
Kevin memiliki sahabat yang meninggal karena sakit?
Marry terus mengingat itu dalam kepalanya.
"Tapi, mengapa dia menjadi seperti itu? Menjadi pribadi yang liar dan menganggap wanita hanya sebagai pelampiasan dan pemuas nafsu saja?"
Marry duduk sambil meneguk air mineralnya saat berisitirahat.
"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Bob sambi menepuk bahu Marry, membuat wanita itu terlonjak kaget.
"Melamun ya? Melamun Kevin, ya!" Bob meledek Marry sambil mengedipkan sebelah matanya.
Wajah Marry menjadi panas dan merah.
"Astaga, darling! Kamu tersipu begitu! Jangan jangan kamu benar benar jatuh hati dengan Kevin Mars?!"
"Bob, tolonglah! Tidak, aku tidak seperti itu!" Elak Marry berpura pura kesal.
"Tak masalah jika menyukainya. Sebenarnya Kevin tidak seperti yang terlihat. Dia memiliki hati yang baik dan lembut apalagi terhadap wanita."
"Bagaimana kamu tahu?"
"Cara dia memperlakukan neneknya, mamanya, kakaknya, bibinya, putrimu, dan dirimu sendiri." Sahut Bob sambil menatap Marry.
"Aku?" Marry mengernyitkan dahi.
"Jangan bodoh, darling! Aku tahu dan dapat melihat dari perlakuannya terhadapmu. Dia sepertinya menyukaimu." Bob terkekeh.
Marry hanya bisa melongo dan matanya menatap tajam ke arah Bob.
"Tapi dia bersama Brenda?"
Bob makin tergelak sambil menepuk pundak Marry dan menjawil dagu wanita itu dengan gemas.
"Kamu benar benar polos sekali! Apa kamu tidak pernah dengar atau membaca gosip tentang Brenda?"
Marry menggelengkan kepalanya. Bob hanya bisa menghela napas dan menatap kasihan pada Marry.
"Brenda itu, hanyalah sekedar teman kencan!" Bob membuat tanda kutip dengan jari saat mengatakan teman kencan pada Marry.
"Entah siapa yang membayar siapa, tapi yang jelas mereka hanya melakukan itu untuk bersenang-senang saja. Nyatanya Brenda beberapa kali terpergok bersama seorang artis Hollywood di sebuah hotel. Dan gosip itu sudah lama berhembus. Tapi, Brenda bisa menutupinya bersama Kevin. Sejak Kevin dekat denganmu, Brenda makin dekat dengan artis itu." Cerita Bob sambil berbisik-bisik.
__ADS_1
Marry memperhatikan dengan serius saat Bob bercerita.
"Jadi dia dan Brenda bukan sepasang kekasih?"
Bob menggelengkan kepalanya.
"Bukan. Dan kamu memiliki kesempatan untuk mendekati Kevin. Aku mengenalmu dan mengenal dia dengan baik. Terakhir kali kamu berkencan kapan?" Tanya Bob penuh selidik.
Marry hanya terdiam, bahkan dia pun tak ingat terakhir kali pergi berkencan yang serius.
Jika hanya kencan buta, tak bisa dianggap kencan dengan seseorang yang disukai.
Hati Marry, dulu benar benar tertutup, tak ada yang dapat menembusnya, kecuali akhir akhir ini. Saat bertemu kembali dengan cinta lamanya Justin, dan saat mulai dapat menerima ketulusan Kevin untuk bertanggung jawab menjadi seorang ayah bagi putrinya.
Tapi, kencan? Dia sama sekali tidak pernah berkencan selama hampir tujuh tahun belakangan ini.
"Marry, bukalah hatimu untuk seseorang. Siapa pun itu. Dengarkan kata hatimu. Aku tahu kamu memiliki trauma masa lalu, yang mungkin akan terus berbekas. Tapi hidup itu terus berjalan. Usiamu juga masih muda, kamu memiliki hak untuk bahagia untuk mencintai dan dicintai, tentu saja, Alice juga termasuk di dalamnya. Teruslah bergerak untuk maju, dan jangan mengingat lagi trauma masa lalu itu. Ikhlas dan maafkan yang pernah terjadi. Aku yakin, kamu akan dapat yang terbaik untuk hidupmu!" Bob menasihati Marry.
Marry membalas tatapan Bob dengan mata berkaca-kaca.
"Bob, terima kasih. Aku tahu di balik galakmu dan kerasnya dirimu, kamu sangat baik. Kamu benar benar membuatku menangis sekarang!" Ucap Marry parau sambil terisak dalam pelukan Bob.
Bob menepuk punggung Marry dengan lembut.
Mereka berpelukan kembali, merasakan persahabatan yang selama ini mereka bangun.
"Terima kasih, Bob. Aku benar-benar akan selalu mengingatmu."
Sore itu, Marry mengucapkan salam perpisahan pada rekan-rekan event organizer tempatnya bekerja selama ini.
Secara pribadi dia menemui Nyonya Ruth untuk berpamitan.
Mereka berpelukan erat, membuat suasana haru, yang membuat beberapa rekan kerja menyeka air matanya, termasuk Bob.
"Aku harap kamu mengundangku, dan rekan rekanmu ini saat besok kamu menikah atau ada kabar bahagia." Ucap Nyonya Ruth.
Marry tersenyum dan mengangguk.
"Saya tak pernah melupakan Anda dan teman teman semua. Kalian benar-benar telah menjadi bagian dalam perjalan hidupku, dan telah aku anggap sebagai keluarga selama ini." Sahut Marry.
Nyonya Ruth mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
"Kamu mendapat salam dari Mama, Nenek Max. Dan dia berpesan supaya kapan kapan kamu bisa mengunjunginya di panti jompo. Dia ingin bercerita banyak denganmu. Sepertinya dia menyukaimu." Nyonya Ruth menepuk bahu Marry.
"Kamu beruntung, baru mengenalnya dan langsung disukai olehnya. Dia adalah Nenek yang bawel, menurut beberapa keluarga yang lain. Susah untuk menaklukkannya. Tapi, kamu benar-benar dapat mendapatkan hatinya."
Marry tersenyum.
Dia tahu, mungkin Nyonya Max, merasakan dia tulus. Sedangkan yang lain memiliki maksud tertentu.
Usai berpamitan, Marry menuju kesuatu tempat, dan ingin memberikan kejutan.
Marry memesan taksi dan menuju ke arena bermain. Dia sengaja tak memberitahu rencananya kali ini kepada Alice maupun Kevin, karena tak yakin dapan berjalan sesuai rencana.
Marry benar benar bersyukur dapat diberi kelancaran kali ini.
"Kamu berhak bahagia! Bukanya hatimu untuk seseorang!" Ucapan Bob masih terngiang-ngiang di kepalanya.
Bahagia dan membuka hati.
Dengan siapa?
Marry menghela napas mengingat dirinya bahagia saat bersama siapa. Saat bersama Alice, dia sangat bahagia selama ini. Dengan Sophie dan keluarga kecilnya. Dengan Nana dan William yang telah dianggap seperti Keluarga selama ini.
Membuka hati? Marry hanya dapat memikirkan Justin dan Kevin. Hanya dua nama itu yang selalu berputar putar dalam kepala dan hatinya.
Namun, Marry telah memutuskan untuk melupakan dan melepaskan Justin.
Kevin?
Marry memejamkan matanya, dan bayangan Kevin yang merudapaksa dirinya tanpa ampun membuat dirinya tak berani lagi untuk mengingat Kevin. Perutnya mendadak mual saat mengingat kejadian itu.
Marry teringat saat Kevin bersama Alice. Mereka tertawa, bersenda gurau bersama. Bahkan keakraban Alice dan Kevin terkadang membuat Marry sedikit melupakan lukanya tersebut.
Apalagi hal hal manis lainnya, saat melindungi Marry dari sorotan paparazi.
Ya, Marry harus mengakui, jika Kevin mulai masuk dalam pikirannya. Hanya saja dia belum berani untuk membuka hatinya lebar lebar untuk menerima Kevin.
Bob telah menceritakan tentang Kevin dan Brenda, entah mengapa Marry merasa lega saat mendengar hal tersebut.
"Silahkan, Bu. Sudah sampai!" Ucap sopir taksi menyadarkan lamunan Marry.
"Oh, iya...!"
__ADS_1
Marry buru buru membayar argo taksinya, dan berjalan menuju pintu masuk arena bermain itu.
Marry menghela napas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Lalu melangkah masuk.