
"Kapan terakhir kamu datang bulan?" Tanya Will, usai memeriksa Marry.
Marry termenung. Lalu menatap Will dan mencengkeram lengannya.
"Will, apakah kamu berpikir aku ini hamil?"
"Kemungkinan, untuk pastinya, aku akan meminta asistenku untuk mengantar tes pack untuk memastikannya, lalu aku akan merekomendasikan dokter kandungan kenalanku padamu."
"Will."
"Ada apa?" Will menoleh ke arah Marry sambil membereskan perlengkapannya.
"Aku tak pernah bermimpi seperti ini. Kamu tahu, kan? Masa kecil hingga remaja, aku memiliki hidup yang naik dan turun. Dan hidupku berubah sejak hamil Alice. Aku masih ingat, pertama kali reaksimu saat mengetahui bahwa aku akan melahirkan dalam keadaan kurang bulan. "
Marry mengenang saat melahirkan Alice.
"Dan kamu adalah ibu pertama yang menjadi pasien bersalinku." Sahut Will sambil tersenyum.
"Terima kasih Will."
Marry memeluk William.
"Oya,apa kabar Emily?"
Marry teringat istri Will.
"Dia sibuk bekerja, sambil mempersiapkan pesta pernikahan kita semua. Dia sangat senang sekali. Terutama ketika dia mengetahui bahwa sedang mengandung, anak kami."
"Wow, selamat! Alice sempat mengatakan bahwa Bibi Em hamil, tapi aku lupa ingin mengucapkan selamat pada kalian."
"Terima kasih. Selamat juga untukmu dan Kevin."
William menepuk bahu Marry.
"Kan belum pasti, Will." Elak Marry.
William tertawa mendengar ucapan Marry.
"Yakin aku."
Tak lama seorang perawat datang menyerahkan tes pack. Lalu Marry segera ke toilet.
Setelah menunggu beberapa saat menunggu dengan harap harap cemas, Marry melirik ke arah perawat asisten William.
"Bagaimana?" Tanya Marry penasaran.
"Tunggu sebentar, Bu. Ini, sudah mulai terlihat."
Marry melongok. Meskipun dia pernah hamil, namun, saat ini rasanya berbeda.
Dia telah menikah, dan kehamilannya sangat diharapkan oleh Alice, putrinya, yang sering merengek meminta adik.
"Wah, selamat. Nyonya Mars hamil. Hasilnya positif." Ucap perawat itu sambil tersenyum.
Lalu perawat itu menyerahkan tes pack pada Marry.
Marry terharu saat melihat dua garis merah pada alat pendeteksi kehamilan itu.
"Sungguh, kan! Selamat Marry." Tukas William.
"Baiklah, Will, terima kasih untuk semuanya. Aku akan memberikan kejutan ini pada Kevin dan Alice secepatnya."
"Oya, besok Sabtu, Tuan Morgan mengundang kita semua untuk makan malam di rumahnya, sekalian membahas acara pesta yang tinggal tiga Minggu lagi."
Ucap William mengingatkan.
"Baiklah, kami akan datang."
*
__ADS_1
Marry menyiapkan kudapan seperti biasa sore itu. Kevin dan Alice sedang bermain PlayStation di ruang tengah.
"Siapa yang ingin chiffon cake?" Tanya Marry dengan suara nyaring.
Kevin dan Alice menoleh, lalu tersenyum lebar.
"Aku!"
"Aku!"
Teriak ayah dan anak itu berbarengan.
Mereka menyerbu ke meja makan. Dan aroma cake yang baru matang, sangat harum, menggugah selera.
Kevin mencomot bagian atas cake yang masih hangat, Marry menghadiahkan sebuah pukulan pelan pada punggung tangan suaminya itu.
"Aduh! Aku kan mau mencicipi." Kevin membela diri.
"Sabar! Ini juga sedang disiapkan."
"Iya, papa nggak mau sabar, aku saja bisa sabar, huh." Alice mengomel juga sambil melipat tangannya di depan dada.
Marry tersenyum geli melihatnya.
Lalu dia menaruh sepotong cake di piring dan diletakkan di depan putrinya satu, lalu pada suaminya.
Tanpa perlu dikomando, ayah dan anak tadi langsung melahap potongan cake sampai habis, dan meminta nambah lagi cakenya.
Marry menaruh sepotong lagi pada masing masing piring.
Tak berapa lama, mereka telah menghabiskan cake pada piringnya.
Kevin yang tak sabar, langsung mengambil tiga potong sekaligus. Alice yang melihatnya tidak mau kalah, dia juga mengambil tiga potong langsung.
"Alice, apakah kamu bisa menghabiskannya? Ambil satu satu, jika sudah habis, baru ambil lagi!" Marry melotot pada Alice.
Kevin menyeringai geli dan jahil pada Alice, yang diomeli oleh Marry karena mengikutinya.
Sekarang, gantian Alice yang tersenyum jahil sambil menjulurkan lidahnya mengejek Kevin.
Kini, Marry mengambil bagiannya, dan menyantapnya dengan perlahan.
"Oya, bagaimana keadaanmu? Apa kata Will?" Tanya Kevin.
"Loh, kenapa, Pa? Mama sakit?" Alice langsung terlihat cemas.
"Tadi pagi, mamamu sakit, dan papa langsung menghubungi Paman Will untuk datang memeriksa mama."
"Apa katanya, Ma?" Desak Alice.
"Mama sehat kok. Baik baik saja. Buktinya bisa membuatkan makanan untuk kalian."
"Iya, tapi Mama juga nggak boleh capek dulu." Alice mendekati Marry dan memeluk mamanya itu.
Kevin yang melihat pemandangan itu langsung berdiri dan bergabung dalam pelukan keluarga.
"Sudah, ayo selesai makannya. Nanti mama akan buatkan makan malam kita. Oya, besok akhir pekan Oma dan Opa mengundang kita makan malam."
"Sambil membicarakan pesta ya?" Tebak Kevin.
"Ya."
Usai menyelesaikan menikmati kudapan sore itu, Marry meletakkan perkakas yang kotor pada wastafel.
Lalu dia menatap suami dan putrinya bergantian.
Kevin dan Alice heran dan saling berpandangan melihat sang mama yang terlihat misterius itu.
"Ada apa, Ma?" Alice penasaran.
__ADS_1
Marry merogoh sakunya, dan mengambil sebuah kotak, lalu menaruhnya di atas meja.
Kevin dan Alice memperhatikan dan selanjutnya menatap dengan raut penasaran isi kotak itu.
"Apa itu?" Tanya Kevin penuh selidik.
"Lihatlah sendiri!"
Kevin mengambil kotak itu, lalu berpindah duduk di sisi Alice.
Alice melongokkan kepalanya penasaran dengan isi kotak itu.
Kevin perlahan membuka kotak dan mengambil isinya.
Mulanya dia mengerutkan keningnya saat melihat isinya, sebuah benda panjang, dia pun hampir tak pernah melihat benda itu sebelum.
Pernah melihat, namun tak peduli juga.
Dia melihat tanda dua garis merah pada bagian tengah benda itu.
Kevin akhirnya menyadari, bahwa itu adalah tes pack, dan tanda dua garis itu artinya positif. Dan Marry positif hamil.
Alice yang kurang paham melihat itu, hanya memperhatikan saja.
Raut wajah Kevin yang semula heran bertanya tanya, kini berubah sumringah dan terlihat senang.
"Apa artinya, Pa?" Tanya Alice.
"Kamu mau punya adik." Sahut Kevin sambil memencet hidung Alice dengan gemas.
"Sungguh, benarkah, Ma?" Alice menoleh pada Marry.
Marry tersenyum dan menjawab dengan anggukan kepala.
"Horee! Aku akan punya adik!" Sorak Alice dengan gembira, lalu turun dari kursinya dan menghambur memeluk Marry.
Sekali lagi, Kevin menghampiri dan memeluk mereka dengan pelukan besar.
*
Tok tok tok
Joe mengetuk pintu apartemen Olivia.
Sudah hampir dua Minggu mereka tidak berjumpa. Karena kesibukan masing-masing.
Namun, setiap pagi Joe dapat memandang Olivia saat menyambut kedatangan Alice sis sekolah.
Sejak, Joe mengungkapkan perasaan bahwa dirinya ingin lebih serius menjalin hubungan dengan Olivia, mendadak gadis itu berubah.
Seakan memberi jarak di antara mereka.
Biasanya gadis itu akan menunggu Joe pulang dan menghambur masuk dalam apartemennya, atau sengaja mengundang Joe masuk ke apartemen Olivia untuk sekedar menikmati piza atau mereka akan masak bersama.
Tok tok tok
Joe mengetuk pintu sekali lagi. Karena tak ada respon dari arah dalam.
"Joe?" Panggil seseorang.
Joe menoleh ke suara yang memanggilnya.
"Oliv. Kamu baru pulang?" Tanya Joe terkejut.
"Ya, aku mampir berbelanja usai pulang dari sekolah. Ada apa?"
Tanya Olivia, yang terkesan memberi jarak kembali.
"Bisakah, kita berbicara di dalam saja?" Tanya Joe sambil memberi isyarat untuk masuk ke dalam apartemen.
__ADS_1
Olivia mengangguk lemah. Dia merogoh kantong, dan mengambil kunci. Membuka ruangannya, lalu menyalakan lampu.
"Ada apa?" Tanya Olivia sambil menaruh belanjaan di atas meja dapur.