
Marry mengguyur tubuhnya di bawah pancuran shower. Pasir pasir yang menempel pada tubuh dan rambutnya langsung terseret air yang mengucur dari shower.
Butiran pasir mengalir di lantai kamar mandi itu.
Marry memejamkan matanya perlahan.
Dia mengingatkan ciumannya dengan Kevin tadi di bawah bintang bintang.
Marry memegang bibirnya. Mengingat semuanya.
Tiba tiba bayangan tangannya ditarik dan diseret paksa oleh Kevin mulai berkelebat dalam pikirannya.
Marry berteriak minta tolong, namun, tak ada yang datang untuk menolongnya.
Kevin membekap mulutnya dan melucuti semua pakaiannya satu persatu dengan kasar, lalu mencium bibir Marry dengan buas bahkan menunggangi tubuh Marry dengan kasar.
Marry meminta ampun dan menangis sejadi jadinya. Kevin hanya menyeringai buas, dan makin menjadi-jadi memompa tubuhnya pada bagian inti milik Marry.
Tiba tiba rasa ngilu dan sakit itu kembali muncul.
"Tidak...tidak...tolooong!!" Pekik Marry sambil memejamkan matanya.
Kevin yang kebetulan hendak menaruh pakaian ganti di kamar itu, mendengar teriakkan Marry, segera bergegas menuju kamar mandi.
"Marry, kamu tidak apa apa?" Ketuk Kevin sambil bertanya khawatir.
Tak ada jawaban selama beberapa saat.
"I-iya. Aku tidak apa apa." Sahut Marry dari dalam kamar mandi.
"Kev!" Panggil Marry sambil membuka pintu kamar mandi dan melongok ke arah luar.
"Ya." Kevin masih berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Oh. Kamu di sini!" Pekik Marry terkejut saat melihat Kevin sudah di depan pintu.
Kevin mengangguk sambil terlihat khawatir.
Marry perlahan membuka pintu kamar mandi dan keluar dengan berbalut handuk. Rambutnya masih sedikit basah karena belum dikeringkan.
Semerbak wangi sabun tercium dari tubuh Marry.
Kevin sangat tergoda, ingin rasanya dia menerkam tubuh Marry yang terlihat ranum dan indah yang hanya berbalut handuk itu.
Tapi sekuat tenaga dia menahan hasratnya itu.
"Aku harus kuat! Hmmmm aroma tubuh Marry benar benar sangat menggoda."
Sesaat Kevin terdiam. Seolah dia teringat pernah mencium aroma tubuh seperti ini.
__ADS_1
Aroma yang sangat kuat dan membangkitkan gairah dan hasratnya saat itu juga.
"Apakah saat aku menidurinya secara paksa, mulanya seperti ini? Tapi untuk apa dia di kamarku waktu itu? Dan kemana dua wanita bayaran yang dipanggil untukku? Mengapa Marry?"
Kevin menghembuskan napas kuat kuat. Banyak pertanyaan berputar di kepalanya, yang ingin dia tanyakan langsung pada Marry. Namun, dia tahu, semua pertanyaan itu akan membuka kembali luka lama yang telah mulai tertutup sedikit demi sedikit.
"Kevin? Halooo! Kev? Apa kamu baik baik saja?" Marry menepuk bahu Kevin menyadarkannya dari lamunan.
Namun, yang terjadi, Kevin terkejut dan meraih pinggang Marry dan langsung dipeluknya.
"Marry, maafkan aku." Ucap Kevin lirih sambil menatap mata wanita itu.
Marry yang masih terkejut hanya mengangguk.
"Kevin, mengapa aku tak bisa memberontak saat bersamamu? Tatapanmu benar benar samakan membiusku! Aku memang membencimu karena kamu telah menghancurkan impian dan cita-citaku. Tapi, pesonaku benar benar membuatku.... Ahhh.... Sadarlah Marry!" Teriak sisi hatinya.
"Marry semua sudah berlalu, kamu berhak untuk mendapatkan kebahagiaanmu kembali. Tidak ada salahnya memberi kesempatan pada Kevin, bukan? Kevin adalah ayah kandung dari Alice. Dia telah berjanji akan bertanggung jawab untuk Alice dan masa depanmu! Sadarlah! Manfaatkanlah itu! Kejarlah impianmu kembali, dan bukalah hatimu!" Sisi lain hatinya membisikkan hal itu.
"Marry, aku sungguh jatuh cinta padamu! Aku tak kan pernah bosan mengucapkan hal ini! Kamu benar benar membuatku hampir gila karena terus terusan memikirkan dirimu."
"Kevin, aku.... Aku telah memaafkan dirimu." Sahut Marry sambil tersenyum manis.
Perasaan Kevin seakan melayang layang. Hatinya berbunga-bunga bagai seorang yang dimabuk asmara saat itu.
"Apa kamu akan menerima aku?" Tanya Kevin.
"Ya." Sahut Marry.
Dengan sukses membuat Marry terkejut, dan mendorong tubuh Kevin menjauh dan menatap Kevin kembali sambil memberi jarak.
"Marry, aku tahu mungkin ini terlalu cepat bagimu. Tapi, aku berjanji akan perlahan-lahan dan bersikap lembut padamu dalam memperlakukan dirimu. Aku berjanji akan bertanggung jawab pada dirimu dan juga Alice. Kamu bisa mengejar kembali impianmu untuk bersekolah kedokteran. Aku mencintaimu, Marry."
Kevin menatap Marry menyatakan kesungguhan cintanya. Lalu kemudian dia menekuksebelah kakinya berlutut dan menunjukkan tangannya dan menyodorkan sebuah kotak kecil berisi cincin.
"Marry, maukah, kamu menikah denganku? Menjadi istriku dan hidup bersamaku?"
Ucap Kevin. Salam satu tarikan napas.
"Kevin....." Ucap Marry lirih. Marry masih terdiam dan tiba tiba matanya berkaca-kaca.
"Aku tak bisa benar benar bisa membencimu! Aku tak pernah datang mencarimu karena aku takut kamu akan mengusir dan membuang ku."
"Tidak, Marry. Aku ingin hidup denganmu. Dengan sisa usiaku. Menghabiskan waktuku hanya bersamamu. Belajar mencintai seseorang dengan tulus, dan membangun keluarga bersama."
Ucapan Kevin sungguh menyentuh perasaan Marry. Dia menatap lekat ke arah Kevin dan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Ya, aku bersedia!" Jawabnya sambil menyeka air matanya dan menghampiri Kevin yang masih berlutut.
Kevin mengambil cincin dari kotaknya, dan menyematkan pada jari manis Marry.
__ADS_1
Mereka berdua masih saling berpandangan.
Marry memejamkan matanya perlahan, memberi isyarat menyerahkan diri pada Kevin. Dan Kevin dapat menangkap isyarat itu dengan menautkan bibir pada bibir Marry.
Keduanya beradu saliva dengan panasnya.
Marry sudah tak peduli lagi dengan keadaan dirinya yang hanya berbalut handuk saja saat itu.
Lidah Kevin menari nari dalam mulut Marry. Dan Marry membalas tautan lidah dengan menyesap lembut.
"Ahhh... Marry!" Desis Kevin.
Tangan kanan Kevin membelai lembut wajah Marry, lalu bibirnya mulai menyusuri leher jenjang Marry.
Sehingga membuat Marry melenguh pelan seakan tertahan.
"Aku akan lembut padamu. Aku berjanji Marry." Bisik Kevin tepat di telinga Marry.
Marry mengangguk.
"Ya Tuhan, apa yang telah aku lakukan?!" Rutuk Marry dalam hatinya.
Di sisi lain pikirannya seolah menikah, namun, tubuhnya seakan haus akan belaian kasih sayang.
Namun, kenyataannya, Marry hanya meliukkan tubuhnya menikmati setiap sentuhan dan kecupan yang dilakukan oleh Kevin padanya.
Tangan Kevin menyusuri lengan Marry hingga punggungnya, dan mencium punggung Marry yang terbuka itu.
Sentuhan langsung pada kulit Marry, membuat merinding.
Marry langsung menghela napas dan menahannya.
"Apa yang telah aku lakukan padamu sebelumnya Marry? Mengapa kamu seakan takut padaku?" Bisik Kevin.
Marry terdiam. Dia membalikkan tubuhnya dan menghadap langsung ke arah Kevin.
"Kamu ingin tahu apa yang telah kamu lakukan padaku malam itu?" Tanya Marry dengan suara tertahan.
"Jika itu bisa membuatmu melepas traumamu. Aku ingin membantumu, Marry."
Marry terdiam. Tiba tiba dia terisak.
"Malam itu, aku membersihkan muntahan salah satu wanita yang kamu sewa di kamar itu.." Marry memejamkan matanya mencoba mengingat kembali kejadian malam itu.
Marry yang masih mengenakan handuk itu, langsung berdiri dan menarik lengan Kevin keluar dari kamar itu.
Marry menuju kamar tempat Kevin sering tidur di villa itu. Membuka kamar itu dan Marry berdiri terpaku di ambang pintu.
Marry menghela napas dalam-dalam, menguatkan mentalnya untuk masuk dalam kamar itu. Bagai reka ulang adegan di melangkah masuk menuju dalam kamar itu.
__ADS_1
Keringat dingin mengucur dari sela kulit tubuh Marry.
Kevin hanya memperhatikan apa yang dilakukan oleh Marry.