
Saat sampai di villa, Kevin memarkir mobil di halaman. Ia menoleh ke sampingnya. Alice tertidur, karena kelelahan. Sejenak, Kevin menatap lama lama gadis kecil itu, mengelus rambutnya dengan lembut.
Kevin tak tega untuk membangunkan gadis kecil itu dari tidurnya yang terlihat sangat nyenyak.
Dia keluar dari mobil, lalu membuka pintu sebelahnya. Kevin menggendong Alice dan membawanya menuju ke villa.
Di dalam, Kevin disambut oleh seorang wanita paruh baya, yang telah mengabdi pada keluarga Mars selama puluhan tahun, mengurus villa itu, dan tinggal di pondok kecil yang terletak di halaman belakang villa.
"Selamat malam Tuan Kevin. Dan..." Sapa ya dengan terkejut.
"Ssttt... Tolong bantu bukakan kamar atas!" Perintah Kevin untuk memelankan suara, sambil berjalan menaiki tangga menuju kamar atas.
Pelayan paruh baya itu, mengikuti Kevin naik ke atas, lalu membukakan pintu kamar yang dimaksud.
Kamar itu tidak terlalu besar, Kevin biasanya menggunakan kamar itu, sewaktu dia masih kecil. Itulah mengapa dia berinisiatif menidurkan Alice di kamar itu.
Kevin menaruh Alice di ranjang, dan menutup tubuhnya gadis mungil itu dengan selimut. Menyalakan lampu tidur, dan mematikan lampu terangnya.
Kevin lalu meninggalkan kamar itu, dan menutup pintunya.
Di luar pelayan itu masih menunggu.
"Tuan, mau disiapkan apa?" Tanyanya.
"Tidak usah. Aku ingin beristirahat saja." Sahut Kevin.
"Baik, Tuan. Jika lapar, di kulkas dan ruang penyimpanan juga telah tersedia makanan dan persediaan." Terang wanita itu.
"Siapa yang menyediakan? Apakah Mama datang?"
"Nyonya tiga hari yang lalu datang mengisi bahan makanan, Minggu depan akan ada acara kecil kecilan, kata Nyonya." Jawab pelayan itu.
Kevin menganguk. Lalu dia berjalan menuju kamar di samping kamar tempat Alice tidur.
Kevin merebahkan tubuhnya yang baru terasa letih. Kevin tidur terlentang, sambil menatap langit-langit kamar. Dia mencoba mengingat kembali pesta perayaan ulang tahun ke-25 nya dulu, tepat di villa ini.
Kevin terus mencoba mengingat, namun, yang ada dalam ingatannya adalah kesenangan bersama gadis gadis penghibur yang didatangkan oleh teman temannya kala itu. Yang Kevin ingat adalah para penari striptis yang terus menggoda dirinya malam itu yang terus menyodorkan gelas berisi minuman, sehingga membuatnya mabuk.
Lama kelamaan, Kevin merasa lelah dan mulai mengantuk. Matanya terpejam dan kini, pikirannya terlah melayang layang ke alam mimpi.
Kevin melihat bayangan Alice menari nari di depannya bersama seorang wanita sambil tertawa-tawa senang.
Kevin melihat mereka dan merasa sangat senang. Kevin ingin bergabung dengan kesenangan yang terlihat di antara dua wanita beda generasi itu. Kevin perlahan mendekat, lalu tiba tiba wanita itu menatap Kevin dengan tatapan tajam.
Wanita itu mirip dengan foto gadis dalam foto yang ditunjukkan oleh Alice, foto Marry, mamanya Alice.
__ADS_1
Wanita itu masih menatap Kevin dengan tatapan tajam tak bersahabat, berbeda saat awal dia lihat tadi.
Lalu dia menggendong Alice dan berbalik tubuh, berlalu dari hadapan Kevin, masuk dalam kegelapan.
"Alice, Alice...! Alice!" Panggil Kevin, namun dua wanita itu telah benar-benar lenyap, dan kini Kevin tinggal sendiri.
Kevin menoleh ke kanan dan kiri, mencari cari Alice dan Marry, namun dia seolah terjebak di dalam sana, tak tahu hendak ke mana.
"Alice, Alice, Alice...! Huh...!" Kevin tersentak dan terbangun.
Itu hanya mimpi.
Kevin mengusap wajahnya, keringat membasahi tubuhnya. Kevin duduk dan bersandar pada sandaran tempat tidur. Mencoba mengingat kembali mimpinya tadi.
Tatapan wanita itu, seolah sangat membenci dirinya.
Kevin turun dari ranjangnya, lalu keluar dari kamarnya. Dia berhenti di depan kamar Alice, terdiam sejenak di sana.
Dia membuka pintu kamar perlahan, lalu melihat, Alice masih tidur terlelap di ranjang itu.
Kevin menutup pintu kamar itu kembali, dan turun ke lantai bawah menuju dapur.
Mengambil segelas air, meneguknya hingga habis, lalu menuju ke halaman samping, ke kolam renang.
Dinginnya air, tak terasa lagi, karena seluruh tubuh Kevin bergerak bak ikan dalam kolam. Kevin berenang beberapa kali putaran. Lalu tiba tiba dia menenggelamkan dirinya dalam air, dan menahan napasnya untuk beberapa saat dalam air hingga tak terasa lagi.
Di dalam air dia berharap dapat mengingat Marry. Namun, hingga dadanya terasa sangat penuh dengan air, dan terasa akan meledak. Tak satu pun ingatan tentang Marry tersangkut dalam pikirannya.
Kevin akhirnya naik ke atas mencari oksigen. Dengan tersengal-sengal, dia membuka matanya yang mulai memerah karena berendam terlalu lama dalam air.
Kevin mengusap wajahnya dengan tangan, lalu berenang ke tepi kolam, dan naik.
Kevin mengambil handuk yang ada dalam ruang laundry yang terletak di dekat kolam renang.
Kevin mengeringkan tubuhnya, lalu membalutnya dengan handuk. Kemudian masuk dan naik menuju kamarnya. Kevin melirik jam, ternyata pukul 3 pagi. Akhirnya Kevin masuk ke kamar mandi dan mengguyur kembali tubuhnya dengan air hangat melalui shower.
Kevin yang tak dapat tidur kembali, mengambil tab yang selau dibawanya. Dia mengutak-atik tab miliknya, lalu dia tergoda untuk melihat beberapa aplikasi permainan buatan Alice.
Kevin mengunduh permainan itu dan memainkannya. Hingga tak terasa langit mulai berubah warna.
Kevin membuka tirai jendela, hamparan pasir pantai yang terlihat dari kamar menggodanya untuk dikunjungi.
Kevin meletakkan tab dan ponselnya, lalu menuju pintu, keluar dari kamar.
Di dapur terlihat Alice sedang meminum segelas susu. Dan sudah ada Mina, pelayan rumah sedang menyiapkan roti dan membuat kopi dalam coffee maker.
__ADS_1
"Hai, kamu sudah bangun!" Sapa Kevin menghampiri ke dapur dan duduk di kursi yang ada di sana.
Mina menuangkan kopi dalam cangkir, lalu menaruh di depan Kevin.
"Terima kasih." Ucap Kevin sambil tersenyum.
"Aku tidur sangat lama sekali. Tapi aku sangat senang bisa bersama Papa." Sahut Alice.
Kevin tersenyum sambil menepuk kepala Alice lembut, lalu melirik pada Mina, yang menatap penuh keheranan pada Kevin dan Alice.
"Mau ikut ke pantai?" Tanya Kevin.
"Mau...!!" Alice mengangguk dengan mata jenaka. Di tangannya memeluk boneka kuda poni, hadiah yang didapatkan oleh Kevin semalam.
"Habiskan susunya, lalu, kamu ambil jaket. Kita akan berjalan jalan ke pantai." Instruksi Kevin.
Alice bergegas menghabiskan susunya yang tinggal setengah gelas. Lalu berlari ke atas, mengambil jaketnya.
"Tolong, jangan bilang pada Mama tentang gadis kecil itu." Ucap Kevin pada Mina.
Wanita paruh baya itu, mengangguk mengerti, lalu meneruskan pekerjaannya kembali.
*
Alice berlari kecil menyusuri pantai dengan gembira. Sorak dan tawa terdengar saat kakinya terkena ombak yang bergulung-gulung.
"Papa, lihatlah!" Serunya sambil menunjuk ke pantai di kakinya.
Kevin bergegas menghampirinya, dan melihat seekor kepiting berjalan menjauh dari kaki Alice dan masuk dalam pasir.
Mereka saling berlari dan berkejaran. Kevin menangkap dan menggendong Alice dengan rasa sayang. Lalu mereka duduk di lantai sambil melihat matahari yang mulai terbit dengan cantiknya dari ufuk timur.
Alice mengabadikan keindahan alam itu dengan video dan foto dari ponselnya.
Lalu mengambil foto selfie berdua dengan Kevin.
Setelah puas bermain di pantai, mereka kembali ke villa, dan di sana telah tersedia makanan untuk mereka santap yang telah disediakan oleh Mina.
Mereka menikmati makanan yang tersedia, lalu Alice membersihkan tubuhnya, dan sibuk dengan ponselnya, katanya ada tugas sekolah yang harus dia selesaikan.
Kevin tak ingin mengganggunya.
"Alice, nanti sore, kita pulang ya. Besok aku harus bekerja lagi, dan kamu harus segera sekolah lagi." Ucap Kevin mengingatkan Alice.
Alice mengangguk, lalu masuk ke kamar untuk mengerjakan tugasnya.
__ADS_1