Mendadak Jadi Papa

Mendadak Jadi Papa
Apa Kau Menyukainya?


__ADS_3

Nyonya Ruth menyambut kedatangan Nyonya Max dengan penuh sukacita. Mereka berpelukan, dan Nyonya Max memberi kecupan sayang di pipi kanan dan kiri Nyonya Ruth.


"Mana cucuku?" Tanya Nyonya Max.


"Terence maih di kantor, Ma. Mungkin sore baru tiba." Sahut Nyonya Ruth.


Marry masuk sambil membawakan tas Nyonya Max. Lalu membawa masuk ke kamar tamu yang letaknya di dekat ruang tengah.


"Hallo, Nenek!" Terdengar suara Claire menggema saat masuk dan melihat nyonya Max.


Nyonya Max menoleh, dan sejenak tertegun menatap Claire. Claire tersenyum, lalu memberi pelukan pada Nyonya Max.


"Astaga, ini kamu Claire?" Tanya Nyonya Max terpesona, sambil memegang lengan Claire.


Claire mengangguk sambil tersenyum.


"Mana kacamata tebal dan kawat gigimu? Kamu sangat cantik sekali sekarang! Nenek hampir tak mengenalimu lagi." Ucap Nyonya Max sambil menggelengkan kepala.


Claire tersenyum lebar sambil memeluk Nyonya Max. Sekali lagi Nyonya Max memberi kecupan untuk sahabat Marry itu.


Lalu Claire menoleh ke arah Marry yang sedari tadi hanya berdiri di sudut ruangan. Claire menghampiri Marry dan menarik tangannya dan berdiri di depan Nyonya Max yang mengerutkan keningnya.


"Kalau dia, apakah Nenek masih ingat?" Tanya Claire sambil melirik ke arah Marry.


"Nenek sedari tadi masih mengingat ingat, di mana aku pernah bertemu dengannya." Nyonya Max bergumam sambil satu tangan menopang dagunya.


"Dia Marry, putrinya Ana, sahabat Terence juga." Sahut Nyonya Ruth sambil menghampiri Nyonya Max.


"Ana, yang merawatku dulu?" Tanya Nyonya Max.


Nyonya Ruth menganggukkan kepalanya.


"Aha... Ya, kamu memang mirip dengan Ana. Dulu kamu dan adikmu sering ikut ke mari menemani mamamu untuk merawatku. Aku masih ingat, kamu sering membuat cake wortel yang enak. Katamu dengan gula khusus untuk orang tua, sehingga aku boleh menikmati banyak banyak." Ucap Nyonya Max terkekeh sambil menatap Marry.


Marry mendekati Nyonya Max. Dia berlutut, supaya sejajar dengan Nyonya Max yang duduk di sofa.


Nyonya Max memegang wajah Marry dan mengelus lembut. Sudah lama, Marry tidak pernah merasakan sentuhan lembut seorang Nenek seperti itu. Pernah, sekali bersama Nana, saat dia stress kala Alice sedang sakit dan rewel. Nana mengelus lembut wajahnya dan menenangkan.


"Aku turut berdukacita atas kehilangan Mamamu. Waktu itu, aku tidak sempat melayat, karena menjenguk putriku Tracy di Prancis."


"Tidak apa apa, Nyonya Max. Sekarang saatnya bersenang senang bersama cucu Anda." Sahut Marry sambil menatap Nyonya Max.

__ADS_1


"Aku sudah lama di sini, tapi Morgan atau Istrinya tak ada satu pun yang kemari! Memang benar benar melupakan orang tuanya." Keluh Nyonya Max sambil menghela napas. Dia terlihat kecewa.


"Aku telah menghubungi Morgan dan Vicky. Ini aku juga sudah menghubungi Emily dan Kevin. Mungkin sebentar lagi mereka akan datang ke mari." Sahut Nyonya Ruth dengan lembut menghibur Nyonya Max.


Tak lama ponsel Marry bergetar, ada pesan yang masuk.


Maaf, aku membawa Alice ke rumah Bibi Ruth. Jika aku tidak ada di apartemen, kamu bisa menjemputnya Alice di rumah Bibi Ruth. Atau aku akan mengantar Alice langsung ke rumahmu saja?


Pesan dari Kevin. Dan langsung dibalas oleh Marry.


Aku akan jemput di rumah Nyonya Ruth.


*


Marry membawa perkakas ke belakang usai menemani Nyonya Max makan siang.


Nyonya Max berkali kali menceritakan masa kecil Marry, Terence, dan Claire. Terkadang mengingat kembali saat mamanya merawat dengan telaten dan sabar saat Nyonya Max sakit, usai kehilangan suaminya dulu.


Marry hanya tersenyum saat mendengar kisah Nyonya Max.


Saat Marry berada di dapur, Kevin tiba bersama Alice.


Sudah bisa dibayangkan betapa terkejutnya reaksi Nyonya Ruth, Nyonya Max, dan Claire saat melihat Kevin bersama Alice yang pakaiannya kusut dan kotor, lalu wajahnya lebam, pelipis robek.


"Anak siapa yang bersamamu?" Tanya Nyonya Max sambil mengecup pipi cucunya itu.


Kevin membawa Alice mendekat ke arah Nyonya Max.


"Kenalkan, Alice, ini nenekku yang sangat cerewet." Kevin menoleh ke arah Alice.


"Hai Nenek, aku Alice." Ucap Alice dengan riang. Matanya berbinar dan wajahnya ceria.


"Apa yang terjadi denganmu, Nak?" Tanya Nyonya Max sambil menyentuh lembut wajah Alice yang lebam.


"Astaga, Alice!" Teriak Marry saat masuk ke ruang tengah.


Marry langsung tergopoh-gopoh menghampiri Alice dan memeluk putrinya.


"Kamu berkelahi lagi?" Tanya Marry sambil menatap Alice.


Alice hanya mengangguk.

__ADS_1


"Kamu melawannya, hah?" Tanya Marry.


Alice mengangguk lemah dan menunduk, takut mamanya akan memarahinya.


"Bagus! Jika ada yang menggangumu, dan kamu tidak salah, maka lawanlah dia. Mama bangga padamu!" Ujar Marry lirih sambil mengedipkan sebelah matanya pada Alice.


Alice yang takut, langsung menatap mamanya tak percaya.


"Ayo, mama obati lukamu." Ucap Marry sambil menggendong Alice menuju toilet.


"Nyonya Ruth, aku boleh meminta obat untuk luka di kotak kesehatan?" Tanya Marry meminta ijin pemilik rumah.


Nyonya Ruth mengangguk.


Semua di ruangan itu menatap Marry dan Alice yang berlalu menuju toilet.


Kevin hanya menatap tak percaya akan perlakuan Marry pada Alice. Secara tak sadar dia tersenyum saat menatap punggung Marry ketika berlalu dari hadapannya.


"Wow, itu Marry kecil. Dia tak pernah berubah." Claire bergumam.


"Nenek masih ingat, saat kalian masih kecil dulu. Kalian datang ke rumah, berteriak minta tolong karena bibir Marry robek akibat berkelahi melawan orang yang menggangu Terence. Lalu saat itu pakaian kalian bau sekali." Celetuk Nyonya Max.


Nyonya Ruth hanya menghela napas saat mengingat Terence kecil dulu.


"Kalian jadi korbannya?" Tanya Kevin pada Claire.


"Anak anak itu sangat nakal. Aku selalu diganggu oleh mereka. Marry yang menolongku. Dia dan Terence bersahabat lebih dahulu." Terang Claire.


Kevin mengangguk angguk.


"Aku dulu sangat jelek, Kev. Tak ada yang mau berteman, bahkan tak ada yang mau bergabung bersamaku saat makan siang. Akhirnya Marry dan Terence mau menemaniku. Benar benar menjadi temanku. Aku dulu gemuk, memakai kawat gigi, berkacamata. Entah apa yang ada dalam pikiran mamaku saat itu, mendandaniku seperti itu." Claire tertawa geli mengenang masa kecilnya.


"Tidak terlihat pernah seperti itu?" Celetuk Kevin sambil pura pura menyelidik wajah Claire.


Claire memukul lengan Kevin dengan gemas.


"Tentu berubah lah! Mamaku pemilik salon, tidak mungkin anaknya dibiarkan menjadi si buruk rupa. Dan gigiku juga akhirnya bagus usai derita kawat gigi yang menyiksa itu." Sahut Claire terkekeh.


"Bagaimana dengan Marry?" Tanya Kevin cepat. Claire memicingkan matanya, menyeringai ke arah Kevin.


"Aku sudah melihat transformasimu dan Terence dari kecil hingga sekarang. Bukankah kalian bersahabat?" Kevin tergagap, sambil mencari-cari alasan.

__ADS_1


"Marry dari kecil selalu cantik, dia tomboi, dan pemberani. Dialah yang selalu melawan anak anak nakal itu. Bahkan, bukan hanya aku dan Terence, tapi beberapa teman lain yang diganggu, selalu dibantu olehnya. Tapi, sekarang setelah dia jadi ibu, auranya semakin dewasa dan lebih cantik." Jawab Claire.


"Apa kamu tertarik padanya?" Tanya Claire sambil menggoda Kevin.


__ADS_2