamat." Sahut William.
Emily dan Marry saling berpandangan dan menghela napas lega.
"Sungguhkah itu, Will. Nana membaik?" Tanya Marry.
"Operasi Nana telah selesai, dan Nana akan dipindahkan ke ruang perawatan.
Marry dan Emily mengikuti perawat yang mendorong ranjang untuk memindahkan Nana.
Marry menatap Nana yang terbaring terbujur lemah di atas tempat tidur.
__ADS_1
Marry berdoa supaya Nana segera sadar dan pulih kembali.