
Marry berganti pakaian, lalu memasukkan pakaian setelah hitam putih khas pelayan ke dalam tote bag yang selalu dibawanya ke mana mana.
Kini, dia telah mengenakan celana jeans dan kemeja biru muda garis garis. Marry memoles sedikit wajahnya yang terlihat lelah. Kantung matanya mulai terlihat, dia ingin bangun lebih siang besok, untuk membayar hutang tidurmya beberapa hari ini. Apalagi saat ini, Alice bersama dengan Kevin.
Marry menghela napas saat mengingat Kevin. Namun, ingatannya mulai tergoda untuk memikirkan Justin kembali.
Pesona Justin masih membius Marry. Masih terkenang saat Justin menyatakan cinta padanya dan memberikan ciuman pertama untuknya. Saat itu mereka sedang mengerjakan tugas kelompok di rumahnya. Itu pertama kali Marry merasakan hatinya berbunga-bunga, dan rasanya sangat senang. Dia tersenyum sepanjang hari setelah itu.
Justin adalah kapten tim basket sekolah, dan banyak gadis gadis mengejarnya. Mulanya Marry menganggap Justin hanya main main padanya, dan hanya memanfaatkan dirinya untuk memperoleh nilai yang bagus.
Tapi ternyata tidak. Justin benar benar menyukainya, dan selalu menjadi penolong bagi Terence, Claire, dan Marry saat dibully oleh teman temannya yang merasa sok hebat dan populer itu.
Justin tetap memilih Marry dan melindungi gadis itu.
Apalagi saat Ibunya meninggal dunia. Justin lah yang selalu berada di sisi ya selain Terence dan Claire.
Hingga saat ini, Justin muncul kembali, dan membuat kenangan kenangan manis mereka terulang kembali dalam pikiran Marry.
"Marry, ini untukmu dari Nyonya. Dan ini untukmu juga dari Tuan muda." Ucap Bob sambil menyodorkan dua amplop.
"Wow, banyak sekali?!" Gumam Marry.
"Ya, rejekimu, Sayang!" Ucap Bob sambil terkekeh.
"Terima kasih." Marry menerima amplop itu sambil memeluk Bob.
"Ssttt... Sudahlah, jangan terlalu cengeng seperti ini! Tunjukkan Marry yang kuat dan selalu bersemangat! Pekerjaan kita masih banyak setelah ini." Bisik Bob sambil menepuk punggung Marry.
Marry meregangkan pelukannya, dan menatap Bob.
"Ya, kita harus tetap bersemangat!" Ucapnya sambil mengepalkan tangan kanannya ke udara.
Bob tertawa kecil sambil menatap Marry.
"Bob, aku pulang dahulu. Aku ingin beristirahat." Pamit Marry.
Bob mengangguk sambil mengantar Marry sampai ke ambang pintu.
*
__ADS_1
Marry berjalan kembali ke apartemennya, menyusuri trotoar yang masih terlihat ramai orang berlalu lalang karena weekend.
Marry masih teringat akan Justin.
"Dia masih tampan seperti dulu. Apakah dia sudah menikah? Apakah Justin masih memikirkan aku? Apakah Justin merindukan aku, seperti aku merindukan dia? Hhmmmm... Maafkan aku Justin, aku harus meninggalkan dirimu saat itu." Gumam Marry. Dia mengusap wajahnya, dan menghela napas dalam-dalam.
Marry menatap sebuah toko cemilan, yang dahulu sering ia kunjungi bersama Justin sepulang sekolah.
Lama, dia terdiam di depan toko itu. Marry memang jarang masuk ke toko itu setelah berpisah dengan Justin. Hanya beberapa kali, itu pun karena Alice merengek minta dibelikan permen lollipop di toko itu.
Marry melangkahkan kakinya menuju toko. Membuka pintu toko itu, dan masuk.
Marry menyusuri setiap rak yang ada di dalam toko, melihat lihat aneka makanan ringan yang ada di sana.
Marry berdiri di depan Lay's yang berjejer terpajang di rak toko.
Marry tersenyum sendiri, melihat makanan itu. Dia teringat, hampir setiap pulang sekolah, Justin mengajaknya ke toko ini hanya untuk membeli cemilan itu. Lalu mereka akan memakannya bersama sama sambil berjalan kaki sambil pulang atau terkadang menemani Justin berlatih basket di lapangan sekolah.
Marry mengangkat tangannya hendak meraih cemilan itu, dan di saat yang bersamaan seseorang juga mengambil bungkusan yang sama yang di pegang oleh Marry.
Marry menoleh ke sebelah.
"Marry?!"
Keduanya saling berpandangan, terpaku untuk sesaat.
"Oh, hai! Silahkan." Ucap Marry sambil menarik tangannya.
"Apa kabar?" Tanya Justin.
"Baik. Kamu apa kabar?"
"Baik."
Mereka terdiam kembali.
"Aduh! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa yang akan aku katakan padanya? Aku sama sekali tak bisa bernapas. Sungguh konyol, Marry!" Rutuk Marry dalam hatinya.
Marry berusaha keras untuk menahan dirinya untuk tidak terlalu terlihat gugup. Meski sejujurnya, Marry sungguh sangat gugup saat ini.
__ADS_1
Dia sudah berusia 25 tahun, tapi rasanya sama saja saat dia berusia 13 tahun dan bertemu dengan orang yang disukainya.
"Bodoh! Ayo sadarkah dirimu Marry! Kamu sudah dewasa, bersikaplah dewasa!" Teriak otaknya, mengirim sinyal untuk tidak berbuat yang konyol saat ini.
Justin masih berdiri menatap Marry. Marry masih seperti yang dulu, hanya saja, saat ini terlihat lelah. Namun, masih cantik, bahkan lebih cantik.
"Kau mau membeli ini juga?" Tanya Justin sambil mengambil sebungkus Lay's rasa keju.
Marry mengangguk dan mengambil bungkus yang sama secara spontan.
Lalu keduanya tertawa kecil.
"Apakah kamu sibuk?... Maksudku, apakah kamu mau langsung pulang? Ada yang menunggu di rumah..?"
"Aku tidak sibuk." Jawab Marry dengan tegas sambil tersenyum.
Justin masih menatap lekat Marry. Lalu dia meraih bungkusan cemilan itu dan menuju ke kasir.
"Mau berjalan jalan sebentar denganku?" Tanya Justin usai membayar di kasir.
Marry mengangguk tersenyum. Lalu mereka keluar dari toko itu.
Justin menyematkan rambut Marry yang sedikit berantakan ke belakang telinga.
Mereka saling menatap, masih ada rasa di antara keduanya.
"Terima kasih." Ucap Marry sambil tersipu.
"Kamu semakin cantik." Puji Justin.
"Dengar Bapak Pengacara, tolong jangan merayu saya!"
"Apakah ada yang marah?" Tanya Justin sambil tersenyum.
Marry menggeleng cepat. "Tidak ada yang marah." Jawabnya.
Keduanya tertawa bersama sama, lalu Justin merangkul pundak Marry dan berjalan bersebelahan menuju taman kota.
Di seberang jalan, di sebuah kedai es krim, sepasang mata menatap tajam dan sangat tajam ke arah keduanya. Kevin melihat keakraban Marry dan Justin dengan tatapan tak suka.
__ADS_1