
Marry menguatkan hati dan dirinya untuk melangkah masuk dalam ruangan yang besar dan nyaman itu. Namun, baginya ruangan itu seakan bagai neraka.
Kelebat bayangan dirinya yang menangis meminta ampun supaya Kevin berhenti, tapi tak pernah didengarkan oleh Kevin. Lalu Kevin merenggut paksa kesuciannya tanpa ampun, tanpa memberi jeda sedikit pun, hingga Marry hampir pingsan malam itu melayani nafsu bejat Kevin.
"Di sini." Ucap Marry sambil menunjuk tempat tidur berukuran besar yang nyaman dan mewah.
Kevin sadar. Marry ingin mengungkapkan semua rasa sakitnya selama ini. Perasaan akan rasa sakit dan trauma membuat Marry tersiksa selama ini.
Hal itu mungkin membuat Marry menutup hatinya selama ini.
Sesungguhnya Marry membutuhkan psikolog untuk membantunya, namun, Marry berusaha sendiri sekuat tenaga menghadapi.
Kevin sangat menyesal dan jika dia bisa memutar waktu. Malam itu dia akan mengunci Marry semalaman bersamanya, dan keesokan paginya akan meminta maaf dan bersedia bertanggung jawab jika terjadi sesuatu padanya.
Tapi, mungkin itu pikirannya saat sekarang.
Marry ada benarnya juga. Seandainya Marry datang di masa tujuh tahun silam, mungkin Kevin akan mengusirnya, bahkan yang lebih parah, mungkin tanpa rasa berdosa akan mempermalukan Marry di depan umum.
Kevin menghela napas dan mengikuti setiap langkah Marry.
"Marry, seandainya ini semua bisa menyembuhkan semua lukamu. Aku rela melakukan apa saja untukmu!" Kevin menatap Marry dengan wajah memohon.
"Aku merasa sangat tersiksa melihatmu seperti ini, Marry. Sungguh aku mencintaimu. Aku benar-benar marah pada diriku sendiri, mengapa sama sekali tak bisa mengingat semuanya kejadian malam itu?!" Ucap Kevin selanjutnya.
Marry menatap Kevin, lalu perlahan maju menghampirinya.
"Aku ingin mereka ulang adegan itu, dan menunjukkan padamu semua yang telah kamu lakukan padaku malam itu!" Desis Marry penuh amarah.
Marry seolah berubah, bukan wanita yang lemah lembut seperti sebelumnya.
Seakan ada sisi lain dalam diri Marry yang penuh dendam dan amarah.
"Lakukan!" Teriak Marry tepat di wajah Kevin.
Kevin terkejut, namun dia hanya diam tanpa ekspresi.
"Lakukan, kataku! Kamu ingin menyembuhkan lukaku? Jika kamu mau membantu, lakukan kembali apa yang pernah kamu perbuat padaku, sehingga kamu dapat menyaksikan sendiri semua perbuatanmu itu sendiri! Lakukan kembali!" Marry kembali berucap dengan suara lantang.
Kevin menghela napas dalam-dalam, lalu menutup matanya sejenak, berusaha mengingat kembali kejadian malam itu.
Kevin membuka matanya, lalu berjalan ke sudut ruangan itu dan membuka kulkas kecil di sana. Mengambil sebotol wiski, membuka, dan meminum langsung dari botolnya.
Diletakkan botol dan wiski yang masih tersisa itu.
Kevin menyeringai lebar ke arah Marry.
Marry memundurkan langkahnya, dia terlihat gentar menatap Kevin yang tiba-tiba berubah seperti malam itu.
Tapi, Marry berusaha sekuat tenaga ingin melepaskan perasaan trauma yang menyiksanya selama ini.
Kevin menarik pinggang Marry, dan mendorongnya ke atas tempat tidur yang empuk itu.
Marry masih terdiam tanpa ekspresi, dengan wajah datarnya. Marry hanya memejamkan matanya.
Kevin meraih kembali botol wiski dan meneguknya.
Lalu menghembuskan napasnya tepat di wajah Marry. Bau alkohol menyengat, membuat Marry menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
Melihat hal itu, gairah Kevin semakin memuncak. Dia langsung membekap bibir Marry dengan bibirnya dengan kuat, menekan dan menindih tubuh Marry.
Marry merintih, namun Kevin tahu, jika dia berhenti, Marry tetap tidak akan berubah. Dia harus menuntaskan semuanya, memainkan reka ulang kejadian malam tujuh tahun silam demi menyembuhkan trauma Marry.
Kevin memegang kedua tangan Marry dan menguncinya, menciumi leher hingga dada Marry.
Marry seakan melawan, namun, Kevin tak memberi kesempatan untuk Marry.
Dengan sekali gerakan, Kevin menyingkapkan handuk yang membalut tubuh Marry.
"Hmmm....!" Seringai Kevin sambil menciumi gunung kembar Marry yang ranum itu.
Kevin bagai bayi yang kelaparan segera menikmati sajian lezat dan penuh gairah di depan matanya saat itu.
Dia memainkan gunungan itu dengan perlahan dan lembut, sehingga membuat Marry menggeliat dan menahan dirinya untuk mengeluarkan suara.
Marry hanya dapat menggigit bibir bawahnya menahan lonjakan hasrat biologisnya sendiri yang tiba tiba muncul.
"Marry, maafkan aku. Jika kamu mau, aku akan berhenti." Bisik Kevin dengan lembut.
Marry menggelengkan kepalanya.
"Selesaikan semua yang telah kamu mulai!" Perintah Marry dengan suara datar.
"Kamu tidak begini malam itu, Kev! Lakukan dengan keras dan kejam!" Teriak Marry memberi penekanan setiap ucapannya.
PLAK!
Tiba tiba Marry menampar wajah Kevin.
Sontak Kevin melotot, dan menatap tajam ke arah Marry.
Dengan napas yang memburu, Kevin membalikkan tubuhnya Marry dan melakukan kembali dengan tanpa ampun.
Marry yang berusaha untuk berteriak, langsung dibekap dengan tangan.
Tubuhnya dibalik kembali, dan bibir Kevin langsung bertemu dengan bibir Marry.
Kevin menciumi tubuh Marry mulai dari seluruh wajah, leher, turun ke dada, menghisap dengan keras puncaknya yang berwarna merah muda yang menggoda itu.
Marry menggelengkan kepalanya, namun, terdengar suara lenguhan lembut dari bibirnya.
Kevin tersenyum, lalu meneruskan permainannya.
Kevin menciumi perut Marry, yang membuat wanita itu menggeliat tak karuan.
Marry merasa bagian bawah miliknya seakan telah sangat basah saat ini. Dia pun sadar tiba tiba perasaan sakit itu sedikit demi sedikit menghilang berubah menjadi keinginan hasrat biologisnya.
Marry seakan menikmati setiap sentuhan yang dilakukan oleh Kevin pada dirinya.
Berbeda dengan malam itu. Malam ini perlahan rasa takut dan traumanya berubah menjadi sebuah rasa yang sangat mendalam.
Marry dapat merasakan ketulusan cinta yang Kevin berikan pada dirinya.
Kevin membuka perlahan paha Marry, dan membenamkan kepalanya di bagian itu.
Terasa hangat dan sangat licin.
__ADS_1
Kevin memainkan jarinya di sana dengan lincah, sambil menjilat dengan rakus, bagai menikmati es krim vanila kesukaannya.
"Ohhh... Kev...Vinnn...!" Lenguhan Marry seakan membangkitkan gairah Kevin kembali.
"Aku akan melakukan perlahan, dan tidak akan membuatmu merasa sakit lagi." Janji Kevin, sambil terus memainkan lidahnya di bagian inti milik Marry yang semakin licin.
Marry menggeliat sambil menjambak rambut Kevin.
Tubuh Marry seakan melayang dan perutnya terasa menggelitik, bagai kupu kupu berterbangan di bawah sana.
"Kev... Vin... Aku ingin..." Teriak Marry seakan menahan sesuatu.
"Lepaskan, Marry. Lepaskan semuanya!" Ucap Kevin dengan lembut, sambil menciumi bagian bawah milik Marry.
"Aaahhhhh.....!"
Marry berteriak, tepat cairan putih dan kental keluar dari milik Marry.
Dengan napas tersengal-sengal, Marry membuka matanya dan menatap Kevin.
"Bagaimana? Apa kamu siap dengan yang berikutnya?" Tanya Kevin.
Marry yang masih bingung dengan reaksi tubuhnya yang baru saja terjadi, hanya bisa mengangguk lemah.
Kevin membuka laci balasnya dan mengambil pengaman dan memasang pelindung itu pada miliknya.
Lalu memompa kembali pinggulnya naik turun sambil memainkan gunung kembar milik Marry dengan lembut.
Ini adalah pertama kaki Marry melakukan hal yang sejauh ini dengan seorang lelaki.
"Kev, aku takut!" Ucap Marry.
"Jika kamu takut, aku akan berhenti." Sahut Marry.
Marry menggelengkan kepalanya.
Dia ingin menuntaskan.
"Kev, lakukan dengan keras. Jika aku melawan, pukullah diriku!" Ucap Marry sambil menatap mata Kevin.
Kevin terkejut. Lalu meneguk hingga habis sisa minuman dalam botol.
Sekuat itukah pengaruh obat yang dimasukkan dalam minuman saat itu. Kevin semakin merasa bersalah pada Marry.
Marry melawan dan mendorong tubuh Kevin yang tengah memompa miliknya.
Plak!
Sebuah tamparan mengenai wajah Marry.
Marry mendesis geram, dan mencoba melawan.
Kevin memegang dengan kuat lengan Marry, dan terus bergerak maju mundur naik turun. Kevin mempercepat gerakannya, dan menghujamkan dengan keras miliknya dalam milik Marry.
Tubuh Marry bergetar, dan memeluk tubuh Kevin.
Kevin membalas pelukan Marry.
__ADS_1
"Maafkan aku, Marry!" Ucapnya lirih, sambil menghela napas.
Marry meraih selimut dan mendekapnya menutupi tubuhnya dan menangis sejadi jadinya saat itu juga.