Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Usai Tragedi


__ADS_3

Satu Bulan Berlalu...


Kehidupan mereka berjalan dengan normal kembali.


Begitu pula dengan luka Marry, telah berangsur pulih dan hanya goresan kecil saja yang nampak.


Psikologis Marry juga tidak bermasalah. Marry kuat menghadapi dan menjalani kehidupan selanjutnya.


Alice yang sangat bahagia dapat berkumpul kembali dengan mamanya.


"Alice, hari ini, Bibi Sophie yang akan menjemputmu. Mama ada pesanan yang harus diselesaikan hari ini."


"Baiklah, Ma."


"Bagaimana sekolahmu?" Tanya Kevin.


"Minggu depan aku akan mengikuti ujian kenaikan tingkat kembali untuk kelas percepatan."


"Wow! Papa sangat bangga padamu!"


"Kamu tetap harus jaga kesehatan, ya! Jangan terlalu keras pada dirimu. Ingat kamu masih anak berusia tujuh tahun. Tapi Tuhan memberi kamu berkat kecerdasan." Marry mengusap lembut rambut putrinya itu.


Alice tersenyum, lalu memeluk mamanya erat.


"Aku juga ingin pelukan!" Kevin ikut dalam pelukan itu.


"Sudah, habiskan sarapannya, jangan lupa bawa bekalnya." Perintah Marry pada Alice.


Alice segera menghabiskan susunya, lalu memasukkan kotak bekal dalam tas ranselnya.


"Aku berangkat dulu, Pa, Ma!" Pamit Alice sambil memeluk Marry dan Kevin.


"Hati hati di jalan!" Sahut Marry.


"Tetap semangat belajar!" Kevin mengecup ubun putrinya itu.


Alice berangkat ke sekolah di antar oleh Joe.


Saat dengan membereskan sisa sarapan di meja makan, Kevin memeluk Marry dari belakang, dan meciumi leher istrinya itu.


"Kev, aku belum selesai!"


"Nanti juga akan dibersihkan oleh pelayan yang datang! Ayolah, kita bersenang senang sebentar!"


Marry meletakkan kembali piring yang dipegangnya ke meja. Lalu mengikuti Kevin yang menarik tangannya.


Kevin mengajak Marry kembali ke kamar mereka dan menguncinya.


"Kev, haruskah setiap pagi begini?" Tanya Marry, saat Kevin saat berada di atas tubuh istrinya.


"Kamu tak suka?"


"Nggak, aku suka. Tapi setiap pagi kita seperti ini."


"Waktu terbaik untuk bercinta itu lagi hari, Sayang. Jadi, aku hanya menuruti hasratku. Lagi pula, setelah menyalurkan semuanya, aku jadi lebih bersemangat saat bekerja." Sahut Kevin, lalu melahap bibir istrinya itu kembali.


Terdengar raungan dan teriakan kenikmatan dari mulut mereka berdua, segala macam gaya telah dicoba oleh mereka.


Joe yang kembali ke apartemen Kevin untuk menjemput atasannya hanya bisa menghela napas, saat mendengar keributan dan lenguhan manja dari kamar utama.

__ADS_1


Joe membuat secangkir kopi di dapur dan menikmatinya sambil memeriksa jadwal hari ini untuk mempersiapkan pekerjaan Kevin.


"Oh, hai, Joe! Kamu sudah kembali?" Kevin terkejut dan tergagap saat melihat Joe telah duduk di ruang dapur sambil menyesap kopinya.


"Ya, lumayan lah, Bos. Cukup banyak mendengar suara kalian yang membuat telingaku sedikit panas."


Kevin terbahak, sambil merapikan pakaiannya kembali.


"Sayang, dasimu!" Marry keluar sambil membawa dasi.


"Oh, hai, Joe! Sudah lama?" Tanya Marry terkejut, lalu menarik narik pakaiannya.


Marry mengenakan kaos milik Kevin yang tampak kebesaran baginya, hingga sepahanya.


"Lumayan lah. Sudahlah, biasa saja padaku. Kalau mau bercumbu lagi juga silahkan, anggap saja aku tak ada di sini." Ucap Joe sambil menutup matanya dengan tangan kirinya.


Kevin terbahak, lalu menghampiri Marry supaya memasangkan dasi untuknya.


"Aku hari ini akan sibuk di kedai. Hari ini ada pesanan khusus cupcake untuk acara arisan sosialita."


"Semoga lancar."


"Ya. Terima kasih. Oh ya, Brenda telah mengumumkan kehamilannya, tapi tak menyebut pasangan. Dan dia saat ini sementara rehat sejenak dari dunia hiburan." Celetuk Marry.


"Ya, aku tadi kebetulan membaca beritanya. Saat ini menjadi tranding pencarian tentang Brenda. Bahkan ada salah satu tabloid online terang terangan menyebutkan namamu sebagai orang yang bertanggung jawab atas kehamilan Brenda." Sahut Joe.


"Hah, aku? Tabloid apa?" Kevin terkejut.


Joe menunjukkan sebuah berita melalui tab yang biasanya untuknya bekerja.


"Tolong kamus selesaikan urusan gosip murahan itu! Dan katakan pada media, bahwa aku telah menikah dengan Marry. Dan sedang mempersiapkan pesta resepsinya." Tukas Kevin dengan raut wajah serius.


"Aku ingin semua orang tahu kamu adalah istriku, Marry."


Marry menghela napas berat, dan menuang secangkir kopi untuk dirinya.


"Mengapa kamu terlihat tak suka?" Kevin mendekati Marry dan duduk tepat di depannya.


Marry menghembuskan napas kuat kuat, lalu menatap suaminya.


"Kamu tahu, aku tak terlalu suka media, Kev. Apalagi sampai paparazi berbondong antre di depan kedai, bahkan kehidupan pribadiku terekspos. Alice juga. Lalu Ben dan Sophie. Masa laluku. Aku belum siap Kev, dengan semua itu."


Marry menyesap kopinya perlahan.


"Baiklah. Aku akan mengatur semuanya dan membereskan masalah ini." Sergah Joe sambil tersenyum.


Kevin menoleh ke arah Joe.


"Kamu memang paling bisa aku andalkan." Kevin memeluk sahabat sekaligus asistennya itu.


Joe meregangkan pelukannya dari Kevin.


"Tapi aku ingin meminta tolong padamu, Marry." Ucap Joe perlahan.


Marry menatap ke arah Joe.


"Katakanlah, seandainya aku bisa melakukannya, aku akan membantumu."


"Tentang Oliv."

__ADS_1


Marry mengerutkan keningnya, menatap tajam Joe.


"Ada apa dengan Olivia?"


"Sejak aku kenalkan dengan orang tuaku, dia seakan menjauh." Ucap Joe dengan lirih.


"Apakah orang tuamu tak suka padanya?"


Joe menggeleng cepat.


"Tidak. Bahkan ibuku sangat menyukainya. Bahkan memintaku untuk mengundangnyabmakan malam lagi. Namun, Olivia selalu menghindar dengan berbagai alasan. Aku tak tahu mengapa." Joe terdengar frustasi.


"Pasti ada sesuatu yang mengganggunya, Joe." Sahut Marry.


"Ya. Dan aku tidak tahu hal apa yang mengganggunya."


"Tenang. Aku akan meminta Sophie mengorek darinya. Olivia itu sudah bagai adik sendiri bagiku. Dia sering menghabiskan waktu di rumah kaki sejak kecil. Dia bersahabat dengan Sophie. Ibunya adalah ibu tunggal, dan meninggal karena sakit. Lalu dia diurus oleh dinas sosial. Pernah sekali dia akan diadopsi oleh salah satu keluarga kaya. Namun, saat tahu hendak dibawa pergi ke Eropa, dia tidak mau. Dia takut. Tapi aku tak jelas juga alasannya apa ketakutannya saat itu. Sejak itu dia sama sekali menolak untuk diadopsi, dan memilih untuk bekerja keras untuk masa depannya."


"Hidupnya cukup keras saat masih muda."


"Ya. Dia adalah gadis yang tangguh, Joe. Jangan pernah menyakitinya." Pinta Marry.


"Aku tak kan berani menyakitinya."


"Terima kasih, Joe."


"Oke, baiklah! Jadi tolong urus permintaan Marry untuk berita tentang Brenda. Dan biarlah Sophie nanti yang akan menuntaskan urusanmu." Sergah Kevin.


"Baik, Bos. Kita bisa berangkat sekarang. Ini agendanya, silahkan dibaca sebentar."


Kevin menatap layar tab yang disodorkan oleh Joe padanya.


Lalu mereka bergegas pergi ke kantor.


Sementara itu Marry bersiap untuk pergi ke kedainya.


*


Menjelang sore, setelah urusan pekerjaan sudah terselesaikan. Marry duduk bersandar di bangku kedai sambil membaca berita dan sosial media melalui ponselnya.


Marry tersenyum saat membaca berita tentang Brenda yang telah hamil, dan ingin rehat dari dunia hiburan sementara waktu.


Tiba-tiba, Ben mengejutkan dengan menepuk bahunya.


"Astaga, Ben! Ada apa?" Marry setengah terkejut dan terlonjak.


"Maafkan aku. Tapi ada seseorang yang ingin menemuimu." Jawab Ben.


"Siapa?"


Ben memberi isyarat dengan pandangan matanya.


Marry mengikuti pandangan mata asik iparnya itu.


Marry menutup laman pada ponselnya, dan menyimpannya dalam saku.


Lalu berdiri menghampiri seseorang yang mencarinya saat itu.


"Apa kabar, Mia?"

__ADS_1


__ADS_2