Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Taman Bermain


__ADS_3

Marry melangkah masuk ke gerbang besar taman hiburan. Setelah membeli tiket, dia berjalan sambil melayangkan pandangan ke segala penjuru mencari sosok Alice dan Kevin.


Saat itu Marry mengenakan celana baggy dipadu kaos kasual, mengenakan sepatu kets berwarna putih kombinasi pink, pilihan Alice saat membelinya dulu.


Marry berjalan menuju wahana komedi putar, dia ingat, Alice menyukai wahana itu.


Marry terus mencari dan menajamkan penglihatannya.


"Di mana mereka? Apa mereka sudah pulang?" Marry menghela napas sedikit kecewa.


Marry terus berjalan masuk ke arena bermain lebih ke dalam. Sambil menyeka keringat yang mulai mengucur, Marry mencari booth penjual minuman untuk meredakan dahaganya.


Marry mencari food court di arena bermain itu, dan menemukannya di bagian sudut.


Marry langsung bergegas menuju ke booth minuman. Saat tidak sengaja menoleh ke arah sebelah kanan, dia seolah mendengar suara tawa yang sangat dia kenal. Suara tawa Alice.


Marry langsung menoleh ke arah suara, dan melihat pemandangan yang sangat menakjubkan.


Kevin berbicara pada Alice, dan Alice membalas dengan tawanya sambil menunjuk balon berwarna merah muda warna favoritnya.


Lalu Kevin mengambilnya, dan memberikan pada Alice. Dan Alice memeluk Kevin dengan rasa sayang.


Kevin terlihat sangat tampan saat itu. Mengenakan pakaian kasual, kaos dengan luaran kemeja kotak-kotak, dipadu dengan celana jeans.


Secara tak sadar, tersungging senyum di bibir Marry saat melihat keakraban Kevin dan Alice.


"Mengapa aku jadi deg degan seperti ini? Ah, mungkin efek kelelahan dan merindukan Alice saja." Gumam Marry sambil menuju ke arah Alice dan Kevin.


"Mama...!" Panggil Alice dengan gembira saat melihat Marry dari kejauhan.


Alice membalas lambaian tangan Marry.


Kevin mengandeng Alice sambil memegangi balon, berjalan juga menghampiri Marry.


Akhirnya mereka bertemu. Alice memeluk Marry.


"Aku pikir, mama tidak ikut. Mama bohong!" Marry manyun dan pura pura ngambek.


"Mama ingin memberi kejutan buat kamu. Karena telah menjadi anak yang hebat!" Marry menjawil dagu gadis kecil itu.


Marry memeluk Alice dengan rasa sayang. Membuat Kevin terpana. Pemandangan ibu dan anak yang saling menyayangi di depannya membuatnya semakin berdesir. Hatinya semakin tak karuan melihat Marry.


"Apakah aku boleh meminta bando Mickey itu!" Tunjuk Alice.


"Tentu saja." Sahut Kevin sambil tersenyum.


"Ayo kita ambil." Kevin menggendong Alice supaya bisa meraih bando itu.


Alice meraih bando Mickey mouse ikonik.


Marry menghampiri Alice yang masih menggendong Alice, Membantu mengenakan bando itu dengan rapi di kepala Alice.


Jarak yang dekat antara Marry dan Kevin sangat dekat. Bahkan Kevin dapat mendengar suara napas Marry. Kevin menatap wajah Marry hingga leher jenjangnya. Dadanya semakin berdebar, dan hanya dapat menelan ludah saja.


Kejantanan dan jiwa lelaki Kevin berontak, ingin rasanya dia memiliki dan dekat selalu dengan wanita itu. Bukan hanya bertanggung jawab terhadap anak kandungnya. Tapi, dia juga ingin memiliki ibu dari anak kandungnya juga.


"Nah, sudah cantik!" Puji Marry sambil tersenyum pada Alice.


Senyum Marry membuat jantung Kevin semakin berdetak kencang.


Alice melirik ke arah Kevin yang menatap Marry tanpa kedip.


"Papa, kenapa dada papa bersuara?" Tanya Alice dengan polosnya.


"Hah? Em.... Dada? Eh..." Kevin terbata bata.


"Itu karena kamu berat. Sudah turun saja!" Sahut Marry sambil tersenyum.

__ADS_1


Kevin menatap ke arah Marry dengan serba salah.


"Aku ingin Mama dan Papa memakai bando ini juga!" Pinta Alice tiba tiba.


"Hah??" Kevin melongo, dan Marry hanya terkikik.


"Kenapa Mama tertawa?" Tanya Alice.


"Nggak. Nggak apa apa kok." Marry tertawaan membayangkan Kevin yang macho dan gagah itu memakai bando Mickey yang imut dan lucu. Pastilah machonya akan hilang. Namun, Marry langsung mengambil dua buah bando lagi, mengenakan pada dirinya dan memasangnya satu lagi pada kepala Kevin.


DEG!


Jantung Kevin rasanya akan copot saat menatap Marry dari dekat saat memasangkan bando itu. Dia dapat mencium aroma tubuh Marry yang membuatnya semakin mabuk kepayang.


"Astaga! Apakah aku benar benar jatuh cinta padanya? Pada wanita ini?"


Kevin terus bertanya-tanya dalam hatinya tentang perasaan aneh yang selalu mengikuti dan menyerangnya saat berdekatan dengan Marry.


Bahkan terkadang imajinasi liarnya terus bermain dalam pikirannya untuk bercinta dengan Marry.


Kevin segera mengusir pikiran joroknya itu, dengan menggelengkan kepalanya. Lalu tersenyum pada Alice dan Marry.


"Bagaimana penampilanku?" Tanya Kevin.


"Wah.... Papa sangat lucu!" Alice terkekeh. Marry juga ikut tertawa kecil saat melihat Kevin mengenakan bando itu.


Lagi lagi, perasaan hangat itu muncul dalam diri Kevin.


Kevin ikut tertawa juga. Melihat itu, Marry menjadi memiliki perasaan aneh pada Kevin.


Tiba tiba dadanya berdebar saat melihat Kevin yang tertawa dan akrab dengan Alice.


"Tidak! Aku tidak boleh memikirkan dirinya!" Tolak Marry dalam hatinya.


"Aku ingin bermain itu!" Tunjuk Alice pada bianglala besar di depan mereka.


Dadanya semakin bergemuruh tak karuan. Pipinya memanas dan merah tersipu. Marry menghembuskan napas kuat kuat menenangkan perasaannya yang masih kacau itu.


Kevin membayar tiket, lalu mereka masuk ke wahana bianglala itu. Dan bianglala bergerak naik, naik, dan naik.


Kevin meletakkan Alice duduk di samping Marry, sedang dirinya duduk sendiri berhadapan dengan mereka.


"Wow.... Seru sekali..! Aku bisa melihat kota dari sini!" Sorak Alice dengan gembira.


"Mama, Papa lihat! Itu gedung kantor Papa yang ada logonya!" Tunjuk Alice.


Kevin hanya tersenyum melihat kegembiraan yang terpancar dari gadis kecil itu.


Marry masih terlihat tenang. Namun, dalam dirinya sedang bergejolak saat itu.


"Buka hatimu untuk seseorang. Kamu berhak bahagia!" Ucapan Bob terngiang kembali dalam benaknya saat itu.


"Apakah aku harus membuka hati pada lelaki ini? Pada Kevin? Bagaimana jika dia meninggalkan aku, saat aku benar-benar jatuh cinta padanya?"


Pertanyaan pertanyaan itu terus berputar dalam pikiran Marry.


"Coba kamu bisa melihat apa lagi dari sini?" Tanya Kevin pada Alice, namun, dia sempat melirik pada Marry yang terpergok mencuri pandang menatap wajah Kevin.


Membuat Marry tersipu dan wajahnya bersemu merah. Kevin tersenyum tipis saat melihat reaksi Marry saat itu.


Kevin sadar bahwa Marry mulai menyukainya. Dan dia mempunyai kesempatan untuk mendapatkan cinta Marry.


"Lihat! Itu apartemenmu, Pa!" Tunjuk Alice.


"Bagaimana kamu tahu?" Tanya Kevin penasaran.


"Kamarmu memiliki balkon yang aneh, dan itu garasi mobil pribadi milikmu!" Seru Alice.

__ADS_1


"Anak pintar! Kamu benar!" Puji Kevin sambil mengelus rambut Alice dengan lembut.


"Ayo kita ambil gambar bersama sama!" Sorak Alice sambil mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya.


Kevin menggeser tubuhnya mendekati Alice, dan mereka bertiga mengambil foto selfie bersama.


Terpancar kegembiraan di wajah Alice saat itu.


Marry tak banyak bicara saat menaiki wahana bianglala, hanya sekedar menimpali saja atau berkomentar.


Tak lama mereka turun dari wahana itu. Lalu mereka mencoba wahana lain.


Malam terus berjalan dan mereka menghabiskan waktu menikmati kebersamaan di arena bermain itu bersama sama.


"Aku lapar!" Ucap Alice sambil memegang perutnya.


Kevin menghentikan langkahnya dan menunduk supaya sejajar dengan Alice.


"Kamu mau hotdog?" Tanya Kevin.


Alice menjawab dengan anggukan kepala.


Mereka berjalan menuju penjual hotdog yang ada dalam arena bermain itu sambil saling bergandengan tangan. Alice diapit oleh Kevin dan Marry. Mereka berjalan sambil menggerakkan tangan dengan penuh kegembiraan.


Kevin memesan tiga potong hotdog, dan menikmati makanan itu di bangku yang disediakan di dekat situ.


"Apa kamu mau bermain lagi?" Tanya Kevin.


"Aku ingin naik komedi putar! Tapi kita semua harus naik." Pinta Alice.


Kevin dan Marry tertawa kecil mendengar itu.


"Tapi, setelah itu kita harus pulang. Hari sudah semakin larut." Sahut Marry pada Alice.


"Baiklah, Mama."


Ketiganya naik wahana komedi putar. Alice meminta Kevin mengabadikan momen tersebut.


Mereka tertawa dan bergembira bersama sama saat wahana bergerak dan berputar.


Usai bermain wahana komedi putar. Mereka keluar dari kawasan tampar hiburan tersebut.


Kevin mengantar Marry dan Alice pulang ke kediaman Marry.


Alice tertidur di jok belakang saat mereka tiba di apartemen Marry.


"Biar aku yang gendong Alice ke atas." Ucap Kevin. Marry mengangguk, sambil membawa makanan yang telah mereka bisa saat dalam perjalanan pulang tadi.


Marry membuka pintu dan mempersilahkan Kevin langsung membawa Alice ke dalam kamarnya.


Marry pergi ke dapur dan meletakkan makanan di meja.


Tak lama suara petir menyambar, angin bertiup kencang dan hujan pun turun.


Marry segera menutup jendela di dapurnya, supaya udara dingin tidak masuk.


Saat dia membalikkan tubuhnya, Kevin telah ada di belakangnya.


"Astaga!" Teriak Marry tertahan sambil menutup mulutnya.


Kevin hanya tersenyum geli.


"Hujan." Gumam Kevin.


"Ya." Sahut Marry.


Dan keduanya hanya saling berpandangan.

__ADS_1


__ADS_2