
"Mama, apakah Mama senang menikah dengan Papa Kevin?" Tanya Alice saat Marry sedang menyisir rambut putrinya itu.
Marry tersenyum sambil menatap ke cermin.
"Lihat wajah mama! Apa yang kamu lihat? Mama senang atau sedih?"
Alice menatap ke arah cermin dan tersenyum.
"Mengapa kami bertanya seperti itu?" Tanya Marry.
"Karena aku takut hanya karena permintaanku saja. Pernikahan ini hanya sementara." Sahut Alice sambil menatap ke arah mamanya melalui cermin.
Marry terkekeh.
"Apakah aku boleh tahu papa kandungku?" Alice bertanya dengan nada hati hati.
Kali ini Alice menoleh ke arah Mamanya.
Marry tersenyum sambil membelai lembut pipi Alice.
"Semua tak akan berubah, Sayang. Bagaimana seandainya, Kevin bukan papa kandungmu?" Marry balik bertanya.
Raut wajah Alice seketika berubah manyun.
"Aku tak tahu harus bagaimana, Ma. Karena aku tak pernah memikirkan tentang hal itu sebelumnya. Yang ada dalam benakku hanyalah dia."
"Mengapa kamu bisa berpikir seperti itu?" Marry penasaran.
"Karena saat melihat fotonya pertama kali, dan mendengar cerita Mama, dalam pikiranmu hanya ada dia. Dan aku selalu berdoa dia yang akan menjadi papaku."
"Dan akhirnya menjadi kenyataan, bukan?"
Marry tersenyum menatap Alice.
Namun, Alice kini terdiam.
"Kenapa?"
"Aku menyiapkan hatiku seandainya bertemu dengan papa kandungku." Jawab Alice.
Marry menatap putrinya dan memeluknya erat.
"Sudah cantik, harum, dan bersih. Jangan lupa ucapkan selamat malam untuk papamu!"
Senyum lebar mengembang di bibir Alice. Lalu berdiri dan keluar dari kamarnya, menuju kamar utama, dan menghambur memeluk Kevin yang baru saja merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Wow, ada apa ini?" Kevin pura pura terkejut, dan membalas pelukan Alice.
"Aku ingin mengucapkan selamat malam pada Papa." Ucap Alice saat dalam pelukan Kevin.
Kevin membelai lembut rambut gadis kecil itu, dan mengecup keningnya.
"Muachh!"
"Aahhhh!!"
Kevin kemudian menggelitik Alice, sehingga membuat gadis kecil itu tertawa kegelian.
Mereka berdua akhirnya tertawa terbahak-bahak bersama sama.
"Ada kegaduhan apa ini malam malam?" Tanya Marry sambil berkacak pinggang di ambang pintu kamar.
"Aku ingin memberi ucapan selamat malam, tapi Papa malah menggelitik aku!" Alice mengadu pada Marry.
"Kenapa kamu tak membalasnya?" Marry memicingkan matanya menatap Alice.
Alice langsung tersenyum lebar, dan akhirnya membalas menggelitik pada tubuh Kevin.
"Oh, kamu berani membalasku, ya? Aduh! Aduh!" Kevin berpura pura kegelian sambil bersenda gurau dengan Alice.
__ADS_1
Marry menatap keduanya yang sedang bercanda di atas tempat tidur.
Rasa haru menyeruak dalam dada Marry.
Perlahan Marry menuju ke tempat tidur dan ikut bergabung dalam pelukan besar Kevin dan Alice.
"Kapan kalian akan memberi aku adik?" Tiba tiba pertanyaan itu meluncur dari mulut Alice, yang membuat Kevin dan Marry akhirnya merenggangkan pelukan mereka.
Marry sebenarnya berencana ingin bersekolah lagi setelah menikah, sesuai janji Kevin padanya.
Mendengar pertanyaan Alice, Marry hanya bisa diam. Dia pun tak tahu harus menjawab apa pada putrinya itu.
"Aku akan memberi banyak kesempatan pada papa dan mama untuk berduaan." Ucap Alice menatap kedua orang tua ya bergantian.
"Bagaimana kamu tahu, memangnya jika kami berduaan, lalu kamu mendapatkan adik?" Selidik Marry.
"Kata mama." Sahut Alice dengan polos.
"Kataku?" Marry mengerutkan keningnya.
"Mama pernah mengatakan padaku, saat Paman Ben dan Bibi Sophie menikah. Mama menyuruhku untuk tidak menganggu mereka saat sedang berduaan. Kata mama, supaya aku mendapat adik. Dan ternyata benar."
Marry melotot mendengar ucapan polos Alice.
Sementara Kevin hanya tersenyum geli mendengar cerita Alice dan melihat reaksi Marry.
"Lalu, Paman William tadi juga mengabarkan, jika Bibi Emily juga sedang mengandung." Lanjut Alice.
"Hah..??!" Kali ini Kevin dan Marry saling bertatapan terkejut mendengar kabar itu.
"Apa kalian belum mendapat kabar dari Bibi Emily dan paman Willy?" Tanya Alice.
"Belum." Sahut Marry menggelengkan kepalanya.
"Aku belum menerima kabar juga." Ucap Kevin.
"Ya, tadi mama juga telah mengabariku. Dan aku setuju saja dengan semua konsepnya. Lalu Minggu depan memintaku untuk fitting baju pengantin bersama Emily juga." Tukas Marry.
"Mama?"
"Ya, Sayang?" Marry menunduk menatap Alice dengan lembut.
"Mama, apakah Mama memiliki teman bernama Justin?"
Marry terdiam dan menoleh ke arah Kevin yang menatap ke arahnya juga.
"Bagaimana kamu tahu Justin?" Tanya Marry.
"Kemarin, waktu ke museum, aku bertemu dengannya. Lalu dia mengenaliku karena pernah ke acara pernikahan Paman Terence dan Bibi Claire."
"Lalu dia bilang apa?"
"Dia mengatakan kalau dia teman Mama."
"Lalu?"
"Hanya itu. Tapi, aku mengatakan padanya akan meminta Mama memasukkan namanya dalam daftar tamu undangan saat pesta perayaan pernikahan kalian besok." Ucap Alice dengan gaya polosnya.
"Hah? Kamu mengatakan itu?" Marry membulatkan matanya.
"Iya, Ma. Bukankah dia teman Mama? Apalagi dia kemarin yang membawa cincin pernikahan Paman Terence. Pasti termasuk sahabat mama."
Marry hanya dapat menghela napas dalam-dalam.
"Alice. Sudah hampir pukul sepuluh malam. Papa antar ke kamar sekarang, mau?"
Kevin mengalihkan pembicaraan.
"Mau mau mau!" Sorak Alice sambil melompat di kegirangan di atas kasur.
__ADS_1
Kevin menggendong Alice dan membawanya kembali dalam kamar.
Marry mengikuti dari belakang.
Kevin mengecup kening Alice dengan sayang. Begitu pula dengan Marry. Lalu meninggalkan Alice tidur, tak lupa mematikan lampu sebelum mereka keluar dari kamar Alice.
"Aku heran, sedang apa Justin di sana?" Gumam Marry saat mereka telah berada di tempat tidur.
"Sudahlah, tak usah memikirkan Justin. Sekarang kita pikirkan bagaimana kita dapat memberikan apa yang diminta oleh Alice." Celetuk Kevin.
Marry yang masih khawatir dengan keberadaan Justin yang bertemu dengan Alice, kini ditambah celetukan Kevin yang tak dipahaminya dengan baik.
"Permintaan apa?" Tanya Marry dengan wajah bingung.
"Permintaan adik." Kevin memasang wajah menggoda.
Marry tersenyum geli melihat Kevin.
"Aku akan pikirkan."
"Mengapa harus dipikirkan?"
"Karena..." Marry tak meneruskan ucapannya, karena bibir Kevin telah menutup mulutnya.
Dan mereka melewati malam dengan penuh gairah.
*
"Joe, apa saja agendaku hari ini?" Tanya Kevin saat di meja makan. Kali ini Joe telah ada di sana sambil menikmati secangkir kopi buatan Marry.
Joe menyodorkan tab pada Kevin supaya Kevin dapat membacanya dengan jelas.
"Oke. Nanti, kirimkan beberapa hasil meeting kita kemarin pada Kim?" Instruksi Kevin.
"Baik, Bos." Joe kembali menekuri tab itu dan mengutak-atik di sana, menjalankan perintah Kevin untuk mengirim hasil meeting pada sekretarisnya di kantor.
"Hai, Paman Joe!" Sapa Alice saat keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi
"Hai, Sayang." Sahut Joe sambil tersenyum lebar.
Alice menikmati sereal dengan susu dengan lahap, sementara Marry menyiapkan bekal untuk Alice dan menaruh dalam tas putrinya itu.
DING DONG!
DING DONG!
Suara bel pintu terdengar berkali kali.
Marry bergegas memeriksa tamu yang datang pagi pagi, karena mereka tidak memesan apapun pagi itu.
"Brenda?" Gumam Marry saat mengintip pada lubang pintu.
DING DONG!
Bel kembali dibunyikan oleh Brenda.
"Mau apa dia kemari pagi pagi?" Tanya Marry dalam hati.
Dirinya bimbang antara membukakan pintu atau membiarkan. Tapi, sepertinya Brenda tak patah semangat.
Cek lek!
Marry menatap Brenda yang terkejut melihat siapa yang membukakan pintu padanya di kediaman Kevin.
Brenda bergegas masuk tanpa dipersilakan oleh Marry, dan langsung menghambur ke arah Kevin.
"Kevin, aku hamil!" Ucap Brenda.
BERSAMBUNG...
__ADS_1