
Jingga merona di atas langit, matahari mulai tenggelam ke ufuk barat. Kevin melajukan mobilnya ke luar kota.
"Kamu akan membawaku ke mana, sekarang?" Tanya Marry menatap Kevin.
"Kamu ingin aku bawa ke hotel bintang lima atau ke suatu tempat yang hanya ada kita berdua?" Kevin balik bertanya.
"Apa bedanya? Ke mana pun kamu akan membawaku, aku akan menurut padamu, Kev." Sahut Marry sambil menggelayut manja pada Kevin.
Kevin menghadiahkan satu kecupan kecil pada bibir Marry. Marry tersenyum membalas tatapan Kevin.
Marry menyandarkan kepalanya di bahu Kevin. Napas Kevin yang tenang membuat Marry merasa nyaman.
"Mengapa dulu kamu seperti itu?" Marry bergumam.
"Seperti apa?"
"Tak percaya cinta. Hanya bersenang-senang dengan wanita. Tidak pernah serius dengan hubungan?"
Kevin menghela napas dalam-dalam, sambil mengecup rambut Marry dengan lembut.
Aroma shampoo lavender yang tercium oleh hidung Kevin, membuatnya sedikit bergairah.
Tangan Kevin berpindah dari bahu menuju pinggang Marry. Dan napas Kevin yang tenang sedikit berubah agak berat.
"Kev....! Kamu sedang menyetir, tolong lebih fokus!" Ucap Marry sambil menggeser tubuhnya menjauh.
Namun, tangan Kevin menahan tubuh Marry, dan menarik kembali dalam rangkulannya.
"Dulu aku belum menemukan seseorang yang seperti dirimu. Aku menganggap wanita itu hanya sebagai beban. Hanya menginginkan uangku saja. Maka aku berpikir, mengapa aku serius, jika mereka hanya ingin uang dan kemewahan saja." Kevin menjawab pertanyaan Marry sambil terus mengemudi.
Aroma laut mulai tercium. Kevin mengarahkan pada semua pondok kediaman Nenek Max.
Kevin menghentikan mobilnya, tepat di halaman rumah itu.
Kevin membukakan pintu sisi tempat Marry, dan membimbingnya turun.
"Sepertinya ada yang berubah dengan rumah ini?"
Marry tertegun menatap pondok itu.
Saat ini pondok telah di cat, dan terlihat jauh lebih rapi.
Kevin membimbing Marry untuk masuk ke dalam pondok yang kini tampak asri.
Marry menggenggam tangan Kevin sambil tersenyum, melangkah masuk ke dalam pondok itu.
Aroma cat masih tercium. Ternyata Kevin sedikit merenovasi pondok tempat tinggal Nenek Max yang telah diwariskan padanya.
"Kamu telah merencanakan ini semua?" Tanya Marry.
"Saat aku masih kecil, aku sangat ingin bisa menikmati keindahan laut. Pergi memancing bersama Papaku. Tapi tak pernah terjadi. Namun, kakek mengetahui keinginanku itu. Dia yang mengajak dan mengajariku memancing. Aku selalu memiliki impian untuk bisa membawa keluargaku kelak bersama sama memancing dan bersenang senang bersama."
Marry menatap Kevin. Membelai lembut wajah lelaki itu. Di balik wajah tampan dan tegas itu, tersimpan kelembutan.
"Aku mencintaimu Marry." Ucap Kevin lirih.
Mereka saling bertatapan, menyatukan perasaan yang saat ini tengah terjalin di antara mereka.
"Aku milikmu Kev." Sahut Marry sambil tersenyum.
__ADS_1
Kini bibir mereka telah bertaut penuh gairah. Udara dingin menusuk tulang, tapi, sepertinya tidak bagi mereka.
Kevin yang kini seperti terbakar semangatnya, langsung menarik tubuh Marry yang mungil dalam dekapannya mendengar ucapan Marry.
Dengan lembut Kevin menyentuh dan menciumi setiap bagian lekuk tubuh Marry penuh gairah.
Tangan Kevin menarik resleting dress Marry dengan satu tarikan.
SRET..!
Terbukalah.
Kevin membiarkan dress itu terlepas dari tubuh Marry perlahan. Lalu Kevin mengangkat tubuh Marry dan membawanya ke sofa.
Kevin membiarkan Marry duduk dipangkuannya sambil menikmati setiap ciuman dan sentuhannya, begitu pula dengan Kevin yang menikmati sentuhan tangan lembut Marry yang kini membuka satu per satu kancing kemejanya, dan melemparnya entah kemana.
Satu per satu pakaian mereka terlepas dari tubuh, suara lenguhan manja dan raungan penuh gairah mulai terdengar dalam ruangan itu.
Dua insan yang kini tak terbalut apapun kini telah berpindah tempat di atas tempat tidur dalam kamar. Saling mencumbu dan berciuman dengan penuh gairah, seakan mendamba satu sama lain.
Peluh menetes dari sela kulit keduanya, saling bercampur dan menyatu.
Jemari keduanya menyatu, dan Kevin memompa tubuhnya, menggerakkan pinggulnya naik turun memasukkan adik kecilnya yang kian membessr dalam lubang gua kenikmatan milik Marry.
"Aku akan perlahan dan pelan." Bisik Kevin.
Marry memejamkan matanya dan melenguh sambil menggeliatkan tubuhnya menerima sengatan gelombang sensasi yang ditimbulkan karena sebuah benda yang besar masuk dalam miliknya.
Tiba tiba bayangan Kevin yang memukul dan memaksanya, menindih dan menerobos merobek kesuciannya secara paksa mulai menari nari di kepala Marry.
Marry memejamkan matanya kuat kuat sambil mengepalkan tangannya kuat kuat seperti menahan rasa sakit.
Kevin melonggarkan tubuhnya dan membiarkan Marry tidur di ranjang.
Marry terengah-engah membuka matanya perlahan.
"Mengapa berhenti?"
"Kamu seperti ketakutan."
Marry menggelengkan kepalanya.
"Maafkan aku, tiba tiba bayangan saat itu mulai menghantuiku kembali." Ucap Marry lirih. Dia merasa tak enak terhadap Kevin.
"Jika kamu ingin berhenti, aku tidak masalah." Kevin tersenyum lembut pada Marry.
Marry menggeleng pelan.
Dia tersenyum menggoda. Marry bangun dari posisi tidur, lalu duduk tepat di pangkuan Kevin.
Marry tersenyum menggoda sambil menggigit bibir bawahnya, menggerakkan pinggulnya perlahan.
Sensasi gelombang cinta langsung menyeruak masuk dalam tubuhnya, memacu adrenalinnya untuk menggerakkan dengan cepat.
Bagai joki yang menunggang kuda, Marry bergerak naik turun, dengan pusaka Kevin tertancap dalam gua milik Marry.
Kevin mengerang nikmat, sambil memainkan gunung kembar yang tepat di depannya itu.
Menikmati puncaknya dengan lahap.
__ADS_1
Kevin memeluk tubuh Marry, satu gerakan, dua gerakan, tiga gerakan, milik ya bagai dipijat dengan nyaman dan hangat.
Kevin dan Marry saling bergerak seirama menyatukan perasaan mereka.
Kini Kevin telah berada di atas Marry.
"Uh... Sempit sekali.." Desis Kevin.
"Pelan pelan..!" Rintih Marry.
"Marry kamu nikmat sekali ini.."
BLES..
"Ahhh.."
Satu gerakan, dengan susah payah pusaka Kevin akhirnya masuk lebih dalam lagi.
Perlahan namun pasti, gua milik Marry yang telah dia robek sebelumnya, saat ini sama seperti saat dulu. Terasa sempit.
Mungkin karena Marry selama ini tak pernah berhubungan dengan lelaki lain sejauh ini.
"Kev... Aku sakit ."
"Sabar, Sayang. Nanti akan enak. Tunggu!"
Kevin menggerakkan pinggulnya perlahan namun pasti menembus lebih dalam lagi.
Milik Kevin seakan diperas dan terasa hangat.
"Mar..ry... Aku ingin sampai..ohhh...!"
"Kev..Vin.. ahhh!"
Tubuh Kevin memacu dengan cepat, menghentak hentak, dan akhirnya miliknya menyemburkan jutaan benih dalam rahim Marry kembali.
Tubuh Marry bergetar, kukunya menancap pada punggung Kevin menahan rasa rakit, yang kian lama menjadi nikmat.
Kevin menarik miliknya, dan membiarkan Marry berbaring di ranjang untuk beristirahat.
"Maafkan aku Marry." Kevin mengecup kening Marry lembut.
Marry menatap Kevin dan membalas kecupan dengan mencium bibir Kevin dengan penuh gairah.
Kevin yang sebenarnya masih siaga, mulai terbakar kembali gairahnya.
Mereka saling mengerang dan melenguh. Tubuh tanpa busana itu terus bergelut di atas ranjang. Kevin memompa tubuhnya kembali menggerakkan pinggulnya dengan cepat.
Marry menikmati semuanya dengan lenguhan manjanya. Kini Marry membiarkan gelombang itu mengalir dalam dirinya.
Menikmati setiap sentuhan Kevin, dan menerimanya.
Dan pada akhirnya dua insan itu melepaskan semua hasrat, meleburkan semuanya, dalam teriakan penuh gairah.
Hasrat mereka yang memuncak, kini telah tersalurkan dengan baik.
Kevin merasa sangat lega. Dia merebahkan tubuhnya, menyandarkan kepalanya pada bantal yang empuk.
Marry menaruh kepalanya pada dada bidang Kevin.
__ADS_1
Mereka tidur saling berpelukan.